Rahasia Pikiran adalah Yamantaka dan Sang Murka PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 7066

Vajrabhairava Yamantaka

Vajrabhairava Yamantaka

Sebuah Visi Inisiasi Tantrik

Rahasia dari tubuh adalah Vairochana dan Dhyani Buddha;
Rahasia perkataan adalah Locana dan para pendamping Buddha;
Rahasia dari pikiran adalah Yamantaka dan Sang Murka.
(Ratnakarashanti)

A Tantric Initiatory Vision

The secret of the body is Vairochana and the Dhyani Buddhas;
The secret of speech is Locana and the Buddha consorts;
The secret of the mind is Yamantaka and the Wrathful Ones.
(Ratnakarashanti)

Bentuk Yamantaka yang direpresentasikan disini dikenal sebagai Ekavira, “Pahlawan Terpencil”. Bahasa Sanskrip Vajrabhairava berarti “Yang Membuat Takut dan Tidak Fleksibel” dan Yamantaka berarti “Penghilang Kesulitan Yama (Hakim bagi yang Meninggal).”

Patung yang mengesankan ini, terbuat dari kayu dan diselesaikan dengan pernis berwarna-warni, yang memiliki tinggi 52.25 inci (132 cm). Dikoleksi oleh seniman Amerika George Grey Barnard, di Tibet, sebelum Perang Dunia II, selama bertahun-tahun, ia dipinjamkan ke Museum Sejarah Alam di New York dan sekarang merupakan koleksi permanen dari Museum Virginia, Richmond. Pengetesan Radiokarbon menunjukan bahwa patung ini berasal dari sekitar tahun 1150 sampai 1290 SM, pada awal periode Yuan, dalam periode kekuasaan Kublai menjadi Khan Tertinggi dan Kaisar Mongolia dan Cina (pada tahun 1260 SM).

Segera setelah Kublai Khan menjadi Kaisar Tertinggi, Karma Pakshi (1204-12183) Karmapa kedua mengunjungi Cina, menghabiskan enam tahun di sana dan menjadi Guru Tertinggi dari Kaisar ini. Diketahui bahwa Kublai diinisiasi ke dalam misteri Yamantaka.

Kisaran tanggal dari patung Tantrik yang indah ini juga jatuh pada periode tinggalnya guru pemahat Nepal/ artis Aniko pada waktu yang lama di Cina atas permintaan Kublai. Ikonografi yang tidak biasa ini, gaya, pilihan material dan keseluruhan efek dari rupa yang mengesankan ini menunjukan bahwa ini adalah karya Aniko atau rombongannya.

Visi Tantrik Ini

Bentuk Ekavira Vajrabhairava Yamantaka yang mengesankan berlengan 34, dan berkaki 16 memiliki kepala banteng dengan tanduk hitam dan tubuh berwarna biru tua kehitaman.

Kepala yang utama dan paling besar memakai mahkota tengkorak manusia dihiasi dengan mahkota bersepuh lima lipatan dihiasi dengan motif “Roda Hukum” Buddha. Di atas, rambut berdiri pada pucuknya dan diperlakukan seperti gaya yang terlihat pada rupa Mahakala – “dengan ujung berbentuk sengat-kalajengking.”

Mulutnya terbuka untuk menampakan gigi, lidah yang terkulai dan bibir merah yang besar. Matanya besar, menonjol dan merah, “mata ketiga” bertempat di pusat kening. Alisnya dengan marah dirajut dan dengan rinci diangkat dan disepuh.

Secara keseluruhan ada delapan kepala utama – yang kuning di kanan, yang merah di kiri, diikuti dengan yang lain, merah muda, putih/ abu-abu dan biru – ditambah kepala kecil Bodhisattva Manjusri kesembilan di puncak. Kesembilan kepala ini dalam teks Tantrik, dihubungkan dengan sembilan “sentimen” klasik.

Tangan pusat dari dewa ini memegang pisau pembacok karttrka dan mangkuk tengkorak manusia (Kalapa), berwarna emas dan dihiasi dengan rantai mutiara, flammiform dan tongkat kerajaan (Vajra). Tangan-tangan di bawahnya memegang pisau gaib (purba) dan kepala Brahma sang Pencipta dengan beberapa wajah.

Tangan yang lebih atas memegang tangan berwarna merah yang memegang panah dan perisai emas yang didekorasi dengan gaya Cina makara atau wajah naga di tengahnya. Tangan yang lain memegang tongkat kerajaan ritual (vajra), tombak, kapak, genderang ganda (damaru), Roda Hukum (dharmachakra), belati, api yang berputar, lonceng ritual (ghanta), tongkat tulang (khatvanga), spanduk, kaki kanan merah manusia, mayat yang terpaku, berbagai pisau gaib dan patok, sebuah jerat, kulit, dan senjata Tantrik lainnya.

Sang Dewa mengenakan gelang ular dan perhiasan Dharmapala lainnya yang dilaksanakan dengan gaya yang biasanya terlihat dalam periode Yongle perunggu Yamantaka dan Mahakala. Dimana-mana dekorasi, yang dibuat dengan sepuhan pernis dan/ atau kayu, diselesaikan dengan baik.

Kepala manusia dengan jenis dan warna yang berbeda-beda dirangkai dengan tali besi di sekeliling leher dewa dan hampir sampai ke tumit kaki. Dilihat dari belakang dan samping, besarnya subyek ini akan lebih jelas.

Lapisan kaki dan tangan menyampaikan perasaan halusinasi kegembiraan; pasangan kaki yang paling belakang ada di luar podium, seperti dalam tarian. Kaki-kaki utama dalam postur alidhasana, barisan kaki kanan menekuk di lutut dan yang kiri lurus. Pose ini, diambil dari tarian India klasik, umum dalam patung dan tarian dari India Timur, terutama Orissa.

Sang dewa berdiri di belakang barisan burung (di bawah kaki kiri), hewan (seekor kuda dan seekor banteng) dan seorang pria (di bawah kaki kanan), dan empat figur kecil ditambah seekor burung besar sedang menyembah yang dapat di lihat diatas podium. Bersama, mereka semua merepresentasikan “empat kelas makhluk kuno” (burung, hewan, manusia, dan dewa).

Ketiga figur yang duduk adalah dewa Hindu “trinitas” – Brahma berkepala banyak memegang vas obat mujarab, Vishnu berkepala satu dan Shiva berkepala banyak. Sang burung besar adalah Garuda, kendaraan spiritual Vishnu.

Figur manusia pada satu kaki di kaki kiri dewa adalah raja atau pangeran yang memesan ikon ini. Dia mengenakan mahkota dan baju perang seorang pejuang Mongol dan mungkin merupakan potret Kublai sendiri.

Panggung teratai ini adalah sangat tidak biasa. Biasanya, panggung teratai ganda, yang satu di atas yang lain, dan bila tunggal, kelopak teratai menunjuk ke bawah. Sebaris kelopak teratai yang menunjuk ke atas di bawah mengelilingi ikon ini.

Kelopak ini dibuat bergaya Yuan awal, dengan pola yang berputar-putar rinci yang diulang dan ujung kelopak yang menonjol ke atas. Setiap kelopak berdesain naik, dihias dan diwarnai. Sebaris “mutiara” dengan ukuran yang sama mengelilingi bagian atas podium. Bagian atas podium dilapisi dengan warna merah kerajaan.

Tangan dan kakinya memiliki kuku dan cakar yang menonjol, dan selendang yang terurai, berwarna merah di dalamnya dan didekorasikan dengan bunga kerajaan emas dan motif daun-daun, dan biru gelap dan emas di luar dari belakang kepala dewa sampai tepat di atas kaki.

Latar Belakang Mitis

Dalam mitologi kuno Yima, pria pertama diusir dari Surga, mungkin karena hubungan inses dengan saudarinya, Yimak. Dalam Veda India, ada saran bahwa Yama dan Yami suatu ketika adalah Makhluk Asli, pasangan hermafrodit purba. Rig Veda menceritakan mengenai bagaimana saudari kembar Yama, Yami mencoba menggodanya tetapi ditolak.

Dalam Upanishad, Yama digambarkan sebagai “Tuan Jantan”, sedikit liar mungkin, “suami para wanita dan kekasih perawan”, yang juga melayani sebagai “Hakim Kematian”. Raja Yam atau “Yam Raj”, “Dewa Kematian” dari Hidup populer, juga merupakan instruktur besar dalam misteri kehidupan dan setelahnya. Yama digambarkan sebagai seekor banteng jantan gelap, atau dalam bentuk manusia sebagai pria gelap mengendarai banteng jantan dan memegang tongkat. Kediamannya konon “di Selatan”.

Yang lebih menarik, warga suku aborigin Bhil di India, yang berkulit gelap, memperlakukan Yam Raj sebagai dewa besar dan memanggilnya dengan nama “Zom” dalam bahasa mereka. Mereka berkata bahwa Zom dan saudarinya menukar hadiah khusus pada hari-hari tertentu dan mempercayai bahwa pada saat kematian, jiwa mengikuti perintah Zom.

Yama menjadi berhubungan dengan Bhairava atau bentuk murka Shiva dalam tradisi Tantrik Hindu. Bentuk menakutkan dan teror ini digunakan setelah Shiva memenggal Brahma sang Pencipta. Kepala Brahma menjadi mangkuk mengemis Shiva, yang akhirnya jatuh dari tangannya di Varanasi, dimana dia mengatasi Waktu (Kala) untuk menjadi Mahakala, Sang Hitam Besar, yang dikenal oleh Pertapa Tantrik sebagai “Kal Bhairav”.

Saudari Yama, Yami berhubungan dengan sungai sakral Yamuna, yang berhubungan dengan Saluran Halus utama (nadi) di kiri, “Jalan Kematian”. Dia lebih jauh lagi diasosiasikan dengan Chamunda (pertama wanita kurus dan Ibu Dewi tanah kremasi) dan Durga (bentuk mistis dari pendamping Shiva Uma/ Parvati/ Kali).

Delapan bentuk Bhairava Shiva (bernama Krodha, Kapali, Canda, Ruru, Samhari, Asitanga, Bhisana, dan Unmatta dalam satu tradisi) memiliki delapan Ibu Dewi (matrika) sebagai pendamping gaib atau “saudari”, dan berhubungan lebih jauh dengan delapan tanah Kremasi yang menjadi tempat utama bagi inisiasi Tantrik dan biasanya digambarkan di sekitar tepi luar lukisan mandala Tantrik dari Nepal dan Tibet, bilamana bentuk murka ada di pusatnya.

Upacara Yama Hindu biasanya dimaksudkan untuk menjadi nekromantrik dan bertempat pada tengah malam pada bulan yang gelap, di tanah kremasi. Pertapa murka gelap bergaya Shaivite – dengan rambut yang liar dan kusut, mata merah dan menonjol karena minuman keras, tubuh ditutupi dengan abu penguburan, ditutupi kulit hewan dan ular, memegang sebuah trisula dan makan dari mangkuk tengkorak manusia – menjadi ikon inisiasi, Mahakala atau Bhairava, yang dapat membawa pencari melalui misteri kematian yang gelap dan menuju cahaya bening kesadaran-Diri.

Pendekatan awal yang konfrontasional dan spontan dari Pertapa India Siddha juga didokumentasikan dalam sejarah dan pada masa kini. Beberapa orang Tibet juga memiliki ketabahan dan keberanian untuk mencapai India dan mencari Guru Tantrik di tanah kremasi sakral pasti telah mengalami Yama sebagai visi awal yang luar biasa yang tetap bersama mereka selalu.

Pengetahuan misteri kematian adalah tujuan dari semua praktek mistis yang lebih tunggi. Mereka yang beragama Budda melihat Yama sebagai Yamantaka, “Penghilang Kesulitan Kematian”, seagai “Pelindung Buddha Dharma” dan “Hakim Utama dari semua tindakan Karma”.

Madanjeet Singh, pengarang buku yang bagus mengenai Seni dan Kebudayaan Himalaya, menceritakan cerita Tibet yang populer megnenai bagaimana Yamantaka mendapatkan kepala bantengnya:

“Asal dari kepala banteng berdasarkan anggapan tradisi yang berkata bahwa pria suci yang tinggal di sebuah gua, mempraktekan meditasi. Ketika dia sedang akan mencapai tujuannya dan masuk ke nirvana, dua pencuri dengan banteng hasil curian memasuki gua dan menyembelihnya. Ketika dia melihat sang pertapa, saksi dari kejahatan mereka, mereka memenggalnya juga.

Tetapi yang mengagetkan mereka, sang korban mengangkat kepala banteng dan mengenakannya untuk mengganti kepalanya yang sudah terpenggal, menjadi bentuk Yama yang menyeramkan. Dia kemudian bukan hanya melahap kedua pencuri tersebut, tetapi rasa hausnya akan darah manusia mengancam seluruh populasi. Pengikut Vajrayana, karena itu, memohon kepada Manjushri yang, kemudian menggunakan wujud Yamantaka yang berkepala banteng menyeramkan Yamantaka, mengalahkan Yama dalam pertarungan yang menakutkan.”

Ikonografi

“Yamantaka adalah dewa yang penting dalam tradisi Tantra “lama” dan “baru”. Kebijaksanaan yang jelas dan menembus dari Yamantaka adalah pembunuh kematian.” ~ Karma Thinley Rinpoche.

Menurut R.P. Anuruddha:

“Pada saat akhir periode Gandhara (Sekitar abad 6 SM), yang kita anggap sebagai jaman percobaan pertama untuk merincikan figur mitologi Buddha Mahayana yang kaya, terjadi kecenderungan untuk membagi Dewa Pendamping (istadevata atau yidam) menjadi bentuk marah dan hangat.”

Dia melanjutkan:

“Yidam direpresentasikan dengan bentuk menakutkan mereka dengan ujung rambut yang berdiri, dengan penampakan liar, mata menonjol (dan “mata ketiga”, Mata Kebijaksanaan di tengah kening, diantara dua alis), lidah yang tergantung di luar, gigi yang buruk, dan tubuh pendek, anggota badan yang tebal dan kuku panjang di tangan dan kaki.”

Tantra Guhyasamaja menggambarkan skenario dimana Buddha (Tantrik) mengemanasikan mandala awal, menempatkan empat bentuk Yamantaka dalam empat “gerbang”.

Bentuk Yamantaka, ditempatkan di Timur, dari arah matahari terbit, diasosiasikan dengan lengan kanan praktisi (sadhaka) dalam sistem Tantra Guhyasamaja. Anuruddha memberikan gambaran berikut seperti yang diberikan dalam Tantra Sri Mahabhairava Kangjur:

Semua figur harus memiliki 16 kaki, 14 pasang tangan, 9 kepala. Ia telanjang dan berwarna hitam, kakinya dalam gaya berjalan dan merupakan pemandangan yang buruk, ini adalah cara dia harus melukisnya.

Kepala pertama di pusat Yidam adalah kerbau, dan disamping tanduk kanan ada tiga wajah, biru, merah, dan kuning. Semuanya terlihat menyeramkan.

Di samping tanduk kiri dari wajah kerbau ada yang dicat putih, abu-abu, dan hitam. Diantara dua tanduk ada wajah yang menyeramkan, dan di atasnya ada wajah yang tidak terlalu marah dari Manjusri.

Tangan-tangan Yidam memegang pisau (gri-gug), senjata yang menonjol, alu, pisau lain, belati dengan pegangan dalam bentuk sebuah vajra, sebuah kapak dan sebuah kulit kerang, sebuah panah, dan kait besi, batu kereta, tongkat khatvanga, sebuah chakra, sebuah vajra, dan batu palu, pedang, damaru (genderang tangan dalam bentuk gelas jam).

Tangan kirinya memegang tengkorak, tangan, perisai, kaki, dan laso, busur, usus, lonceng, tangan, baju dari kuburan, seorang pria yang tergantung di tombak, pemanggang, sepotong tengkorak, jari mengancam, trisula dengan pita, secarik kain yang melambai, dll., dll.

Walaupun deskripsi ini tidak secara tepat sesuai dengan Barnard Yamantaka, yang memiliki lebih banyak lengan dan atribut, ia sangat dekat.

Tiga bentuk utama Yamantaka dihormati oleh orang Tibet: Vajrabhairava Yamantaka, yang berwarna-warni; Raktayamari, yang berwarna merah; dan Krishnayamari, yang berwarna hitam.

Lukisan Tibet Yama sebagai “Raja dari Tuan Kematian”, biasanya digambarkan dengan kepala kerbau, tiga-mata, mulut terbuka, dan lidah menjulur, berdiri telanjang di atas kerbau dan kemaluannya berdiri. Dia mengenakan perhiasan Pelindung Dharma ditampah dengan rangkaian kepala dan memegang sebuah tongkat atau jerat.

Versi lain menunjukan dia ditemani oleh saudarinya Yami, yang biasanya dipanggil “Tsamundi” (Chamunda) dalam liturgi. Yama juga dapat dilihat dalam persatuan seksual dengan pendamping yang mirip dengannya, tetapi

H2LINEAGE< h2 nodeIndex="49"

Sadhanamala, sebuah kompilasi penting dari Vajrayana sadhana India modern dengan beberapa Siddha dengan ringkas menyatakan:

Tuan Yamari (Yamantaka) dengan penampakan bermartabat, penuh kasih secara internal tetapi secara eksternal hebat bagi kebaikan semua makhluk.

Profesor Fokke Sierksma, pengarang buku kontroversial dan mengagumkan mengenai dewa Tibet murka menyebutkan posisi dari sekte Nyingmapa asli terkait denga Yamantaka:

“Biografi Padmasambhava bahkan menyebutkan Tantra Yama, sementara ketiadaan Yamantaka cukup menarik perhatian. Bahkan hal ini berhubungan dengan biara tertua, Sam-ye, “300 refleksi Yamantaka dengan Tantra lainnya, tidak diterjemahkan, tetapi dikesampingkan.

Akan tetapi, fakta bahwa Yamantaka dikenal sebagai lama Nyingmapa dan mantra perlindungan, amulet, dan jimat dari sekte ini sering termasuk mantra untuk mendamaikan dewa murka ini. “”Pemberdayaan Roda Tuan Kematian”, “Roda Perlindungan Pemberdayaan Kalajengking”, “Pengusiran Kekosongan Besar dan Pemberdayaan Roda Harta Karun” dan juga beberapa versi “Roda Hati Lama” (Nying Thig) adalah contoh cetakan jimat Nyingmapa yang membawa liturgi Yamantaka yang ekstensif.

Menurut Tangjur, koleksi karya tulis Vajrayana diterjemahkan dari Sanskrit ke Tibet, salah satu Guru India utama ajaran Yamantaka adalah Vairochana Rakshita (Sekitar 728-764 SM), murid dari Padmasambhava dan pengarang Vajrabhairava Mandalavidhi Prakasa.

Transmisi penting lainnya datang dari Ratnakara Shanti (sekitar 978-1030 SM) pengarang dari Vajrabhairava Ganachakra dan Krishnayamari Sadhana, Abhayakaragupta (sekitar 1084-1130 SM), Sridhara, Sri Krishnaraja (pengarang dari Krsnayamari Tantra) dan Krishnapada

Krishnacaryya, Guru Tantrik yang lain dan sejaman dengan Siddhas Jalandhari dan Gopichandra (yang mungkin berkembang pada awal abad 8), “memperkenalkan Tantras dimana pria dan wanita ilahi duduk menggenggam satu sama lain” (ref. Pag Som Jon Zan of Taranatha).

Jnanamitra, walaupun tidak secara umum dikategorikan sebagai seorang Siddha, mengajar Yamantaka Tantra (seorang “Ayah” Tantra yang menekankan metode melalui pengertian dan mengalami Tubuh Ilusi) dan juga mengunjungi kuil Hindu Jagannatha di Orissa.

Pemegang aliran Yamantaka lainnya termasuk Siddha Saraha, Siddha Lawapa, Siddha Virupa, dan Siddha Kukuri (aka Kukuripa). Siddha Lalitavajra konon telah “mengambil bentuk Yamantaka dan membuat celah di sebuah gunung dengan pedang, sehingga membuat jalan untuk menembus gunung. “seorang tokoh “Yamantakaraja” diberi kredit karena memberikannya inisiasi Tantra Guhyasamaja yang penting.

Sang Pemahat

Pada tahun 1260 SM, seniman Nepal yang sangat berbakat dan serba-bisa bernama Aniko mengepalai sekelompok seniman dan pengerajin Nepal yang diundang ke istana Mongol atas rekomendasi Lama Phags-pa. Aniko bertemu dan membuat Kublai Khan terkesan dan diminta untuk terlibat dalam beberapa proyek termasuk mendisain dan menciptakan stupa besar, rupa-rupa besar dan banyak lukisan.

Pengaruh Aniko dalam seni Lama Cina sangatlah besar. Dia menghabiskan bertahun-tahun di Cina, melatih seniman Cina berbakat bernama Liu Yuan, dan juga bekerja dalam proyek-proyek bersama dengan putranya sendiri, Acengge. Pada thaun 1299, sang Kaisar meminta Aniko untuk membuat 191 rupa dan 64 lukisan. Dan pada tahun 1304, 181 rupa diperbarui dan diperbaiki olehnya.

Walaupun tidak banyak yang bertahan dan dapat diasosiasikan dengan tangan Aniko, seniman penting dan pemahat ini diyakini bertanggung jawab dalam memperkenalkan teknik spesifik, konvensi dan materi dari Nepal.

The form of Yamantaka represented here is known as Ekavira, the “Solitary Hero”. The Sanskrit term Vajrabhairava means the “Adamantine Terrifier” and Yamantaka means “Remover of the Obstacle Yama (the Judge of the Dead).”

This impressive sculpture, done in wood and finished with multi-colored lacquer, has a height of 52.25 inches (132 cms). Collected by the American artist George Grey Barnard, in Tibet, before World War II, for many years it was on loan to the Museum of Natural History in New York and is now in the permanent collection of the Virginia Museum, Richmond. It has been radiocarbon dated at between 1150 to 1290 C.E., which is the early Yuan period, falling comfortably within the reign-period of Kublai becoming Supreme Khan and Emperor of Mongolia and China (in 1260 C.E.).

Immediately following Kublai Khan’s becoming Supreme Emperor, Karma Pakshi (1204-1283) the second Karmapa hierarch traveled to China, spending six years there and became the Supreme Teacher of this Emperor. It is known that Kublai was initiated into the mysteries of Yamantaka.

The date-range of this magnificent Tantric sculpture also falls comfortably in the period of the Nepalese Master sculptor/artist Aniko’s long stay in China at the request of Kublai. The unusual iconography, style, choice of materials and overall effect of this impressive image suggests that it is indeed a masterwork done by Aniko or his immediate entourage.

This Tantric Vision

This 34-armed, 16-legged awesome form of Ekavira Vajrabhairava Yamantaka has a central bulls head with long black horns and the body colored deep dark blue-black.

The main and largest head wears a tiara of human skulls surmounted by an elaborate five-fold gilded crown embellished with the Buddhist “Wheel of Law” motif. Above, the hair stands on end and is treated much like the style seen in Mahakala images – “with scorpion-sting shaped tips.”

The mouth is open wide to reveal teeth, a lolling tongue and large red lips. The eyes are large, protruding and blood-shot, a “third eye” located at the center of the forehead. The eyebrows are angrily knitted and elaborately raised and gilded.

In total there are eight main heads – a yellow one to the proper right, a red one to the left, followed by others of pink, white/grey and blue – plus a ninth small crowned red head of the Bodhisattva Manjusri at the apex. These nine heads are in Tantric texts, linked to the nine classic “sentiments.”

The central main hands of the deity hold a chopping-knife karttrka and human skull-bowl (kalapa), colored gold and ornamented by pearl chains, flammiforms and scepters (vajra). The lower main hands hold a magical knife (purba) and the severed multi-faced head of Brahma the Creator.

The upper main hands hold a red right hand holding an arrow and an elaborately decorated golden shield with a Chinese-style makara or dragon face at the center. The other hands hold a ritual scepter (vajra), lance, axe, double-drum (damaru), Wheel of Law (dharmachakra), dagger, swirling flames, ritual bell (ghanta), skeleton-staff (khatvanga), banner, a red human right foot, a transfixed corpse, various magical knives and stakes, a noose, a skin, and other Tantric weapons.

The deity wears snake-bracelets, an elaborate chain and pearl motif looped necklace, armbands, an intricate draped girdle, anklets and other Dharmapala ornaments done in a style normally seen in the Yongle-period bronzes of Yamantaka and Mahakala. Everywhere the decoration, done in raised gilded lacquer and/or wood, is lavishly finished.

A garland of human heads of different types and colors is threaded on an iron band draped around the neck of the deity and descending almost to the ankles. Seen from the back and sides, the massivity of this subject is all the more apparent.

The layers of legs and arms convey a feeling of hallucinatory exuberance; the pair of legs at the extreme back are off the podium, as if in dance. The main legs are in the alidhasana posture, the row of right legs bent at the knee and the left legs straight. This pose, taken from classical Indian dance, is common in sculpture and dance from Eastern India, especially Orissa.

The deity stands on the back of a row of birds (under the proper left foot), animals (a horse, a bull) and a man (under the right foot), and four small figures plus a large bird in obeisance can be seen on the podium. Together, they all represent the “four ancient classes of beings” (birds, animals, humans and gods).

The three seated figures are the Hindu “trinity” of gods – a multi-headed Brahma holding an elixir-vase, a single-headed Vishnu and a multi-headed Shiva. The large bird is the Garuda, spiritual vehicle of Vishnu.

The human figure on one knee in front of the left foot of the deity almost certainly is the donor king or prince who originally commissioned the icon. He wears a crown and the armor of a Mongol warrior and may be a portrait of Kublai himself.

The lotus podium is of a most unusual type. Generally one sees double lotus podiums, one above the other, and if single, the lotus petals point downwards. The row of single upward-turned lotus petals on the base of this icon go all around.

The petals are modeled in the typical early Yuan fashion, with elaborate swirling formalized patterns repeated and the tips of the petals protruding outwards. Each petal has its design raised, embellished and colored. A row of “pearls” of even size encircles the upper part of the podium. The podium top is lacquered Imperial red.

The hands and feet have protruding nails or claws, and an elaborately draped scarf, done in red on the inside and decorated with Imperial gold flowers and foliate motifs, and of dark blue and gold on the outside reaches from behind the head of the deity to just above the feet.

The Mythic Background

In ancient Iranian mythology Yima, the first man, is cast out of Paradise, perhaps because of an incestuous liaison with his sister, Yimak. In the Vedas of India there are suggestions that Yama and Yami were once an Original Being, a primordial hermaphrodite couple. The Rig Veda tells how Yama’s twin sister Yami attempts to seduce him but is rejected.

In the Upanishads Yama is presented as the “Virile Lord”, a little wild perhaps, a “husband of women and lover of maidens”, while also serving as “Judge of the Dead”. King Yam or “Yam Raj”, the “God of Death” of popular Hinduism, is also the Great Instructor into the mysteries of life and the hereafter. Yama is described as being like a dark male buffalo, or in human shape as a dark man riding a male buffalo and holding a club or staff. His domain was supposed to be “in the South”.

Interestingly, the aboriginal Bhil tribal peoples of India, who are dark complexioned, treat Yam Raj as a great god and call him by the name “Zom” in their language. They say that Zom and his sister exchange special presents on particular days and believe that at death the soul follows Zom’s orders.

Yama becomes connected to the Bhairava or wrathful form of Shiva in the Hindu Tantric tradition. This form of dread and terror was assumed after Shiva decapitated Brahma the Creator. Brahma’s head became Shiva’s begging bowl, which finally fell from his hand at Varanasi, where he overcomes Time (kala) to become Mahakala, the Great Black One, popularly known to Tantric Yogis as “Kal Bhairav”.

Yama’s sister Yami is associated with the sacred river Yamuna, connected to the main Subtle Channel (nadi) on the left, the “Path of Death”. She is further associated with Chamunda (the emaciated yogini and Mother Goddess of the cremation-ground) and Durga (the mystic form of Shiva’s consort Uma/Parvati/Kali).

The eight Bhairava-forms of Shiva (named Krodha, Kapali, Canda, Ruru, Samhari, Asitanga, Bhisana and Unmatta in one tradition) have the eight Mother Goddesses (matrikas) as magical consorts or “sisters”, and are further connected to eight Great Cremation-grounds which become the main places for Tantric initiation and are usually depicted around the outer edge of Tantric mandala paintings from Nepal and Tibet, whenever a wrathful form is at the center.

The Hindu rites of Yama are generally supposed to be necromantic and take place at midnight during the dark of the month, in the cremation-grounds. The dark wrathful Yogi of Shaivite style – with hair wild and matted, eyes red and bulging from intoxicants, body covered with funeral ashes, draped in animal skins and snakes, holding a trident and eating from a human skull-bowl – become an icon of initiation, a Mahakala or Bhairava, who can take the seeker through the dark mysteries of death and into the clear light of Self-realization.

The confrontational and spontaneous initiatory approach of the Indian Siddha Yogis has been well documented in history and at the present time. Some Tibetans who had the fortitude and courage to reach India and seek out Tantric Masters in the sacred cremation-grounds must have experienced Yama as an awesome initiatory vision which remained with them for always.

Knowledge of the mysteries of death are the goal of all higher mystic practices. Those of Buddhist inclination saw Yama as Yamantaka, “Remover of the Obstacle of Death”, as a “Protector of the Buddhist Dharma” and the “Ultimate Judge of all Karmic acts”.

Madanjeet Singh, author of a fine book on Himalayan Art and culture, retells the popular Tibetan story as to how Yamantaka got his bull’s head:

“The origin of the bull-head is ascribed to the tradition which speaks of a holy man who lived in a cave, practicing meditation. As he was about to achieve his objective and enter nirvana, two thieves with a stolen bull entered the cave and slaughtered it. When they saw the ascetic, a witness to their crime, they beheaded him too.

But to their astonishment, the victim lifted the head of the bull and replacing his own severed head with it, became the ferocious form of Yama. He then not only devoured the two thieves, but his insatiable thirst for human blood threatened the whole population. The followers of the Vajrayana, therefore, appealed to Manjusri who, then assuming the fierce bull-headed form of Yamantaka, defeated Yama in a fearful struggle.”

The Iconography

“Yamantaka is an important deity in both the ‘old’ and ‘new’ Tantra traditions. The clear and penetrating wisdom of Yamantaka is the slayer of death.” ~ Karma Thinley Rinpoche

According to R. P. Anuruddha:

“During the late Gandhara period (circa 6th century C.E), which we may regard as the time in which the first attempts were made to elaborate a rich figurative mythology of Mahayana Buddhism, occurred a tendency to divide the Tutelary Deities (istadevatas or yidams) into angry and mild forms.”

He continues:

The Guhyasamaja Tantra describes a scenario in which the (Tantric) Buddha emanates an initiatory mandala, placing four forms of Yamantaka in the four “gates”.

The form of Yamantaka, placed in the all-important East, from which direction the sun rises, is associated with the right arm of the practitioner (sadhaka) in the system of the Guhyasamaja Tantra. Anuruddha gives the following description of Yamantaka as given in the Sri Mahabhairava Tantra of the Kangjur:

The figure should have 16 feet, 14 pairs of hands, 9 heads. It is naked and of black color, the feet are in the walking attitude and of terrible sight, in such a way he must paint the picture.

The first head in the center of the Yidam is that of a bull, and beside the right horn there are three faces, a blue, a red and a yellow one. All three are very fierce looking.

Beside the left horn of the bull’s face there should be painted a white, a grey and a black face. Between the two horns there should be a terrible looking red face, and above it a mildly angry face of Manjusri.

The hands of the Yidam hold the knife (gri-gug), a pointed weapon, a pestle, another knife, a dagger with the handle in the shape of a vajra, an axe and a conch-shell, an arrow and an iron hook, a cart stone, the club khatvanga, a chakra, a vajra, and a stone hammer, a sword, a damaru (hand-drum in the shape of an hour-glass).

The left hands hold a human skull, a hand, a shield, a leg, a lasso, a bow, intestines, a bell, a hand, cloth from a cemetery, a man hanging upon a lance, an oven, a piece of a skull, a menacing finger, a trident with ribbons, a waving piece of cloth, etc. etc.

Though this description does not precisely conform to the Barnard Yamantaka, which has more arms and attributes, it is very close.

Three main forms of Yamantaka are revered by Tibetans: Vajrabhairava Yamantaka, who is multicolored; Raktayamari, who is red colored; and Krishnayamari, of black color.

Tibetan paintings of Yama as the “King of the Death Lords”, usually depict him with a bull’s head, three-eyed, mouth open and tongue lolling, standing naked upon a bull and with his red penis erect. He wears the ornaments of a Dharma-Protector plus a garland of heads and holds a staff or noose.

Other versions show him accompanied by his sister Yami, who is generally called “Tsamundi” (Chamunda) in the liturgy. Yama can also be seen in sexual union with a consort much like him, but of diminutive size.|

H2LINEAGE< h2 nodeIndex="49"

The Sadhanamala, an important compilation of Indian Vajrayana sadhanas contemporary with several Siddhas succinctly states:

Lord Yamari (Yamantaka) is of dignified appearance, internally compassionate but externally terrific for the good of all beings.

Professor Fokke Sierksma, author of a fascinating if controversial book on Tibet’s angry deities mentions the position of the original Nyingmapa sect as regards Yamantaka:

“The biography of Padmasambhava even speaks of a Yama Tantra, while Yamantaka’s near-absence is quite noticeable. It is even related that in the oldest monastery, Sam-ye, the ’300 reflections on Yamantaka’ with other Tantras, were not translated, but laid aside.”

It is however a fact that Yamantaka was known to Nyingmapa lamas and protective spells, amulets and charms of this sect frequently include mantras to propitiate this wrathful deity. The “Great Empowerment Wheel of the Lord of Death”, the “Scorpion Empowerment Protection Wheel”, the “Great Voidness Expelling and Empowerment Treasury Wheel” as well as several versions of the “Lamas Heart Wheel” (Nying Thig) are examples of Nyingmapa-originated printed charms which carry extensive Yamantaka liturgies.

According to the Tangjur, a huge collection of Vajrayana writings translated from Sanskrit into Tibetan, one of the main Indian gurus of the Yamantaka teachings was Vairochana Rakshita (circa 728-764 C.E), a disciple of Padmasambhava and author of the Vajrabhairava Mandalavidhi Prakasa.

Other important Vajrabhairava transmissions came from Ratnakara Shanti (circa 978-1030 C.E) author of the Vajrabhairava Ganachakra and the Krishnayamari Sadhana, Abhayakaragupta (circa 1084-1130 C.E), Sridhara, Sri Krishnaraja (author of the Krsnayamari Tantra) and Krishnapada.

Krishnacaryya, another Tantric Master and contemporary to Siddhas Jalandhari and Gopichandra (who probably flourished in the early 8th century), “introduced the Tantras in which the male and female divinities sit clasping each other” (ref. Pag Som Jon Zan of Taranatha).

Jnanamitra, though not generally categorized as a Siddha, taught the Yamantaka Tantra (a “Father” Tantra, which emphasizes Method through understanding and experiencing the Illusory Body) and also visited the Jagannatha Hindu temple in Orissa.

Other Yamantaka lineage holders include Siddha Saraha, Siddha Lawapa, Siddha Virupa and Siddha Kukuri (aka Kukuripa). The Siddha Lalitavajra is said to have “taken the form of Yamantaka and cleft a mountain with a sword, so as to make a passage through.” A “Yamantakaraja” personage is credited with initiating him into the important Guhyasamaja Tantra.

The Sculptor

In 1260 C.E., a very versatile and talented young Nepalese artist named Aniko headed a group of Nepali artists and craftsmen invited to the Mongol court on the recommendation of Lama Phags-pa. Aniko met and impressed Kublai Khan and was commissioned to undertake a number of projects including the design and creation of a gigantic stupa, large images and many paintings.

Aniko’s influence on Chinese Lamaist art was tremendous. He spent many years in China, trained a talented Chinese artist named Liu Yuan, and also worked on projects in collaboration with his own son, Acengge. In 1299 the Emperor commissioned Aniko to undertake 191 images and 64 paintings. And in 1304 a further 181 images were renewed and restored by him.

Though little that survives can definitely be credited to Aniko’s hand, this important artist and sculptor was surely responsible for introducing specific techniques, conventions and materials from Nepal.

Last Updated on Sunday, 17 February 2013 07:49
 

Visitors

We have 82 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013