TRANSKRIP - Ajaran Guru Yoga PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 6821

 

Apr 6, 2010

Kepada sahabat dan pencari Kebijaksanaan,

Saya, dengan tulus dari dasar hati saya, ingin agar setiap orang mendapatkan kebijaksanaan, ingatan yang baik, pengertian atas dharma yang memotong masalah kalian sampai habis, pahala untuk membersihkan kesulitan, dan mendapatkan pencapaian yang besar sebelum hidup kalian selesai. Saya tahu bahwa praktek Tsongkhapa Guru Yoga dapat menolong kalian mencapai semua ini dan kalian tidak membutuhkan inisiasi berat atau komitmen untuk hal ini dan kalian bisa memulai dimana saja dan kapan saja. Ya kalian bisa mulai dimana saja dan kapan saja dan tidak ada bahaya bila melakukannya dengan tidak tepat …Saya menerima praktek suci ini beserta penjelasannya dari HH Kyabje Zong Rinpoche lebih dari 23 tahun yang lalu dan sekarang saya meneruskannya di sini untuk memberikan manfaat bagi kalian semua. Apapun yang diberikan oleh Kyabje Zong Rinpoche adalah melebihi semua keraguan… Saya benar-benar ingin kalian semua mendapatkan manfaatnya… saya ingin semua orang baik-baik saja… sekarang dan di kehidupan yang akan datang…. Saya ingin meminta kalian dengan tangan terkatup untuk melakukan praktek Tsongkhapa ini dan melakukan seluruhnya… bila kalian melakukannya, hal ini akan memenuhi maksud bahwa saya ada di Facebook, blog, dan Twitter (internet).. Bila kalian dengan tulus untuk waktu yang lama melakukan praktek ini, maka kalian akan baik-baik saja dan saya sudah melakukan suatu yang berguna, dan kalian akan mendapatkan banyak hal… sungguh…

Saya di sini untuk memberi manfaat bagi kalian dengan kemampuan saya yang terbatas. Menge-post ajaran ini adalah salah satu cara saya dalam melakukannya. Saya akan sangat bahagia bila kalian melakukannya setiap hari dengan antusiasme yang besar, stabil, dan sembari belajar lebih selama melakukan praktek ini…Lakukanlah hal yang baik ini untuk dirimu, kalian patut menerimanya setelah ada untuk waktu yang sangat lama. Kalian patut menerimanya setelah apa yang kalian alami selama ini… . Dengan tulus dan rendah hati,

Tsem Rinpoche

Apr 6, 2010

Dear friends and seekers of Wisdom,

I truly want from the depths of my heart everyone to gain wisdom, great memory, understanding of dharma that cuts through your problems, merits to purify obstacles, and to gain great attainments before your life is through. I know the practice of Tsongkapa Guru Yoga can help you accomplish all of this and you don't need heavy initiations or commitments for it and you can start anywhere and anytime. Yes you can start anywere and anytime and there is no danger of doing it wrong whatsoever…. I received this sacred practice and commentary from HH Kyabje Zong Rinpoche over 23 years ago and I am passing it here to all of you for your benefit. Whatever Kyabje Zong Rinpoche gives us is beyond any scrutiny or doubt… I really want all of you to sincerely benefit so very much…I want everyone to be ok…now and future lives…. I would request you with folded hands to do this practice of Tsongkapa and go all the way..if you do so, it fulfills one of the reasons I am even on Facebook and blog and twitter (internet)..If you sincerely over a long period of time do this practice, then you will be ok and I will have done something worthwhile and you will gain so much…really..

I am here to benefit you with my limited abilities. Posting this is one of my ways to do so. I would be so happy if you go all the way daily, with great enthusiasm, great stability and learning more as you go along the way while doing this practice…Please do this wonderful thing for yourself, you deserve it after being in existence for so long, you deserve it for all you have gone through….Sincerely and humbly,

Tsem Rinpoche

Disc 1

Disc 1

Dim lights Embed Embed this video on your site

[Ajaran ini] berasal dari Je Tsongkhapa sendiri dan dikenal sebagai Ganden Lhagyama atau Seratus Dewa dari Tanah Bahagia. Seratus Dewa dari Tanah Bahagia mewakili surga Maitreya. Ini adalah nama lain dari surga Maitreya atau dalam bahasa Sanskrit kita menyebutnya "Tushita," dalam bahasa Tibet kita sebut "Ganden." Atau Seratus Dewa dari Tanah Bahagia dan Buddha yang menguasai tempat ini adalah Maitreya. Sebelumnya Buddha Shakyamuni.

Ketika Buddha Shakyamuni terlahir di planet kita, beliau melepaskan mahkotanya, perhiasan Bodhisattva dan beliau memberikannya pada Buddha Maitreya. Setelah itu, beliau terlahir kembali di bawah. Jadi Buddha yang bertahta di surga ini adalah Lord Maitreya sekarang ini.

Jadi Je Tsongkhapa mewariskan instruksinya kepada Sherab Senge yang merupakan murid utamanya. Je Sherab Senge adalah guru meditasi yang sangat, sangat, sangat luar biasa yang mempunyai ribuan murid. Salah satu murid utamanya adalah His Holiness Dalai Lama yang pertama. Jadi Je Sherab Senge bukanlah seorang Lama biasa, melainkan guru dari Dalai Lama yang pertama. Makhluk yang kita kenal dengan Dalai Lama adalah makhluk yang tercerahkan, jadi gurunya seharusnya tercerahkan juga. Jadi ajaran ini diteruskan.

Je Sherab Senge adalah penerus dari ajaran tantrik Je Tsongkhapa. Jadi aliran tantrik Je Rinpoche - semua inisiasi tantrik dan ajaran dan transmisi - diteruskan dari Je Rinpoche kepada Lama yang luar biasa ini, Je Sherab Senge. Beliau juga mendirikan biara Tantrik Gyume di Tibet. Dahulu, ini adalah salah satu dari dua biara terbesar - Gyuto dan Gyume. Dan biara Gyume juga didirikan kembali di India Selatan.

Jadi instruksi ini diteruskan kepada muridnya, Donangpa Palden Sangpo. Setelah itu diteruskan kepada Tangatok dari biara Ngatah. Lama yang luar biasa dari biara Ngatah, Lama Tangatok, adalah praktisi doa Migtsema yang luar biasa. Jadi beliau mampu menghindarkan banyak penyakit, beliau mampu menghindarkan banyak kesulitan dan beliau mampu menghindarkan banyak energi negatif dan menyembuhkan dengan melakukan Migtsema saja.

Beliau tidak harus melakukan Tara untuk menyembuhkan, untuk memperpanjang hidup. Beliau tidak perlu melakukan Vajrapani untuk menghancurkan dan mengatasi kekuatan negatif, kekuatan dari luar. Beliau tidak perlu melakukan Avalokiteshvara untuk membawa kedamaian ke daerah tersebut. Beliau tidak perlu melakukan Manjushri untuk mendapatkan kebijaksanaan. Beliau melakukan Migtsema dan dengan Migtsema saja, beliau mendapatkan kebijaksanaan, mendapatkan kesadaran atas Shunyata, beliau dapat mengendalikan arwah dan setan dan ilmu hitam. Beliau juga dapat mengendalikan kenegatifan, beliau juga dapat menstabilkan suatu daerah. Beliau dapat mengendalikan penyakit dan membawa kesembuhan melalui kekuatan Migtsema. Migtsema bukanlah hanya untuk hal-hal ini saja tetapi ini adalah manfaat tambahannya.

Alasan utama untuk membaca Migtsema atau melakukan meditasi dan Guru Yoga adalah untuk mendapatkan Bodhicitta, kesadaran atas Shunyata dan pencerahan yang sepenuhnya. Dan bagaimana kita melakukannya dan mengapa kita melakukannya dan apa alasan Migtsema mempunyai kekuatan yang luar biasa, kita akan membicarakannya pada sesi ini.

Sebagai contoh, ada suatu keluarga terkemuka di Lhasa yang tercemar oleh kelas arwah yang dikenal dengan Pehar. Pehar adalah kelas arwah yang sangat kuat. Tidak hanya satu arwah, tetapi banyak, satu kelas arwah. Dan arwah ini digunakan untuk mengganggu suatu keluarga. Well, dia mengganggu banyak orang tetapi biasanya satu atau dua orang, tetapi di keluarga ini, banyak anggotanya dan orang yang dihancurkan oleh arwah ini. Jadi mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang masih hidup, keluarga ini. Anak ini dirasuki arwah dan setiap kali hal ini terjadi, dia menjadi tidak terkendali. Karena sangat ketakutan, keluarga ini menghubungi seorang Bodhisattva, Pelden Sangpo. Saya sudah menyelesaikan ret-ret Migtsema saya. Jadi dengan menggunakan batu ini pada saat kerasukan arwah, kalian menahannya pada semua pintu masuk dan keluar, jendela dan pintu dari rumahmu."

Jadi dia melakukan apa yang dikatakan oleh sang Lama. Ketika anak lelaki itu dirasuki arwah, dia dengan segera mengambil batu tersebut dan menaruhnya di atas rumah ditempat jendela dan pintu. Dan sang arwah tidak bisa pergi. Sang arwah tidak bisa kabur, dan tidak bisa pergi. Kemanapun sang arwah pergi - dia pergi ke jendela - Yamantaka yang menakutkan akan nampak. Yamantaka benar-benar menakutkan - 9 wajah, 34 lengan dan 16 kaki - Dia tidak bisa kabur sama sekali. Ini adalah apa yang Pehar lihat ketika dia memasuki pintu - Yamantaka yang luar biasa.

Dengan segera, mereka memanggil Lama Pelden Sangpo. Ketika Pelden Sangpo datang, beliau berbicara pada sang arwah, "Kau harus berjanji untuk tidak mencelakakan orang lagi. Kau harus berjanji untuk tidak mengganggu orang lagi atau saya tidak akan meminta Yamantaka pergi. Bisakah kamu menjanjikan hal ini?"

Jadi sang arwah menjawab, "Saya mengikuti perintah dari ketua arwah Pehar. Bila saya tidak mencelakakan siapapun, kekuatan saya akan hilang, dan saya akan menderita. Tolong jangan minta terlalu banyak dari saya. Tolong kurangi komitmennya." Lalu, Bodhisattva Pelden Sangpo mengatakan pada sang arwah, "Setidaknya kau harus berjanji pada saya untuk tidak mencelakakan orang yang membaca Gaden Lhagyama atau doa Migtsema. Bila kau melakukan hal ini, saya akan membebaskanmu." Jadi sang arwah setuju. Lalu Pelden Sangpo mengumpulkan malanya dari semua jalan keluar rumah itu dan segera setelah beliau melakukan hal ini, sang arwah dapat pergi dan menghilang.

Jadi bahkan hari ini, ada banyak kelas arwah yang mempengaruhi kita - dengan membaca Gaden Lhagyama, dengan membaca doa Migtsema, arwah yang kuat seperti Pehar tidak bisa mengganggu kita, karena mereka diikat sumpah.

Arwah-arwah ini sangatlah kuat dan praktek Je Rinpoche, Migtsema yang luar biasa mempunyai kekuatan untuk menghentikan mereka karena Pelden Sangpo yang luar biasa telah menghentikan mereka.

Lalu, instruksi tersebut diteruskan kepada Je Pelden Sangpo. Lalu diteruskan kepada Gyuchen Tashipa. Lalu diteruskan kepada Je Samdrub Gyatso. Lalu diteruskan kepada Tsondrupa. Lalu diteruskan kepada Dorje Sangpo. Lalu diteruskan kepada Khadrub Sangye Gyatso.

Pada akhirnya ajaran ini sampai pada Je Pabongkha, Kyabje Dorje Chang yang luar biasa atau yang tercerahkan, orang yang mengkomposisikan ajaran Lamrim. Kyabje Pabongkha Dorje Chang adalah guru utama dari guru Dalai Lama yaitu, His Holiness the Great Ling Dorje Chang dan His Holiness the Great Trijang Dorje Chang.

Dorje Chang berarti Vajradhara. Jadi apa yang kita sebutkan adalah Vajradhara yang luar biasa Trijang Rinpoche, Vajradhara yang luar biasa Long Rinpoche, dan hal ini telah diteruskan dari Trijang Dorje Chang kepada guru saya, Zong Rinpoche. Zong Rinpoche menurunkannya kepada saya. Jadi saya memberi tahu aliran saya, saya menyebutkan dari mana aliran ini berasal untuk memvalidasi ajaran saya jadi kalian tidak berpikir bahwa ajaran ini dibuat-buat atau kalian tidak berpikir bahwa ajaran ini tidak valid atau mereka tidak benar. Harus jelas dari mana asalnya.

Aliran yang kita pelajari adalah aliran Segyu. Sey adalah daerah dimana biara Tashi Lungpo berdiri dan dari mana para Lama ini berasal - Je Sherab Senge yang luar biasa, Je Pelden Sangpo yang luar biasa, Khadrub Sangye Gyatso yang luar biasa. Jadi [aliran] ini dikenal dengan nama Segyu. Sey adalah daerah tempat mereka berasal. Yu, berarti aliran. Ada banyak aliran dari ajaran Migtsema yang luar biasa dan kita haru mengetahui yang mana. Ada apa di aliran Segyu? Siapakah para Lama yang telah mengajar? Dari mana mereka berasal? Dari mana ajaran ini berasal? Dari mana mereka mendapatkan ajaran ini? Semuanya harus divalidasi, semuanya harus jelas. Bila tidak jelas, maka keyakinan tidak akan tumbuh dalam diri seseorang. Dan juga, aliran ini menjadi terpolusi dan aliran ini menjadi tercemar dan lalu, menghilang.

Berkatnya hilang.

Bila kita tidak mendapatkan penjelasan dan berkat dan lung dari guru kita, kita tidak mendapatkan lung, kita tidak mendapatkan berkat dan kita tidak mendapatkan penjelasan dari guru kita, walaupun kita mempraktekannya, hasilnya sangat sulit didapat.

Bila kalian mendapatkan berkat dari sang Guru, kalian mendapatkan berkat dari aliran dan kalian mendapatkan penjelasan dan ajarannya, lalu bila kalian mempraktekannya, dan kalian memvisualisasi guru kalian dari mana kalian mendapatkannya, maka hal ini adalah sama dengan Je Tsongkhapa dan kalian mempraktekannya dengan cara ini dan kalian memberikan persembahan dan kalian mempunyai lung lalu kalian akan mendapatkan hasilnya.

Lung adalah kata Tibet untuk "transmisi oral." Jadi sangatlah penting untuk mengetahui dari mana kalian mendapatkan aliran ini, dan aliran ini adalah otentik. Semua Lama yang berkualifikasi akan memberitahu kalian dari mana aliran ini berasal karena tidak ada rasa takut untuk berbicara tentang aliran ini, tanpa lung, hal ini tidaklah terlalu baik.

Jadi ajaran Je Rinpoche mempunyai manfaat yang tak terhitung banyaknya. Mengenai manfaatnya, kalian bisa membicarakannya selama berhari-hari dengan detil, tetapi saya akan memberikan kalian beberapa manfaat umum yang bisa kita dapatkan dari praktek Je Rinpoche.

Yang pertama: seperti yang dikatakan sebelumnya, arwah pehar dapat dihalangi. Secara umum, arwah, setan, kutukan, omongan buruk, kecemburuan dari orang lain dapat dihalangi dengan praktek dan keyakinan pada Je Rinpoche.

Yang kedua: karena Je Rinpoche adalah emanasi dari Manjushri, Avalokiteshvara dan Vajrapani secara bersamaan, dan juga emanasi dari Buddha Maitreya, bergabung dalam satu makhluk, hal ini sangat luar biasa. Karena itu beliau dapat memberikan kebijaksanaan yang luar biasa. Orang-orang melihat beliau dan mereka mendapatkan penampakan yang berbeda. Beberapa orang melihatnya sebagai Vajrapani; beberapa orang melihatnya sebagai Manjushri; beberapa orang melihatnya sebagai Avalokitesvara; beberapa orang melihatnya sebagai Maitreya. Tetapi biasanya orang lain melihatnya sebagai ke-empat Buddha ini.

Je Tsongkhapa adalah emanasi dari Manjushri. Hal ini divalidasi oleh sang Buddha sendiri. Pada jaman Buddha, ada seorang anak lelaki yang sangat baik dan dia mempunyai rosari dari Kristal. Jadi dia mengunjungi Shakyamuni Buddha dan bersujud dan mempersembahkan rosari kristal kepada Buddha. Dengan segera sang Buddha mengambil tangannya yang suci, tangan emasnya yang suci dan meletakannya di atas kepala Je Rinpoche, atau kepala anak lelaki itu dan meramalkan "Di masa yang akan datang, 1,500 tahun setelah saya pergi, kira-kira di tanah Utara, milik orang bar-bar bermuka merah, kau akan menyegarkan ajaran, ketika mereka mengalami kemunduran, dan menjadi tercemar."

"Kau juga akan membawa semua aliran dan ajaran yang benar, kau akan belajar, kau akan merenungkan, kau akan bermeditasi dan kau akan mendapatkan hasilnya dan kau akan meneruskan ajaran ini dan kau akan membuat ajaran ini menjadi sangat kuat dan sangat berpengaruh di tanah salju."

Jadi beliau meramalkan. Jadi beliau membuat posisi tersebut dan dengan segera Buddha membawa salah satu muridnya yang mempunyai kecepatan, berjalan dengan cepat. Jadi dia memberikan kulit kerang kepada murid tersebut. Murid ini segera berjalan ke Tibet yang sedikit lebih jauh dari Lhasa dan di bawah tanah yang berbentuk kulit kerang, di bawah area tersebut yang berbentuk kulit kerang, murid tersebut mengubur kulit kerang, di bawah tempat dimana biara Ganden akan dibangun di masa depan oleh Je Tsongkhapa. Jadi barang ini dikubur sampai Je Tsongkhapa terlahir kembali di Tibet.

Seperti itulah, Buddha sudah meramalkan kedatangan Je Rinpoche yang luar biasa dan Buddha secara spesifik berkata bahwa emanasi Manjushri akan datang ke tanah salju di utara - emanasi dari Manjushri. Jadi hal ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat atau hal yang baru diceritakan, tetapi hal ini diramalkan oleh sang Buddha.

Dan juga, Je Rinpoche sangat menstabilkan. Praktek Je Rinpoche sangat tenang, sangat damai dan menstabilkan seperti warna Je Rinpoche - putih dengan siratan warna merah. Jadi kesulitan apapun yang berkaitan dengan umur panjang, kebencian seperti tercemar oleh kebencian, kebodohan, dan keinginan yang muncul membuat kita mengumpulkan karma buruk dan memperpendek umur kita akan diatasi dengan praktek Je Rinpoche karena melalui ajarannya beliau mengatasi delusi kita dengan mengumpulkan pahala.

Bagaimana caranya hal ini memberikan berkat bagi kita? Ketika melaksanakan ajaran Je Rinpoche, kita mendapatkan kebijaksanaan. Ketika melaksanakan ajaran Je Rinpoche, kita mendapatkan kasih sayang dan kekuatan yang luar biasa untuk mengatasi delusi. Karena itu, karma negatif tidak muncul terlalu banyak, menjadi berkurang dan karma buruk yang dikumpulkan sebelumnya dibersihkan, karena itu penderitaan menjadi berkurang karena hal ini.

Kita bisa mendapatkan rasa kasih sayang yang luar biasa. Mig-Mey Tze-Wey Ter-Chen Chenrezig - "Kau adalah kasih sayang yang tidak tercemar, kau adalah Avalokiteshvara" karena beliau adalah Avalokiteshvara dengan melaksanakan ajarannya, kalian akan melihat bahwa kalian akan mendapatkan kasih sayang. Kasih sayang yang luar biasa.

Kalian juga akan mendapatkan kekuatan. Orang yang ketakutan, orang yang tidak mempunyai banyak keberanian atau ketika mengajar Dharma, sulit untuk mengubah orang, Vajrapani akan menjadi yang utama dalam mengendalikan delusi dan ilusi manusia melalui cara-cara yang menakutkan.

Dan juga, kalian akan mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan Vajrapani yang merupakan Buddha ke-seribu. Vajrapani akan datang pada saat 999 Buddha yang lain telah pergi dan beliau berjanji untuk mengajarkan semua yang diajarkan 999 Buddha sebelumnya, untuk mengajar sebagai Buddha yang terakhir yang datang di kalpa yang beruntung ini.

Jadi bila kita melaksanakan ajaran Je Rinpoche, kita akan menciptakan hubungan dengan Buddha yang terakhir. Jadi kita sudah pada Buddha ke-empat sekarang. Buddha yang ke-lima adalah Maitreya.

Yang lain adalah kalian akan menciptakan hubungan yang kuat dengan Buddha Maitreya, Buddha selanjutnya yang akan datang. Atau, setelah meninggal kalian akan pergi ke surga Je Rinpoche karena dalam ajaran Je Rinpoche kalian memiliki praktek Powa. Powa adalah untuk mentransfer kesadaran. Dalam ajaran yang pendek dan singkat tetapi sangat dalam, dan mempunyai banyak manfaat. Dalam kasus apapun, praktek Powa akan datang. Kalian mempunyai Powa dari empat aliran agama Buddha Tibet. Jalan Vajrayogini, kalian memiliki jalan Powa.

Jadi, orang yang melaksanakan ajaran Vajrayogini dan Je Rinpoche sangatlah beruntung. Ketika mereka meninggal, mereka bisa memilih. Orang melaksanakan ajaran dari dua aliran ini sangat beruntung karena Je Rinpoche, kalian dapat pergi ke surga Ganden. Dan ketika kalian lahir di surga Ganden atau Tushita, kalian akan terlahir dari bunga teratai yang indah di depan Maitreya emas, Buddha masa depan akan nampak, duduk dalam postur bergaya barat, di atas sebuah tahta dengan kaki di bawah, menunggu untuk berdiri, dengan ornamen seorang Bodhisattva, tersenyum dan melambai, memegang Dharmachakra dan memegang vas berisi nectar, kehidupan abadi - di surga Gaden.

Dan di sebelah kirinya, ada Guru Kadampa yang luar biasa Atisha, dan di sebelah kirinya ada Raja Dharma yang luar biasa, Je Tsongkhapa. Di bawah beliau, di bawah Atisha yang luar biasa adalah Kuan Yin Posa, Avalokiteshvara, dan di sebelah kanannya adalah Vajrapani Posa yang luar biasa. Di sekeliling mereka ada semua dewa dari surga Gaden.

Jadi bila kalian pergi ke surga Gaden, bila kalian tidak menyukai Je Rinpoche, kalian mendapatkannya dari Maitreya, bila kalian tidak menyukai Maitreya, kalian pergi ke Kuan Yin, bila kalian tidak menyukai Kuan Yin, kalian bisa mendapatkannya dari Vajrapani; Vajrapani sangat menyeramkan kalian bisa kembali kepada Atisha. Jadi banyak pilihan di surga Gaden untuk mendapatkan ajaran sebenarnya!

Jadi praktek Powa sangatlah baik. Juga kalian mendapatkan hubungan yang sangat sangat kuat dengan Buddha Maitreya yang akan nampak di masa depan, di Bodhgaya, kalian akan terlahir kembali di sana, bila kalian memilihnya, bila kalian berdoa untuk menjadi murid terdekatnya, dan bila kalian tidak mau pergi ke surga Ganden, tentu saja dengan praktek Je Rinpoche, kalian bisa mendapatkan kelahiran yang lain lagi dan lagi untuk kembali dan menolong. Itu pilihan kalian, praktek Je Rinpoche mempunyai manfaat seperti ini.

Lalu, bila kalian melaksanakan ajaran Je Rinpoche, Dharma akan menjadi lebih mudah. Karena kita semua adalah pengikut ajaran dari sekte Gelugpa yang luar biasa (Gelugpa berarti "Jalan Kebaikan" atau "Jalan Moralitas") dan bila kalian melaksanakan ajaran Gelugpa dan ajaran sekte Gelugpa, yang baik, dan juga kalian mempunyai guru dari sekte Gelugpa dan aliran mereka datang dari sekte Gelugpa; dan karena kalian berdoa kepada orang suci yang memulai sekte Gelugpa, ajaran Gelugpa apapun yang kalian pelajari, teks dan aliran Gelugpa akan menjadi sangat mudah dan cepat dan lebih kuat atau pengertian yang jauh lebih baik akan datang dengan berkat Je Rinpoche.

Juga, ini adalah Guru Yoga yang terbaik. Ada banyak jenis Guru Yoga. Ini adalah Guru Yoga yang terbaik karena Je Rinpoche berbentuk seorang Lama. Jadi ketika kalian memvisualisasikan beliau sebagai satu dengan Guru kalian dan kalian membaca mantranya, sebetulnya kalian membaca mantra Guru kalian. Jadi karena itu manfaat dari membaca Guru Yoga adalah luar biasa, sangat baik.

Jadi Guru Yoga adalah lengkap dalam praktek ini. Salah satu dari lima praktek awal adalah Vajrasattva, bersujud, mempersembahkan mandala, mempersembahkan air dalam mangkuk dan Guru Yoga. Bersamaan dengan Guru Yoga - kalian tidak harus melakukannya secara terpisah - Dengan Guru Yoga, kebijaksanaan didapat, kasih sayang didapat, kekuatan didapat; hubungan dengan Buddha Maitreya, hubungan dengan Buddha Vajrapani, hubungan dengan surga Tushita.

Dan juga, praktek Je Rinpoche akan melindungi kalian dari tiga macam kesulitan - dari dalam, dari luar, dan rahasia. Je Rinpoche melindungi kalian dari kesulitan luar dari manusia, bukan manusia, elemen seperti banjir dan kebakaran, cuaca buruk dan kecelakaan, tidak mempunyai kondisi yang layak untuk melaksanakan praktek spiritual seperti waktu, seperti uang, seperti makanan, tempat tinggal, keuangan. Jadi praktek Je Rinpoche akan melindungi kalian dari kesulitan luar seperti ini.

Jadi kesulitan dari dalam adalah beliau akan membantu kalian untuk mencegah penyakit. Dengan melakukan praktek Je Rinpoche, kehidupan kalian akan menjadi panjang, menjadi stabil, menjadi berpengaruh, dan menjadi lebih baik. Saya telah banyak mendengar mengenai orang yang mempunyai kesehatan buruk direkomendasikan untuk melakukan praktek Migtsema.

Dan kesulitan dari dalam seperti penyakit, delusi yang kuat dan pikiran negatif akan dikeluarkan dan dikurangi dengan melakukan praktek Je Rinpoche yang suci. Dan setelah itu, kesulitan dari dalam - dari luar dan dari dalam - dan lalu rahasia, dengan terikat pada penampilan yang biasa, terikat pada konsepsi yang biasa, terikat pada penampilan yang bersifat dualisme, dualisme - melihat sesuatu yang mempunyai sifat mendua dan juga baik dan buruk, putih dan hitam, menyenangkan dan tidak menyenangkan. Dan konsepsi yang biasa, penampakan yang biasa, dan melihat diri dalam bentuk umum.

Hal ini akan menghancurkan kesulitan rahasia untuk menuju pencerahan yaitu konsepsi biasa, penampilan biasa dan penampilan dualisme. Jadi praktek Je Rinpoche mempunyai manfaat-manfaat seperti ini. Dan juga dengan praktek Je Rinpoche kalian bisa menurunkan hujan untuk menghasilkan panen, dan mengumpulkan awan yang tidak kalian butuhkan di sekitar sini. Dan untuk menyembuhkan penyakit "drib" atau penyakit fisik yang disebabkan arwah yang membuat orang jatuh dan menjadi tidak sadar tanpa alasan tertentu. Seperti epilepsi, sejenis itu.

Lalu dengan praktek Je Rinpoche, kalian bisa menghindari celaka yang disebabkan senjata. Jadi bila kalian tidak melakukannya dengan baik, bila orang melempar pisau pada kalian, bila mereka menembak kalian, ia akan pergi. Pada banyak kejadian di Tibet, orang yang berpegang pada gaoo Je Rinpoche (Atau perlindungan dan mempunyai rupa suci Je Rinpoche, seperti yang ini, dan didalamnya ada benda-benda dari Lama mereka dan mereka memakainya, ketika mereka pergi dan harus kabur, atau mereka harus melawan dan ketika mereka ditembak, pelurunya mental).

Jadi sebenarnya, hal ini bisa memberi perlindungan dari senjata. Bila kalian mempraktekannya.

Dan lalu mengatasi kesulitan dalam menanam. Sebagai contoh, hama - bila kalian menjauhkan hama dengan praktek Je Rinpoche, dan untuk mencari makanan, bila kalian sulit mendapatkan makanan, untuk mengatasi kesulitan ketika kalian melakukan perjalanan. Jadi sebelum melakukan perjalanan ketika kalian mengambil refuge dan membayangkan Je Rinpoche dan kalian melakukan Gaden Lhagyama dan membaca Migtsema, banyak kesulitan dalam perjalanan yang dapat diatasi.

Bahkan, bila kalian melakukan praktek Je Rinpoche dan kalian mengikuti nasihat Je Rinpoche dan kalian melaksanakan ajarannya, yaitu lojong dan Lamrim, 50 Bait Pengabdian pada Guru dan Mahamudra sehingga inti dari aliran Je Rinpoche, inti dari ajaran Je Rinpoche adalah Lamrim. Lojong berarti "transformasi pikiran."

Para Geshe atau Master yang luar biasa menjelaskan mengenai transformasi pikiran bersamaan dengan Lamrim, bersamaan dengan Mahamudra yang merupakan ajaran mengenai sunyata. Ketiga hal ini merupakan inti dari ajaran Je Rinpoche, intinya.

Jadi mengapa mereka adalah intinya? Karena ini adalah ajaran yang akan membawa kalian menuju Pencerahan sepenuhnya. Jadi, Je Rinpoche dari jutaan ajarannya yang diberikan oleh Sang Buddha, dia mengambil inti yang terbaik bagi kita pada jaman ini, pada situasi ini, dengan karma kita.

Jadi bila kita tidak melaksanakan ajaran lain, kita tidak melakukan meditasi lain dan kita tidak melakukan hal-hal lain dan kita mengikuti ajaran Je Rinpoche dengan baik dan kita mendengarkannya dengan baik dan kita melaksanakan ajarannya dengan baik, pasti kita akan mendapatkan kelahiran kembali yang lebih baik, kita akan memperoleh kelahiran kembali di Tushita, kita akan tercerahkan, sudah pasti.

Dan juga ajaran Je Rinpoche mempunyai Seven Limbs.

Seven Limbs adalah inti dari semua doa. Setiap sadhana, setiap ajaran, setiap hal yang kalian punya, semua pujian yang kalian miliki menyiratkan Seven Limbs di dalamnya. Jadi ajaran Je Rinpoche, praktek Je Rinpoche, Gaden Lhagyama, juga melampirkan Seven Limbs. Luar biasa. Dan memiliki disolusi dari Guru. Sang Guru menyatu dengan kalian dan tinggal di dalam kalian. Jadi hal ini sangatlah luar biasa.

Juga ketika Je Rinpoche, sebelum beliau dilahirkan, seperti yang diramalkan sang Buddha, ibunya mendapatkan mimpi yang luar biasa. Suatu waktu ibunya bermimpi mengenai Vajrapani dari langit melemparkan petir (ini adalah petir vajra), melemparkan petir ini ke bawah ke dalam rahim sang ibu. Pada saat yang lain, sang ibu mendapatkan mimpi bahwa patung Avalokiteshvara datang dan menyatu dengan rahimnya. Beliau mempunyai pertanda seperti ini.

Ketika Je Rinpoche dilahirkan banyak nyanyian dakini dan daka yang terdengar di luar. Pelangi nampak. Juga, dari tetesan darah ibunya yang jatuh ke tanah pada saat melahirkan, pohon cendana yang indah tumbuh dan dari daun-daunnya, Bodhisattva yang indah nampak. Dan setiap musim gugur, daunnya akan jatuh ke tanah. Banyak penziarah yang datang untuk mengambil daun yang jatuh, mereka tidak berani memetiknya. Mereka akan menyimpan daun-daun ini. Dan daun-daun ini, ketika mereka dihancurkan dan dibuat obat, mereka akan disembuhkan. Pohon ini masih hidup, dan masih ada di Tibet, di distrik Amdo di tempat kelahiran Je Tsongkhapa.

Je berarti jetsun, yang ditinggikan. Mengapa beliau ditinggikan? Beliau sudah keluar dari samsara, beliau terbebas dari samsara, di luar samsara. Jadi Jetsun berarti "seseorang yang ditinggikan" atau "terbebas dari samsara." Jetsun atau Je Rinpoche. Rinpoche berarti "Seorang yang berharga," "sangat bernilai, sangat berharga.

Jadi Je Rinpoche adalah namanya yang singkat atau kalian bisa menyebutnya Je Tsongkhapa. Tsongkha adalah distrik tempat beliau berasal di Tibet. Tsong berarti "bawang." Jadi secara harafiah, beliau dipanggil "Pria dari Tanah Bawang" karena distrik tersebut di Tibet, banyak, banyak bawang yang tumbuh, banyak bawang. Jadi beliau adalah "Pria dari Tanah Bawang."

Jadi Je Tsongkhapa. Pa berarti pria. Je Tsongkhapa. Atau Je Losang Dragpa, kalian bisa menyebutnya, tidak apa. Lobsang Dragpa. Lobsang - lob "pikiran," sang adalah "baik," atau "Pikiran Baik" atau "Pikiran yang Menyenangkan," "Pikiran Luar Biasa." Lobsang berarti "Pikiran Baik," Dragpa berarti "terkenal." "Kirti" adalah bahasa Sanskrit. Atau nama Sanskritnya adalah Sumati Kirti. Namanya dari bahasa Tibet diterjemahkan dalam bahasa Sanskrit: Om Ah Benza Guru Dara Sumati Kirti Siddhi Hung Hung. Sumati Kirti berarti Pikiran Baik, Yang Terkenal, Yang Terkenal dan Tertinggi.

Jadi nama beliau adalah Lobsang Dragpa, Pikiran Baik yang Terkenal. Lobsang Dragpa adalah nama ordinasinya. Ketika Je Rinpoche di ordinasi menjadi biksu, beliau mendapatkannya dari His Holiness, Karmapa yang luar biasa pada saat itu. Karmapa memberinya nama Lobsang Dragpa. Jadi beberapa orang memanggilnya Je Lobsang Dragpa, beberapa orang menyebutnya Je Lama. Ketika kita menyebut Je Lama, kita tahu bahwa ini adalah beliau. Lalu beberapa orang memanggilnya Je Rinpoche yang berarti "Yang Tertinggi dan Berharga." Atau Je Lama Tsongkhapa atau Je Tsongkhapa atau Tsongkhapa.

Jadi semua nama ini merujuk padanya karena beliau sangat terkenal di Tibet, Mongolia, dan di daerah Tiongkok Utara. Bahkan di Beijing, ada museum yang sangat besar. Di sana ada rupa Je Rinpoche setinggi satu lantai. Patung Je Rinpoche yang besar. Jadi bahkan pada jaman Kerajaan Tiongkok, Je Rinpoche dipraktekan dan disembah dan dipertimbangkan pada masa tersebut.

Jadi ini adalah cerita dari aliran ini.

This was extracted from Je Tsongkhapa himself and it was known as the Ganden Lhagyama or The Hundred Deities of the Joyful Land. The Hundred Deities of the Joyful Land represents Maitreya's heaven. It is another name for Maitreya's heaven or in Sanskrit we say "Tushita", Tibetan we say "Gaden." Or the Joyful Land of the Hundred Deities and the reigning Buddha of that land now is Maitreya. Previous to that it was Shakyamuni Buddha.

When Shakyamuni took birth down on our planet, then he took his crown, the ornaments of a Bodhisattva off and he gave that to Maitreya Buddha. And then he took rebirth down. So the reigning Buddha of that heaven is Lord Maitreya at this time.

So Je Tsongkhapa passed his instructions down to Je Sherab Senge who was one of his main disciples. Je Sherab Senge was a great, great, great meditation master who had thousands and thousands of disciples. And one of his main disciples was His Holiness the great first Dalai Lama. So Je Sherab Senge is not an ordinary Lama but he was the teacher of the 1st Dalai Lama. The being we know that is the Dalai Lama is an enlightened being so his teacher must be quite enlightened also. So the teachings passed down.

Je Sherab Senge was a great lineage holder of the tantric teachings of Je Tsongkhapa. So Je Rinpoche's tantric lineage - all the tantric initiations and teachings and transmissions - were passed down from Je Rinpoche down to this great lama, Je Sherab Senge. He also established the great Gyume Tantric Monastery in Tibet. This was one of the two great monasteries - Gyuto and Gyume. And Gyume Monastery is reestablished down in South India also.

So these instructions were passed down to his disciple Donangpa Palden Sangpo. After that, it was passed down to Tangatok of Ngatah Monastery. This great Lama of Ngatah Monastery, Tangatok Lama, is a very great practitioner of the Migtsema prayer. So he was able to pacify a lot of diseases, he was able to pacify a lot of obstacles and he was able to pacify a lot of negative energies and healing by the practice of Migtsema alone.

He didn't have to do Tara for healing, for long life. He didn't have to do Vajrapani for destroying, pacifying negative forces, outer forces. He didn't have to practice Avalokiteshvara to bring peace in the area. He didn't have to practice Manjushri to gain wisdom. He practiced Migtsema and with Migtsema's practice alone, he was able to gain wisdom, he was able to gain realization of Shunyata, he was able to control spirits and demons and black magic. He was also able to control negativities, he was also able to bring pacification to the area. He was able to control diseases and bring healing by the power of Migtsema. Migtsema is not only for these things but that's a side benefit.

The ultimate reason for reciting Migtsema or doing the meditation and also Guru Yoga is to gain great Bodhicitta, the realization of Shunyata and full Enlightenment. And how we can do that and why we can do that and what's the reason that Migtsema has such power, we will talk about during this session.

For example, there was a great family in Lhasa who were of the higher class and this family was being afflicted by the class of spirits called Pehar. Pehar is a very powerful class of spirits. It's not one spirit, but a class of spirits. And that spirit was used to afflict one particular family. Well, it afflicts a lot of people but usually one or two people, but in this family, many relatives, and people were completely destroyed by this spirit.

So they had one son left, this family. That son was being taken possession of this spirit and every time he took possession of the spirit he was uncontrollable. So eventually, it will lead to a death. Being very scared, this family contacted the great Bodhisattva, Pelden Sangpo. Pelden Sangpo came along and said, "I have completed my Migtsema retreat so from this bead you take and whenever the spirit takes possession, you take the bead and you block it off on all the entrances and exits, the windows and doors of your house."

So he exactly did what the Lama says. When the boy took possession of the spirit he immediately took the bead and put it all over the top of the house where the windows are and also the doors. And the spirit could not leave. The spirit could not escape, it could not leave. Everywhere the spirit went - it went to the window - a terrifying Yamantaka will appear. Yamantaka was so fearful - 9 faces, 34 arms and 16 legs - he could not escape at all. This is what that Pehar would see when he would enter the door - the great Yamantaka deity.

Immediately, they called the Pelden Sangpo Lama. When the Pelden Sangpo came, he said to the spirit, "You must promise never to harm people again. You must promise not to disturb people again or I will not call off the Yamantaka. Can you promise that?"

So the spirit replied, "I follow the orders of the chief Pehar spirit. If I do not harm anyone, my powers will diminish and I will suffer. Please do not ask so much of me. Please reduce the commitment." Then the great Bodhisattva Pelden Sangpo said to the spirit, "At least you must promise me that you will not harm anyone that recites the Gaden Lhagyama or the Migtsema prayers. If you do that, I will release you." So the spirit agreed. Then Pelden Sangpo gathered up the malas from the exits of the house and as soon as he did that, the spirit was able to leave and disappear.

So even today the many classes of spirits that affect us - by reciting the Gaden Lhagyama, by reciting the Migtsema prayers, these very powerful spirits such as the Pehar cannot afflict us, because they are sworn by a vow.

These spirits are very powerful and the great Je Rinpoche practice, the great Migtsema practice has the power to stop them because the great Pelden Sangpo, has stopped them.

Then, these instructions were passed again to Je Pelden Sangpo. This was passed down to Gyuchen Tashipa. This was passed down to Je Samdrub Gyatso. This was passed to Tsondrupa. This was passed down to Dorje Sangpo. This was passed down to Khadrub Sangye Gyatso.

Then eventually the teachings came down to the great Je Pabongkha, the great Kyabje Dorje Chang or the Enlightened one, the one who has composed the great teachings of the Lamrim. Kyabje Pabongkha Dorje Chang was the root Guru of both the tutors of the Dalai Lama which is His Holiness the Great Ling Dorje Chang and His Holiness the Great Trijang Dorje Chang.

Dorje Chang means Vajradhara. So what we're saying is the great Vajradhara Trijang Rinpoche, the great Vajradhara Ling Rinpoche, and this has passed down from Trijang Dorje Chang to my Guru, Zong Rinpoche. Zong Rinpoche has passed it down to myself. So I'm naming the lineage, I'm naming where the lineage came from to validate the teachings so that you don't think that the teachings are made up or you don't think the teachings are not valid or they're not correct. It must have a lineage.

The lineage that we're learning is the Segyu lineage. Sey is a region of Tashi Lungpo monastery that these Lamas came from - the great Je Sherab Senge, the great Je Pelden Sangpo, the great Khadrub Sangye Gyatso. So therefore it is called Segyu. Sey is the area they're from. Yu, again means lineage. There are many lineages of this great Migtsema teaching and we need to know which one. What is in the Segyu lineage? Who are the Lamas that have taught? Where are they from? Where did they originate from? Where did they get the texts from? Everything must be validated, everything must be clear. If it is not clear, then faith won't grow in the individual. Also the lineage becomes polluted and also the lineage becomes diluted and later, it becomes lost. The blessings are lost.

If we do not get the commentary and the blessing and the lung from our Gurus; we do not get the lung, we do not get the blessing and we do not get the commentary from our Gurus, although you may practice the attainments are very difficult to achieve.

If you have the blessing of the Guru, you have the blessing of the lineage and you get the commentary and the teachings, then if you practice and you visualize your teacher that you have received it from is the same as Je Tsongkhapa and you practice it that way and make offerings and you have the lung then definitely you will attain the attainments.

Lung is a Tibetan word for "oral transmission." So it is very important to know where you are getting the lineage from, that it is authentic. Any qualified Lama will tell you where the lineage has come from because there is no fear about speaking the lineage. So without the lineage, without the lung, it is not very good.

So Je Rinpoche's practice has innumerable benefits. The benefits, you can talk about it for days and days and days in quite a number of detail but I will give you a few of the general benefits that we can achieve from this great practice of Je Rinpoche.

Number one: as spoken earlier, the pehar spirits can be blocked. In general, spirits, demons, curses, bad talk, jealous talk from people can be blocked by the practice of Je Rinpoche and faith in Je Rinpoche.

Number two: because Je Rinpoche is an emanation of Manjushri, Avalokitesvara and Vajrapani together, also an emanation of Maitreya Buddha, altogether in one being, it is incredible. Because of that he can confer extreme wisdom. People see him and they have different visions. Some people saw him as Vajrapani; some people saw him as Manjushri; some people saw him as Avalokitshvara; some people saw as Maitreya. But usually people saw him as these four deities, usually.

Je Tsongkhapa is definitely an emanation of Manjushri. That is validated by Lord Buddha himself. During Lord Buddha's time there was a young boy who was very virtuous and he had a crystal rosary. So he went up to Lord Shakyamuni Buddha and prostrated and offered the crystal rosary up to the Buddha. Immediately, Lord Buddha took his holy hands, his holy golden hands and placed it on Je Rinpoche's head, or that young boy's head and predicted "That in the future, 1,500 years after my passing, approximately, in the land to the North, of the red-faced barbarians, you will revitalize the teachings, you will revitalize the teachings of the Buddha when it has declined, when it has become perverted and dirty." (Dirty means polluted).

"You will also bring all the correct lineages and correct teachings, you will study, you will contemplate, you will meditate and you will gain the results and you will pass the teachings and you will make the teachings very strong and very powerful in the land of the snow.

So he made that prediction. So he made that position and immediately Buddha took one of his disciples who had the power of speed, walking fast. So he gave a conch shell to that disciple. The disciple walked immediately to Tibet which is just a little distance from Lhasa and under the ground that is shaped like a conch shell, under the area that is shaped like a conch shell, that disciple buried the conch shell, under the place where Gaden Monastery would be built later on by Je Tsongkhapa. So that was buried until the time that Je Tsongkhapa took birth in Tibet.

Like that, Buddha had actually predicated the coming of great Je Rinpoche and Buddha specifically said an emanation of Manjushri will enter the land of the snows to the north - an emanation of Manjushri. So it is not something that people have made up or something that people have just said, but it was actually predicted by Lord Buddha.

Then also, Je Rinpoche is very stabilizing. Je Rinpoche's practice is very calm, it's very peaceful and very pacifying just like the colour of Je Rinpoche - white with a tinge of red. So any obstacles for long life, any obstacles of hatred such as the defilements of hatred, ignorance and desire coming up, making us collect bad karma and decreasing our life span will be blocked by Je Rinpoche's practice, because he specifically by his practice, lessens our delusions by collecting merit.

How does it confer the blessings on us? When practicing Je Rinpoche, we gain great wisdom. When we practice Je Rinpoche, we gain great compassion and great power to overcome the delusions. Therefore negative karma doesn't rise as much, becomes less and the previously-collected negative karmas become purified, therefore suffering become less as a result of this.

We can gain great compassion. Mig-Mey Tze-Wey Ter-Chen Chenrezig - "You are the unstained compassion, you are Avalokiteshvara" because he is Avalokiteshvara in his practice which you will see later on, you will gain great compassion. Incredible compassion.

You will also gain power. People who are scared, people who don't have a lot of courage or when we're teaching the Dharma it's difficult to convert people, Vajrapani will be the supreme one to control people's delusions and illusions by wrathful means.

Also you will have a very powerful connection to Vajrapani who is the one thousandth Buddha to appear. Vajrapani will appear after the 999 Buddhas have left and he has promised to teach everything that the 999 Buddhas preceded him has taught, to teach as the last Buddha to appear in this fortunate eon.

So if we practice Je Rinpoche's we create a powerful connection to the last Buddha. So we're at the fourth Buddha right now. Next one will be the fifth, Maitreya.

Another one is you'll make a very strong connection with Maitreya Buddha, the next Buddha that will come. Either, after your death you will go to Je Rinpoche's heaven because in Je Rinpoche's practice you have powa practice. Powa is transference of consciousness. Such a short, profound and concise practice but so deep, so many benefits.

In any case, also the practice of powa will come. You have the powa practice of all the four lineages of Tibetan Buddhism. The Vajrayogini path, you have the powa path.

So people who practice Vajrayogini and Je Rinpoche are very lucky. When they die, they get to choose. People who practise these two lineages are very lucky because Je Rinpoche definitely, you're going to Gaden Heaven. And when you're born in Gaden Heaven or Tushita, you will be born from a beautiful lotus in front of the great golden Maitreya, the great Buddha in the future will appear, sitting in the posture of a Western style, on a throne with the legs down, waiting to stand up, with the beautiful Bodhisattva ornaments, smiling and waving, holding a Dharmachakra and holding a beautiful vase of nectar, immortality - in Gaden Heaven.

And to his left is the great Kadampa Guru Atisha, to his right is the great King of Dharma, Je Tsongkhapa. Below him, below the great Atisha is the great Kuan Yin Posa, Avalokiteshvara, and to his right is the great Vajrapani Posa. And surrounding them are all the gods of Gaden Heaven.

So if you go to Gaden Heaven, if you don't like Je Rinpoche, you can get it from Maitreya; if you don't like Maitreya, you can go to Kuan Yin; if you don't like Kuan Yin, you can get from Vajrapani; Vajrapani too wrathful you can go back to Attisha. So lots of choices in Gaden Heaven to get teachings actually!

So powa practice is excellent. Also you get a very, very strong connection to Maitreya Buddha. When Maitreya Buddha appears in the future, in Bodhgaya, you will be reborn there, if you choose so, if you pray to in order to be his closest disciple, and if you don't want to go to Gaden Heaven, definitely by Je Rinpoche's practice, you can take another rebirth again and again to come back and help. Your choice, Je Rinpoche's practice has this kind of benefit.

Then, if you practice Je Rinpoche, the Dharma becomes much easier. Since we all belong to the teachings of the great Gelugpa sect (Gelugpa which means "Virtuous Way" or "The Way of Morality") then if you practice the Gelugpa teachings and you practice the teachings of the Gelugpa sect, the virtuous ones, and also you have your teachers of the Gelugpa sect and their lineage comes from the Gelugpa sect; and since you're praying to the very saint who started the Gelugpa sect, any teachings you study in the Gelugpa teachings, Gelugpa texts or lineage will come very easy and fast and much more powerful, or much greater understanding, more powerful understanding will come by the blessings of Je Rinpoche.

Also, this is the best Guru Yoga. There is many types of Guru Yoga. This is the best Guru Yoga because Je Rinpoche is in the form of a Lama. So when you visualize him inseparable from your Guru and you recite his mantra, actually you're reciting the mantra of your Guru. So therefore the benefits of reciting the Guru practice is very powerful, very excellent.

So Guru Yoga is complete in this practice. One of the five preliminaries is Vajrasattva, prostrations, mandala offerings, water bowl offerings and Guru Yoga. Along with Guru Yoga - you don't have to do it separately - along with Guru Yoga also wisdom is attained, compassion is attained, power is attained; connection with Maitreya Buddha, connection with Vajrapani Buddha, connection with Tushita Heaven.

Also Je Rinpoche's practice will protect you from three types of obstacles - inner, outer and secret. The outer harm that Je Rinpoche protects you [from] is harm from humans, non-humans, elemental such as floods and fire, bad weather and also accidents, lacking necessary conditions for spiritual practice such as time, such as money, such as food, a place to stay, finances, what not. So Je Rinpoche's practice will also help you to prevent those outer obstacles.

Then inner obstacles is he will help you to prevent sickness. By doing Je Rinpoche's practice, your life becomes long, it becomes stable, it becomes very powerful and also helps to become better. I've heard many times people who have bad health, they're recommended to do Migtsema practice.

And inner obstacles such as sickness, strong delusions and negative thoughts will be released and lessened by Je Rinpoche's holy practice. And after that, the inner obstacles - so that's outer, inner - and then secret, it is the grasping onto ordinary appearance, the grasping onto ordinary conceptions, the grasping onto dualistic appearance, dualistic - seeing things as having dualistic nature and also good and bad, white and black, pleasant and unpleasant. And ordinary conceptions, ordinary appearance, to see oneself in the ordinary form.

It will destroy the secret obstacles to Enlightenment which is ordinary conception, ordinary appearance and dualistic appearance.

So Je Rinpoche's practice has these kinds of benefits. Also with Je Rinpoche's practice you can create rain to make crops, to gather clouds which you don't need around here. And to cure the disease "drib" disease or physical disease caused by spirits that make people fall and become unconscious without visible reasons. It's almost like epilepsy, that type.

Then with Je Rinpoche's practice, you can also avoid harm from weapons. So if you do it well, if people throw knives at you, if they shoot at you, it will be gone. Many, many times in Tibet, people holding Je Rinpoche's gaoo (or protection and has the holy image of Je Rinpoche, which this one has, and inside has the things from their Lamas inside and they wear it, when they go and have to escape, or they have to fight, and when they shoot, the bullets are actually deflected).

So actually it can cause protection from weapons. That is if you practice.

And then pacify obstacles to growing crops. For example, insects - you can get rid of insects by Je Rinpoche's practice, and to find food, if you have difficulties for food, to pacify obstacles when you're traveling. So Je Rinpoche's practice, before you travel, if you take refuge and visualise Je Rinpoche and you do the Gaden Lhagyama and recite Migtsema, a lot of obstacles for traveling will be pacified.

In fact, if you do Je Rinpoche's practice and you follow Je Rinpoche's advice, and you do his teachings, which is the lojong and Lamrim, 50 Verses of Guru Devotion and the Mahamudra so that the essence of Je Rinpoche's lineage, the essence of Je Rinpoche's teachings is Lamrim. Lojong means "thought transformation."

These were especially explained by great Geshes, or these great Masters explained the thought transformation along with the Lamrim, along with Mahamudra which is the Emptiness teachings. These three are the essence of Je Rinpoche's practice, the essence.

So why are they the essence? Because these are the teachings that will take you to full Enlightenment. So Je Rinpoche out of the millions of teachings given by the great Buddha, he picked out the essence that would be best for our people at our time, at this situation, with our karma.

So if we don't do any other practice, we don't do any other meditations and we don't do anything else and we follow Je Rinpoche's teachings well and we listen to him well and we follow his teachings well, definitely we will attain a higher rebirth, we will attain rebirth into Tushita, we will get Enlightened. Definitely.

Also Je Rinpoche's practice has the Seven Limbs.

The seven limbs are the essence of all the prayers. Every sadhana, every teaching, everything that you have, any praise that you have has the Seven Limbs inside. So Je Rinpoche's teachings, Je Rinpoche's practice, the Gaden Lhagyama, also has the Seven Limbs enclosed. Incredible. And it has dissolution of the Guru. The Guru dissolving into you and staying inside of you. So it is incredible, an incredible practice.

Also when Je Rinpoche, before he was born, as it was predicted by Buddha, before he was born his mother had incredible dreams. Such as one time his mother dreamt of Vajrapani from the sky throw a thunderbolt (this is a thunderbolt or a vajra), threw this thunderbolt down and it landed inside the mother's womb. Another time, the mother had a dream that a statue of Avalokiteshvara came and merged into her womb. She had many signs like that.

And then the time that Je Rinpoche was born many dakinis and dakas were heard singing outside. Incredible voices singing outside. Rainbows appeared. Also, from the drop of blood of the mother during the birth, it landed on the ground, a beautiful white sandal tree grew. That white sandal tree grew and from the leaves, a beautiful Bodhisattva appear. And every the autumn comes, the leaves will fall onto the ground. Many pilgrims would come to grab those leaves, they don't dare pluck it. They would keep the leaves. And even those leaves, when they were crushed and made into medicine and people took it, they would be healed. That tree is still alive, it is still existing now in Tibet, in Amdo district where Je Tsongkhapa was born.

Je means jetsun, exalted. Why is he exalted? He is out of samsara, he is free from samsara, out of samsara. So Jetsun meaning "one who is exalted" or "out of samsara." Jetsun or Je Rinpoche. Rinpoche means "Precious One," very valuable, very precious.

So Je Rinpoche is a short name for him or you can say Je Tsongkhapa. Tsongkha is the district that he was from in Tibet. Tsong means "onion." So he is literally called "The man from Onion Land" because in his district in Tibet, many, many onions grow, lots of onions. So he is the "Man from the Land of the Onions."

So Je Tsongkhapa. Pa makes it male. Je Tsongkhapa. Or Je Losang Dragpa, you can say, it's okay. Lobsang Dragpa. Lobsang - lob is "mind," sang is "good," or "Good Mind" or "Pleasant Mind," "Excellent Mind." Lobsang means "Good Mind;" Dragpa means "famous." "Kirti" in Sanskrit.

Or his Sanskrit name is Sumati Kirti. His name from Tibetan is translated into Sanskrit: Om Ah Benza Guru Dara Sumati Kirti Siddhi Hung Hung. Sumati Kirti means Good Mind, Famous One, Exalted Famous one.

So his name is Lobsang Dragpa, Famous Good Mind. Lobsang Dragpa is the ordination name he received. When Je Rinpoche took ordination, he took it from His Holiness the great Karmapa at that time. Karmapa gave him the name Lobsang Dragpa. So some people say Lobsang Dragpa, some people say Je Lobsang Dragpa, some people say Je Lama. When we say Je Lama we know it's him. Then some people say Je Rinpoche which means "Precious Exalted One" or Je Lama Tsongkhapa or Je Tsongkhapa or Tsongkhapa.

So all these names refer to him because he's so famous in Tibet, Mongolia, and in the North China area. Even if in Beijing, there's a very big museum. In there, there's a one-storey-high Je Rinpoche. A huge Je Rinpoche statue. So even in Imperial China, Je Rinpoche was practiced and was worshipped and was taken into consideration at that time.

That is actually how the lineage came about.

Sekarang kita lihat teks-nya. Kalian bisa membacanya dalam bahasa Tibet atau membacanya dalam bahasa Inggris - tidak ada bedanya. Sama. Tetapi mantranya atau doanya yang bisa kalian baca dalam bahasa Tibet akan lebih baik sedikit karena aliran ini diturunkan dalam bahasa Tibet, atau suaranya diturunkan dalam bahasa Tibet.

Bait pertama adalah

"GA DEN HLA-JI NGON-JYI THUG-KAY-NEY

RAP-KAR SHO-SAR PUNG-DEE CHU-DZIN TSER

CHO-KYI GYEL-PO KUN-CHEN LOZANG DRAG

SEY-DANG CHE-PA NE-DIR SHEG SU SOL"

Atau, "Dari dalam hati penguasa Gaden Devas nampaklah awan putih yang indah, seperti gumpalan susu asam segar. Diatasnya duduk Tsongkhapa, mengetahui segalanya, Raja Dharma, kami memintamu untuk datang ke tempat ini bersama dengan murid-muridmu yang luar biasa."

Ketika kita membaca bait pertama, "Dari dalam hati penguasa Gaden Devas nampaklah…" kalian harus mempunyai persembahan yang indah di depan. Persembahan yang indah dan dupa dan lilin yang menyala. Dan apa yang kalian bayangkan adalah dewa yang berada disekeliling, memainkan alat musik dan menari dan bernyanyi dengan doa syukur dan menyanyikan pujian. Semua dari mereka, di sekeliling kalian menyanyikan pujian dan doa syukur. Lantainya bersih, dengan delapan tanda keberuntungan, dupa - jutaan dan jutaan dupa - bertiup.

Lalu dengan musik dan bel. Dalam tradisi Tibet ketika kita mengundang Je Rinpoche, ketika kita membaca bait tersebut

GA DEN HLA-JI NGON-JYI THUG-KAY-NEY

RAP-KAR SHO-SAR PUNG-DEE CHU-DZIN TSER

CHO-KYI GYEL-PO KUN-CHEN LOZANG DRAG

SEY-DANG CHE-PA NE-DIR SHEG SU SOL

[*bel dibunyikan pada saat yang sama*]

Hal ini mewakili musik yang indah, dewa, dan parasol, dan panji dan semua orang yang mengelilingi beliau turun. Ini apa yang kita bayangkan ketika kita membunyikannya. Hal ini mempunyai banyak arti.

Dan juga, ketika kalian membunyikan bel, kalian mempersembahkan kekosongan kepada Je Rinpoche. Bel menggambarkan kekosongan. Mengapa? Ia kosong dari keberadaan yang bersifat inheren. Dari mana suara berasal? Kemana suara pergi? Ketika kita memeriksa dengan jelas, suara tidaklah ada seperti label yang kita berikan: Hal ini tidak tergantung pada keberadaan. Hal ini tergantung.

Karena itu, kita mempersembahkan suara Kekosongan kepada Je Rinpoche dan merupakan persembahan yang sebenarnya, persembahan terbaik yang bisa kita berikan pada Guru kita - Kekosongan.

Jadi kita membunyikan bel untuk Je Rinpoche dan di tangan ini, bila memungkinkan, memegang dupa. Bila tidak, dengan menaruh dupa di altar - sama saja. Lalu kalian membayangkan bunga yang indah dimana-mana. Lantainya bersih berwarna biru keunguan dengan delapan tanda keberuntungan, dan dewa dan dewi berada di sekelilingnya menari dan menyanyi dan mempersembahkan musik dan memegang parasol, menunggu Je Rinpoche datang.

Dan memegang dupa, kalian membaca kata-kata suci bersamaan dengan visualisasi ini. Jadi ketika kalian membaca bait tersebut, ini adalah visualisasi yang harus kalian bayangkan.

Dengan hanya membaca tidak dapat membawa kalian ke Pencerahan. Tidak bisa. Melakukan hal ini menanamkan bibit, hal ini mempunyai berkat dan suaranya sangat berpengaruh dalam memberkati area, tetapi kalian tidak bisa tercerahkan tanpa meditasi.

Sebenarnya, ini adalah praktek yang sangat berpengaruh. Bahkan dengan memiliki patung Je Rinpoche di rumah - mempunyai keyakinan, tempat dimana kalian berada akan diberkati. Yang pertama.

Yang kedua - rumah tersebut tidak akan jatuh miskin. Dengan keyakinan yang kalian miliki terhadap Je Rinpoche. Hal ini adalah berkat yang luar biasa. Berkat yang paling suci.

Bila kalian tidak mempunyai bel, maka kalian membayangkan musik yang indah, setiap hal yang baru saya gambarkan. Dan dari Surga Gaden, dari dalam hati Buddha Maitreya, dalam awan yang seperti susu asam, sangat putih dan segar, dan sangat indah - nampak. Awan ini sebenarnya adalah kebijaksanaan yang datang dalam bentuk awan datang kebawah.

Lalu ia nampak didepan kalian, di atasnya ada tiga singgasana yang indah. Yang di tengah adalah yang tertinggi, yang di kiri dan di kanan lebih rendah, dengan delapan singa di delapan penjuru menopangnya. Hal ini menggambarkan perlindungan dari empat rasa takut, yang merupakan setan delusi, setan dari agregat yang tercemar, setan kematian, setan… setan Devaputra, dan setan fisik. Dan empat perlindungan dari empat mara pada khususnya.

Dan diatasnya ada singgasana yang indah dan sekuntum bunga teratai. Bunga teratai menggambarkan Je Rinpoche sebagai Bodhicitta dan kasih sayang yang luar biasa, yang sudah dicapainya.

Di atasnya ada bulan yang bulat, menggambarkan kesadarannya akan kekosongan, dan diatasnya ada Je Rinpoche muda yang tampan, 16 tahun, memakai tiga jubah - shamtap, jubah Dharma kuning, dan satu lagi jubah Dharma yang di atas. Tiga jubah biksu dengan sebuah danka yang biasanya kita pakai, dan duduk dalam posisi vajra seperti Buddha.

Duduk dalam posisi vajra menggambarkan stabilitas dalam kesadarannya tidak dapat hilang. Seperti kita, kita belajar sedikit, lalu kita lupa. Stabilisasi ini disimbolisasikan dengan beliau duduk dalam posisi vajra, tidak berubah, tidak bisa dirusak, tidak bisa dipindahkan. Tidak dapat mempengaruhi beliau, tidak dapat merusak beliau, dan tidak dapat berubah.

Ketika kita memegang tangannya yang anggun dan putih dengan sedikit kemerahan - warna putih menggambarkan Bodhicitta, warna kemerahan menggambarkan Kekosongan, kesadaran. Jadi dalam tantra, ibu tantra menggambarkan kebijaksanaan, aspek ibu diwakili dengan warna merah, atau sel darah merah dari ibu. Dan warna putih mewakili sperma putih atau Bodhicitta putih dari ayah. Jadi warna putih mewakili Bodhicitta. Bodhicitta adalah pria, kebijaksanaan adalah wanita.

Jadi Je Rinpoche memiliki simbol Tantra yang sangat hebat. Karena itu, hanya dengan melihat tubuh putihnya yang indah yang merupakan warna dari gunung salju dan matahari yang direfleksikan oleh gunung salju, dan warna yang direfleksikan adalah warna putih yang indah, kemerahan, merepresentasikan Bodhicitta dan kesadaran akan Shunyata. Kebijaksanaan dan kekosongan, metode dan kebijaksanaan, dikombinasikan. Jadi bahkan warnanya mempunyai arti yang dalam.

Beliau memiliki satu wajah, menggambarkan bahwa beliau telah menyadari keadaan yang sebenarnya, tidak ada lagi dualisme. Dua tangannya menggambarkan dua jenis Kekosongan - Kekosongan yang sebenarnya dan Kekosongan yang konvensional. Dua jenis Kekosongan direpresentasikannya. Dan tangannya ada dalam bentuk sebuah Dharmachakra yang berarti beliau secara terus-menerus mengemanasi dan memberi ajaran. Setiap waktu, emanasi-emanasinya berjalan di dunia dalam bentuk biksu, orang awam, dalam bentuk sahabat, dalam bentuk anggota Sangha, orang biasa, orang berpangkat, Guru rendah, semuanya - beremanasi dalam bentuk yang berbeda-beda dan memberi ajaran, dan memberi manfaat bagi makhluk lain.

Lalu beliau memegang setangkai bunga teratai yang yang indah. Bunga teratainya ada di sebelah kiri, beliau memegang ajaran prajanparamita yang menggambarkan kebijaksanaan karena beliau adalah Manjushri. Jadi faktanya, ajaran-ajaran ini mewakili semua ajaran Buddha, semua ajaran dari sang Buddha.

Lalu pada sisi kanan beliau, telapak tangannya menghadap keluar, tangan kanannya, setangkai bunga teratai yang indah tumbuh ke atas dan bunga teratai di atasnya ada pedang kebijaksanaan dengan api, mewakili kebijaksanaannya yang tajam dan jernih dan kesadarannya akan Kekosongan. Tanpa kesadaran dari Kekosongan, kalian tidak bisa pergi dari samsara. Tanpa kasih sayang dan tanpa Bodhicitta, kalian bisa pergi dari samsara.

Jadi kebijaksanaan sangat penting. Je Rinpoche mempunyai kesadaran penuh akan Shunyata, Kekosongan, yang berarti beliau berada di luar samsara, yang artinya kalian bisa mendapatkan refuge dari beliau, yang artinya beliau bisa membawa kalian keluar dari samsara dan memberi kalian ajaran yang sempurna mengenai Kekosongan.

Dan juga, beliau mempunyai topi pandit berwarna kuning. Topi pandit ini mempunyai makna - yang artinya beliau sudah sampai pada titik tidak perlu belajar lagi, yang berarti pengetahuan dan kesadarannya telah mencapai puncak tertinggi. Beliau sudah mencapai titik tersebut… pencapaiannya dan Pencerahannya dan pengetahuannya telah sampai pada tahap tidak perlu belajar lagi, puncak tertinggi. Jadi topi yang tinggi mewakili pengetahuannya, puncak tertinggi yang sebenarnya, tidak ada lagi. Beliau telah Tercerahkan sepenuhnya.

Dan warnanya kuning, kuning keemasan yang mewakili peningkatan Dharma.

Merah adalah warna kendali. Mengendalikan apa? Mengendalikan pikiran negatif, mengendalikan delusi, mengendalikan perkataan yang salah, mengendalikan hasrat, mengendalikan kebodohan dan kebencian. Jadi pandit besar dari India kuno, Mahasidda dari India yang luar biasa berargumentasi dengan oponennya dengan warna merah menggambarkan kendali.

Ketika Je Rinpoche sedang tidur, Vajrayogini, Dakini Vajrayogini datang dalam mimpinya dan berkata, "Oh tuan yang luar biasa, sekarang sinar Dharma telah tersebar di Tibet, tidak ada tripitaka yang melawan Dharma. Karena itu sekarang kita harus membuat Dharma bertumbuh. Jadi karena itu, master yang luar biasa, mengganti topi merah pandit ke warna kuning dan dengan itu, akan menjadi tanda keberuntungan untuk pertumbuhan Dharma."

Jadi di pagi hari, beliau menasihati penjahitnya untuk mengganti warna karena ini adalah nasihat dari Vajrayogini. Jadi topi kuning kita dari tradisi Gelug bukanlah sesuatu yang dibuat-buat para lama supaya terlihat berbeda, atau untuk kelihatan cerah, atau terlihat di tengah keramaian, atau untuk bersinar dalam gelap. Tetapi sebenarnya, mereka membuatnya kuning karena nasihat suci dari Vajrayogini kepada Je Rinpoche untuk mengganti warna dari topi.

Jadi bentuk dari topinya berasal dari India, warna topinya berdasarkan nasihat dari Vajrayogini. Jadi hal ini sangat menguntungkan, bahkan topinya. Jadi ketika kita melihat topi tersebut, kita harus mengingat arti di belakangnya - pertumbuhan Dharma, puncak tertinggi dari pengetahuan. Dan tempat terbaik untuk pergi refuge adalah Je Rinpoche karena tidak ada yang lebih superior daripada beliau.

Now we look at the text. You can recite this in Tibetan or you recite this in English - it doesn't make one difference. It is exactly the same. But the mantra or the prayer that you can recite in Tibetan will be a little more auspicious since the lineage came down in Tibetan, or the sound came down in Tibetan.

So the first verse is

"GA DEN HLA-JI NGON-JYI THUG-KAY-NEY

RAP-KAR SHO-SAR PUNG-DEE CHU-DZIN TSER

CHO-KYI GYEL-PO KUN-CHEN LOZANG DRAG

SEY-DANG CHE-PA NE-DIR SHEG SU SOL"

Or, "From the heart of the Lord of the Gaden Devas emerges a brilliant white cloud, like a mass of fresh yoghurt. Atop sits Tsongkhapa, all knowing, King of Dharma, we request your coming to this place along with your great disciples."

When we recite the first verse, "From the heart of the lord of the Gaden devas emerge…" you should have beautiful offerings in front. Beautiful offerings and the incense billowing and the lights billowing. And what you visualize is all the gods around, playing music and dancing and singing with benedictions and singing praises. All of them, all around you singing praises and benedictions. The ground is clean, with the eight auspicious signs, incense - millions and millions of incense - blowing.

Then with music and bells. In Tibetan tradition when we invite Je Rinpoche, when we recite that verse

GA DEN HLA-JI NGON-JYI THUG-KAY-NEY

RAP-KAR SHO-SAR PUNG-DEE CHU-DZIN TSER

CHO-KYI GYEL-PO KUN-CHEN LOZANG DRAG

SEY-DANG CHE-PA NE-DIR SHEG SU SOL

[*rings the bell at the same time*]

This represents beautiful music, the gods, and parasol, and banner and also everyone surrounding him coming down. This is what we visualize when we ring this it has a lot of meaning.

Also, when you ring the bell, you're offering Emptiness up to Je Rinpoche. The bell represents Emptiness. Why? It is empty of inherent existence. Where does the sound come from? Where does the sound go? When we examine clearly, the sound doesn't exist as we have labeled it. It is independent of existence. It is dependent.

Therefore, we're offering the sound of Emptiness up to Je Rinpoche which is the actual offering, which is the best offering we can offer to our Guru - Emptiness.

So we ring the bell up to Je Rinpoche and in this hand, if possible, to hold an incense. If not, to have the incense on the altar - same. Then you visualize beautiful flowers all over. The ground clean like lapis lazuli with the eight auspicious marks, and gods and goddesses all around, dancing and singing and offering music and holding parasols, waiting for the great Je Rinpoche to come.

And holding the incense, you recite the holy words with this visualization. So when you recite that verse, that's the visualization you're supposed to have.

Just recitation alone cannot bring you to Enlightenment. It cannot. It plants some seeds, it has some blessing and the sound is very powerful to bless the area, but you cannot get enlightened without meditation.

Actually it's a very powerful practice. Even having a statue of Je Rinpoche in the house - with faith, that whole area that you're in will be blessed. Number one.

Number two - that house will not fall to poverty. With faith if you have Je Rinpoche. It's a great, great blessing. It's the holiest blessing.

If you don't have a bell, then you visualize beautiful music, everything I've just described. And then from Gaden Heaven, from the heart of Maitreya Buddha, in a cloud-like yoghurt - you know. this cloud is like yoghurt, very white and fresh, and very beautiful - comes out. This cloud it's actually wisdom coming in the form of a cloud, coming down.

Then as it comes in front of you, on top of that appears three beautiful thrones. Then the centre one his highest, the one on the left and right is lower, with eight lions on the eight directions holding it up. It represents protection from the four fears, which is the demon of delusions, demon of contaminated aggregates, demon of death and demon of… devaputra demons, physical demons. And four protection from the four maras in particular.

Then on top of that is a beautiful throne and a lotus. The lotus represent's Je Rinpoche's great Bodhicitta and compassion, that he has achieved.

On top of that is a beautiful moon disc, representing his realization of emptiness, and on top of that is the beautiful, youthful Je Rinpoche, 16 years old, wearing the three robes of a monk - the shamtap, this yellow Dharma robe, and one more Dharma robe that goes on top. The three robes of a monk with a danka which is what we usually wear, and sitting in the vajra position, like Buddha.

Sitting in the vajra position representing his stability in his realization cannot be lost. Like us, we study a little bit, then we forget. This stabilization is symbolized by him sitting in the vajra position, immutable, indestructible, immovable. Cannot move him, cannot destroy him, and it's unchanging.

When he holds his beautiful hands that are graceful and white with a tinge of red - the white represents Bodhicitta, the tinge of red represents Emptiness, realization. So in tantra, the mother tantras represent wisdom, the mother aspect represent red, or the red blood cells of the mother. Then the white is the white sperm or the white Bodhicitta of the father. So the white represents Bodhicitta. Bodhicitta is male, wisdom is female.

So Je Rinpoche has a very, very powerful tantric symbolism. So by seeing his beautiful white body which is the colour of a snow mountain and the sun reflecting on the snow mountain, and then the colour of that reflection is the colour of his beautiful white body, tinged with red, representing Bodhicitta and the realization of Shunyata. Wisdom and emptiness, method and wisdom, combined. So even the colour has great meaning.

He has one face, representing he has realized reality, no more duality. His two hands represent the two types of Emptiness - ultimate Emptiness and conventional Emptiness. Two types of Emptiness, he represents. And his hands are in the form of a Dharmachakra which means he is constantly emanating and giving teachings. All the time, these emanations are going in the world in the form of monks, in the form of laypeople, in the form of friends, in the form of Sangha members, ordinary people, high people, low, Guru, all those things - emanating in a different form and give teachings, and benefiting others.

Then his holding a beautiful lotus that comes here. The lotus here on the left, he's holding the prajanparamita teachings which represents wisdom because he is Manjushri. So in fact, these teachings represent all the teachings of the Buddha, all the teachings of the Buddha.

Then on his right, the palm facing out, the right hand, another beautiful lotus going up and this lotus on it is holding a beautiful wisdom sword with a flame, representing his sharp, clear wisdom and his realization into Emptiness. Without the realization of Emptiness, you cannot get out of samsara. Without compassion and without Bodhicitta, you can get out of samsara.

So wisdom is very important. Je Rinpoche has the complete realization of shunyata, Emptiness, which means he is out of samsara, which mean you can go to refuge for him, which means he can lead you out of samsara and give you the perfect teachings on Emptiness.

And also, he has the yellow golden pandit's hat. This pandit's hat has a point - it means that he has gone to the point of no more learning. The Bodhisattva stage of no more learning, which means his learning and realizations has reached the pinnacle. He has reached the point….his attainments and his Enlightenment and his learning has come to the point of no more learning, to the pinnacle. So that pointed hat represents his learning, that is true pinnacle, no more. He is fully Enlightened.

And it is the beautiful colour of yellow, golden yellow represents increase in the Dharma.

Red is the colour of control. Controlling what? Controlling the negative mind, controlling delusions, controlling wrong speech, controlling desire, controlling ignorance and hatred. So the great pandits of ancient India, the great mahasiddhas of India, debated with their opponents with the red hat representing control.

When Je Rinpoche was having a sleep, then the great Vajrayogini, the dakini Vajrayogini came into his dream and told him, "Oh great master, now that the light of the Dharma has spread in Tibet, there is no one that is a real triptika opposing Dharma. So now we need to make the Dharma grow. So therefore great master, change your red pandit's hat to yellow and by that, it will be an auspicious sign for the growth of Dharma."

So in the morning, he advised his tailor to change the colour because it was advise from Vajrayogini. So our yellow hat of the Gelug tradition is not something that the lamas just made up to be different, or to be bright or to stick out in the crowd or to glow in the dark because it's yellow. But actually, they made it yellow because it was Vajrayogini's holy advice to Je Rinpoche directly to change the colour of the hat.

So the shape of the hat came from India; the colour of the hat was advised by Vajrayogini. So it is very auspicious, even that hat. So when we see that hat, we should remember the meaning behind it - the growth of Dharma, the pinnacle of learning. And then the best place to go for refuge is Je Rinpoche because there's no one more superior than him.

Disc 2

Disc 2

Dim lights Embed Embed this video on your site

Jadi tubuh suci beliau, hanya dengan melihatnya dalam bentuk tersebut. Dan juga, beliau memakai jubah biksu, yang merepresentasikan tidak semua dari kalian harus menjadi biksu tetapi kalian harus memegang sumpah kalian. Sumpah individu kalian, sumpah Bodhicitta, dan sumpah tantra kalian. Kalian harus memegang sumpah kalian. Jadi jubah merepresentasikan sumpah - sumpah pratikmoksha. Jadi, jubah menggambarkan sumpah - sumpah pratikmoksha. Jadi ketika beliau memakai jubah, hal ini mengatakan bahwa cara terbaik untuk menjalankan Dharma adalah dengan jalan sumpah

Jadi ketika beliau memakai jubah, hal ini berarti kalian harus memegang sumpah kalian. Kalian semua memiliki sumpah - sumpah refuge, sumpah Bodhicitta, dan sumpah Tantrik. Kalian harus memegangnya dengan baik.

Lalu ketika Je Rinpoche datang, bait kedua… bagian dimana kalian membaca bait pertama. Jadi ketika kalian membaca bait pertama, hal ini mempunyai arti. Kalian tidak hanya membacanya. Kalian harus melakukan visualisasinya.

Yang selanjutnya adalah "Guru saya duduk di depan saya di atas singgasana-singa, teratai dan bantalan bulan. Tubuhnya berwarna putih dan beliau tersenyum bahagia. Tolong tinggalah selama banyak kalpa dan sebagai lapangan pahala yang luar biasa untuk pertumbuhan keyakinan saya dan pertumbuhan ajaran Sang Buddha."

Bait selanjutnya adalah meminta beliau untuk tinggal dan mengajar. Hal ini sangat, sangat penting. Bila sang Lama sudah meninggal, bila sang Lama mempunyai kekuatan untuk pergi, kalian harus meminta Lama kalian untuk tinggal, kalian harus memohon, kalian harus mengumpulkan pahala, kalian harus melakukan ritual-ritual panjang umur, kalian harus membuat banyak patung, kalian harus menyumbang atas nama Lama kalian, kalian harus mencetak buku Dharma, kalian harus melaksanakan ajaran yang kalian dapat. Dan dari semua praktek kalian, kalian mendedikasikannya untuk hidup Lama kalian.

Jadi ketika Je Rinpoche datang, kalian membayangkan beliau sebagai Guru utama kalian, siapapun Guru kalian, atau bila kalian mempunyai lima, enam Guru, kalian bisa membayangkan semuanya di sana, tidak apa. Kalian memiliki lima cangkir, kalian bisa menggabungkan semua airnya dalam satu cangkir besar. Semua sama, tidak beda.

Lalu, Surga Gaden terlihat seperti ini. "Dari sebelah utara benua ini, Jambudvipa, ada Gunung Meru, yang terdiri dari empat tingkatan. Di puncak Gunung Meru ada tanah dengan 33 Surga, tingkat kedua adalah dari tempat dewa hasrat. Di ruangan di atas tanah ini tanpa Peperangan, adalah tempat ketiga dari alam Dewa Hasrat. Dan ruangan diatas ini adalah Tanah kebahagiaan, tempat keempat dari alam dewa hasrat." Jadi di atas semua alam dewa di samsara, semua dewa di alam tertinggi, adalah surga Gaden, Tushita. Di atas semua ini ada surga Buddha Maitreya yang juga dikenal sebagai Tanah Bahagia, atau Tushita.

Dan beliau mengatakan pada temannya, yang juga merupakan Rinpoche (Oh, tentu saja hal ini adalah pembicaraan internal, kalian tahu). Beliau berkata kepada Rinpoche lainnya, "Saya dan kamu akan pergi ke Surga Kacho, kita akan pergi ke surga Vajrayogini. Saya akan pergi lebih dulu." Setelah beliau berkata seperti ini, beberapa hari kemudian, beliau bermeditasi dan meninggal dunia. Dan beliau melakukan praktek Vajrayogini, yang merupakan praktek utamanya. Je Rinpoche dan Vajrayogini. Saya mengetahuinya kemudian. Jadi sebenarnya ketika kalian pergi ke Surga Gaden, cukup baik, sangat indah.

Kalian harus meminta mereka untuk mengajar, kalian harus terus memohon. Kalian harus memohon sang Guru untuk tinggal, kalian harus memohon mereka untuk membimbing kalian, untuk mengajar kalian. Dan ketika kalian meminta sang Guru untuk tinggal dan membimbing kalian, untuk menolong kalian, untuk membantu kalian. Bahkan di kehidupan ini, dan di kehidupan yang akan datang, kehidupan yang akan datang, dan masa depan, kalian akan bertemu dengan Guru Mahayana yang tulus yang akan membimbing kalian dan mengajarkan bait ini.

Lalu, selanjutnya. "pikiran-bijaksana beliau mencakup semua yang ada. Suara beliau adalah ajaran yang luar biasa yang menghias telinga murid-murid yang beruntung. Tubuhnya yang indah dan bersinar membangkitkan rasa kagum. Kepada Lama Tsongkhapa, yang hanya dengan melihat, mendengar, atau merenungkan membuat seseorang mendapat pahala, saya bersujud."

Jadi dalam [bait] ini, mereka memuji kualitas Je Rinpoche. Mereka memuji beliau dan memberi tahu bahwa beliau mempunyai kualitas yang luar biasa pada tubuh, perkataan dan pikirannya. Beliau adalah Buddha yang tercerahkan sepenuhnya, beliau mempunyai penglihatan yang menyeluruh dan beliau sudah menyadari mengenai Kekosongan secara langsung. Ini adalah kualitas dari pikirannya. Penuh kasih, menyadari Kekosongan, mempunyai cara yang tepat untuk mengajar - ini adalah kualitas dari pikirannya, yang merupakan kualitas dari sang penguasa, Shakyamuni.

Dengan menyebutkan hal ini pada bait tersebut, kita melakukan sujud secara verbal. Lalu mendengarkan kata-kata Je Tsongkhapa menyebabkan makhluk yang beruntung merasakan kebahagiaan. Hanya dengan mendengarkan perkataannya yang sangat indah dan sangat luar biasa ketika sampai pada telinga kita. Hal ini seperti anting yang indah, seperti hiasan bagi telinga untuk mendengarkan Dharma yang suci dari beliau. Karena tanpa Dharma, kita tidak bisa mengendalikan pikiran negatif kita dan menjadi tercerahkan.

Hanya dengan melihat tubuh Je Tsongkhapa - melihat patungnya, melihat fotonya - mendengar mengenai ajarannya, mendengar kualitasnya, membaca tentang hal ini, berpikir mengenai hal ini, atau bermeditasi mengenai hal ini; mendengar, berpikir, merenungkan bentuk, perkataan, dan aktivitas Je Tsongkhapa mengumpulkan banyak pahala dan membersihkan pahala yang buruk.

Ketika kita berpikir mengenai Je Rinpoche, yang menggambarkan Pencerahan, karena beliau adalah makhluk yang tercerahkan, karena karma yang berhubungan dengan makhluk yang tercerahkan tersebut, dengan berpikir mengenai beliau, kalian mendapatkan pahala. Jadi ketika kita berpikir mengenai beliau dengan penuh keyakinan, kalian mengumpulkan pahala yang berhubungan dengan pikiran, kalian membersihkan pikiran. Bersujud secara mental.

Bila kita memuji Je Rinpoche, kita menjadi tercerahkan. Bersujud secara verbal.

Lalu bersujud secara fisik. Di sekitar Tsongkhapa, kalian membayangkan Tsongkhapa sebagai emanasi dari semua Buddha, Bodhisattva, dan dewa. Tiga jenis sujud yang kalian lakukan untuk Je Rinpoche. Hadi ini adalah bait sujud dari Seven Limbs.

Lalu setelah itu, persembahan: "Saya mempersembahkan ladang pahala yang luas, Tsongkhapa, persembahan yang indah, air, rangkaian bunga, dupa yang wangi, lampu mentega, parfum, dan lebih banyak lagi persembahan fisik dan mental, seluas awan dan selebar lautan."

Jadi ketika kalian berpikir mengenai hal ini, kalian harus berhenti. Setiap bait, kalian harus berhenti dan merenungkan kata-katanya dan apa yang kita bicarakan sekarang.

Jadi ketika kalian melakukan persembahkan dengan benar, hal ini akan menjadi cara yang efektif untuk mengumpulkan pahala. Kita membayangkan kolam, danau, dan air mancur dan air yang indah, dan semua air mineral di dunia, kalian tahu, dan setiap alirannya dan semua air yang dipersembahkan di depan kita, kita mempersembahkannya kepada Je Rinpoche. Di cangkir pertama.

Yang kedua, lagi, semua air di dunia, dipenuhi saffron untuk mencuci kaki Je Rinpoche. Air kaki, atau mandi kaki. Karena di India kuno, orang datang dari jauh, dan ketika mereka datang ke rumah kalian - Guru kalian, atau orang tua kalian - segera, kalian memberi mereka minum dan sebelum mereka masuk ke rumah, kalian mencuci kakinya.

Bila mereka adalah orang berkedudukan tinggi - lebih tinggi dari kalian dalam posisi atau kekuatan spiritual - kalian mencuci kaki mereka karena rasa hormat. Kalian mengeringkannya dengan bersih dan kalian membawa mereka ke dalam. Lalu kalian memberi mereka sesuatu untuk dimakan, kalian menawarkan lampu, kalian memberikan makanan, musik untuk menghibur para tamu.

Lalu setelah itu, semua bunga yang indah di dunia di depan Je Rinpoche. Dan kalian mempersembahkannya.

Lalu semua wangian yang indah di dunia. Kalian membayangkan dupa yang indah, seperti awan di dunia, jutaan dupa dan kalian mempersembahkannya kepada Je Rinpoche.

Lalu selanjutnya cahaya. Cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya bintang, cahaya lampu neon. Persembahkan semuanya kepada Je Rinpoche. Semua di sana, digambarkan dalam pujian.

Lalu selanjutnya adalah parfum. Jadi Estee Lauder, Chanel No. 5… semuanya indah… semua parfum. Di masa depan kalian akan selalu terlahir dalam tempat yang bersih, dalam tempat yang wangi, lingkungan yang bersih, lingkungan yang lancar karena mempersembahkan wangi yang indah kepada sang Buddha.

Lalu selanjutnya adalah makanan. Semua kue dan semua yang lezat dan kalian meletakannya di sana. Dan kalian menaruhnya di sana dan kalian mempersembahkannya kepada Je Rinpoche.

Lalu setelah itu, suara yang indah. Kalian bisa menaruh cangkir lain, apapun yang menggambarkan instrument. Lalu kalian bisa menaruhnya di dalam dan mempersembahkan suara.

Semua suara yang indah, semua yang baik dan indah di dunia kalian persembahkan kepada Je Rinpoche. Dan pada saat kalian membaca bait tersebut, kalian membunyikan bel bila kalian memilikinya.

Jadi *membunyikan bel* "Saya mempersembahkan ladang pahala yang besar, Tsongkhapa, persembahan yang indah, air, rangkaian bunga, dupa yang harum, lampu-mentega, parfum, dan lebih banyak lagi persembahan mental dan fisik, seluas awan dan selebar samudera." Persembahkan.

Dan kalian mempersembahkan praktek yang kalian lakukan.

Selanjutnya, pembersihan dosa. Bila kita tidak membersihkan karma negatif kita, kita tidak akan pernah mendapatkan Dharma yang suci, kita tidak dapat mengerti, kita merasa ngantuk, atau kita merasa lelah, atau kita merasa malas atau ketika kita mulai bermeditasi, kita merasa tidak ingin melakukannya, atau kita mudah terganggu, atau kita menjadi sakit, atau kita tidak memiliki cukup uang, atau kita menjadi lapar, atau kita merasa tidak nyaman. Semua ini adalah tanda kesulitan, bahwa karma negatif belum dibersihkan.

Sebenarnya, untuk Dharma kita harus bersemangat, kita harus sangat bangun, kita harus mempunyai energi yang besar, sepanjang hari, sepanjang malam, setiap saat. Untuk berdansa, untuk bernyanyi, untuk pergi ke luar, untuk pesta, dan hal-hal semacam ini, kalian harus merasa sangat lelah.

Semua ini harus dibersihkan. Bila tidak dibersihkan, kita akan mendapatkan penyakit, rasa tidak bahagia, pikiran yang tidak stabil, tidak ada kesadaran Dharma, tidak ada tanpa pembersihan dosa.

Agar kita dapat membersihkan dosa, kita membutuhkan empat sebab. Apakah keempat sebab ini?

Secara berurutan: Penyesalan… setelah penyesalan, lalu kalian bisa berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Penyesalan. Setelah penyesalan? Janji untuk tidak melakukannya lagi. Yang ketiga adalah aplikasi penawar. Untuk melakukan hal-hal yang berlawanan… untuk melakukan hal-hal yang membersihkan seperti 35 Pengakuan, Vajrasattva, dan meditasi mengenai kekosongan. Untuk mengaplikasikan penawar.

Yang terbaik untuk sutra penghancur oleh metode sutra adalah 35 Buddha Pengakuan - yang kedua: Vajrasattva. Yang ketiga: meditasi atas Kekosongan. Ketiga hal ini adalah cara terbaik untuk membersihkan dosa.

Bersamaan dengan hal ini, tentu saja, bersujud sangatlah baik. Jadi untuk melakukan hal tersebut akan menyebabkan hal-hal buruk dan karma negatif yang telah kalian kumpulkan untuk dibersihkan.

Yang keempat adalah untuk melakukan hal yang berlawanan seperti mengambil refuge, membangun rasa kasih sayang, membaca mantra, melakukan meditasi, belajar Dharma. Penyesalan, janji untuk tidak melakukan hal yang sama, kegiatan Dharma. Dengan empat kekuatan ini dan ketika kalian membaca bait dari Je Rinpoche, benar, "semua tindakan tubuh, perkataan, dan pikiran yang tidak baik, yang telah saya kumpulkan selama periode tak terhitung, terutama tindakan yang berlawanan dengan tiga sumpah (Vinaya, Boddhisattva, Vajrayana), saya sesali (Vinaya adalah untuk biksu. Untuk kalian, bisa memikirkan sumpah refuge). Jadi refuge, Bodhissatva, Vajrayana (tantrik) "saya sangat menyesali dari dalam lubuk hati saya dan saya dan saya memaparkan semua dan setiap tindakan saya [yang negatif]."

Kepada siapa kalian mengaku? Kepada Je Rinpoche yang luar biasa yang merupakan tiga Bodhisattva. Kepada siapa kalian berjanji? Je Rinpoche, yang merupakan guru kalian. Kepada siapa kalian membuat pengakuan? Je Rinpoche. Dan kepada siapa kalian mempersembahkan pujian? Memberikan persembahan? Membaca mantra? Je Rinpoche. Semuanya sudah termasuk dalam praktek yang singkat ini. Betapa mudahnya. Hanya bait-bait singkat.

Jadi pembersihan dosa sudah selesai. Lalu selanjutnya bergembira, merasa bahagia.

"Kami sangat berbahagia atas pencapaianmu yang luar biasa, Tuanku, yang menerima banyak ajaran dan melaksanakan ajaran tersebut dengan giat, yang meninggalkan delapan tujuan duniawi dan menggunakan 18 kondisi yang menguntungkan dengan sangat baik dalam jaman penuh kemerosotan ini."

Sangat indah. Dalam otobiografi Je Rinpoche, Je Tsongkhapa berkata bahwa pertama-tama beliau mempelajari Dharma dengan ekstensif. Lalu beliau menyadari bahwa ajaran Buddha adalah nasihat pribadi. Lalu beliau mendapatkan kesadaran yang dalam mengenai Dharma karena melaksanakannya siang dan malam.

Beliau lalu mendedikasikan semua aktivitasnya untuk munculnya Buddhadharma yang suci. Singkatnya, dalam jaman penuh kemerosotan ini, Je Tsongkhapa menunjukan contoh terbaik untuk diikuti pelaksana Dharma yang lain. Beliau mengajarkan apa itu Buddhadharma yang suci, dan bagaimana belajar dan mempraktekan Dharma, dan bagaimana mencapai kesadaran yang suci. Merenungkan hal ini, kita bergembira karena dalam lubuk hati kita atas kegiatannya yang luar biasa pada saat membaca bait ini dalam Sadhana.

Ketika kita bergembira, semua pahala yang telah dikumpulkan oleh para makhluk ini, akan kita dapatkan dengan bergembira. Bahkan perbuatan baik yang telah kalian lakukan - persembahan yang telah kalian berikan, ajaran yang kalian dapatkan, Guru yang kalian temui - semua ini patut disyukuri. Bila kalian bergembira, ini adalah cara termudah dan termurah untuk mengumpulkan pahala.

Jadi bila kalian bergembira atas kegiatan suci Je Rinpoche, kegiatan suci Buddha Shakyamuni, kegiatan suci Kuan Yin Posa, kalian akan mendapatkan pahala yang telah mereka kumpulkan. Ini adalah cara yang mudah dan indah untuk mengumpulkan pahala.

Lalu beliau melaksanakan ajaran. Beliau meninggalkan delapan tujuan duniawi. Apakah delapan tujuan duniawi? Delapan tujuan duniawi yang telah beliau tinggalkan, delapan dharma duniawi adalah keinginan untuk bertemu, keinginan untuk mendapatkan kesenangan, keuntungan materi, pujian, reputasi yang baik; menghindari rasa sakit, takut kehilangan materi, takut disalahkan, dan takut akan reputasi buruk. Ini adalah delapan tujuan duniawi yang telah ditinggalkan oleh Je Rinpoche.

Lalu, beliau telah menggunakan secara optimal delapan belas kondisi yang menguntungkan. Apakah delapan belas kondisi yang menguntungkan? Delapan belas kondisi yang menguntungkan adalah 10 kepemilikan dan delapan kebebasan. Sepuluh kepemilikan: sepuluh kualitas yang menandakan kelahiran manusia yang sempurna. Terlahir sebagai manusia, terlahir di negara Dharma, terlahir dengan keadaan mental dan fisik yang baik, terlahir tanpa lima tindakan yang ekstrim, mempunyai keyakinan atas ajaran Buddha, terlahir pada saat Buddha sudah turun, dimana ajaran sudah dikeluarkan (karena beberapa Buddha datang dan mereka tidak mengajar). Jadi ketika Buddha sudah turun dan ketika ajaran sudah dikeluarkan; ketika ajaran tersebut masih terasa dan belum berlalu, ketika masih ada pengikut ajaran; dan memiliki kondisi yang diperlukan untuk melaksanakan ajaran Dharma - makanan, tempat yang bersih, semua kondisi.

Lalu delapan kebebasan… delapan kebebasan adalah kelahiran sebagai manusia yang sempurna dan bebas dari: terlahir dalam alam neraka, terlahir sebagai setan kelaparan, terlahir sebagai hewan, terlahir sebagai makhluk barbar, terlahir sebagai dewa berumur panjang, memiliki pandangan yang salah, terlahir dimana Buddha belum turun, terlahir dengan kondisi mental atau fisik yang cacat.

Yang selanjutnya adalah "Semua Guru yang Suci, tanpa kesalahan dalam bertindak, semoga kalian menurunkan hujan kesadaran atas Bodhicitta dan Shunyata dari awan kasih sayang yang mengetahui segalanya yang memenuhi langit Dharmakaya, tersedia bagi murid hal-hal yang diperlukan dengan tepat."

[Bait] ini meminta untuk memutar Roda Dharma. Ketika Buddha tercerahkan, setelah beliau mencapai pencerahan, para dewa, Brahma dan Indra, menampakkan diri di depan Sang Buddha dan meminta beliau untuk mengajar. Yang satu memegang roda Dharmachakra, dan yang lain memegang kulit kerang dan bersujud sebanyak tiga kali kepada sang Buddha untuk meminta beliau memberikan ajaran.

Karena itu dengan membaca bait dari sadhana ini, kita membuat permintaan khusus untuk memutar roda Dharma. Dan ketika kita meminta hal ini dari Je Rinpoche untuk memutar roda Dharma, karena beliau adalah sang Guru, karena beliau adalah Yidam, karena beliau adalah pelindung Dharma, karena beliau adalah Buddha dari 10 penjuru dan tiga masa, digabung, dikondensasi dalam tiga Bodhisattva - Avalokiteshvara, Vajrapani, dan Manjushri - dan beremanasi dalam bentuk seorang Lama, ketika kita meminta kepada beliau, kita mengajukan permintaan kepada tiga Bodhisattva, kepada Buddha dari sepuluh penjuru dari tiga masa, masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Karena itu, kita menciptakan koneksi dengan para Buddha agar mereka memberikan ajaran. Bila kita tidak meminta mereka, mereka tidak akan memberikan ajaran. Agama Buddha bukanlah agama yang pergi keluar dan mengkonversi keyakinan orang lain. Hal ini harus diminta dengan persembahkan, dengan hati yang tulus.

Lama yang luar biasa dari masa lalu pergi ke India dari Tibet dan mempersembahkan semua emas, semua perak, semua yang berharga yang mereka miliki di kaki sang Lama, dan mereka mempersembahkan tubuh, perkataan, dan pikiran kepada sang Lama agar mendapatkan Dharma.

Ketika kalian memberikan persembahan kepada sang Lama, kalian membayangkan planet secara keseluruhan, kalian mempersembahkan semuanya di samsara, semua yang indah kalian persembahkan kepada sang Lama agar mendapatkan pahala yang besar.

Seperti contoh ini, sangat-sangat penting untuk meminta ajaran Dharma yang suci dan untuk memutar roda Dharma secara berulang-ulang kepada Lama Tsongkhapa. Karena itu, kita meminta kepada Maitreya untuk memutar roda Dharma, kepada semua Buddha, Bodhisattva, Chenrezig/Avalokiteshvara, dan Vajrapani; semuanya, Manjushri/Wen Su Shri Posa. Semua dari mereka untuk memutar roda Dharma. Jadi sangat-sangat penting untuk meminta mereka untuk memutar roda Dharma.

NAM-DAG WO-SAL YING-LEY JING-PA YI

ZUNG-JUG KU-LA CHAR-NUM MI-NGA YANG

THA-MAL HNANG-NGOR ZUG-KU RAG-PA NYI

SEE-THEE BAR-DU MI-NUM TAN PAR SHUG

"Semoga tubuh Vajra yang diciptakan dari cahaya yang jernih dan suci, bebas dari peningkatan dan penurunan keberadaan yang berputar tetapi terlihat oleh makhluk biasa dalam bentuk fisik, tidak berubah, tidak pudar sampai Samsara berakhir."

Hal ini sangat menguntungkan karena dalam hampir semua seven limbs, kalian meminta sang Guru untuk tinggal sekali. Di sini, dua kali. Jadi dalam bait ini, kalian meminta lagi kepada sang Guru, "Tolong tinggal, tolong tetap di sini sampai samsara berakhir." Jadi di sini kalian berpikir mengenai Guru utama kalian dan semua Guru di dunia, semua guru yang luar biasa, kalian meminta mereka di sini melalui Je Tsongkhapa.

Lalu setelah itu, dedikasi. Semua tindakan yang kita lakukan, motivasi adalah puncaknya. Tindakan adalah seperti benda dan dedikasi ada di puncak bawah, jadi kalian menyegelnya.

Bila kalian mempunyai sedikit pahala, dedikasikan kepada pahala yang lebih besar - pencerahan, Bodhicitta dan kesadaran akan Shunyata. Bila kalian mendedikasikan semua tindakan kalian maka sampai dedikasi itu terpenuhi, dia tidak akan hancur.

Dedikasi adalah sangat, sangat penting dan untuk mendedikasikannya kepada Dharma. Pada akhir hari, sebelum kalian pergi tidur, kalian harus berpikir "Semua hal baik yang saya lakukan hari ini, saya dedikasikan untuk pertumbuhan Dharma, untuk penyebaran," karena bila Dharma bertumbuh, lebih banyak ajaran, ketika ada lebih banyak ajaran, lebih banyak orang mendengar, lebih banyak yang mendengar lebih banyak perenungan, lebih sedikit delusi, lebih sedikit penderitaan, Pencerahan. Sangatlah penting untuk mendedikasikannya untuk Dharma.

Jadi dedikasi di sini:

DAG SOG JIN NYEH SAG PA GE WA DEE

TAN DANG DRO WA KUN LA GANG PHAN DANG

CHE PAR JE TSUN LO ZANG DRAG PA YI

TAN PI NYING PO RING DU SAL SHEH SHOG

"Semoga pahala ini yang dikumpulkan oleh diri saya dan lainnya, dapat memberi manfaat untuk melayani semua makhluk hidup dan Buddha Dharma dan khususnya semoga semua ajaran yang penting dari Maha Guru Tsongkhapa menjadi jelas dan bertahan."

Diantara dedikasi dan mantra harus ada persembahan mandala. Bila kalian melakukan persembahan mandala atau tidak itu adalah pilihan kalian. Hal ini seluruhnya pilihan kalian. Tentu saja bila kalian melakukan persembahan mandala, akan sangat baik.

Persembahan mandala harus dilakukan dengan baik. Walaupun doanya pendek, harus dilakukan sepenuhnya.

Jadi ketika kalian melakukan persembahan, kalian membayangkan semua benda yang indah di dunia, semua benda yang mengikat kalian, semua emas, semua perak, semua perhiasan, semua benda berharga, danau, gunung, hewan, taman. Persembahkan semuanya. Semua pengetahuan, semua makanan. Semua hal di dunia yang bisa kalian bayangkan.

Bayangkan setiap hal yang indah dan luar biasa dan lengkap. Lalu kalian membaca mantra, OM IDAM GURU RATNA MANDALAKAM NIRYATAYAMI.

Ketika kalian membaca mantra ini, lalu kalian membawanya ke dekat kalian dan kalian mengatupkan tangan kalian. Kalian membayangkan semua pencapaian mendatangi kalian. Dan lalu Je Rinpoche menerimanya, semua yang kalian berikan kepada beliau.

Lalu setelah itu, datanglah pembacaan mantranya.

MIG MEY TZE WAY TER CHEN CHENREZIG

DRI MEY KHYEN PI WANG PO JAMPAL YANG

DU PUNG MA LU JOM DZEY SANG WEY DAG

GANG CHENG KE PEY TSUG GYEN TSONGKHAPA

LO SANG TRAG PEY SHAB LA SOL WA DEB

"Je Tsongkhapa, mahkota dari para Maha Guru yang suci dari Tanah Salju, kau adalah Avalokitesvara, tambang emas kasih sayang yang tidak tercemar oleh delusi ego. Kau adalah Manjushri, maha guru dengan kebijaksanaan yang tidak tercemar. Kau adalah Vajrapani, penakhluk semua kumpulan setan. Di kakimu, Lobsang Dragpa yang termasyur, dengan rendah hati saya bersujud dan meminta dengan tulus agar semua makhluk hidup mencapai Pencerahan."

Sangat kuat, sangat luar biasa. Ketika kalian membaca satu mala, kalian ambil mala kalian, duduk tegak, dalam postur meditasi juga boleh dan kalian memegang mala kalian di tangan kanan (secara praktis, kiri lebih baik dalam tantra, tetapi kanan juga boleh) dan lalu kalian menarik butiran malanya ke arah kalian. Butirannya harus 108 atau 111, yang mana saja. Butiran yang terbaik terbuat dari biji Bodhi, biji teratai - sangat, sangat baik. Kristal juga sangat, sangat baik. Kristal sangatlah baik untuk mendapatkan kasih sayang. Sebenarnya biji Bodhi adalah yang terbaik. Bila kalian bisa, kalau tidak biji teratai, atau kristal, atau kayu, atau sandal, atau apapun yang bisa kalian dapatkan.

Dan lalu mala tersebut diberkati oleh guru kalian sangat baik. Bila tidak, kalian memberkatinya. Kalian membaca Migtsema tiga kali, lalu kalian memberkatinya. Dan bila mala tersebut harus kalian bawa ke kamar kecil. Bila kalian membawanya ke kamar kecil, kalian memberkatinya lagi. Mala tidak seharusnya ada di lantai, dan tidak boleh diinjak, dan tidak boleh digunakan sebagai dekorasi, hiasan. Mala harus bersih, harus sangat suci. Bila kalian menyimpannya di tangan kalian, bila kalian memakainya di leher kalian (biksu tidak boleh memakainya di leher, orang awam bisa memakainya di leher), seindah mungkin.

Ketika kalian membaca mantranya, kalian tidak boleh bersendawa, kalian tidak boleh kentut. Kalian tidak boleh berbicara, kalian tidak boleh tertawa, kalian tidak boleh bangkis, kalian tidak boleh batuk, kalian tidak boleh bergerak-gerak.

Bila kalian melakukannya, kalian membaca mantra tersebut tujuh kali lebih banyak untuk memperbaikinya. Dan bila kalian melakukan ret-ret panjang, kalian boleh minum. Bila kalian melakukan ret-ret panjang, kalian bisa bangun, kalian bisa menaruh mala kalian, kalian pergi ke kamar kecil, bila diperlukan. Jangan berbicara. Jangan berhenti jangan mengambil roti lapis keju! Kalian pergi ke kamar kecil, kalian lakukan apa yang harus kalian lakukan. Setelah selesai, kalian cuci mulut kalian, kalian cuci tangan kalian, kalian kembali dan memulai lagi.

So his holy body, just to see it in that form. And then also, he's wearing the robes of a monk representing, not you should all become monks, but you should hold on to your vows. Your individual vows, your vows of Bodhicitta, and your vows of tantra. You should hold on to your vows. So the robes represent vows - the pratikmoksha vows. So when he wears the robes, it's telling you the best way to practice Dharma is by way of vows.

So when he wears these robes, it means you should hold your vows. All of you have some sort of vows - the refuge vows, Bodhicitta vows, and the tantric vows. You should hold those well.

Then when Je Rinpoche comes, the second verse… that part you do the first verse. So when you recite the first verse, it has this kind of meaning to it. You just don't recite it. You have to do this visualization.

The next one is "My Lord Guru is seated before me upon a lion-throne, lotus and moon cushion. His body is white and he smiles blissfully. Please remain many eons and serve as the great merit field for the growth of my mind's faith, and for the increase of Lord Buddha's teachings."

The next verse is requesting for him to stay and to give teachings. It's very, very important. If the Lama has already passed away, if the Lama has the power to go, you must ask the Lama to remain, you must request, you must collect the merit, you must do longevity practices, you must make many statues, you must make donations in your Lama's name, you must print Dharma books, you must do your practice. And all of your practice, you dedicate to your Lama's life.

So when Je Rinpoche comes, you visualize him as your root Guru, whoever your Guru is, or if you have five, six Gurus, you can visualize all of them there, doesn't matter. You have five cups, you can combine all the water into one big cup. All is the same, no difference.

Then, Gaden Heaven looks like this. "To the north of this continent, Jambudvipa, is Mount Meru, which has four stepped levels. On top of Mount Meru is the land of the 33 Heavens, the second abode of the desire realm gods. In the space above this is the Land without Combat, the third abode of the desire realm gods. And then the space above this is the Joyful Land, the fourth abode is of the desire realm gods." so above all the god realms in samsara, all the gods of the highest realms, is Gaden Heaven, Tushita. Just above this, is the god realms, is the pure land of Buddha Maitreya which is also known as Joyful Land or Tushita.

And he told his other friend, who's another Rinpoche (Oh, of course it's inside talk, you know). He says to the other Rinpoche, "Me and you are both going to Kacho Heaven, we're going to Vajrayogini's heaven. I'm going to go first." After he said that, then a few days later, he went into meditation and he passed away, completely. And he did the Vajrayogini practice which is his main practice. Je Rinpoche and Vajrayogini. I found out later. So actually when you go to Gaden Heaven, quite excellent, quite wonderful

You have to request them to teach, you have to keep requesting. You must request the Guru to stay, you must request them to guide you, to teach you. And when you request the Guru to stay and to guide you, then you collect the merit for him to stay and to guide you, to help you, to assist you. Even in this life, and then future life, future life, and future, you will meet with pure Mahayana Gurus who will guide you and teach you by reciting this verse.

Then, the next one. "His omniscient wisdom-mind encompasses all that is existent. His voice is a profound teaching, which ornaments the ear of the fortunate pupil. His body's beautiful radiance evokes wondrous admiration. To Lama Tsongkhapa, whom merely viewing, hearing or contemplating earns one great merit, I make prostration."

So in this one they are praising Je Rinpoche's qualities. They're praising him and telling him that he has the pre-eminent qualities of the body, speech and mind. He is a fully enlightened Buddha, he has complete omniscience and he realizes Emptiness directly. This is the quality of his mind. Compassionate, realizes Emptiness, has skilful means to teach - these are the qualities of his mind, which is the qualities of the Conqueror, Shakyamuni.

By saying this one in the verse, we are doing verbal prostration. Then hearing Je Tsongkhapa's speech causes fortunate beings to experience happiness. Just hearing his speech is so beautiful and so wonderful when it comes to our ears. It's like a beautiful earring, it's like an ornament for the ears to hear his holy Dharma. Because without the Dharma, we cannot control our negative mind, and become enlightened.

Just by seeing Je Tsongkhapa's actual body - seeing his statue, seeing his photo - hearing about his teachings, hearing about his qualities, reading about it, thinking about it, or meditating on it; hearing, thinking, contemplating on the form, speech and activities of Je Tsongkhapa collects great amount of merit and purifies negative merits.

When we think about Je Rinpoche, which represents Enlightenment , which he is an enlightened being, because the karma in relation in that enlightened being, by thinking about him, you collect the merit. So when we think about him with faith, you collect the merit of the mind, you purify the mind. Mental prostration.

If we praise Je Rinpoche, we get enlightened. Verbal prostration.

Then physical prostration. Around Tsongkhapa, you can visualise Tsongkhapa as an emanation of all the Buddhas, Bodhisattvas and deities. Three types of prostrations you're making up to Je Rinpoche. So it is the verse of prostration out of the seven limbs.

Then after that, offerings: "I present to you great merit field, Tsongkhapa, beautiful offerings, water, a display of flowers, fragrant incense, butter-lamps, perfumes and more both physical and mental offerings, vast as the clouds and wide as the ocean."

So when you think about this, you should stop. Each phrase, you should stop. Each phrases you should stop and meditate on the words and what we're talking about now.

So when you make offerings right, it's a very powerful way of collecting merits. We visualize all the beautiful pools, lakes, all the beautiful lakes and gardens, springs and fountains and water, all the mineral water in the world, you know, and every single stream and all the beautiful water in the offering in front of us, we're offering to Je Rinpoche. In the first cup.

The second one, again, all the water in the world, filled with saffron to wash Je Rinpoche's feet. Feet water, or foot bath. Because in ancient India, people come from far away, and when they come to your house - your Guru, or your teacher, or your parents - immediately, you give them something to drink and before they enter the house, you wash their feet.

If they're a high person - higher than you in rank or position or spiritual powers - you wash their feet out of respect. After you wash their feet, you dry it off cleanly and you bring them inside. Then you give them something to eat, you offer some lights, you offer some food, some music to entertain the guests.

Then after that, all the beautiful flowers in the world, in front of Je Rinpoche. And you're offering it up.

Then all the beautiful smells in the world. So you visualize beautiful incense, billowing in the world, millions and millions of incense and you offer it to Je Rinpoche.

Then the next one is light. The light of the sun, the light of the moon, the light of the stars, the light of the neon lights. Offer everything up to Je Rinpoche. Everything is there, represented by that praise.

Then the next one is perfume. So Estee Lauder, Chanel No. 5… All the beautiful… all the perfume. In the future you'll always be born in a clean place, in a place that has good smells, a clean environment, a smooth environment for offering beautiful smells up to a Buddha.

And the next one is food. All the cakes and everything wonderful and you put it up there. And you represent it there and you offer up to Je Rinpoche.

Then after that, beautiful sound. So you can put another cup, anything that represents an instrument. Then you can put it inside and offer sound.

All the beautiful sound, everything wonderful and beautiful in the world you offer up to Je Rinpoche.

And at that time when you recite that verse, again you ring the bell if you have it.

So *rings bell* "I present to you great merit field, Tsongkhapa, beautiful offerings, water, a display of flowers, fragrant incense, butter-lamps, perfumes and more both physical and mental offerings, vast as the clouds and wide as the ocean." Offer up.

And then you offer up your practice.

Then the next one is purification. If we do not purify our negative karma, we will never be able to get the holy Dharma. If we do not purify our karma well, even when we get the holy Dharma, we cannot understand, we feel sleepy, or we feel tired, or we feel lazy or when we try to meditate, we feel not in the mood, or we get distracted easily, or we get sick, or we don't have enough money, or we get hungry, or we feel uncomfortable. All this is a sign of obstacles, that negative karma is not purified.

Actually, for Dharma we should be very excited, we should be very awake, we should have a lot of energy, all day, all night, all the time. For dancing, for singing, for going out, for parties and these things, you should feel very tired.

This must be purified. If this is not purified, we will get sickness, unhappiness, unstable mind, no Dharma realizations, none. Without purification.

In order for purification to come about, then we need four causes for purification to come about. What are the four causes?

In order: Remorse…After your remorse, then you can promise never to do it again. Remorse, regret. Next after regret is? The promise not to do it again. The third one is antidote application. To do practices that are opposite…. To do practices that will purify such as the 35 Confessions, Vajrasattva, and meditation on Emptiness. So to do antidotes, applications or the application of antidotes.

The best ones for sutra of breakages by sutra methods is the 35 Confessional Buddhas -Number two: Vajrasattva. Number three: meditation on Emptiness. These three are the best methods for purification.

Along with that, of course, prostrations is excellent. So to do that will cause the demerits or the negative karma you have already collected to be purified.

The fourth one is to do the opposite, such as taking refuge, developing compassion, reciting mantras, doing meditations, studying Dharma. Regret, promise not to do it again, antidote, application, then to do the opposite, Dharma actions. With these four powers and then you recite the verses of Je Rinpoche, right, "The unwholesome actions of body, speech and mind, which I have accumulated over a measureless period, especially actions contrary to the three vows (Vinaya, Boddhisattva, Vajrayana), I regret (So Vinaya is for the monks. For you instead of Vinaya, you can think of the refuge vows). So refuge, Bodhissatva, Vajrayana, (tantric) I regret extremely from the depths of my heart and I reveal each and every such action."

Who are you confessing to? The great Je Rinpoche who is three Bodhisattvas. Who are you promising? Je Rinpoche, who is your Guru. Who are you making your confessions to? Je Rinpoche. And who are you offering praises to? Making offerings to? Reciting the mantra to? Je Rinpoche. Everything is included in this short little practice. How easy! Just those little verses.

So purification is finished. Then the next one is rejoice, feeling happy.

"We totally rejoice in your magnificent achievements, my Lord, who received numerous teachings and performed the practices with utmost diligence, who abandoned the eight worldly objectives and made the most meaningful use of the 18 opportune conditions during these degenerate times."

So beautiful. In Je Rinpoche's autobiography, Je Tsongkhapa says that first he studied the Dharma extensively. Then he realized that all Buddha's teachings are personal advice. Then finally he gained deep realization of Dharma through practicing day and night.

He then dedicated all his activities to the fruition of pure Buddhadharma. In short, in this degenerate age, Je Tsongkhapa showed the best example for Dharma practitioners to follow. He taught what pure Buddhadharma is, and how to study and practice Dharma, and how to accomplish pure realizations. Contemplating this, we rejoice from the depths of our hearts in his great deeds while reciting the verses of the sadhana.

When we rejoice, all the merits these beings have collect, we will collect by rejoicing. Even the good things you have done - the offerings you have done, the teachings you are getting, the Gurus you have met - all this to rejoice. When you rejoice, it is the easiest and cheapest way to collect merit.

So if you rejoice in Je Rinpoche's great holy activities, Buddha Shakyamuni's holy activities, Kuan Yin Posa's holy activities, you gain the merit of what they collect. Such an easy and wonderful and beautiful way of collecting merit.

Then he practiced. He abandoned the eight worldly objectives. What are the eight worldly objectives? The eight worldly objects that he has abandoned, the eight worldly Dharmas is the concern to encounter, the concern to get pleasure, material gain, praise, good reputation; the avoidance of pain, concern for material loss, blame and poor reputation. This is the eight worldly concerns that Je Rinpoche has abandoned.

Then he had made the most meaningful objectives of his eighteen opportune conditions. What are the eighteen opportune conditions? Eighteen opportune conditions are the 10 endowments and the eight freedoms. Ten endowments: the ten qualities that characterise the perfect human rebirth. Born as a human, born in a Dharma country, born with sound mental and physical faculties, born free of the five extreme actions, having faith in Buddha's teachings, being born where a Buddha has descended, where the teachings have been revealed (because some Buddhas come and they don't teach). So when a Buddha has descended and when the teachings have been revealed; when the teachings are still prevalent and not passed, when there are still followers of the teachings; and having the conditions necessary to practice Dharma - food, clean place, all the conditions.

Then the eight freedoms… the eight freedoms which a perfect human rebirth is free from. Being born in a hell realm, being born as a hungry ghost, being born as an animal, being born as a barbarian, being born as a long-life god, holding wrong views, being born where no Buddhas have descended, being born with defective mental or physical faculties.

Then the next one is "All you Holy gurus, unerring in conduct, may you precipitate a rain of realization of Bodhicitta and Shunyata from the clouds of all-knowing compassion which fills the Dharmakaya sky, providing for the field of disciples precisely what is needed."

That is requesting for the turning of the Wheel of Dharma. When Buddha became enlightened, after he became enlightened the great gods, Brahma and Indra, appeared before Lord Buddha and requested for the teachings. One held the Dharmachakra wheel, one held a conch shells and prostrated three times to the Buddha to ask him to give the teachings.

Therefore by reciting the verse of the sadhana, we make special request for the turning of the Dharma. And when we make this request to Je Rinpoche for turning the Dharma, because he is the Guru, because he is the Yidam, because he is the Dharma protector, because he is the Buddhas of the 10 directions and three times, combined, condensed into the three Bodhisattvas - Avalokiteshvara, Vajrapani and Manjushri - and emanating in the form of a single Lama, when we make requests to him, we are making requests to the three Bodhisattvas, in turn the ten directional Buddhas of the three times, past present and future.

Therefore, we make a connection to the Buddhas for them to give teachings. If we don't request them, they will not give teachings. Buddhism is not a religion that goes out and converts people. It must be requested, it must be asked with offerings, with a sincere heart.

The great Lamas of the past went to India from Tibet, and offered all the gold, all the silver, everything precious that they have at the feet of the Lama, and they offered their body, speech and mind up to the Lama in order to get the Dharma.

When you make an offering up to the Lama, you visualize the whole planet, you offer everything in samsara, everything wonderful and beautiful you offer up to the Lama in order to collect the vast amount of merit.

Like that example, it's very, very important to request again and again to Lama Tsongkhapa for the holy Dharma teachings, to turn the wheel of Dharma. Therefore, we're asking Maitreya to turn the wheel of Dharma, all the Buddhas, Bodhisattvas, Chenrezig/Avalokiteshvara and Vajrapani; all of them, Manjushri/Wen Su Shri Posa. All of them we're asking to turn the wheel of Dharma. So it's very, very important to request them to turn the wheel of Dharma.

NAM-DAG WO-SAL YING-LEY JING-PA YI

ZUNG-JUG KU-LA CHAR-NUM MI-NGA YANG

THA-MAL HNANG-NGOR ZUG-KU RAG-PA NYI

SEE-THEE BAR-DU MI-NUM TAN PAR SHUG

"May the Vajra body created from the purity of clear light, free of the rising and setting of cyclic existence but visible to the ordinary viewer only in its unsubtle physical form, stay on unchanging, without waning until Samsara ends."

This is very auspicious because in most seven limbs, you ask the Guru to stay once. In this one, twice. So in this one, you ask again the Guru, "Please stay, please remain until samsara end." So here you think about your root Guru and all the Gurus in the world, all the great teachers, you ask them here through Je Tsongkhapa.

Then after that will be dedication. Any acts we do, the motivation is like the top. The action is like the item and the dedication is like the bottom top, so you seal it.

If you have a little bit of merit, dedicate it towards the greater merits - Enlightenment, Bodhicitta and realization of Shunyata. If you dedicate all your actions then until that dedication is fulfill, it will be not destroyed.

Dedication is very, very important and to dedicate it toward the Dharma. At the end of the day, before you go to sleep, you should think "All the good things that I did today, I dedicate for the growth of the Dharma, for the expansion," because if the Dharma grows, more teachings; when more teachings, more people listen, more listen, more contemplation, less delusion, less suffering, Enlightenment. It's very important to dedicate towards the Dharma.

So the dedication here:

DAG SOG JIN NYEH SAG PA GE WA DEE

TAN DANG DRO WA KUN LA GANG PHAN DANG

CHE PAR JE TSUN LO ZANG DRAG PA YI

TAN PI NYING PO RING DU SAL SHEH SHOG

"May this merit accumulated by myself and others, beneficially serve all sentient beings and the Buddha dharma and especially may the essential teachings of the unerring master Tsongkhapa become clear and enduring."

Between the dedication and the mantra should be mandala offering. Whether you do the mandala offering or not is your option. Is totally your option. Of course if you do the mandala offering, it's very wonderful.

The mandala offering should be done well. Although the words short, it should be done in full.

So when you offer up, you visualize all the beautiful things in the world, all the things that you're attached to, all the gold, the silver, the jewels, all the precious things, the lakes, the mountains, the animals, the parks. Offer everything up. All the knowledge, all the food. Everything in the world you visualize.

Visualise everything beautiful and wonderful and complete. Then you recite the mantra, OM IDAM GURU RATNA MANDALAKAM NIRYATAYAMI.

When you recite the mantra, then you bring it towards you and you close your hands into a fold. You visualize all the attainments coming to you. And then Je Rinpoche accepts it, everything you've given to him.

Then after that comes actually the mantra recitation.

MIG MEY TZE WAY TER CHEN CHENREZIG

DRI MEY KHYEN PI WANG PO JAMPAL YANG

DU PUNG MA LU JOM DZEY SANG WEY DAG

GANG CHENG KE PEY TSUG GYEN TSONGKHAPA

LO SANG TRAG PEY SHAB LA SOL WA DEB

"Je Tsongkhapa, crown jewel of the Holy Masters of the Land of Snows, you are Avalokitesvara, great goldmine of compassion untainted by ego's delusion. You are Manjushri, great master of stainless wisdom. You are Vajrapani, great subduer of all the gatherings of devils. At your feet, famed Lobsang Dragpa, I humbly bow and earnestly request that all sentient beings achieve Enlightenment."

Very powerful, very excellent. While you're reciting that (one mala), you take your mala, you sit straight, in meditation posture is possible and you hold you mala up in your right hand (practically, left is better for tantra, but right is okay) and then you pull the bead towards you. The bead should be 108 or 111, either one. The best beads are made of bodhi seeds, lotus seed - it's very, very good. Crystal is very, very good. Crystal is excellent for gaining compassion. Actually Bodhi seed would be the best. If you can, then otherwise, lotus seed, otherwise crystal, or wood, or sandal, anything you can attain.

And then the mala that is blessed by your teacher is excellent. If not, you can bless it. You recite Migtsema three times, then you bless it. And the mala should be taken into the toilet. If you take it to the toilet, you bless it again. It should not be kept on the floor, it should not be stepped under, it should not be used in ways like decoration, ornaments. It should be very clean, it should be very holy. If you keep it around your hand, if you keep it around your neck (monks cannot wear it on the neck; lay people can wear it on the neck), as beautiful as possible.

When you recite the mantra, you should not burp, you should not fart. You should not talk, you should not laugh, you should not sneeze, you should not cough, you should not move around.

If you do, you recite the mantra seven times extra to repair. And if you're doing a long retreat, you can drink. If you're doing a long retreat, you can get up, put your mala down, go to the bathroom, if you need to. Don't talk, don't do anything. Don't stop by and get a cheese sandwich! You go to the bathroom, you relieve yourself. After you finish, you rinse you mouth, you wash your hands, you return and then you start.

Disc 3

Ketika kalian membaca mantranya, tidak ada musik, tidak tidur, tidak berbicara, duduk tegak, duduk dalam postur yang baik. Sangatlah penting. Lalu kalian mendapatkan manfaat dari visualisasi.

Meditasi pertama yang kalian lakukan di dalam cahaya putih. Di dalam cahaya putih adalah jutaan dan jutaan dan jutaan dan jutaan dan jutaan Manjushri kecil memegang pedang, setiap atom, milyaran, Manjushri yang tidak ada habisnya datang ke kepala kalian dan menjadi satu dengan tubuh kalian.

Jadi jutaan dan jutaan Manjushri datang dan memenuhi tubuh kalian dengan Manjushri. Dan mendorong karma negatif keluar dari tubuh kalian dalam bentuk cahaya hitam, ular, muku, kotoran manusia, darah hitam, muntah, urine, kelabang, ular, lintah, dari lubang anus kalian. Mereka masuk ke tanah tujuh lapis dalamnya.

Dan bila Yama atau Yamaraja, raja kematian duduk dibawah sana. Duduk dibawah sana, dia bangun dari tidur dan dia melihat ke atas, ah! Dia sangat bahagia, dia menginginkannya. Kyabje Zong Rinpoche menjelaskan hal ini kepada saya. Jadi dia bangun dia membuka mulutnya, raja kematian. Dan lalu semua kesulitan kalian dalam hidup, semua karma negatif dari tubuh kalian, semua ketidak-bahagiaan, bila kalian mempunyai penyakit di sana sini, lalu kalian membayangkannya datang dan cahaya membakar penyakit ini, sangat kuat dan mendorongnya ke bawah dan membersihkannya dengan Manjushri. Manjushri memotongnya. Memotong semuanya dan mengirimkan cahaya turun ke mulutnya.

Ketika kalian melakukan meditasi ini, kalian akan menciptakan hidup yang lebih panjang. Kalian akan membuat beliau bahagia. Karena itulah saya katakan bahwa praktek Je Rinpoche adalah praktek panjang umur.

Lalu tubuh kalian diisi oleh Manjushri, sangat suci, sangat bersih dan bersinar. Setiap tempat diisi dengan Manjushri. Tubuh kalian kuat, sangat efektif, tidak bisa dirusak. Kalian membayangkan. Bersinar.

Lalu cahaya tersebut datang, kali ini perkataan. Kalian membayangkan Om Ah Ra Ba Tza Na Dhih, berwarna jingga dan banyak Dhih, Dhihs kecil. Bila kalian bisa bayangkan dalam bahasa Tibet, lebih baik karena mantranya sangat baik di sana.

Warna jingga, banyak banyak Om Ah Ra Ba Tza Na Dhih dan huruf ini, silabel Manjushri, Dhih - jutaan dan jutaan Om Ah Ra Ba Tza Na Dhih datang, datang menuju cahaya dan masuk ke dalam diri kalian untuk membersihkan perkataan kalian, seluruhnya.

Jadi semua… bila kalian mempunyai perkataan yang buruk, ia menjadi bersih. Semua perkataan negatif, yang memecah belah, yang memisahkan, yang menyakitkan, yang mencelakakan, mengutuk dan tidak dipikirkan, kebohongan, semua ini dari kehidupan yang sebelumnya sekarang dibersihkan. Dan bila kalian membayangkan perkataan kalian menjadi sangat bersih, sangat suci, mempunyai kualitas enam-puluh perkataan Buddha, yang menyenangkan, yang kuat, dan perkataan Dharma, dan bila kalian berkata Dharma, *menjentikan jari* orang yang lain tidak mempunyai kendali. Ketika kalian mendengarkan perkataan kalian, ketika mereka mendengar perkataan kalian, mereka tidak mempunyai kendali tetapi mereka harus melaksanakan Dharma.

Lalu setelah itu, kalian membayangkan berkat pikiran. Dikirim melalui cahaya putih dari tiga Lama lagi datang kosa kata Dhid saja. Jutaan dan jutaan hal ini datang, bersamaan dengan senjata tersebut. Kalian membayangkan pedang Je Rinpoche dan teksnya, teks Dharma yang lengkap. Kalian membayangkan jutaan dan jutaan teks Dharma, kecil, bayangkan mereka dalm sifat cahaya jadi ketika pedangnya datang, ia meleleh.

Jadi kebencian kalian, keserakahan, kecemburuan, rasa tidak sabar, kemarahan, kebodohan, kurangnya kebijaksanaan, tidak bisa mengingat, tidak bisa mengingat teks Dharma, malas, semua yang berasal dari kehidupan sebelumnya, karma buruk dan sekarang, semua kualitas buruk dari pikiran didorong kebawah. Dan tubuh kalian dipenuhi oleh pedang Manjushri, sangat tajam. Bayangkan pedangnya terbuat dari cahaya pelangi. Lebih tajam dalam pikiran kalian, lebih tajam kebijaksanaannya.

Lalu kebijaksanaan ajaran Dharma dan Dharma yang disesuaikan - bagaimana mengajar orang dengan cara yang tepat. Apapun yang dibutuhkan orang, kalian berikan dulu kepada mereka. Untuk memeriksa pikiran orang lain - seperti apa dia, apa yang tidak dia sukai, apa yang dia sukai… bagaimana cara yang tepat membawa orang tersebut kepada Dharma. Kalian bisa mendapatkan bila kalian membayangkan pedang Manjushri yang tajam seperti ini.

Lalu lagi, tiga cahaya digabung datang - Manjushri, pedang kebijaksanaan, teks Dharma, Om Ah Rah Bah Tza Na Dhih, digabung, datang untuk terakhir kalinya. Jejak kebodohan dikeluarkan - jadi kalian duduk di sana dengan kebahagiaan yang besar.

Terkadang bila kalian lelah melakukan Migtsema, melalui bayangan ini, kalian bisa berpikir tentang subyek Dharma yang lain - mengenai refuge, kalian bisa berpikir mengenai kualitas Buddha, kalian bisa berpikir mengenai ketidak-kekalan, kalian bila membayangkan tubuh Je Rinpoche, pertama-tama hidung, lalu mata, lalu mata kedua, alis, muka, mulut, dengan lambat topi dan telinga.

Perluas meditasi kalian, perluas, buat lebih besar, lebih jernih, lebih baik. Dan pertahankan meditasi tersebut.

Jadi dalam tantra, keduanya bisa dicapai. Jadi lebih baik untuk berfokus kepada Je Rinpoche yang juga merupakan Buddha, dan mendapatkan bibit mengenai Buddha dan konsentrasi penuh terhadap satu hal. Sementara bila kalian berkonsentrasi kepada napas, boleh saja, tetapi manfaatnya hanya satu. Je Rinpoche - dua manfaat.

Lalu bila kalian membayangkan hal itu, semuanya menjadi jelas. Lalu sangat penting, Yamaraja, merasa bahagia, dia merasa sangat puas. Dan bila dia berbaring dan pergi tidur. Hal ini sangat menguntungkan. Dan lalu lantainya tertutup. Diantara lantai dan kalian Vajra ganda nampak, menyegel lantainya. Dan Yamaraja tidak bisa keluar. Sangat efektif untuk umur panjang.

Dan lalu, setelah kalian menyelesaikan hal ini, banyak Migtsema yang ingin kalian lakukan, terserah kalian. Berapa banyak yang bisa kalian lakukan. Setiap hari setidaknya 21.

Lalu kemanapun kalian membawa Je Rinpoche, baik. Dan bila kalian mempunyai lukisan yang indah, patung Je Rinpoche, foto atau thangka dan kalian memberikan persembahan kepada Je Rinpoche, persembahan yang damai, dan bersujud dan kalian membayangkan Guru saya di sini, semua Guru saya, semua Buddha di sini, dan semua Yidam di sini, semua pelindung, lalu kalian mempunyai arhat, daka, dakini dan pelindung Dharma.

Bayangkan semua ini dalam cahaya yang menyatu dengan Je Rinpoche. Dan beliau di sana. Kecil, simpel, bersih dengan dua murid kecil. Betapa simpel dan mudah dan bersih, dan kalian memiliki semuanya.

Lalu setelah kalian selesai satu, kalian menyelesaikan ret-ret Migtsema, sangat indah. Sekarang kalian meminta Je Rinpoche untuk menyatu dengan kalian. Sekarang lihatlah teks-nya:

PAL-DAN TSA-WEY LA-MA RINPOCHE

DAG-SOG CHI-WOR PE-ME DAN-JUG LA

KA-DRIN CHEN-PO GO-NEY JE-ZUNG TE

KU-SUNG THUG-KYI NGO-DROP TSAL-DUL SOL

"Kepada Guru utama yang berharga, tolong duduklah di kursi teratai di atas kepala saya dan semua makhluk lain dan dalam kasihmu yang besar tinggalah dengan kami. Berikan kepada kami berkat dari tubuh, perkataan, dan pikiranmu."

Berikan kepada kami berkat dari tubuhmu - apa yang kalian bayangkan, Je Rinpoche sangat bahagia.

Ketika kalian membaca baris pertama, apa yang terjadi adalah Je Rinpoche sangat senang dengan segera dan sangat bahagia. Jadi singgasana atau, tiga singgasana menyatu dengan teratai, tiga teratai menyatu dengan bundaran bulan menyatu dengan sang Lama. Lalu Khedrup Rinpoche, Gyaltsab Rinpoche menyatu dengan Je Rinpoche. Dan bila Je Rinpoche sendirian, dan duduk di sana, sangat bahagia, sangat indah.

Dan Je Rinpoche mengecil, sampai ukuran ibu jari. Ini adalah yang terjadi, kalian membayangkan seperti itu. Dan lalu mengelilingi Je Rinpoche adalah awan, dan awan tersebut terhubung dengan hati Maitreya. Sangat penting - untuk tidak kehilangan awannya dalam hati Maitreya.

Jadi untuk kedua kalinya kalian membaca bait ini:

PAL-DAN TSA-WEY LA-MA RINPOCHE

DAG-SOG NYING-KHAR PE-ME DAN-JUG LA

KA-DRIN CHEN-PO GO-NEY JE-ZUNG TE

CHO-DANG THUN-MONG NGO-DRUP TSAL-DU SOL

"Guru utama yang berharga, tolong tempatilah kursi teratai dalam hati kami dan dalam rasa kasihmu yang besar tinggalah bersama kami. Tolong berikanlah berkatmu untuk keberhasilan sementara kami dan untuk pencapaian yang paling utama."

Ketika kalian membaca ini, Je Rinpoche datang dan lalu berbalik dan duduk di atas kepala kalian. Lalu kalian membayangkan saluran psychic utama dari sini ke saluran psychic di bawah, lurus ke bawah. Di sini di jantung kalian, di saluran tengah, di dalam saluran tengah yang lurus. Di luar berwarna biru, di dalam berwarna merah, halus seperti lampu.

Lalu di jantung, mulai dari tengah di sini, turun ke bawah, adalah saluran tengah. Di daerah jantung adalah teratai, bundaran bulan, dan huruf Dhih. Apakah Dhih itu? Itu adalah kesadaran yang halus. Ingat bahwa kalian mempunyai tiga pikiran? Kesadaran mentah, halus, dan sangat halus. Ini adalah kesadaranmu yang sangat sangat halus. Ini adalah kesadaran kalian yang sangat halus - ini adalah kalian.

Sekarang, kalian berkata dalam bait ketiga:

PAL-DAN TSA-WEY LA-MA RINPOCHE

DAG-SOG NYING-KHAR PE-ME DAN-JUG LA

KA-DRIN CHEN-PO GO-NEY JE-ZUNG TE

JANG-CHUB NYING-PO BAR-DU TAN-PAR SHUG

"Guru utama yang tercinta, tempatilah kursi teratai dalam hati kami dan dalam rasa kasihmu yang besar dan dalam kebaikanmu, tinggalah bersama kami. Tinggalah sampai kalian mendapatkan Pencerahan. Tinggalah dengan kami sampai kami mencapai Pencerahan."

Lalu ketika kita berkata hal ini, sang Guru turun, sangat bahagia. Ini adalah teratai berkuntum delapan. Delapan. Sangat kecil dan halus. Lalu delapan kuntum teratai dengan bundaran bulan dan Dhih di atasnya. Siapakah Dhih? Kesadaran halus. Ini adalah kalian, di hati kalian. Lalu Je Rinpoche turun, sangat bahagia, beliau menyatu dengan saluran tengah, turun. Lalu teratai mekar dan dia datang, dan dia menyentuh dan bercampur dengan Dhih kalian. Sekarang Dhih kalian dan Je Rinpoche bercampur.

Di hati Je Rinpoche, kalian membayangkan Dhih. Kalian bisa membayangkan mereka menjadi satu, hanya Je Rinpoche.

Lalu teratainya menutup. Ketika teratai menutup, sangat sangat penting bagi praktek powa untuk naik. Ketika teratai tertutup, ketika mantra di sekelilingnya, membuatnya tetap tertutup. Oh Ah Ra Ba Tza Na Dhi Sumarti Kirti Shi ___________ Mantra membungkusnya.

Lalu Je Rinpoche turun, tetapi awannya mengikuti beliau. Jadi di atas bunga teratai… teratai, tertutup, Je Rinpoche di dalamnya bercampur dengan Dhih kalian. Kalian dan Je Rinpoche menjadi satu. Lalu di atas teratai yang tertutup, awan naik ke saluran tengah. Kemana awannya pergi? Keluar dari sini ke mana? Hati Maitreya. Kemanapun kalian pergi, ia ada di sana. Kebijaksanaan Maitreya sangatlah kuat.

Dan ketika Je Rinpoche menyatu, kalian merasa sangat kuat. Sangat luar biasa. Untuk beberapa menit kalian membayangkan pikiran kalian dan pikiran Je Rinpoche.

Lalu Guru saya dan Je Rinpoche dan diri saya dan semua Buddha dan Bodhisattva tercampur dalam pikiran saya. Ketika kalian bermeditasi seperti ini setiap hari, saya jamin kalian akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Saya jamin. Kalian akan merasakan sesuatu naik dan mempengaruhi kalian.

Bila kalian membayangkan hal ini pada siang hari, setiap hari, ketika kalian meninggal, kalian bisa membayangkannya dengan mudah. Pada saat kematian, kalian ingin pergi, kalian membayangkan Buddha Maitreya dan kalian membayangkan awan dan lalu kalian dan kesadaran Je Rinpoche akan pergi melalui saluran tengah keluar, mengikuti awan yang keluar. Tinggalkan tempurung ini, lepaskanlah. Dan berfokuslah pada awan tersebut, pergi langsung ke surga Je Rinpoche. Langsung.

Dan saya jamin, kalian akan berada di surga Tushita. Pasti. Pikiran terakhir pada saat kematian… bila pikiran yang buruk, keterikatan, kalian akan terlahir kembali sebagai preta dan arwah. Hal ini akan memunculkan karma untuk terlahir di sana. Bila kalian berpikir mengenai Dharma, praktek Je Rinpoche, praktek kalian, Guru kalian dan kalian ingin pergi ke Tushita, Maitreya, hal ini akan memunculkan karma yang kalian kumpulkan sepanjang hidup berlatih, kalian akan membawa karma tersebut ke atas, dengan segera karma tersebut akan mendorong kalian ke Surga Tushita. Kalian pergi dengan tali. Tidak perlu powa lain - hanya ini.

Betapa kuatnya praktek powa ini dan untuk terlahir di tempat Maitreya, dan untuk membayangkan Buddha Maitreya setiap hari dengan Kuan Yin Posa, dengan Vajrapani Posa, dengan Atisha dan Je Tsongkhapa di sana dan semua dewa di sana. Dan lalu Guru kalian dia sana, duduk di tengah dan diri kalian di sini bersiap untuk pergi. Betapa indahnya, betapa kuatnya, betapa luar biasanya.

Dan mendapatkan kebijaksanaan, umur panjang, kesehatan, perlindungan dari arwah, kasih sayang, kekuatan, powa untuk pergi ke surga. Semua praktek digabung di sini dalam Je Rinpoche.

Jadi kalian harus memberikan persembahan, bersujud, mengaku dosa, Seven Limbs. Membuat patung, berlaku baik terhadap orang lain, melakukan perbuatan amal - kalian harus melakukan semua pekerjaan ini dan mendedikasikannya untuk memenuhi praktek Je Rinpoche dan pergi ke Surga Tushita. Di sana, saya sudah menggambarkan betapa indahnya untuk menjadi tercerahkan. Bisa pergi dan mengembangkan hubungan khusus dengan Buddha Maitreya

Lalu Je Rinpoche di sini… Jadi pada saat sesi meditasi. Di antaranya ketika kalian pergi kerja, ketika kalian pergi keluar, ketika kalian mengemudi, ketika kalian pergi ke sini, ketika kalian melakukan pekerjaan lain, dari waktu ke waktu, berkonsentrasilah pada awan tersebut, awan yang menghubungkan dengan Maitreya. Nomor satu.

Nomor dua, Je Rinpoche di sini. Semua yang kalian minum, kalian bayangkan pergi ke Je Rinpoche. Semua hal yang baik, kalian bayangkan kalian persembahkan kepada Je Rinpoche.

Ketika orang memberikan ang pow… pikirlah "Oh, saya persembahkan ini kepada Je Rinpoche," jangan pernah berpikir untuk saya. "Oh, saya persembahkan ini kepada Je Rinpoche. Je Rinpoche menerima dan saya berdoa kepada Je Rinpoche agar saya mendapatkan Pencerahan." Lalu saya menaruhnya di dompet saya dan pergi berbelanja.

Jadi apapun dalam satu hari bisa kalian persembahkan kepada Je Rinpoche.

Sebenarnya, bila kalian melakukan hal ini, sangat baik. Sepanjang hari. Lalu ketika kalian pergi tidur, bantal. Berkonsentrasi, bermeditasi, tidur seperti Buddha di sisi kanan, dengan jari kalian ditaruh di bawah kepala, dengan jari manis kanan kalian, tutuplah lubang hidung sebelah kanan dan pergi tidur di sisi kanan, yang ini ditaruh di sini, berkonsentrasi.

Dan apa yang kalian pikirkan? Pergi ke Je Rinpoche. Bila kalian meninggal malam itu, hal ini adalah hal terakhir yang kalian pikirkan. Sangat kuat. Menit pertama kalian bangun di pagi hari…

Dengan segera apa yang kalian pikirkan? Awan ke Maitreya. Mengapa? Karena supaya kalian terbiasa dan mempersiapkan kalian untuk saat sebenarnya. Berlatih sepanjang hari.

Jagalah sumpah refuge kalian, jagalah sumpah trantrik kalian bila kalian memilikinya, dan sumpah Bodhisattva, untuk membersihkan dosa, untuk mengumpulkan pahala, untuk menyelesaikan lima priliminari menurut Je Rinpoche. Bersujud kepada Je Rinpoche 100,000 kali. Persembahkan mandala kepada Je Rinpoche, 100,000 kali. Bacalah Vajrasattva 100,000 kali. Lalu kalian mempersembahkan air kepada Je Rinpoche 100,000 kali. Lalu kalian melakukan refuge kepada Je Rinpoche 100,000 kali. Dan lalu Guru Yoga, Migtsema, 100,000 kali. Semua didedikasikan kepada Je Rinpoche. Berfokus. Sangat baik.

Di singgasana kalian… dalam aliran tradisional Gelug, kita memiliki Je Rinpoche, dua muridnya, di sisi kiri adalah Buddha dan di sisi kanan adalah Tara. Dan lalu persembahan dan lalu stupa dan buku Dharma. Ini adalah altar Gelug tradisional. Ini adalah dasar minimum yang harus kalian miliki bila kalian mengikuti tradisi Gelug.

Praktek Je Rinpoche sangatlah tepat, sangat kuat, sangat baik.

Hari ini, kita sudah sangat beruntung karena di kehidupan kita yang terdahulu, karma yang baik dan berkat dari Guru utama kita dan dengan komitmen kita yang jelas terhadap Guru kita dan karena kita memiliki jodoh khusus denga Je Rinpoche dan karena kita memiliki jodoh khusus dengan ajarannya. Dan karena mungkin kita melakukan doa, berlatih, atau bersujud atau memberikan persembahan kepada Je Rinpoche di kehidupan sebelumnya.

Karena itu, hari ini kita sangat beruntung untuk dapat menjelaskan dan mendengarkan ajaran suci Je Rinpoche dan prakteknya yang suci. Jadi kita harus segera bersyukur. Ketika kita bersyukur, pahalanya bertambah banyak. Merasa bahagia dan merasa sangat, sangat beruntung untuk bertemu dan mendengar,dan berbicara mengenai dan merenungkan dan melihat ajaran suci Je Rinpoche, yang akan mengumpulkan pahala, membersihkan dosa, memberikan kasih sayang dan kebijaksanaan; dan juga, akan membawa kita kepada Pencerahan. Bila tidak, Tushita, dalam perjalanan.

Disc 3

When you recite the mantra, no music, no sleeping, no talking, sit straight, sit in good posture. It's very important. Then you get the benefit in doing the visualization.

The first meditation you do is inside the white light. Inside the white light millions and millions and millions and millions and millions of small Manjushri, holding a sword, every single atom, billions, infinite Manjushris coming down and hitting your head and dissolve into your body.

So millions and millions of Manjushri come and fill your body with Manjushris. And then push the negative karma of your body out in the form of black light, snakes, mucus, pus, black blood, vomit, urine, scorpions, snakes, leech, through your anal hole, through your anus. They go seven levels under the ground.

And then Yama or Yamaraja, the king of death, is sitting under there. Sitting under there, he wakes up from the sleep, he looks up, ah! he's very happy, he wants it. Kyabje Zong Rinpoche explains this to me. So he wake up, he open his mouth, the great king of death. And then all your obstacles for life, all your negative karma of your body, all unhappiness and sickness, all the negative impurities of the body, if you have some disease here or here, then you visualize it coming and the lights burning the disease, so powerful and pushing it down and purifying it with Manjushris. Manjushri cuts it. Cut down everything and then send the lights down into his mouth.

When you do this meditation, it will create your life to become longer. You're making him happy. That's why I say Je Rinpoche's practice - long life practice.

Then your body becomes filled with Manjushris, very pure, very clean and glowing. Every single space filled with Manjushri. Your body is strong, is powerful, indestructible. You visualize. Glowing.

Then again from the lights come, this time speech. You visualize Om Ah Ra Ba Tza Na Dhih, orange in colour and many Dhih, small Dhihs. If you can visualize the Tibetan it's better because the mantra is very good here.

Orange in colour, many, many Om Ah Ra Ba Tza Na Dhih and then this letter, the seed syllable of Manjushri - this is the seed syllable, Dhih - Millions and millions of Om Ah Ra Ba Tza Na Dhih coming down, coming to the light and entering into you to purify your speech, completely.

So all… if you have bad speech, it becomes clean. All the negative speech, schismatic talk, divisive talk, talk that hurt, harm, cursing and unskillful words, words that are lying, all these from previous lives, now become purified. And you visualize your speech becoming very clean, very pure, gaining the sixty qualities of a Buddha's speech, pleasant, very powerful and the speech of Dharma, that when you speak the Dharma, *snaps fingers* the other person don't have control. When they listen to your speech, when they hear your speech, they have no control but they must practice Dharma.

Then afterwards, you visualize the blessing of the mind. Sent from the white light from the three Lamas again come the syllable Dhid alone. Millions and millions of these coming down, along with that the weapons. You can visualize here Je Rinpoche's sword and then the texts, the complete Dharma texts. You visualise millions and millions of Dharma texts, small, visualize them as the nature of light so when the sword comes, it just melt.

So your hatred, your covetnous, your jealousy, impatience, anger, stupidity, lack of wisdom, cannot remember, don't remember Dharma texts, lazy - everything from previous lives, bad karma and now, all the bad qualities of mind push down. And your body filled with Manjushri swords, very sharp. Visualize the swords made of rainbow quality light. The sharper you think, the sharper the wisdom become.

Then wisdom of teaching Dharma and skilful Dharma - how to teach people skillfully. Whatever people need, you give them first. To check the other person's mind - what he like, what he don't like, what she likes… how to skillfully bring the other person to Dharma. You can get that power if you visualize the beautiful strong swords of Manjushri coming like this.

Then again the three lights combined come down - Manjushri, the wisdom swords, Dharma texts, Om Ah Rah Bah Tza Na Dhih, combine, come down for the last time and wash away, wash away completely. The traces of ignorance taken out - so you sit there with great bliss and great happiness.

Sometimes if you get tired by doing Migtsema, through this visualizations, you can think about different Dharma subjects - about refuge, you can think about the qualities of the Buddha, you can think about impermanence, you can visualize Je Rinpoche's body, first the nose, then the eye, then second eye, eyebrow, face, mouth, slowly the hat and ears.

Expand your meditation, expand, make it bigger, clearer, better. And hold the meditation.

So in tantra, both is achieve. So it is better to focus on Je Rinpoche who is a Buddha, and get the imprints of the Buddha and single-pointed concentration. Whereas if you concentrate on the breath, it's okay but only one benefit. Je Rinpoche - two benefits.

Then when you visualise that, everything become clear. Then very important, Yamaraja, feel very happy, he feel very full, very satisfied. And then he lays down and goes to sleep. It's very auspicious. And then the ground closes. Between the ground and you, a double vajra appears, Seal the ground. And Yamaraja cannot come out. Very powerful for long life.

And then, after you finish that, how many migtsema you want to do, up to you. How many you can do. Every day at least do 21.

So everywhere you take Je Rinpoche, nice. And you have beautiful picture, statue of Je Rinpoche, photo or thangka and you make offerings to Je Rinpoche, peaceful offerings, and prostrations, and you visualize my Guru here, all my Gurus here, all the Buddhas here, all the Yidams here, all the protectors, then you have the arhats, dakas, dakinis, and last the Dharma protectors.

Visualise all this in the light and dissolve into Je Rinpoche. And he's there. Small, simple, clean with two tiny disciples. How simple and easy and clean, and you get everything.

Then after you finish one, you finish the migtsema retreat, very beautiful. Now you ask Je Rinpoche to dissolve into you. Now you look in the text:

PAL-DAN TSA-WEY LA-MA RINPOCHE

DAG-SOG CHI-WOR PE-ME DAN-JUG LA

KA-DRIN CHEN-PO GO-NEY JE-ZUNG TE

KU-SUNG THUG-KYI NGO-DROP TSAL-DUL SOL

"Dear worthy root Guru, please ascend the lotus seat atop the head of myself and the other beings and in your great kindness please remain with us. Bestow upon us the blessings of your body, speech and mind."

Give me the blessings of your body - what you visualize, Je Rinpoche very happy.

When you recite that first line, what happens is immediately Je Rinpoche is very pleased and very happy. So his throne or, the three thrones dissolve into the lotus, the three lotus dissolve into the moon disc, the moon disc dissolve into the Lama. Then Khedrup Rinpoche, Gyaltsab Rinpoche dissolve into Je Rinpoche. And Je Rinpoche is alone and sitting there, very happy, very beautiful.

And Je Rinpoche shrinks, in the size of a thumb. That's what happens, you visualize like that. And then surrounding Je Rinpoche is still the cloud, and the cloud is connected to Maitreya's heart. Very important - not to lose the cloud of Maitreya's heart.

So the second time you recite the verse:

PAL-DAN TSA-WEY LA-MA RINPOCHE

DAG-SOG NYING-KHAR PE-ME DAN-JUG LA

KA-DRIN CHEN-PO GO-NEY JE-ZUNG TE

CHO-DANG THUN-MONG NGO-DRUP TSAL-DU SOL

"Precious, noble root Guru, please occupy the lotus seat within our hearts and in your great kindness remain with us. Please grant us your blessings for our temporal success and for the supreme attainment."

When you recite this one, Je Rinpoche come down and then turn around and sit on top of your head. Then you visualize the main psychic channel from here, the psychic channel coming down, straight down. Here at your heart, at the central channel, inside the central channel is straight. Outside is blue, inside is red, soft like light.

Then at the heart, starting from the centre here, coming all the way down, is the central channel. At the heart area is a lotus, moon disc and the letter Dhih. What is that Dhih? It is your subtle consciousness. It is your subtle. Remember we have three minds? Raw consciousness, subtle and very subtle. This is your very, very subtle consciousness. This is your subtle consciousness - that's you.

Now, when you say the third verse:

PAL-DAN TSA-WEY LA-MA RINPOCHE

DAG-SOG NYING-KHAR PE-ME DAN-JUG LA

KA-DRIN CHEN-PO GO-NEY JE-ZUNG TE

JANG-CHUB NYING-PO BAR-DU TAN-PAR SHUG

"Beloved, noble, root Guru, please occupy the lotus seat within our hearts and in your great kindness remain with us. Please stay until we achieve Enlightenment. Please stay with us until we achieve Enlightenment."

Then when we say that, the Guru come down, very happy. Here is the an eight-petalled lotus. Eight. Very small and fine like. Then, eight-petalled lotus with moon disc, the Dhih on top. Who's the Dhih? Subtle consciousness. It's you, is your mind. Then Je Rinpoche come down, very happy, he melt down the central channel, coming down. Then the lotus open, then he come down, and he touch and mix with your Dhih. Now your Dhih and Je Rinpoche become mix.

At Je Rinpoche heart, you visualise Dhih. You can visualise they become one, just Je Rinpoche.

Then the lotus close. When the lotus closes, is very, very important this one for powa practice to go up. When the lotus close, then the mantra surrounding it, keeping it closed. Oh Ah Ra Ba Tza Na Dhi Sumarti Kirti Shi ___________ The mantra wrapping around.

Then Je Rinpoche descend, but the cloud is following him. So at the top of the lotus… the lotus, closed, Je Rinpoche inside mixed with your Dhih. You and Je Rinpoche become one. Then at the top of the lotus where it close, the cloud going up the central channel. Where's the cloud going? Out from here to where? Maitreya's heart. Wherever you go, it's there. Maitreya's wisdom is so powerful.

And then when Je Rinpoche dissolve, you feel very powerful, very strong. Very wonderful. For a few minutes you visualise your mind and Je Rinpoche's.

Then my Guru and Je Rinpoche and myself and all the Buddhas and Bodhisattvas mix with my mind. When you meditate like this every day, I guarantee you will feel great bliss. I guarantee. You will feel something come up in you that pervades you.

If you visualize this in the day time, every day, when you die, you can visualize easy. At the time of death, you want to go, you visualise Maitreya Buddha and you visualize the cloud and then you and Je Rinpoche's consciousness will leave through your central out, follow the cloud out. Leave this shell, let it go. And focus on that cloud, go straight to Je Rinpoche heaven. Straight.

And I guarantee you, you will be in Tushita heaven. Definitely. The last thought at the time of death… if it's a very bad thought, attachment, you will reborn in the preta, spirits. It will bring up the karma to reborn there. If you think about Dharma, Je Rinpoche practice, your practice, your Guru and you want to go Tushita, Maitreya, it will bring up the karma that you have been collecting your whole life practicing; it will bring that karma up, immediately that karma will push you to Tushita Heaven. You just go up on the string. Don't need any other powa - this is it.

How powerful this powa practice is and to be born in Maitreya's place, and to visualise Maitreya Buddha every single day with Kuan Yin Posa, with Vajrapani Posa, with Atisha and Je Tsongkhapa there and all the gods there. And then your Guru there, sitting in the centre, and yourself here ready to go. How beautiful, how strong, how profound.

And getting wisdom, long life, health, protection from spirits, compassion, power, powa to go to heaven. All the practices combined is here in Je Rinpoche's.

So you should make offerings, prostrations, confessions, the seven limbs. Make statues, be kind to people, do charity - you should do all this work and dedicate it to fulfilling the practice of Je Rinpoche and to go to Tushita Heaven. There, I already described how beautiful it is to become enlightened. Can go and develop a very special relationship with Maitreya Buddha.

Then Je Rinpoche is here… So that is during your meditation session. In between when you go to work, when you go out, when you go driving, when you go here, when you do your other work, from time to time, concentrate on that cloud, the cloud connecting to Maitreya. Number one.

Number two, Je Rinpoche here. Everything you drink, you visualise going to Je Rinpoche. All the nice things, you visualize going to offer to Je Rinpoche.

When people give you ang pow… think "Oh, I offer this to Je Rinpoche," never think for me. "Oh, I offer this to Je Rinpoche. Je Rinpoche accept and I pray to Je Rinpoche that may I get Enlightenment." Then I put in my wallet and go shopping.

So every thing during the day you can offer to Je Rinpoche.

Actually, if you do this, it's very profound. All day long. Then when you go to sleep, pillow. Concentrate, meditate, sleep like the Buddha on your right side, with your finger put under your head, with your right ring finger, close your right nostril and go to sleep on your right side, this one putting here, concentrating.

And what do you concentrate? Go to Je Rinpoche. In case you die that night, that's the last thing you thought about. Very powerful. The minute you wake up in the morning…

immediately what do you think? The cloud to Maitreya. Why? Because to get you familiar and get you ready for the real time. All day practice

Keep your refuge vows, keep your tantric vows if you have, and Bodhisattva vows, to purify, to collect merit, to finish the five preliminaries according to Je Rinpoche. Prostrate to Je Rinpoche 100,000. Make mandalas to Je Rinpoche, 100,000. Make Vajrasattvas, 100,000. Then you make water offerings, 100,000 to Je Rinpoche. Then you do the refuge 100,000 to Je Rinpoche. And then the Guru Yoga, Migtsema, 100,000. All dedicate to Je Rinpoche. Focus. Excellent.

On your throne… in our traditional Gelug order, we have Je Rinpoche, the two disciples, on the left is Buddha, on the right is Tara. And then offerings, and then stupa and Dharma texts. This is a traditional Gelug altar. This is the basic minimum you should have if you follow the Gelugpa tradition.

Je Rinpoche's practice is excellent, powerful, very good.

Today, we have been very fortunate because of our previous lives' good karma and the blessings of our root Gurus and by our clear, clear commitment to our Guru and because we have a special affinity to Je Rinpoche and because we have a special affinity to the teachings. And we probably have made prayers, practice, or prostrated or made some offerings to Je Rinpoche in the previous life.

Therefore, today we're very lucky to be able to explain and listen to the holy teachings of Je Rinpoche and his holy practice. So we should immediately rejoice. When we rejoice, the merits become greater and greater. Feel happy and feel very, very luck to meet and hear and talk about, contemplate and see Je Rinpoche's holy teachings, which will collect merit, purify, give us compassion and wisdom; also, it will take us to full Enlightenment. If not, Tushita on the way.

Link to original blog:
http://blog.tsemtulku.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/transcript-guru-yoga-teaching.html

 

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Visitors

We have 30 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013