Kebenaran tentang Kematian PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 15797

 

Kata-kata berpuisi, mengambil kalimat terkenal dan mengulang perkataan orang bijaksana adalah baik dan membuat kita berpikir. Tetapi berapa banyak yang sudah kita lakukan sampai sekarang? Lebih dari kata-kata, kita harus MENDORONG DIRI KITA KELUAR DARI ZONA NYAMAN kita dan bertindak sekarang. BERGABUNGLAH DENGAN KEGIATAN YANG MEMBERI MANFAAT BAGI MAKHLUK LAIN MINGGU INI! Bergabung dengan suatu kegiatan, lalu menemui kesalahan, dan berhenti hanyalah ekspresi dari 100% EGOISME UNTUK MENGEJAR KENYAMANAN KITA.

Poetic words, quoting catchphrases and repeating the wise are all good and makes us think. But how much have we actually done so far? More than words, we have to PUSH OURSELVES OUT OF OUR COMFORT ZONE and get into action now. JOIN SOMETHING THAT BENEFITS OTHERS THIS WEEK! Joining something, then finding wrongs, then quitting, is just an expression of our PURE 100% SELFISHNESS TO PURSUE OUR OWN COMFORTS.

The truth of death

Jangan mencari alasan setiap hari untuk berhenti melakukan pekerjaan baik yang kalian lakukan dan mem-validasinya dengan alasan untuk mengejar sesuatu yang mementingkan diri sendiri. Bersungguh-sungguhlah. Kuatkan dirimu untuk mengerjakan pekerjaan spiritual untuk memberi manfaat bagi makhluk lain. Lemahkan dirimu dalam mengejar kegiatan yang mementingkan diri sendiri dan ditutupi dengan berbagai alasan. Dalam hatimu kalian mengetahui yang sebenarnya. Mencari alasan yang menutup-nutupi untuk MENGHINDARI tujuan egois yang TIDAK MEMBAWAMU KEMANA-MANA PADA AKHIRNYA. Lakukanlah pekerjaan yang memberi manfaat bagi makhluk lain dengan sungguh-sungguh. Bekerja untuk kepentingan makhluk lain lebih sulit dan akan menjadi lebih mudah. Bekerja untuk dirimu sendiri lebih mudah dan AKAN MENJADI LEBIH SULIT dan membuatmu pahit dan kesepian.

Uang bisa membeli banyak hal. Tetapi tidak dapat membelikanmu perlindungan, pelepasan, altruisme, harga-diri, kepuasan, dan kedamaian. Bila reinkarnasi tidak ada, maka karma juga tidak ada. Bila ini adalah benar, Buddha berbohong. Bila Buddha tidak berbohong, maka berubahlah.

His Holiness Gaden Tripa yang sekarang, kepala dari aliran Gelug, sangat merekomendasikan Gaden Lhagyama. Cobalah. His Holiness Gaden Tripa tinggal di Prancis dan diberkahi sebagai pemimpin dari aliran Buddha Gelug oleh H.H. dalai Lama dan H.H. Gaden Tripa Jetsun Lungrik Namgyal terus memutar roda Dharma dan berumur panjang.

Ketika saya masih kecil, saya ingin menjadi H.H. Dalai Lama. Semua orang akan menjadi tua, tetapi di usia lanjut apakah kalian akan dihormati atau tidak tergantung pada bagaimana kalian menghabiskan hidup kalian. Usia lanjut bisa sepi dan penuh penyesalan, atau bisa menjadi saat bagi kalian untuk memetik hasil dari usaha altruistik. Banyak biksu berusia lanjut di Gaden yang sangat dihormati, dilayani dan dicintai. Banyak orang tua di dunia umum yang ditinggalkan. Saya rasa bila kalian menghabiskan hidup kalian dengan memberi manfaat bagi makhluk lain, kalian akan dihargai walaupun kalian sudah tua dan juga sebaliknya bagi mereka yang tidak melakukannya.

Di usia lanjut, bila kalian kesepian dan ditinggalkan (maaf), sepertinya kalian sudah menghabiskan hidup kalian untuk mengejar hal-hal yang mementingkan diri sendiri dan menghasilkan keadaan seperti sekarang. Dalam semua kehidupan saya, saya berharap agar saya tidak tertarik untuk memiliki hubungan khusus, anak-anak, nama, atau reputasi. Semoga dari usia muda saya mengejar Dharma. Di seluruh kehidupan saya, semoga saya melihat cacat dari hal-hal yang bersifat samsaric, dan segera memeluk Dharma, ketidak-terikatan dan melaksanakannya.

Apapun hasil yang kalian miliki mencerminkan sebabnya. Apapun hasil yang kalian rasakan mirip dengan sebabnya. Maka dari itu, kejarlah Dharma. Saya ingin tahu apa yang akan terjadi bila Sang Buddha tetap menikah, berkeluarga dan menjadi raja, dan hanya melakukan hal itu??? Syukurlah bahwa Bunda Teresa, Dalai Lama, dan Tsongkhapa tidak memilih untuk menikah, berkeluarga, membeli asuransi dan menunggu cucu. Beban apapun yang kalian ciptakan untuk diri kalian harus kalian hadapi, tetapi jangan pernah menggunakannya sebagai alasan untuk kurang melaksanakan Dharma. Mengapa? Waktu kalian akan habis. Pergi atau tidak pergi bukanlah masalahnya. Berapa banyak cinta kasih yang kalian miliki untuk anak-anak kalian. Hanya dikehidupan ini atau juga dikehidupan yang akan datang? Banyak murid saya yang mempunyai anak dan pasangan, dan semua waktu luang mereka digunakan untuk melakukan pekerjaan Dharma, ret ret, dan membawa Dharma kepada orang lain.

Ahli astronomi berkata bahwa sejak “big bang” sampai sekarang, ada sekitar 100 planet lain yang memiliki kehidupan. Renungkanlah kenyataan atas fakta bahwa dalam 50 tahun, hampir semua orang yang sekarang berada di Twitter akan meninggal. Bila ini adalah situasinya, sebelum kematian yang tidak dapat dihindari, apa yang dapat kita lakukan, apa yang dapat kita jalani, apa yang dapat kita kembangkan yang akan memberi nilai lebih pada saat kita meninggal?

Sangat sulit untuk menghadapi kematian atau membicarakannya. Tetapi kita harus karena ini adalah kebenaran yang universal. Jadi apakah yang PALING BERHARGA yang akan menjamin transisi kita akan aman, menyenangkan, bebas dari rasa takut dan mungkin dapat DIKENDALIKAN?

Pada dasarnya ada dua hal yang akan ikut bersama kita. Yang satu adalah pikiran dan yang lain adalah karma atau hasil dari perbuatan lalu yang siap terbuka. Jadi karma akan menentukan situasi saat transisi. Dan pikiran (mudah-mudahan dengan perkembangan) akan menentukan bagaimana transisi ini dihadapi.

Oleh karena perkembangan spiritual, pikiran kita mempunyai kemampuan untuk menghadapi transisi pada saat kematian dan hasilnya akan ideal. Bila kita tidak menggunakan waktu kita untuk melakukan kegiatan spiritual, maka pikiran kita, tidak dewasa, akan menghadapi transisi ini dengan rasa takut yang luar biasa, kekhawatiran, dan ketidak-pastian. Lalu kita tidak akan mempunyai kendali dan hanya tergantung pada karma yang terbuka, yang akan dipicu oleh KONDISI PIKIRAN KITA pada saat kematian. Karena banyak sekali macam karma, tidak pasti apa yang akan dipicu pada saat kematian, dan karma yang dipicu akan menentukan nasib kita.

Dewa, setan, hantu, manusia tidak akan dapat mengendalikan nasib kita. Hal ini hanya bergantung pada disposisi karma yang disimpan sebagai hasil dari tindakan fisik, perkataan, dan pikiran – tindakan yang kita lakukan semasa hidup. Jadi bagaimana kita pada kehidupan ini memainkan peran utama yang menentukan MASA DEPAN KITA.

Bila Tuhan, dewa, dan lain-lain mengendalikan masa depan kita, maka tidak akan ada kesenjangan. Kesenjangan dalam keberadaan adalah satu bukti bahwa makhluk hidup, berpengaruh atau tidak, diluar diri kita tidak mempunyai kendali terhadap masa depan kita. Mungkin mereka bisa mempengaruhi, tetapi mereka tidak punya kendali sama sekali. Kendali itu ada PADA DIRI KITA. Merenungkan tentang kematian adalah cara PALING EFEKTIF untuk merubah ke kegiatan spiritual yang sungguh-sungguh tanpa penundaan, atau alasan.

Bila kita berpikir dengan hati-hati, WAKTU KITA PENDEK dan kita harus mengembangkan banyak hal dalam waktu yang singkat ini. Merenungkan tentang kebenaran dan kenyataan atas kematian kita dengan hati-hati dan setiap hari akan memainkan peranan penting dalam kegiatan kita. Raja Dharma, Tsongkhapa, menempatkan meditasi kematian sebagai yang utama di dalam Lamrim yang sakral, dengan keinginan kuat yang timbul dari mendapatkan pengertian atas rasa ke-segera-an yang disebabkan karena renungan harian atas kematian. Ke-segera-an adalah positif, dan tidak depresif.

Sangatlah penting untuk melakukan seven limbs dan enam paramita dengan pengertian untuk menghindari 8 Dharma keduniaan setiap hari. Melakukan persembahan, preliminary retreat, dan belajar Lamrim, bergantung pada Yidam dan transformasi pikiran harus dilakukan setiap hari untuk mengumpulkan pahala dan menciptakan kebiasaan baru untuk memperoleh PENGERTIAN.

Pengertian ini muncul dari pikiran. Karena pikiranlah yang menyadari, apapun tingkatan yang kalian capai tidak akan ditinggalkan pada saat kematian. Mengapa? Karena pikiranlah yang berjalan dari satu kehidupan ke kehidupan lain dalam momentum kehidupan yang tidak terputus. Dengan kesadaran, karma yang dikumpulkan akan menjadi positif, sehingga membantu pikiran kita untuk mengalami transisi yang bagus dan “menyimpulkan” hasil yang baik untuk melanjutkan kegiatan spiritual tanpa interupsi untuk mendapatkan kesadaran yang lebih tinggi. Dengan kesadaran ini menjadi kuat, kita mengendalikan samsara. Dan samsara TIDAK MENGENDALIKAN KITA. Hal itu sangatlah luar biasa.

Jadi pikiran dan karma mengikuti kita dalam transisi masa depan. Transisi ini diulang kembali dan kembali. Jadi menyiapkan mereka adalah tujuan utama pelaksana spiritual.

#Tsem Tulku

Don’t look for excuses daily to quit the good work you are doing and validate it with excuses to pursue something utterly selfish. Be real. Be strong to do spiritual work to benefit others. BE WEAK to pursue selfish work covered with excuses. In your heart you know the truth. Find excuses and cover-ups to AVOID selfish pursuits that GET YOU NOWHERE IN THE END. Go all the way with work that benefits many. Working for the benefit of many is harder and gets easier. Working for yourself is easier and PROGRESSIVELY GETS HARDER and makes you bitter and lonely.

Money can buy a lot of things. But it can’t buy you refuge, renunciation, altruism, self-respect, satisfaction and peace. If reincarnation doesn’t exist, then karma doesn’t exist. If that is the case, Buddha lied. If Buddha didn’t lie, then transform.

His Holiness the current Gaden Tripa, Head of the Gelug School of Buddhism, highly recommends the daily practice of Gaden Lhagyama. Try it. His Holiness Gaden Tripa resides in France and was blessed as the head of the Gelug School of Buddhism by H.H. the 14th Dalai Lama. May H.H. the Dalai Lama and H.H. Gaden Tripa Jetsun Lungrik Namgyal continue to turn the Wheel of Dharma and to live long.

When I grow up, I want to be like H.H. the Dalai Lama. Everyone will age, but in your old age whether you are respected or not depends on what you have spent your life doing. Old age can be lonely and full of regrets, or it can be a time where you reap the fruits of your altruistic labour. Many old monks in Gaden are highly respected, taken care of and loved. Many elderly people in the secular world are abandoned. I guess if you spent your lifetime pursuing the benefit of others, you’ll be treasured even when you are old. And the opposite applies for those who did not.

In your old age, if you are lonely and abandoned (sorry), most likely you have spent your lifetime in selfish pursuits that has led you to this result. In all my lives, may I never be attracted to having relationships, children, name or reputation. May I at a young age pursue Dharma. In all my lives, may I from a young age see the pitfalls of samsaric pursuits, and immediately take up Dharma, renunciation and practice.

Whatever results you have resemble the causes. Whatever results you experience are similar to the causes. Hence, pursue Dharma. I wonder what would have happened if Lord Buddha stayed married, stayed with his family, became a king, and just did that??? Thank goodness Mother Teresa, the Dalai Lama and Tsongkhapa didn’t choose to just get married, have a family, buy insurance and wait for grandkids. Whatever burdens you have created for yourself you should see it through, but never use it as an excuse to do less Dharma. Why? Time is running out. Compassion to leave or not leave is not the issue. How much compassion do you have for your kids. Just this life or all future lives? Many of my students have kids and a spouse, all their spare time is put into doing Dharma work, retreats, and bringing Dharma to others.

Scientific astronomers say that since the ‘big bang’ until now, there are approximately 100 million million other planets that have life. Just contemplate the reality of the fact that within 50 years, everyone who’s currently on Twitter now will most likely have died. If that is the case, before the inevitable death, what could we do, what could we engage in, what could we develop that would have the most value at the time of our death?

It’s hard to face death or talk about it. But we have to because it’s a universal truth. So what would have the MOST VALUE that can insure our transition will be safe, pleasant, free of fears and perhaps even with CONTROL?

There are basically two things that go with us. One is the mind, and the other is karmic propensities or simply the effects of actions ready to open. So karma will determine the circumstances during this transition. And the mind (hopefully with development) will determine how this transition is dealt with.

Due to spiritual development, our mind is capable of dealing with the transition at death and its outcome will be ideal. Otherwise, if we don’t spend time on spiritual practice, then the mind, not matured, will most likely deal with the transition with great fear, trepidation and extreme uncertainty. Then we will have no control and depend solely on what karma opens up, which is triggered by the STATE OF THE MIND at the actual time of death. Because there is so much varying karma, it will be very uncertain what is triggered at the time of death, and that triggered karma will determine our fate.

God, devils, demons, humans won’t be able to control our resultant fate. It solely depends on the karmic dispositions that have been stored away due to our Body, Speech and Mind – actions we have committed during our lifetime(s). So how we are in our lifetime plays a singular role in determining OUR FUTURE.

If God, gods, etc. controlled our future, then there would be no disparity. Disparity in existence is one type of proof that beings, powerful or not, outside of ourselves ultimately have no control over our future. Perhaps they can influence, but they have zero control. That control is solely reliant ON OURSELVES. Hence contemplating the truth of death is the MOST EFFECTIVE way to turn to sincere, spiritual practices without delays, procrastination, or excuses.

When we think carefully, TIME IS SHORT and we have so much to develop in that short space of time. Contemplation of the truth and reality of our deaths carefully and daily would play a pivotal role in our practice. The King of Dharma, Tsongkhapa, puts death meditation as number one in the sacred Lamrim, with firm determination arising from gaining a sense of urgency due to daily well-rounded contemplation on death. That sense of urgency is positive, not depressive.

It is very important to practise the seven limbs and six paramitas with firm understanding of the avoidance of the eight worldly dharmas daily. Making offerings, engaging in retreats of preliminaries, studying the Lamrim, propitiation of our yidam and engaging in mind transformation should be done daily in order to collect the merits and create new habituations to gain REALISATIONS.

These realisations arise from the mind. Since it is the mind that realises, whatever level you have achieved will not be left behind at the time of death. Why? Because mind is what travels from lifetime to lifetime in one continuous unbroken momentum. With realisations, the karma that is accumulated would be positive, hence helping our mind experience a good transition and ‘conclude’ with a good outcome to further our spiritual practice uninterrupted to gain even higher realisations. With these realisations becoming firm, we control our samsara. And our samsara DOESN’T CONTROL US. That would be very great.

So mind and karma is what travels to future transitions. The transitions are repeated again and again. So preparing for them is utmost in a spiritual practitioner’s goals.

#Tsem Tulku

 

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Comments  

 
# garcinia cambogia 2014-02-25 11:16
garcinia cambogia We're a group of volunteers and starting a new scheme in our community.

Your website provided us with valuable info to work on.
You have done an impressive job and our entire community will be grateful to you.

garcinia cambogia
Quote
 
 
# miracle garcinia 2014-03-01 18:11
garcinia cambogia reviews dr oz I discovered your blog web
page on google and check a number of of your early posts.
Continue to keep up the quite great operate. I just extra up
your RSS feed to my MSN News Reader. Seeking forward to reading
alot more from you later on! natural garcinia cambogia reviews
Quote
 
 
# luigi4235 2015-02-14 14:35
( •_•)O*¯`·.¸.·´¯`°Q(•_• )
+++thatsafunnypic.com+++
Quote
 
 
# luigi4235 2015-03-02 19:42
Quote
 
 
# profile 2016-12-16 10:54 Quote
 

Add comment

Visitors

We have 58 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013