10 Steps to Happiness PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 12523

 

10 Steps to Happiness

Ketika kita menemukan sesuatu yang nyaman, lari.

H.E. Tsem Tulku Rinpoche

Whenever we come across something comfortable, run.

H.E. Tsem Tulku Rinpoche

Sekali kita menjadi terbiasa untuk hidup dan berpikir dengan pola tertentu, kita sudah menciptakan zona nyaman. Masalahnya adalah dengan mempunyai zona nyaman akan membawa kepada keadaan dimana perasaan senang akan mencegah kita mencoba sesuatu yang baru dan berusaha untuk berbuat lebih, atau mencegah kita untuk mencapai potensi kita yang sepenuhnya.

Jalan spiritual kita tidak berakhir sampai kita tercerahkan sepenuhnya. Sampai saat itu, usaha terus-menerus untuk belajar, merenungkan, berlatih, dan mengaplikasikan. Seperti menaiki tangga – sewaktu kita menaiki satu anak tangga, kita harus melepaskan untuk dapat menaiki anak tangga selanjutnya. Seperti menaiki tangga, sama seperti jalan spiritual kita, kita tidak mau tinggal dalam satu level untuk jangka waktu yang lama sehingga momentum kita akan hilang. Sikap seperti ini akan membuat pendakian lebih lancar.

Ketika kita menemukan sesuatu yang menyenangkan, persembahkan.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Obyek dari keinginan kita bukanlah masalah yang sebenarnya. Keterikatan kita pada mereka adalah masalahnya. Emosi seperti ini mempunyai kemampuan untuk membesar-besarkan keinginan atau ketertarikan pada suatu obyek melebihi yang sebenarnya. Dari ketertarikan awal, energi ini berkembang menjadi sesuatu yang yang kuat yang membuat kita memfokuskan perhatian kita kepada obyek tersebut sampai kita berpikir bahwa “Saya harus memilikinya.” Setelah itu terjadi, kita sudah menciptakan resep untuk bencana. Kita akan merasa benci pada semua orang dan benda yang berdiri diantara kita dan obyek ketertarikan kita.

Sampai kita dapat mengendalikan energi keinginan ini, lebih masuk akal untuk menahan godaan dan sebagai solusi sementara, hindari obyek tersebut. Tetapi, cara yang paling baik adalah mempersembahkannya kepada orang lain dan mendedikasikannya untuk memberi manfaat bagi semua makhluk dan pencerahan kita. Dalam melakukannya, kita mengumpulkan banyak pahala yang akan menolong kita dalam perjalanan spiritual kita.

Bagian 2

Once we become used to living or thinking in a particular pattern, we have established our comfort zone. The problem is with having a comfort zone is that it leads to complacency. Such a feel-good factor prevents us from being adventurous and striving to do more, or prevents us from realising our fullest potential.

Our spiritual path does not end until we are fully enlightened. Until then, it is a constant endeavour of study, contemplation, practice and application. It is like climbing a ladder – once we reach a step, we have to let go in order to ascend to the next. When climbing the ladder, much like our spiritual path, we also do not want to stay at one level for too long so that our momentum will not be lost. Such an attitude makes for a much smoother climb.

Whenever we encounter something pleasant, offer it.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

The object of our desires are not really the problem. It is our attachment to them. This afflictive emotion has the ability to exaggerate the desirability or attractiveness of an object beyond what it really is. From initial interest, this energy develops into a powerful force which makes us direct all our attention to the object until we think, “I must possess it”. Once that happens, we have created the recipe for disaster. We will develop hatred against anyone or anything which stands between us and the object of our desire.

Until we have some control of this desirous energy, it makes sense to resist temptations and as a temporary solution, avoid such objects. However, a better way would be to offer it to others, and dedicating it for the benefit of all living beings and our enlightenment. In doing so, we collect vast merits which will help us along our spiritual journey.

Part 2

10 Steps to Happiness

Ketika kita melihat sesuatu yang indah, hargailah dan teruskan perjalanan.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Whenever we see something beautiful, appreciate it and move on.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Sang Buddha mengatakan bahwa tidak ada yang permanen. Semua hal, baik atau buruk, cantik atau jelek, adalah penampakan dalam pikiran kita dan tidak memiliki keberadaan yang sebenarnya. Ketika kita mengerti sifat mereka yang sebenarnya, tidak ada lagi dasar bagi kita untuk menghabiskan waktu dan energi kita untuk mendapatkan mereka atau menghindari mereka.

Kita harus menikmati hal-hal di dunia ini seperti kita menikmati matahari terbenam atau pelangi, yaitu, kita tidak mengejar mereka. Jadi kita tidak terikat, kita akan menikmati kebebasan untuk mengalami lebih, dan lebih menghargai. Meninggalkan sesuatu tidak mengurangi kebahagiaan kita. Lama setelah pengalaman yang menyenangkan berlalu, pengalaman ini akan bersinar dalam ingatan kita untuk waktu yang lama. Dengan tidak terikat, kita siap untuk mendapatkan dan menemukan pengalaman baru yang segar.

Ketika kita merasa nyaman, ingatlah dan teruskan perjalanan.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Ketika kita sampai pada zona nyaman dalam hidup kita, kita tidak boleh beristirahat didalamnya. Bila kita melakukannya, kapasitas kita untuk belajar lebih dan memberi manfaat akan terbatas. Meneruskan berarti maju dalam perjalanan spiritual kita dengan membangun diatas pengalaman kita yang lalu.

Pada saat kita terbenam dalam sesuatu, ingatlah tidak ada yang kekal.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Terbenam berarti memikirkan mengenai diri kita sendiri setiap waktu. Seperti pikiran yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memberi tempat bagi orang lain. Ini adalah pikiran yang terpusat pada “Saya,” “DIRI SAYA,” “MILIK SAYA” setiap waktu. Hal ini adalah akar dari semua masalah kita dan kesulitan dalam hubungan, pekerjaan, interaksi sosial, dan keluarga. Dalam mengejar obyek-obyek yang menjadi keinginan kita, kita tidak menghiraukan kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk lain. Dalam prosesnya, banyak energi yang difokuskan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, banyak pikiran buruk yang ditujukan kepada mereka yang menghalangi jalan kita dan banyak rasa sakit dan frustasi yang disebabkan oleh diri kita untuk tetap memiliki hal-hal ini.

Pertumbuhan materi berarti kemunduran spiritual. Hidup menjadi perjuangan, dipenuhi dengan kekhawatiran dan energi negatif. Pada akhirnya, semua sia-sia. Ketika kita meninggal, kita akan kehilangan semuanya. Kita akan menyesal bahwa kita tidak memakai sebagian dari energi kita untuk melatih metode yang akan membantu kita pada saat kematian dan di kehidupan yang akan datang.

Bagian 3

The Buddha said that nothing is permanent. All things, good and bad, beautiful or ugly, are appearances to our mind and have no true existence. When we understand their true nature, there will be no basis for us to devote all our time and energy to get them or to get rid of them.

We should enjoy things in this world the way we enjoy a sunset or a rainbow; that is, we do not chase after them. Thus being unattached, we will enjoy the freedom to experience more, and to appreciate more. Moving on does not reduce our happiness. Long after the encounter with something pleasurable is gone, the experience of it will glow in our memory for a long time. Being unattached, we are ready for new and fresh experiences and discoveries.

Whenever we feel cosy, remember it and move on.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

When we reach a comfort zone in our lives, we should not rest in it. To do so would be limiting our capacity to learn more and to benefit more. Moving on means progressing in our spiritual journey by building upon our previous experiences.

Whenever we get absorbed, remember nothing lasts.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Getting absorbed means thinking about ourselves all the time. Such a self-cherishing mind leaves no space for others. It is a mind that centres around ‘I’, ‘ME’, ‘MINE’ all the time. It is the root cause of all our problems and difficulties in relationships, work, social interaction and family. In pursuing the objects of our wants and desires, we disregard the welfare and happiness of others. In the process, so much energy is focused into getting what we want; so many bad thoughts are directed at those who are in our way and so much pain / frustration is caused to ourselves in trying to keep those things.

Material growth means spiritual decline. Life becomes a struggle, filled with anxieties and negative energies. In the end, it is all futile. When we die, we will lose everything. We will regret we did not use some of our energy to train in methods which will help us at the time of our death and in our future lives.

Part 3

10 Steps to Happiness

Ketika kita merasa sangat bahagia, ingatlah kematian.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Sang Buddha mengajarkan filosofi jalan tengah untuk melindungi kita dari jatuh kedalam hal-hal yang ekstrim. Cobaan hidup tidak harus menjadi tidak tertahankan bila kita menyeimbangkan hidup kita. Ketika kita bahagia, kita tidak boleh terlalu berlebihan dengan perasaan dan emosi kita. Lebih banyak kesenangan kita, akan lebih banyak juga kekecewaan kita pada akhirnya.

Bahaya yang sebenarnya adalah ketika kita mengembangkan keterikatan pada rasa senang. Lebih banyak kita terbenam dalam pengalaman seperti ini, lebih kuat keterikatan kita. Akhirnya, bahkan pikiran untuk jauh dari obyek yang menjadi keinginan kita akan menimbulkan ketakutan yang terus-menerus dan mimpi buruk. Hal ini karena kita melupakan mengenai kematian, atau kita berusaha mengingkari kematian.

Kita perlu mengerti bahwa walapun kematian pasti terjadi, waktu kematian itu sendiri tidak pasti. Kematian mungkin akan terjadi setelah satu napas. Bila kita tidak melatih pikiran kita untuk bersiap-siap menghadapi hal yang pasti ini, kita akan meninggal dalam ketakutan dan penyesalan.

Kita akan meninggal dalam ketakutan karena kita tidak memiliki perlindungan dari bahaya kelahiran kembali di alam bawah. Kita akan meninggal dengan menyesali bahwa kita tidak melakukan apapun untuk meyakinkan bahwa kehidupan kita yang akan datang akan bahagia dan kita sudah membuang seluruh kehidupan kita untuk mengejar benda-benda, hubungan, penampilan, dll. Semua yang harus kita tinggalkan pada saat kematian.

Bila kita memasukan faktor realitas kematian dalam kehidupan sehari-hari, kita akan ingin belajar metode yang membantu kita untuk mendapatkan kelahiran kembali yang baik. Dalam prosesnya, kehidupan kita akan lebih berarti. Kebahagiaan kita akan lebih tidak seperti roller-coaster, kita mulai merasakan kebahagiaan yang lebih stabil dan berkualitas lebih tinggi yang biasa dikenal dengan kedamaian dari dalam. Mara kematian bisa mendapatkan tubuh kita untuk makan malam tetapi kita tetap bisa meninggal dengan senyum…ini baru super!

Bagian 4

Whenever we feel super happy, remember death.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Buddha taught the Middle Way philosophy to protect us from falling into extremes. The trials and tribulations of living need not be so unbearable if we have balance in our lives. When we are happy we should not go overboard with our feelings and emotions. The greater the pleasure, the greater will be our disappointment when it ends.

The real danger is when we develop attachment to sense pleasures. The more time we indulge in such experiences, the stronger will be our attachment. Eventually, even the thought of being away from the objects we desire becomes our constant fear and nightmare. This is because we forget about eventual death, or we are in denial of death.

We need to be mindful that although death is certain, the time of death is uncertain. Death can be just a breath away. If we have not trained our mind to prepare for such an eventuality, we will die fearful and filled with regrets.

We will die in fear because we have no protection from the dangers of the lower realms of rebirth. We will die regretting we did nothing to ensure our future lives will be happy ones and that we had wasted our entire life chasing after things, chasing after relationships, being preoccupied with our looks, etc., all of which we will have to part with at time of death.

If we factor in the reality of death in our daily lives, we will want to learn methods which we will enable us to have good rebirths. In the process, our lives become more meaningful. Our happiness will be less of a roller-coaster ride; we begin to experience a more stable, higher quality of happiness called inner peace. The Mara of Death can have our body for supper but we can still die with a smile…that would really be super!

Part 4

10 Steps to Happiness

Bilamana kita merasa sangat depresi, ingatlah kehidupan.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Kehidupan dalam konteks agama Buddha berarti kehidupan yang lalu, sekarang, dan akan datang. Mengingat kehidupan berarti belajar dari masa lalu agar dapat memperbaiki masa depan. Hal ini membuat kehidupan kita yang sekarang lebih berarti dan bahagia.

Bagi mereka yang percaya hanya ada satu kehidupan, berpikir bahwa hidup berakhir setelah 100 atau beberapa tahun, kita menutup pintu untuk menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Pandangan yang salah seperti ini membawa kita kepada sikap yang buruk yang akan membawa penderitaan.

Bila kita percaya kita hanya memiliki waktu yang pendek untuk hidup, hal ini akan membuat kita tidak sabar untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Akan natural bagi kita untuk melakukan hal-hal dengan sembrono dan dendam, dengan sedikit kepedulian pada kesejahteraan makhluk lain dan konsekwensi jangka panjang. Kita akan cemburu ketika orang lain mendapatkan apa yang tidak bisa kita dapat. Bagaimana mungkin kita tidak khawatir dan kompetitif ketika kita hanya memiliki waktu yang sedikit untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan dan menikmati apa yang kita inginkan?

Bagaimana mungkin kita tidak khawatir dan frustasi tanpa kepastian untuk melihat buah atau kesinambungan dari usaha kita ketika waktu kita berjalan cepat, bahkan kadang tiba-tiba? Bagaimana dengan kesalahan yang telah kita lakukan? Bagi sebagian besar dari kita, kita akan meninggal dengan penyesalan karena membuat kesalahan ini dan tidak dapat memperbaikinya.

Kita perlu mengembangkan keyakinan yang kuat akan adanya kehidupan yang akan datang, bahwa akan ada kesinambungan hidup setelah kematian. Bentuk fisik kita mungkin berubah tetapi kita hidup dengan kesinambungan mental yang sama seperti yang sekarang. Kondisi kita yang sekarang adalah hasil dari apa yang kita lakukan di masa lalu. Mengetahui hal ini, kita dapat menerima situasi buruk dan kesulitan dengan lebih baik, dan tidak membuat situasi kita semakin buruk dengan menyalahkan orang lain.

Ada tujuan dan harapan karena kita bisa menciptakan sebab untuk mendapatkan kondisi yang lebih baik di kehidupan mendatang. Sikap negatif dan persaingan akan dikurangi karena apapun yang tidak kita peroleh sekarang, bisa kita dapatkan di kehidupan mendatang dengan menciptakan sebab yang benar. Kita juga dapat menciptakan sebab untuk mendapatkan kebahagiaan sementara dan permanen dan kebebasan dari semua penderitaan. Hal inilah yang membuat hidup kita berharga.

Pengertian seperti ini memberikan arti dan tujuan dalam kehidupan kita saat ini, karena ada harapan yang benar untuk kita kerjakan. Bila kita berpikir bahwa hanya ada satu kehidupan, tidak ada harapan, hanya depresi.

Part 5

Whenever we feel super depressed, remember life.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Life in the context of Buddhism means past, present and future lives. Remembering life means learning from the past in order to improve the future. This makes our present life a more meaningful and happier one.

For those who believe in only one life, thinking that life ends after 100 or so years, we close the door to finding true happiness. Such a wrong view leads us to negative and bad attitudes which bring on suffering.

If we believe we only have such a short time to live, it will make us impatient to get what we want. It will be quite natural for us to be reckless and vengeful, with little concern for others’ welfare and long-term consequences. We will get jealous when others get what we cannot get. How can we not get anxious and competitive when we have so little time to do what we want to do and enjoy what we wish?

How can we not worry and feel frustrated without the certainty of seeing the fruits or continuity of our efforts when time runs out on us, sometimes abruptly? What about the wrongs and mistakes we have committed? For most of us, we will die regretting making these mistakes and not being able to make amends.

We need to develop a strong belief in future lives, that there is continuity of life after death. Our physical form may change but we live on with the same mental continuum as the current one. Our present condition is the result of what we did in the past. Knowing this, we can accept adversity and difficulties better, and not make our situation worse by blaming others.

There is purpose and hope because we can create causes to have better conditions for our future lives. Negative and competitive attitudes are reduced because whatever we do not get now, we can have in future lives by creating the right causes. We can also create causes to attain temporary and permanent happiness and freedom from all suffering. This is what makes our life so precious.

Such an understanding gives meaning and purpose to our present life, as there is real hope to work with. If we think there is only one life, there is no hope, only depression.

Part 5

10 Steps to Happiness

Ketika kita menemukan tembok batu, berfokuslah pada ruangan di belakang tembok.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Ini bukanlah catatan trik [sulap] David Copperfield. Ketika kita menemui masalah dan kesulitan dalam kehidupan kita, kita biasanya berfokus terlalu banyak pada perasaan penolakan, kemarahan, dll. Hal ini mencegah kita untuk menemukan solusi atau menemukan cara alternatif. Berfokus pada perasaan negatif mempunyai efek untuk membuat masalah kecil menjadi lebih besar daripada yang sebenarnya dan bahkan masalah sedang menjadi sangat besar.

Kita perlu belajar mengenai bagaimana berpikir diluar kotak. Untuk melakukan ini, kita harus memiliki pengetahuan. Lebih banyak pengetahuan berarti lebih banyak pilihan dalam berbagai situasi. Sebagai contoh, bila kita berpikir keberadaan kita dimulai dari kelahiran dan berakhir dengan kematian, bahwa masalah ini tidak mungkin, dan kita tidak bisa – maka kita tidak bisa melihat melebihi tembok. Batasan ini mencegah dan menghentikan kita dari mengeksplorasi berbagai kemungkinan dan kesempatan.

Whenever we encounter a brick wall, focus on the space behind the wall.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

This is not a David Copperfield trick. When we encounter problems and difficulties in our lives, we usually focus too much on the immediate negative feelings of rejection, anger, etc. It prevents us from finding a solution or finding ways to go round it. Focusing on our negative feelings has the effect of making small problems appear bigger than they are, and even medium problems seem insurmountable.

We need to learn how to think out of the box. To do this, we must have knowledge. More knowledge means more options to deal with any situation. For example, if we think our existence begins with birth and ends in death, that the problem is impossible, and that we cannot – then we cannot see beyond the wall. These limitations prevent and stop us from exploring for other possibilities and opportunities.

When a problem arises, we have to accept that it has arisen. We should not let our anxieties and disappointments drag us down. As it had been said, “If a problem can be solved, there is no need to worry. If it cannot be solved, what is the point of worrying?” However, our tendency is to worry as soon as a problem arises.

Worrying is almost like wishing for bad things to happen. Yes, we have to stop thinking about the wall in front of us, and look at the space behind the wall which is more promising. A broken pot is not a problem; we can always buy another. Losing a job is not a problem; we can find another.

Loneliness is not a problem; we can always make new friendships. It is a problem however, if we wallow in self-pity or blame the world for our losses. The wall is our stubborn, closed mind solidified by our afflictive emotions. Open our minds up and problems will disappear.

Bagian 6

Part 6

Ketika kita tidak bisa bertoleransi terhadap hal-hal yang baik yang kita miliki, laksanakan kegiatan amal.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Bahkan bila secara umum kita bahagia atau merasa puas dengan nasib baik kita, kita masih harus melaksanakan kegiatan amal karena hal ini akan memperkaya kehidupan kita dan kita akan merasakan kebahagiaan yang berkualitas lebih tinggi dan kebebasan dari rasa takut akan kehilangan.

Memberi bisa dilakukan dengan banyak cara. Bila kita mempunyai uang, kita dapat memberi kepada kaum miskin dan papa. Bila kita memiliki sumber daya yang terbatas, kita dapat memberikan harapan, dukungan, rasa simpati atau kasih sayang. Kita bisa memberikan waktu kita dan melayani orang lain di rumah sakit, panti jompo, tempat keagamaan dan komunitas lain dan organisasi amal. Kita akan selalu berdoa untuk makhluk lain.

Memberi adalah membuat orang lain bahagia dan mengurangi kelakuan yang mementingkan diri sendiri. Ketika kita mengarahkan perhatian kita kepada kebutuhan orang lain, melihat makhluk lain lebih penting dari diri kita, secara efektif kita menciptakan sebab untuk kebahagiaan dan mengakhiri penderitaan.

Bila kita terus menikmati nasib baik kita, mengambil tanpa memberi, walaupun kepemilikan materi kita bertambah, kita akan menderita kemiskinan akan kebaikan. Kita harus menganggap diri kita sangat diberkahi karena berada dalam situasi dimana kita memiliki sumber daya untuk menolong banyak makhluk.

Dengan menyadari bahwa nasib baik yang kita nikmati sekarang adalah hasil dari amal yang kita lakukan di masa lalu, kita harus terus melakukan hal ini untuk meyakinkan bahwa kita akan terus menikmati nasib baik di kehidupan kita yang akan datang dan mempunyai hak istimewa untuk memberi manfaat bagi makhluk lain.

Bagian 7

Whenever we cannot tolerate all the good things we have, practise charity.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Even if we are generally happy or contented with our good fortune, we should still practise charity as it will enrich our lives and we will experience higher qualities of happiness and freedom from fear of loss.

Giving can be done in many ways. If we have money, we can give to the poor and destitute. If we have limited resources, we can give hope, encouragement, empathy or love. We can be generous with our time and serve others in hospitals, old folks' homes, religious centres and other community and charitable organisations. We can always pray for others.

Giving is about making others happy and reducing our self-cherishing attitudes. When we focus our attention on others' needs, seeing others important over and above ourselves, effectively we are creating the cause for happiness and an end to suffering.

If we continue to indulge in our good fortune, taking without giving, even though we may grow in material possessions we will suffer the poverty of virtue. We should consider ourselves very blessed to be in a situation whereby we have resources to help many.

Understanding that the good fortune we are presently enjoying is the result of the practice of generosity in the past, we should continue to do so to ensure we will continue to enjoy such good fortune in our future lives and having the privilege to benefit so many.

Part 7

Ketika kita tidak bisa bertoleransi terhadap hal-hal buruk yang kita miliki, SUNGGUH percayalah pada karma.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

Ketika dunia kita runtuh, ketika kita menderita kehilangan, ketika sepertinya setiap orang melawan kita, kita harus mengerti karma mengapa kita mengalami pengalaman buruk dan kondisi seperti ini. Menyalahkan orang lain untuk nasib buruk kita hanya akan menambah masalah dan kepahitan. Menyalahkan Tuhan tidak akan menyelesaikan masalah kita, tetapi dapat membuat kita lebih tidak bahagia dan frustasi.

Karma adalah satu aspek dari Hukum Sebab Akibat berdasarkan semua tindakan kita adalah sebabnya dan pengalaman kita adalah hasilnya. Karma bekerja berdasarkan prinsip yang jelas. Tindakan yang baik akan menghasilkan hasil yang positif dan bahagia. Hasil dari tindakan tidak baik adalah kesedihan dan tidak bahagia.

Dengan pengetahuan ini, kita harus membuat tekad yang kuat untuk meninggalkan atau tidak melakukan tindakan yang mencelakakan untuk diri kita dan orang lain. Kita sendiri adalah pewaris dari tindakan karma yang kita lakukan di masa lalu dan saat ini. Tidak ada orang yang bisa kita salahkan dan kita tidak bisa menghindari merasakan hasilnya sekarang dan di masa depan, bila kita tidak melakukan apa-apa mengenai hal ini dan meneruskan kebiasaan kita.

Mengerti karma memberikan kita rasa lega, harapan, kesabaran, dan dukungan moral untuk menghadapi cobaan yang merupakan konsekwensi dari tindakan kita di masa lalu. Keyakinan yang kuat terhadap karma adalah pilihan untuk hidup dengan etika dengan mengambil tanggung jawab pribadi. Kita pasti bisa memenuhi harapan kita untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan kebahagiaan dengan menciptakan sebab yang benar sekarang.

Masa depan ada di tangan kita dengan cara bekerja karma. Karma adalah suatu hal yang pasti, ini adalah yang dikatakan oleh Sang Buddha yang tidak pernah berbohong atau mempunyai alasan untuk berbohong. Dengan ini kita mempunyai tiket yang menjamin kebahagiaan atau penderitaan kita. Sekarang setelah kita tahu, ini adalah pilihan kita.

Whenever we cannot tolerate all the bad we have, REALLY believe in karma.

H.E. TSEM TULKU RINPOCHE

When our world falls apart, when we suffer loss, when it seems everyone is turning against us, we have to understand karma to know why we are having such bad experiences and conditions. Blaming others for our misfortune will only increase our problems and bitterness. Blaming God will not resolve our problems, but can make us even more unhappy and frustrated.

Karma is one aspect of the Law of Causality according to which all our actions are its causes and our experiences its results. Karma operates along definitive principles. Actions which are virtuous will yield happy or positive results. Results of non-virtuous actions will be states of misery and unhappiness.

With this knowledge, we should make a firm determination to abandon or refrain from committing actions which are harmful to ourselves and others. We alone are the inheritors of our own karmic actions committed in the past and present. There is no one we can blame nor can we avoid experiencing the results now and in future, if we do nothing about it and continue with our old habits.

Understanding karma gives us consolation, hope, patience and moral courage to face the trials and tribulations which are consequences of our past deeds. A firm belief in karma is a vote for living ethically by taking personal responsibility. We can definitely fulfil our wishes to have better quality of life and happiness by creating the right causes now.

The future is in our hands by working with karma. Karma is infallible, so said the Buddha who has never been known to lie nor have any reason to lie. With it we can get a guaranteed ticket to happiness or misery. Now that we know, it is our choice to make.

 

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Add comment

Visitors

We have 17 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013