Hidup, Legenda, dan Karya Nagarjuna PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 3885

Hanya sedikit informasi berharga yang diketahui mengenai kehidupan sebenarnya dari Nagarjuna. Dua biografi yang paling ekstensif mengenai Nagarjuna, satu dalam bahasa Cina dan yang lain dalam bahasa Tibet, ditulis berabad-abad setelah hidupnya dan mencakup banyak materi sejarah yang tidak dapat diandalkan yang terkadang mencapai proporsi mistis.

Akan tetapi, dari gambaran sejarah detil dan legenda dimaksudkan untuk bersifat pedagogis, dikombinasikan dengan teks karyanya, beberapa hal yang masuk akal dapat dimengerti mengenai tempatnya dalam agama Buddha India dan tradisi filosofi.

Precious little is known about the actual life of the historical Nagarjuna. The two most extensive biographies of Nagarjuna, one in Chinese and the other in Tibetan, were written many centuries after his life and incorporate much lively but historically unreliable material which sometimes reaches mythic proportions.

However, from the sketches of historical detail and the legend meant to be pedagogical in nature, combined with the texts reasonably attributed to him, some sense may be gained of his place in the Indian Buddhist and philosophical traditions.

Nagarjuna terlahir sebagai penganut “Hindu” yang pada jamannya dikonotasikan sebagai kesetiaan kepada para Veda, mungkin kepada kasta atas keluarga Brahmin dan mungkin di daerah Andhra di India. Tanggal hidupnya tidak diketahui, tetapi dua teks yang dikarangnya mungkin membantu.

Ini dalam bentuk surat dan ditujukan kepada raja bersejarah dari dinasti Satvahana di utara Gautamiputra Satakarni (memerintah 166-196 SM), yang dukungannya terhadap Brahma yang tak kenal menyerah, pertikaian terus-menerus dengan penguasa Shaka Satrap di utara yang ambisinya dan akhirnya percobaan yang gagal untuk memperluas daerah kekuasaannya sepertinya menunjukan bahwa dia tidak mampu mengadopsi pasifisme Buddha dan menjaga kedamaian di daerah kekuasaannya. Koresponden kerajaan memberikan indikasi mengenai tahun-tahun penting dalam hidup Nagarjuna antara 150 – 200 SM.

Sumber Tibet mungkin cukup akurat untuk menggambarkan emigrasi Nagarjuna dari Andhra untuk belajar agama Buddha di Nalanda, di tempat yang sekarang bernama Bihar, tempat masa depan bagi biara Buddha terbesar dan pelajaran ilmiah dalam tradisi yang membanggakan bagi sejarah India. Emigrasi ke utara mungkin untuk mengikuti jejak para raja Shaka sendiri. Dalam kehidupan intelektual yang tidak terlalu tenang di India utara pada saat itu, Nagarjuna datang sendiri sebagai ahli filosofi.

Kesempatan untuk Nagarjuna “beralih” ke agama Buddha tidak dapat dipastikan. Menurut sumber Tibet, telah diramalkan bahwa Nagarjuna akan meninggal pada usia muda, jadi orang tuanya memutuskan untuk menghindari hal ini dengan memasukannya ke dalam agama Buddha, dimana setelah itu kesehatannya segera membaik. Dia kemudian pindah ke utara dan memulai kegiatan mengajar.

Yang lain, legenda Cina yang lebih berwarna, menggambarkan seorang remaja jahat yang menggunakan kekuatan gaib pertapa untuk menyelinap, dengan beberapa teman, ke kediaman pribadi raja dan menggoda para selirnya. Nagarjuna dapat melarikan diri setelah mereka ketahuan, tetapi semua temannya dihukum dan dieksekusi, dan menyadari betapa gentingnya urusan mengejar hasrat, Nagarjuna melepaskan dunia dan mencari pencerahan.

Setelah beralih, kecakapan Nagarjuna dalam ilmu gaib dan meditasi membuatnya mendapatkan undangan ke dasar lautan, rumah kerajaan. Ketika di sana, sang anak ajaib “menemukan “kebijaksanaan literatur” dari tradisi agama Buddha, yang dikenal sebagai Sutra Prajnaparamita, dan karena pahalanya yang besar, mengembalikan mereka ke dunia, dan setelah itu dikenal dengan nama Nagarjuna, “”ular naga mulia.”

Walaupun tradisi mendesak perendaman teks kitab suci dari gerakan Theravasda klasik dan “Kendaraan Besar” Buddha (Mahayana) yang berkembang yang dimulai dari karya tulis Nagarjuna, ada rujukan langka dan diperpanjang dari sutra klasik agama Buddha yang tebal dan bagi teks Mahayana yang dikomposisikan dalam bahasa pilihan Nagarjuna, Sanskrit.

Lebih mungkin bila Nagarjuna berkembang dalam debat filosofi akademis yang baru yang tersebar di seluruh India utara diantara pemikir Brahma dan Buddha. Aliran Buddha pada saat itu mungkin merupakan sudut pandang dunia yang sistematis, tetapi kemudian sekolah-sekolah Vedik seperti Samkhya, yang membagi kosmos menjadi entitas spiritual dan material, Yoga, disiplin meditasi, dan Vaisesika, atau atomisme yang mungkin sudah ada.

Tetapi hal baru dan menarik terjadi dalam aula-aula debat. Sekolah Vedik Logika (Nyaya) yang baru membuat debut literaturnya, menempatkan realisme yang rinci yang mengkategorikan jenis-jenis dasar hal-hal yang dapat diketahui di dunia, memformulasikan sebuah teori pengetahuan yang melayani sebagai dasar dari semua klaim mengenai kebenaran, dan membuat argumentasi logika yang benar dan salah.

Bersamaan dengan itu, dalam kamp agama Buddha, sekte ahli metafisik bergabung dengan doktrin mereka sendiri mengenai atom dan kategori substansi fundamental. Nagarjuna terlibat dalam gerakan aliran Buddha dan aliran Brahma ini, usaha intelektual yang sampai saat itu tidak pernah terdengar sebelumnya.

Nagarjuna melihat konsep sunga, sebuah konsep yang dikonotasikan dalam literatur awal Buddha Pali mengenai tidak adanya keberadaan stabil, inheren dalam diri seseorang, tetapi sejak abad ketiga sebelum masehi juga digambarkan dalam nomor yang baru diformulasikan “nol,” kunci terjemahan bagi pusat ajaran Buddha, dan merupakan sumber kehancuran bagi semua sekolah filosofi metafisik yang pada saat itu berkembang di sekitarnya.

Filosofi Nagarjuna dapat dilihat sebagai percobaan untuk mendekonstruksi semua sistem pikiran yang menganalisa dunia dalam hal substansi dan esensi tetap. Hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki esensi, menurut Nagarjuna, mereka tidak memiliki sifat yang pasti, dan karena tidak adanya esensi inilah, makhluk abadi yang berubah memungkinkan, dan satu hal dapat bertransformasi menjadi hal lain. Setiap hal hanya dapat memiliki keberadaannya melalui ketiadaan (sunyata) yang inheren, esensi abadi.

Dengan konsep baru “kekosongan,” “tidak adalah esensi,” “ke-nol-an,” orang ini sepertinya membantu membentuk kosa-kata dan karakter dari pemikiran agama Buddha selamanya.

Disenjatai dengan gagasan “kekosongan” dari semua hal, Nagarjuna membangun tubuh literatur. Sementara argumen tetap ada mengenai teks yang mana yang menyebut namanya yang dapat dengan pasti diatribusikan kepada Nagarjuna, persetujuan umum sepertinya telah dicapai dalam literatur akademis.

Karena tidak diketahui dalam urutan kronologis seperti apa karyanya dihasilnya, yang terbaik adalah dengan mengatur mereka secara tematis menurus karya topik Buddha, topik Brahma, dan akhirnya etika.

Ditujukan kepada sekolah-sekolah terkait dengan apa yang dia anggap secara metafisik ajaran Buddha yang maju, Nagarjuna menulis Bait-Bait Fundamental dari Jalan Tengah (Mulamadhyamakakarika), dan kemudian, agar dapat lebih jauh lagi menyempurnakan konsep revolusionernya, Tujuh-Puluh Bait mengenai Kekosongan (Sunyatasaptati), diikuti dengan peraturan mengenai metode filosofi Buddha, Enam-Puluh Bait mengenai Penalaran (Yuktisastika).

Termasuk dalam karya yang ditujukan kepada penganut Buddha, mungkin ada peraturan lebih jauh mengenai dunia empiris dan penetapannya melalui kebiasaan sosial, yang disebut Bukti Konvensi (Vyavaharasiddhi), selain beberapa bait yang dikutip, karya ini hilang dari kita, dan juga buku instruksi mengenai praktek, yang dikutip seorang warga India dan beberapa komentator Cina, Persiapan untuk Pencerahan (Bodhisambaraka).

Akhirnya ada karya didaktik mengenai teori sebab-akibat ajaran Buddha, Konstituen dari Ketergantungan (Pratityasumutpadahrdaya).

Kemudian datanglah satu seri karya mengenai metode filosofi, yang sebagian besar merupakan kritik reaksioner terhadap aliran Brahma dan kategori epistemologis, Akhir dari Masalah (Vigrahavyavartani) dan judul yang tidak terlalu halus, Menghancurkan kategori.

Akhirnya, sepasang peraturan agama dan etika diberikan kepada raja Gautamiputra, yang berjudul, Sahabat Baik (Suhrlekha) dan Rangkaian Berharga (Ratnavali). Nagarjuna pada saat itu adalah pengarang yang aktif, menanggapi masalah filosofi yang paling menekan dengan aliran Buddha dan Brahma pada jamannya, dan lebih dari itu, membawa ide ajaran Buddhanya ke bidang sosial, etika, dan filosofi politik.

Tidak diketahui seberapa lama Nagarjuna hidup. Tetapi legenda kematiannya adalah penghormatan bagi statusnya dalam tradisi agama Buddha.

Biografi Tibet mengatakan pada kita, ketika penerus Gautamiputra akan naik tahta, dia khawatir untuk mencari pengganti pembimbing spiritual yang lebih cocok dengan keinginan Brahmannya, dan tidak yakin bagaimana dengan halus dan secara diplomatis berurusan dengan Nagarjuna, dia dengan terus terang meminta sang pertapa mengakomodasi dan menunjukan kasih atas keadaannya yang sulit dengan bunuh diri.

Nagarjuna setuju dan dipenggal dengan pisau dari rumput suci yang dulunya pernah secara tidak sengaja dia cabut ketika mencari materi untuk bantal meditasinya. Ahli logika yang hanya dapat dijatuhkan atas keinginannya sendiri dan senjatanya sendiri. Apakah hal ini benar atau salah, metode yang skeptis akan menghargai keironisan ini.

Sumber:

http://www.iep.utm.edu/nagarjun/

http://www.meditationincolorado.org/nagarjuna.htm

Nagarjuna was born a “Hindu,” which in his time connoted religious allegiance to the Vedas, probably into an upper-caste Brahmin family and probably in the southern Andhra region of India. The dates of his life are just as amorphous, but two texts which may well have been authored by him offer some help.

These are in the form of epistles and were addressed to the historical king of the northern Satvahana dynasty Gautamiputra Satakarni (ruled c. 166-196 CE), whose steadfast Brahminical patronage, constant battles against powerful northern Shaka Satrap rulers and whose ambitious but ultimately unsuccessful attempts at expansion seem to indicate that he could not manage to follow Nagarjuna’s advice to adopt Buddhist pacifism and maintain a peaceful realm. At any rate, the imperial correspondence would place the significant years of Nagarjuna’s life sometime between 150 and 200 CE.

Tibetan sources then may well be basically accurate in portraying Nagarjuna’s emigration from Andhra to study Buddhism at Nalanda in present-day Bihar, the future site of the greatest Buddhist monastery of scholastic learning in that tradition’s proud history in India. This emigration to the north perhaps followed the path of the Shaka kings themselves. In the vibrant intellectual life of a not very tranquil north India then, Nagarjuna came into his own as a philosopher.

The occasion for Nagarjuna’s “conversion” to Buddhism is uncertain. According to the Tibetan account, it had been predicted that Nagarjuna would die at an early age, so his parents decided to head off this terrible fate by entering him in the Buddhist order, after which his health promptly improved. He then moved to the north and began his tutelage.

The other, more colorful Chinese legend, portrays a devilish young adolescent using magical yogic powers to sneak, with a few friends, into the king’s harem and seduce his mistresses. Nagarjuna was able to escape when they were detected, but his friends were all apprehended and executed, and, realizing what a precarious business the pursuit of desires was, Nagarjuna renounced the world and sought enlightenment.

After having been converted, Nagarjuna’s adroitness at magic and meditation earned him an invitation to the bottom of the ocean, the home of the serpent kingdom. While there, the prodigy initiate “discovered” the “wisdom literature” of the Buddhist tradition, known as the Prajnaparamita Sutras, and on the credit of his great merit, returned them to the world, and thereafter was known by the name Nagarjuna, the “noble serpent.”

Despite the tradition’s insistence that immersion into the scriptural texts of the competing movements of classical Theravada and emerging “Great Vehicle” (Mahayana) Buddhism was what spurred Nagarjuna’s writings, there is rare extended reference to the early and voluminous classical Buddhist sutras and to the Mahayana texts which were then being composed in Nagarjuna’s own language of choice, Sanskrit.

It is much more likely that Nagarjuna thrived on the exciting new scholastic philosophical debates that were spreading throughout north India among and between Brahminical and Buddhist thinkers. Buddhism by this time had perhaps the oldest competing systematic worldview on the scene, but by then Vedic schools such as Samkhya, which divided the cosmos into spiritual and material entities, Yoga, the discipline of meditation, and Vaisesika, or atomism were probably well-established.

But new and exciting things were happening in the debate halls. A new Vedic school of Logic (Nyaya) was making its literary debut, positing an elaborate realism which categorized the types of basic knowable things in the world, formulated a theory of knowledge which was to serve as the basis for all claims to truth, and drew out a full-blown theory of correct and fallacious logical argumentation.

Alongside it, within the Buddhist camp, sects of metaphysicians emerged with their own doctrines of atomism and fundamental categories of substance. Nagarjuna was to undertake a forceful engagement of both these new Brahminical and Buddhist movements, an intellectual endeavor till then unheard of.

Nagarjuna saw in the concept sunya, a concept which connoted in the early Pali Buddhist literature the lack of a stable, inherent existence in persons, but which since the third century BCE had also denoted the newly formulated number “zero,” the interpretive key to the heart of Buddhist teaching, and the undoing of all the metaphysical schools of philosophy which were at the time flourishing around him.

Indeed, Nagarjuna’s philosophy can be seen as an attempt to deconstruct all systems of thought which analyzed the world in terms of fixed substances and essences. Things in fact lack essence, according to Nagarjuna, they have no fixed nature, and indeed it is only because of this lack of essential, immutable being that change is possible, that one thing can transform into another. Each thing can only have its existence through its lack (sunyata) of inherent, eternal essence.

With this new concept of “emptiness,” “voidness,” “lack” of essence, “zeroness,” this somewhat unlikely prodigy was to help mold the vocabulary and character of Buddhist thought forever.

Armed with the notion of the “emptiness” of all things, Nagarjuna built his literary corpus. While argument still persists over which of the texts bearing his name can be reliably attributed to Nagarjuna, a general agreement seems to have been reached in the scholarly literature.

Since it is not known in what chronological order his writings were produced, the best that can be done is to arrange them thematically according to works on Buddhist topics, Brahminical topics and finally ethics.

Addressing the schools of what he considered metaphysically wayward Buddhism, Nagarjuna wrote Fundamental Verses on the Middle Way (Mulamadhyamakakarika), and then, in order to further refine his newly coined and revolutionary concept, the Seventy Verses on Emptiness (Sunyatasaptati), followed by a treatise on Buddhist philosophical method, the Sixty Verses on Reasoning (Yuktisastika).

Included in the works addressed to Buddhists may have been a further treatise on the shared empirical world and its establishment through social custom, called Proof of Convention (Vyavaharasiddhi), though save for a few cited verses, this is lost to us, as well as an instructional book on practice, cited by one Indian and a number of Chinese commentators, the Preparation for Enlightenment (Bodhisambaraka).

Finally is a didactic work on the causal theory of Buddhism, the Constituents of Dependent Arising (Pratityasumutpadahrdaya).

Next came a series of works on philosophical method, which for the most part were reactionary critiques of Brahminical substantialist and epistemological categories, The End of Disputes (Vigrahavyavartani) and the not-too-subtly titled Pulverizing the Categories (Vaidalyaprakarana).

Finally are a pair of religious and ethical treatises addressed to the king Gautamiputra, entitled To a Good Friend (Suhrlekha) and Precious Garland (Ratnavali). Nagarjuna then was a fairly active author, addressing the most pressing philosophical issues in the Buddhism and Brahmanism of his time, and more than that, carrying his Buddhist ideas into the fields of social, ethical and political philosophy.

It is again not known precisely how long Nagarjuna lived. But the legendary story of his death once again is a tribute to his status in the Buddhist tradition.

Tibetan biographies tell us that, when Gautamiputra’s successor was about to ascend to the throne, he was anxious to find a replacement as a spiritual advisor to better suit his Brahmanical preferences, and unsure of how to delicately or diplomatically deal with Nagarjuna, he forthrightly requested the sage to accommodate and show compassion for his predicament by committing suicide.

Nagarjuna assented, and was decapitated with a blade of holy grass which he himself had some time previously accidentally uprooted while looking for materials for his meditation cushion. The indomitable logician could only be brought down by his own will and his own weapon. Whether true or not, this master of skeptical method would well have appreciated the irony.

 

Visitors

We have 45 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013