Dua-Puluh-Tujuh Bait untuk Melatih Pikiran PDF Print
Translated by Valentina Suhendra, Composed by Lama Je Tsongkhapa (1357-1419)   
Article hits: 5613

 

Lama Tsongkhapa

“Bagi kalian yang ingin mendapatkan pencapaian, bertransformasi, berubah dan menjadi bahagia, bacalah 27 baris suci yang menggetarkan pikiran oleh Tuan, dan Pertapa Tsongkhapa yang tak tertandingi sebagai sadhana. Lalu, renungkanlah artinya sembari mengucapkan OM AH RA BA ZA NA DHI. Bila kalian adalah murid saya atau kalian mengatakan bahwa saya telah memberi manfaat bagi kalian, maka lakukanlah ini setiap hari.”
Tsem Tulku

“For those who wish to gain attainments, transform, change and become happy, recite the below 27 mind blowing sacred lines by our Lord and Sage Tsongkhapa the Incomparable daily as a sadhana. Then contemplate the meaning while reciting OM AH RA BA ZA NA DHI. If you are my student or if you say I have benefited you, then do this daily.”
Tsem Tulku

  1. Dengan tubuh, perkataan, dan pikiran yang diselaraskan, saya bersujud kepada makhluk yang jarang ditemui, yang menang terhadap semua jenis batasan, dan kepada anak spiritual mereka (baik pria maupun wanita). Semoga perayaan kosmik dari sajak yang murni, dengan sempurna mengekspresikan ajaran yang paling halus dari pertapa pemenang ini dan pewaris kebijaksanaan mereka, sekarang tersebar seperti taman dengan mata air yang tak habis-habisnya.
  2. Melirik dengan tenang melalui mata Prajnaparamita (kebijaksanaan yang sempurna) yang jernih dengan penampakan yang universal, rajutan tanpa awal benang karma dari makhluk yang tersadarkan, dan mendengar simfoni ketergantungan yang harmonis. Membersihkan seluruh bayangan terkecil dari kenegatifan, tempat kesulitan dan konflik tanpa akhir. Dengan maksud yang jernih seperti berlian, menanamkan keyakinan dimana saja. Dengan kebijaksanaan yang seperti cermin, menstabilkan pikiran yang keruh.
  3. Bila bayangan kenegatifan tidak dihilangkan dengan segera, keanehan yang disebabkan oleh tidak adanya penerangan seiring dengan setiap tindakan akan mendapatkan potensi yang jauh lebih besar, sampai bahkan mereka yang mengerti bahaya dari kenegatifan tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk memilih jalan Terang yang Jernih. Bahkan mereka yang mempelajari filosofi dan berbicara dengan lancar tidak dapat membebaskan diri dari ilusi kegelapan.
  4. Spektrum keseluruhan dari mengusahakan dan mengaspirasikan rasa kemanusiaan, dari mereka yang kekanakan sampai mereka yang sudah merenungkan dengan jauh, menderita delusi yang menyakitkan karena terikat dengan bayangan kosong sementara mereka dipenuhi oleh tindakan dan maksud yang mementingkan diri sendiri.
  5. Ikatan seperti ini, keterikatan pada bayangan, dikonstitusikan oleh reaksi terhadap rasa senang dan sakit, jelas berakar dari motivasi yang mengutamakan diri sendiri. Bagi makhluk yang jarang ditemui yang telah pergi lebih jauh, yang sepanjang waktu merasakan kebahagiaan sebagai Buddha, sifat dari reaksi dan hasilnya diketahui dengan jelas sebagai tidak substansial. Tetapi makhluk dengan jumlah tak terbatas yang mementingkan diri sendiri, yang mengikat diri mereka dengan motivasi yang egois, karena itu tidak bisa terbebas atau menjauhkan diri mereka dari egoisme.
  6. Kita harus bermeditasi dengan hati-hati dan sungguh-sungguh mengenai sifat negativitas yang mengikat, belajar untuk mendiskriminasi dengan sensitif antara tindakan yang menegasikan keberhargaan makhluk lain dan tindakan yang menguatkan rasa peduli terhadap orang lain. Dari sudut pandang yang jelas ini, tinggalkan semua negasi dan berusaha dengan komitmen yang kuat dari dirimu untuk menegaskan semua kehidupan dimana saja.
  7. Bibit dari tindakan adalah maksud positif dan negatif. Semua maksud secara sadar berakar dari motivasi yang tidak mementingkan diri sendiri, hanya mengharapkan kebaikan bagi semua kehidupan, akan membangun dasar kebaikan yang stabil dan akan menghasilkan harta kebaikan yang universal. Semua maksud bahkan bila sedikit dilemahkan oleh motivasi egois akan menyia-nyiakan dasar dari hidup kita dan buahnya. Maksud adalah kekuatan keberadaan yang tunggal dan kreatif.
  8. Untuk mengikatkan diri dengan maksud yang ingin menang atas orang lain, keinginan untuk menjadi makmur dengan mengorbankan makhluk lain atau menenggelamkan diri dalam bias karena perasaan pribadi yang berkaitan dengan rasa suka atau tidak suka, ini saja sudah merupakan sebab dari penderitaan dalam kehidupan pribadi dan universal secara keseluruhan. Kita harus bermeditasi terus-menerus pada kebenaran revolusioner ini, tetap sadar akan hal ini dan pada setiap saat keberadaan kita.
  9. Mereka yang mencoba untuk menipu dengan kata-kata nasehat yang sebetulnya mengandung rasa egois dan menurunkan nilai tidak mementingkan diri sendiri dan menjadi hilang dalam pikiran sempit tanpa harapan. Orang seperti ini menciptakan hanya kesalahan dalam alam: membelokan rasa peduli kita terhadap orang lain yang berharga kepada diri sendiri. Penipuan ini tidak hanya diekspresikan dalam kebencian terhadap kebijaksanaan Buddha tetapi juga dalam percobaan untuk menghancurkan sifat Buddha yang universal
  10. Untuk menghindari cara kebencian yang menghancurkan, lahirkanlah dalam alam sadarmu pikiran keibuan yang mengandung maksud positif terhadap semua makhluk hidup seperti terhadap anak yang disayangi. Pikiran yang penuh kebaikan ini ahli dalam memberikan cinta kasih, sibaklah nilai abadi dalam setiap kehidupan, mendemonstrasikan cinta kasih sebagai arti dari keberadaan. Tetapi pikiran negatif yang ceroboh, beroperasi dengan buta tanpa peduli pada keberhargaan makhluk lain, mengeringkan arti dari kehidupan manusia. Tumbuhkanlah dengan rajin cinta yang tidak egois yang mentransformasikan setiap pikiran dan tindakan menjadi nyata untuk membantu makhluk hidup.
  11. Metode yang diajarkan oleh pertapa yang sudah disadarkan untuk mengembangkan pikiran yang ahli dan baik adalah untuk memotong akar dari semua harapan yang egois dengan cara mempelajari Kebijaksanaan Sempurna secara intensif dan berulang-ulang. Bermeditasi dengan berfokus pada intinya dalam kondisi perenungan dan kestabilan. Dengan kejelasan dan kejujuran dari konsentrasi ini, dunia yang diproyeksikan oleh keinginan yang mengutamakan diri sendiri akan mencair dalam sinar matahari dari meditasi, seperti struktur es, menampakan rahasia yang luar biasa dari keberadaan kita, kegunaannya dan justifikasinya, kasih sayang yang aktif bagi semua makhluk yang memiliki kesadaran.
  12. Meditasi seperti ini membawa pikiran yang hanya menginginkan keadaan yang baik bagi makhluk lain, yang selalu bersyukur kepada semua makhluk untuk kebaikan yang tak terhingga yang telah diberikan sejak waktu tanpa awal oleh ibu, ayah, anak-anak, sahabat, donatur, dan guru. Pikiran yang dipenuhi kebaikan ini hanya mengetahui tentang keinginan untuk memberi manfaat bagi semua makhluk yang diberkahi dengan cara apapun dan dalam semua tingkatan yang bisa dibayangkan.
  13. Untuk mengingat dengan jelas setiap saat dimana kebaikan di-ekspresikan oleh semua makhluk, dan untuk mengembangkan keinginan yang sangat untuk mengembalikan bahkan porsi kecil dari kebaikan ini, menampakan betapa pentingnya hidup di semua dunia. Orang yang gagal dalam menanggapi panggilan kebaikan yang universal ini berada dalam pesawat perkembangan yang lebih rendah daripada hewan, yang dapat merasakan rasa syukur yang amat sangat.
  14. Mereka yang tanpa ragu-ragu memeluk dan dengan lembut melayani semua makhluk yang menderita pada jaman yang penuh kemerosotan ini, seperti ibu yang penuh kasih sayang merawat bahkan anaknya yang paling menyulitkan, mereka adalah guru dalam hidup yang suci ini yang secara otentik menapaki jalan Buddha.
  15. Pikiran yang dengan setia dan tanpa mengenal lelah melayani dan meningkatkan makhluk yang mempunyai kesadaran adalah kebaikan, yang secara terus-menerus memberikan hadiah dalam hidup ini, keyakinan akan kebaikan yang terus berkembang, kepada pikiran yang lain dan karena itu memberikan manfaat kepada mereka dengan cara yang paling langsung. Dari semua bentuk yang memungkinkan untuk memberikan manfaat dalam segala tingkatan, yang tertinggi adalah untuk mengajarkan tentang praktek kasih sayang, keyakinan atas kebaikan yang universal, melalui transmisi langsung atas kesadaran yang tidak mementingkan diri sendiri, mengalir secara transparan dari satu pikiran ke pikiran yang lain berdasarkan kebutuhan dan kapasitas dari masing-masing pikiran, yang menjadi aktif dalam diri penerima selamanya, bahkan pada saat krisis, tidak pernah menguap menjadi menjadi hanya kata-kata atau konsep.
  16. Pada saat mempraktekan hal yang membahagiakan ini, mengembangkan secara terus-menerus pikiran yang baik, sedikitpun pikiran senang yang tidak simpatik akan hilang dan kesadaran menjadi semakin terkonsentrasi dan tidak mementingkan diri sendiri, sementara emosi yang egois dan proyeksi yang konseptual yang mengkomposisikan dunia yang sempit dan konvensional perlahan-lahan akan hilang, dan kita dibebaskan secara keseluruhan. Matahari kasih sayang yang luar biasa bersinar tanpa cacat. Semangat cinta kasih dalam setiap pikiran dan tindakan seperti sinar matahari, tanpa usaha mencairkan pikiran yang mementingkan diri sendiri, menguatkan usaha kita bagi semua makhluk.
  17. Semua makhluk saling memberi manfaat satu sama lain, baik secara sadar maupun tidak sadar. Bahkan musuh memberi manfaat dengan cara yang halus. Mereka yang mempersepsikan prinsip radikal ini dengan jelas menemukan bahwa tidak ada obyek kemarahan yang dapat diisolasi. Mereka bisa menemukan dan hanya bertemu dengan sahabat dan penolong, dan makhluk yang berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Pandangan ini menghindarkan pikiran yang agresif dan membiarkan pikiran untuk berkembang tanpa batas menjadi utuh, suka beramal, dan simpatis.
  18. Jangan pernah menawarkan dorongan untuk pikiran jahat, jangan pernah ragu untuk memeluk kekhawatiran orang lain, memberikan perhatian penuh kepada semua keinginan yang altruistik yang naik dari aliran kesadaran yang jernih. Renungkan ajaran mengenai kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, menenangkan dan membersihkan banjiran pikiran yang egois dengan meditasi yang paling manis. Buanglah kehidupan egois yang tidak berarti. Menjadi setia pada arti keberadaan yang sebenarnya: kasih sayang yang aktif bagi semua makhluk hidup. Bila seseorang tidak menyangkal motivasi yang mementingkan diri sendiri, kecenderungan halus dalam pikiran yang tidak pernah bisa bebas dari disposisi yang kasar atau halus untuk negasi.
  19. Transformasikanlah aktivitas yang intens dalam kehidupan sehari-hari menjadi ekspresi yang harmonis dan ajaran kebenaran dengan mengingatkan dengan penuh kasih sayang dan diingatkan bahwa buah kelam dan pahit dari menegasi makhluk lain adalah beracun, dan harus dihindari, sementara buah terang yang manis dari mengutamakan orang lain adalah pemberi kehidupan, dan untuk dinikmati seluruhnya. Kesenangan yang otentik hanya didapat dari melayani makhluk lain, dan penderitaan hanya tumbuh dari menyakiti orang lain atau tidak mau tahu akan kebutuhan makhluk hidup, yang semuanya berhubungan dekat dengan kita seperti ibu dan ayah sendiri
  20. Sangat sensitif, ekologi adalah keterhubungan antara semua hal, perhatian sesedikit apapun dan bantuan untuk makhluk lain menciptakan peningkatan moral bagi diri kita dan kemanusiaan, sementara rasa tidak peduli atau tidak menghiraukan makhluk lain menciptakan penurunan moral untuk diri dan peradaban kita. Maksud jahat sekecil apapun terhadap makhluk lain dapat menyalakan kebakaran hutan yang mencelakakan, menghabiskan kegembiraan simpatik yang luar biasa banyaknya. Bahkan reaksi negatif atau keinginan jahat membuka lebar jalan dalam seluruh hidup kita menghancurkan racun negasi dan kehidupan-bayangan yang menentang rasa mementingkan diri sendiri.
  21. Diasingkan jauh dari semua rasa kemanusiaan yang berharga, dosis yang mematikan ini, bayangan ini, dengan mengembangkan rasa kagum secara insting dan cinta kepada mereka yang melaksanakan jalan yang tidak mementingkan diri sendiri. Menyukai Bodhisattva ini karena sumpah mereka yang tidak bisa dibelikan untuk tetap dekat dengan kesulitan makhluk hidup sebagai contoh cinta kasih dan sebagai penerangan bagi visi panoramik.
  22. Setelah diidentifikasi dengan jalan kehidupan yang terang ini, kalian akan mengalami setiap saat yang penuh kebahagiaan, merasakan kesenangan dari tanggapan penuh kasih sayang bahkan kepada tindakan yang paling negatif dari makhluk lain. Saya sudah mengkomposisikan puisi ini dengan kasih sayang untuk menguatkan keyakinan yang tajam seperti berlian bagi mereka yang sudah setia kepada jalan kebijaksanaan.
  23. Melihat kembali pada bait-bait ini, saya mempersepsikan susunan puisi yang berlimpah, mudah untuk diasimilasi dan dimengerti dengan jelas. Seluruhnya sesuai dengan ajaran sutra dan dengan kesadaran yang dalam atas pertapa yang sudah tersadarkan, kata-kata ini dipenuhi dengan gizi yang halus. Untuk merenungkan arti mereka dalam berbagai tingkatan tidak hanya untuk merasakan buah kebijaksanaan, tetapi untuk menjalani jalan kasih sayang yang luar biasa.
  24. Puisi yang mengejutkan ini mencakup beberapa bait yang sangat indah dan ajaran yang ekstensif dari aliran saya. Saya mengkomposisikan baris-baris penuh melodi, seperti permata yang mengabulkan harapan, untuk memberikan manfaat pikiran makhluk yang dicintai. Mereka yang mempunyai kapasitas kuat untuk meditasi dalam tindakan akan mendalami pandangan mereka mengenai sifat dari realitas dengan mengikuti perkataan ini ke dalam hati sang Buddha.
  25. Beberapa pengarang mengikatkan simpul yang kompleks dengan kosa kata filosofi, sementara yang lain tidak koheren seperti orang gila. Dalam tempat peristirahatan yang paling indah, gunung salju di Tibet, puisi ini, dikenal dengan Pikiran Baik yang Selalu Berkembang, sudah berusaha menulis dengan kekayaan dan kejernihan.
  26. Semoga kebahagiaan yang berasal dari kebijaksanaan yang jernih dan kasih sayang yang lembut jatuh seperti hujan musim panas yang manis dari awan biru gelap, dengan motivasi yang baik, dengan ahli dan anggun membuka kilatan kesadaran yang tidak mementingkan diri sendiri. Semoga kesadaran makhluk di semua alam dan kondisi menikmati keberadaan mereka sebagai permainan dinamis dari empat moda manifestasi Sang Buddha: transparan, universal, surgawi, dan duniawi.
  27. Setelah menjadi, melalui medium puisi ini, perkataan yang fasih dan penuh kekuatan dari Manjushri yang sempurna, berkata secara langsung dengan harmonis dan suara penuh melodi dari Dewa Kebijaksanaan, semoga saya dan semua yang berhubungan dengan saya, mulai dari serangga kecil sampai bodhisattva tingkat kesepuluh, mendapatkan berkah dari sifat Buddha: kebahagiaan yang tak terhingga, kepuasan yang tak terhingga, kesempurnaan yang tak terhingga, dan kesadaran universal yang tercerahkan.
  1. With body, speech, and mind fully aligned, I prostrate fervently before those rare beings, who are victorious over all notions of limitation, and before their spiritual daughters and sons. May a cosmic celebration of pure poetry, perfectly expressing the most subtle teaching of these victorious sages and the inheritors of their wisdom, now burst forth like an infinite garden in perpetual spring.
  2. Gaze calmly with the clear eye of Prajnaparamita (Perfect Wisdom) upon universal manifestation, this beginningless tapestry woven from vibrant karmic threads of conscious beings, and listen to the harmonious symphony of interdependence. Purify entirely from the slightest shadow of negativity this boundless expanse of apparent struggle and conflict. With diamond-clear intention, instill faith everywhere. With mirrorlike wisdom, stabilize all chaotic minds.
  3. If shadows of negativity are not dispelled immediately, these strange insubstantial absences of light gain immense potency with every new action, until even those who understand the dangers of negation will not have enough power to choose the way of Clear Light. Even those who study philosophy and speak eloquently are unable to release themselves from illusory darkness.
  4. The full spectrum of struggling and aspiring humanity, from immature persons to advanced contemplatives, suffers the painful delusion of clinging to these empty shadows as they become filled with affective power by self-centered action and intention.
  5. This apparent bondage, this clinging to shadows, is constituted by reactions of pleasure and pain, obviously or subtly rooted in self-serving motivation. By those rare beings who have gone beyond, who throughout all time abide in bliss as Buddhas, the true nature of reactions and their results is clearly known to be insubstantial. But the boundless expanse of self-oriented beings, who bind themselves inexorably to selfish motivation, therefore cannot liberate or even distance themselves slightly from egocentricity.
  6. We should meditate carefully and thoroughly upon the inevitably binding nature of negativity, learning to discriminate sensitively and unerringly between the actions which negate the preciousness of others and actions which affirm and judiciously care for others. From this clear viewpoint, renounce all negation and strive with the total commitment of your being to become entirely affirmative of all life everywhere.
  7. The seeds of action are positive and negative intentions. Any intention consciously rooted in selfless motivation, desiring only sheer goodness for all conscious life, will establish the stable ground of goodness and will universally generate rich results of goodness. Any intention even slightly weakened by selfish motivation undermines both the ground of our life and its fruits. Intention is the sole creative force of existence.
  8. To cling to the intention of triumphing over another, the desire to prosper at the expense of any being or to indulge in the slightest bias against any being because of personal feelings of attraction or repulsion, these alone are the causes for whatever suffering exists in personal lives and in the universe as a whole. We should meditate ceaselessly on this revolutionary truth, remaining conscious of it during every moment of existence.
  9. Those who attempt to deceive with words of advice that in any way exalt selfishness and depreciate selflessness become hopelessly lost in narrow-mindedness, obsessed with their own selfish interests. Such persons create the only error in the universe: diverting our precious care and concern for others to ourselves. This deception not only expresses hatred for Buddha’s wisdom but is the absurd attempt to destroy universal Buddha nature.
  10. To avoid decisively this disastrous way of hatred, bring to birth within your stream of awareness the maternal mind of totally positive intentions toward all beings as toward cherished children. This mind of kindness, supremely skillful in loving care, unveils the infinite value of every single life, demonstrating compassion as the meaning of existence. But the clumsy negative mind, operating blindly without concern for the preciousness of others, drains the nectar of meaning from human life. Cultivate diligently the selfless love that transforms every thought and action into tangible help for conscious beings.
  11. The method taught by awakened sages to develop this skillful mind of kindness is to cut the root of all selfish projections by repeatedly and intensively studying Perfect Wisdom, meditating single pointedly on its essence in a state of contemplative stillness and stability. With the clarity and honesty of such concentration, projected worlds of self-serving desire will melt in the sunlight of meditation, like structures of ice, revealing the magnificent secret of our existence, its total significance and absolute justification, which is active compassion for all conscious life.
  12. Such meditative practice brings to light the mind which envisions only the well-being of others, which is constantly grateful to all beloved beings for the immeasurable kindness they have poured forth through beginningless time as mothers, fathers, children, friends, benefactors, and teachers. This mind of goodness knows only the ceaseless longing to benefit all these blessed beings without exception in whatever manner and on whatever level imaginable.
  13. To remember vividly during every moment the kindness that has been expressed by all beings, and to cultivate an intense and constant longing to return even a small portion of this kindness, unveils the true significance of life in all worlds. The person who fails to respond wholeheartedly to this call for universal kindness and concern is on a lower plane of development than animals, who are capable of experiencing immense gratitude.
  14. Those who unhesitatingly embrace and tenderly serve all suffering creatures during this degenerate age, just as a loving mother painstakingly cares for even the most wayward of her children, they alone are the teachers of the holy life who authentically walk the Buddha Way.
  15. The mind that faithfully and tirelessly serves and elevates conscious beings is sheer goodness, constantly giving the gift of itself, its faith in ever-expanding goodness, to all other minds thereby benefiting them in the most direct way. Of all possible forms of benefit on any level, the highest is to teach this practice of love, this indomitable faith in universal goodness, by the direct transmission of selfless awareness flowing transparently from mind to mind in accordance with the need and capacity of each mind. This is true teaching, tangibly transmitting the living energy of universal goodness, which becomes perpetually active in the recipient, even during the most pressing times of crisis, never evaporating into mere words or concepts.
  16. During this blissful practice, continually cultivating the wonderful, ever-expanding mind of goodness, even the slightest lack of sympathetic joy disappears and awareness becomes more concentrated and selfless, while the selfish emotions and conceptual projections which compose this narrow conventional world are gradually effaced, and we are completely liberated. The brilliant sun of Great Compassion shines unobstructed. The spirit of wholehearted love in every thought and action constitutes the spontaneously radiating sunlight, effortlessly melting the mist of self-centeredness, vastly strengthening our constant efforts for all beings.
  17. Beings benefit each other, consciously or unconsciously. Even enemies become profound benefactors in subtle ways. Those who clearly perceive this radical principle find no isolated object for hostile thought. They can discover and encounter only friends, benefactors, and inseparably related beings. This insight avoids aggressive thinking and allows the mind to expand endlessly into wholesomeness, generosity, and sympathy.
  18. Never offering the slightest encouragement to hostility, never hesitating to embrace the concerns of others, pay complete attention to every altruistic impulse that arises in the stream of pure awareness. Contemplate the teaching of selfless compassion, calming and clarifying the turbulent flood of egocentric mind with the sweetest meditation. Renounce the meaninglessness of selfish life. Become devoted to the true meaning of existence: the spontaneous, active compassion for all living beings. If one does not refute self-centered motivation, the subtle tendencies of the mind can never be free from the gross or subtle disposition to negation.
  19. Transform the intense activity of daily life into the harmonious expression and teaching of truth by affectionately reminding and being reminded that the bitter dark fruits of negating others are poisonous, to be most carefully avoided, while the sweet bright fruits of affirming others are life-giving, to be thoroughly enjoyed. Authentic delight exists only in serving others, and suffering springs only from harming others or insensitively ignoring the needs of living beings, all of whom are as intimately related to us as our own precious mother and father.
  20. So sensitive an ecology is the interdependence of all, that the slightest attention and assistance to others creates moral elevation for ourselves and humanity, while the slightest indifference or neglect toward others creates moral harm for ourselves and our civilization. The faintest spark of ill will toward other beings can burst forth into a terrible forest fire, consuming vast expanses of sympathetic joy. Even the faintest negative reaction or malicious wish opens wide channels throughout our entire being for life-destroying poisons of negation and life-obscuring shadows of self-cherishing.
  21. Cast far away from all precious humanity these lethal doses, these ominous shadows, by cultivating instinctive admiration and love for those who practice the way of selflessness. Adore such bodhisattvas for their irreversible vow to remain intimate with the struggle of living beings as beacons of love and as the light of panoramic vision.
  22. Once identified with this luminous way of life, you will experience every moment as soaked in bliss, tasting the delight of compassionate responses to even the most negative actions of other beings. I have composed this poem of rapturous affection further to strengthen the diamond-sharp conviction of those already faithful to the path of wisdom.
  23. Gazing back over these exuberant verses, I perceive an abundant banquet of poetry, easy to assimilate and to understand clearly. Entirely in accord with the teaching of the sutras and with the deep realization of awakened sages, these words are full of subtle nourishment. To contemplate their various levels of meaning is not only to taste the nectar of wisdom but is to walk the sublime path of compassion.
  24. This surprising poem condenses into a few verses the profound and extensive teachings of my lineage. I have composed these melodic lines, like heavenly wish-fulfilling gems, to benefit the minds of all beloved beings. Those with strong capacity for meditation in action will deepen their insight into the nature of Reality by following these words into the heart of Buddha.
  25. Some authors tie complex knots of philosophical terms, while others rave incoherently like mad persons. In the most beautiful hermitage, the snow mountains of Tibet, this poet, known as Ever-Expanding Mind of Goodness, has attempted to write with richness and lucidity.
  26. May the bliss of the mystical fusion of transcendent wisdom with tender compassion fall like sweet summer rain from dark blue clouds, the motivation of goodness, skillfully and gracefully opened by lightening flashes of selfless awareness. May conscious beings in every realm and condition enjoy their glorious existence as the dynamic play of Lord Buddha’s four modes of manifestation: transparent, universal, heavenly, and earthly.
  27. Having become, through the medium of this poem, the powerful and eloquent speech of Divine Manjushri, speaking directly with the harmonious and melodious voice of the transcendent Wisdom Deity, may I and all my relations and companions, from small insects to tenth-level bodhisattvas, attain the blessings of primordial Buddha nature: infinite bliss, infinite fulfillment, infinite perfection, and universal conscious enlightenment.

 

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Visitors

We have 59 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013