Berbagai Aspek Tantra oleh Yang Mulia Kyabje Trijang Rinpoche PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 5507

Hubungan antara Tantra Buddha dan Tantra Hindu

The Relationship between Buddhist Tantra and Hindu Tantra

Diterjemahkan oleh Gavin Kilty. Disiapkan oleh Michael Lewis. Dicetak di Dari Tushita, diedit dan diterbitkan oleh Michael Hellbach, Edisi Tushita, 1977.

Walaupun beberapa cendikiawan mempertahankan bahwa tantra Buddha diturunkan dari Hindu, hal ini tidaklah benar. Teori ini, diyakini oleh mereka yang mengikuti ajaran Hinayana, dan berdasarkan kemiripan dari berbagai elemen dua sistem, seperti bentuk dewa, meditasi urat psikik dan udara, ritual api, dll.

Translated by Gavin Kilty. Prepared by Michael Lewis. Printed in From Tushita, edited and published by Michael Hellbach, Tushita Editions, 1977.

Although some scholars have maintained that Buddhist tantra was derived from Hinduism, this is not correct. The theory, prevalent among those who adhere to the tenets of the Hinayana, is based on a superficial resemblance of various elements of the two systems, such as the forms of the deities, the meditations on psychic veins and airs, the fire rituals, etc.

 

Walaupun beberapa praktek, seperti pengulangan mantra, yang umum bagi tradisi Hindu dan Buddha, interpretasi mereka, i.e., arti yang dalam sangatlah berbeda. Lebih jauh lagi, tantra Buddha superior karena, tidak seperti Hindu, hal ini mencakup tiga aspek utama dari Jalan: pelepasan, sikap tercerahkan, dan filosofi yang benar.

Untuk dijelaskan lebih rinci: Bahkan hewan menginginkan kebebasan dari penderitaan, ada mereka yang bukan merupakan praktisi Buddha yang ingin bebas dari perasaan kebahagiaan yang terkontaminasi dan karena itu mengembangkan kondisi persiapan dari peresapan ke-empat (Dhyana). Bahkan ada beberapa orang yang bukan beragama Buddha yang sementara melepaskan perasaan terkontaminasi kebahagiaan dan mencapai tingkat yang lebih tinggi dari empat peresapan.

Akan tetapi, hanya penganut Buddha yang melepaskan semua ini dan juga perasaan netral dan semua penderitaan yang mendasarinya. Kemudian dengan bermeditasi mengenai penderitaan bersama dengan penyebabnya, yang merupakan pencemaran mental, mereka dapat ditinggalkan selamanya. Inilah mengapa, sementara bukan penganut Buddha bermeditasi mengenai kondisi berbentuk dan tidak berbentuk dan mencapai puncak dari keberadaan duniawi, Samadhi, mereka tidak dapat meninggalkan pencemaran mental dalam kondisi ini. Jadi, ketika mereka menemukan keadaan yang benar, kemarahan dan perasaan yang lain berkembang, karma diciptakan dan roda lingkaran kelahiran kembali mulai berputar.

Karena hal ini dan alasan serupa, praktek ini tidak cocok untuk dimasukan dalam Mahayana. Mereka tidak mirip dengan jalan sutra yang terdiri dari sikap pelepasan yang mengharapkan kebebasan dari siklus kelahiran kembali; dan kebijaksanaan yang dengan benar mengerti mengenai perasaan tanpa ego, yang merupakan filosofi besar yang bertindak sebagai lawan kebodohan – akar dari siklus keberadaan dan pengembangan pikiran yang bertujuan untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk hidup; dan mereka juga tidak mirip dengan praktek dari jalan tantrik eksklusif dari Kendaraan Besar.

Asal Tantra

Tantra seperti yang diajarkan oleh sang Buddha dalam bentuk manifestasi tertingginya sebagai seorang biksu, juga sebagai Vajradhara dan dalam berbagai manifestasi dari dewa pusat mandala tertentu. Makhluk besar, Manjushri, Samantabhadra, Vajrapani, dan lainnya, didorong oleh sang Buddha, juga mengajar beberapa tantra.

Dalam hal empat kelas tantra, tantra Kriya yang diajarkan oleh sang Buddha dalam bentuk seorang biksu, dalam alam tiga-puluh-tiga dewa di puncak Gunung Meru dan di dunia manusia dimana Manjushri dan lainnya menjadi kepala pendengar.

Tantra Pung-Zang diajarkan di alam Vajrapani. Yang lain diajarkan oleh guru, Buddha sendiri, dan dengan berkatnya beberapa dijelaskan oleh Avalokiteshvara, Manjushri, dan Vajrapani sementara yang lain dikatakan oleh dewa duniawi.

Tantra Carya juga diajarkan oleh guru Buddha dalam bentuk manifestasi tertingginya di alam angkasa dan di alam yang disebut Dasar dan Esensi dihiasi Bunga-Bunga.

Tantra Yoga diajarkan oleh Sang Tercerahkan ketika dia bangkit dalam bentuk dewa pusat di setiap mandala di tempat seperti puncak Gunung Meru dan di alam angkasa keinginan.

Anuttara tantra juga diajarkan oleh sang Buddha. Di tanah Ögyan Buddha, setelah memanifestasikan mandala Guhyasamaja, mengajarkan tantra ini kepada Raja Indrabodhi. Tantra Yamantaka diajarkan oleh guru Buddha pada saat menaklukan kekuatan setan dan mereka diminta oleh pendamping Yamantaka atau oleh pendamping Kalacakra. Tantra Hevajra diajarkan oleh Sang Buddha ketika dia bangkit dalam bentuk Hevajra di alam Madgadha pada saat menghancurkan empat mara. Tantra ini diminta oleh Vajragarbha dan oleh pendamping Hevajra.

Setelah diminta oleh Vajra Yogini, Buddha, dalam manifestasi Heruka di puncak Gunung Meru, mengajar akar tantra Heruka dan, ketika diminta oleh Vajrapani, mengajarkan penjelasan tantra. Mengenai tantra Kalacakra, Buddha pergi ke selatan ke altar Dharnacotaka yang megah dan di sana, memanifestasikan mandala perkataan Dharmadhatu yang dikelilingi oleh mandala Kalacakra, mengajarkan tantra ini kepada Raja Chandrabhadra dan lainnya. Walaupun dia tampil dalam banyak manifestasi, sebenarnya tantra diajarkan oleh guru yang tercerahkan, Sang Buddha.

Apa yang terjadi pada saat inisiasi

Dalam inisiasi masing-masing dari empat kelas tantra ada banyak perbedaan, beberapa besar dan beberapa kecil, dan karena itu satu inisiasi tidak cukup bagi semua mandala. Pada saat inisiasi beberapa murid yang beruntung dan berkualifikasi, ketika menerima inisiasi dari seorang guru yang berkualifikasi, mengembangkan kebijaksanaan inisiasi dalam pikiran mereka. Kecuali hal ini terjadi, duduk dalam barisan inisiasi dan mengalami inisiasi vas dan air, dll. akan menanamkan firasat telah mendengarkan Dharma dan tidak banyak yang lain.

Sebuah inisiasi diperlukan untuk belajar tantra karena bila rahasia tantra dijelaskan kepada seseorang yang belum menerima inisiasi, sang guru melakukan kejatuhan akar tantra ketujuh dan penjelasan tidak akan memberi manfaat apapun pada pikiran murid ini.

Hubungan antara Sutra dan Tantra

Mengenai pelepasan dan bodhicitta, tidak ada perbedaan antara Sutrayana dan Tantrayana, tetapi menurut tingkah laku ada. Tiga jenis tingkah laku yang telah diajarkan: sang murid mengagumi dan memiliki keyakinan dalam Hinayana harus memisahkan diri dari semua keinginan murid yang mengagumi Mahayana harus melintasi tahapan dan praktek kesempurnaan; sementara dia yang mengagumi ajaran tantra yang dalam harus bekerja dengan tingkah laku jalan keinginan.

Dari sudut pandang filosofi ini, tidak ada perbedaan dalam kekosongan sebagai obyek kognisi tetapi ada perbedaan dalam metode kesadarannya.

Dalam tradisi sutra pikiran yang sadar melakukan meditasi yang imbang mengenai kekosongan, sementara dalam tantra, kebijaksanaan bawaan, pikiran yang sangat halus, terlibat dan karena ini, perbedaannya besar. Praktek utama Sutrayana, menjalani jalan adalah sebab untuk mendapatkan bentuk tubuh dan tubuh kebijaksanaan seorang Buddha, dan akumulasi kebijaksanaan dan kebaikan selama tiga kalpa yang tak terhingga dan tercapainya ladang Buddha diri sendiri.

Karena itu, Sutrayana dikenal sebagai kendaraan penyebab. Dalam tantra, seseorang berkonsentrasi dan bermeditasi, bahkan ketika masih pemula, mengenai empat kemurnian lengkap yang sama dengan hasil – yaitu, tubuh murni yang lengkap, alam murni, hak milik murni, dan tindakan murni dari seorang makhluk tercerahkan. Karena itu, tantra ini dikenal sebagai kendaraan hasil.

Empat Tradisi

Bagi tradisi sutra, penjelasan Hinayana dan Mahayana adalah sama dalam empat tradisi besar. Dan juga, terkait dengan praktek persiapan, tidak ada perbedaan selain nama. Dalam tradisi Gelug, mereka dikenal sebagai Tahapan Jalan dengan Tiga Motivasi dalam Kargyü mereka dikenal sebagai Empat Cara untuk Merubah Pikiran; Sakya merujuk pada Pemisahan dari Empat Keterikatan; sementara Dri-gung Kargyu berbicara mengenai Empat Dharma Dag-pa dan Lima Dri-gung.

Dalam tantra, cara guru individu membimbing murid-muridnya dalam jalan tergantung pada pengalaman dan instruksi dari teks akar tantrik, bersama dengan penjelasan dari praktisi besar. Hasil menyebabkan praktek yang diajarkan sedikit berbeda. Akan tetapi semuanya membawa pada pencapaian akhir dalam kondisi Vajradhara.

Though certain practices, like the repetition of mantras, are common to both Hindu and Buddhist tantric traditions their interpretation, i.e. the inner meaning, is vastly different. Furthermore, Buddhist tantra is superior because, unlike Hinduism, it contains the three principal aspects of the Path: renunciation, the enlightened attitude and the right philosophy.

To elaborate: as even animals want freedom from suffering, there are non-Buddhist practitioners who wish to be free from contaminated feelings of happiness and so cultivate the preparatory state of the fourth absorption (Dhyana). There are even some non-Buddhists who temporarily renounce contaminated feelings of happiness and attain levels higher than the four absorptions.

However, only the Buddhists renounce all these as well as neutral feelings and all-pervasive suffering. Then by meditating on the sufferings together with their causes, which are mental defilements, they can be abandoned forever. This is why, while non-Buddhists meditate on the form and formless states and attain the peak of worldly existence, samadhi, they cannot abandon the mental defilements of this state. So, when they meet with the right circumstances anger and the other passions develop, karma is created and the wheel of the circle of rebirth begins to turn.

Because of this and similar reasons, such practices are not fit to be included in the Mahayana. They resemble neither the common sutra path comprising: the attitude of renunciation which wishes for freedom from the cycle of rebirths; the wisdom which correctly understands egolessness, which is the right philosophy acting as an opponent to ignorance-the root of cyclic existence; and the development of the mind which aims for complete enlightenment for the sake of all sentient beings; nor do they resemble the practices of the exclusive tantric path of the Great Vehicle.

The Origin of Tantra

The tantras were spoken by the Buddha himself in the form of his supreme manifestation as a monk, also as the great Vajradhara and in various manifestations of the central deity of specific mandalas. The great beings, Manjushri, Samantabhadra, Vajrapani and others, urged by the Buddha, also taught some tantras.

In terms of the four classes of tantra, the Kriya tantras were taught by the Buddha in the form of a monk, in the realm of the thirty-three gods on the summit of Mt. Meru, and in the human world where Manjushri and others were the chief hearers.

The Pung-Zang tantras were taught in the realm of Vajrapani. Others were taught by the teacher, Buddha himself, and with his blessings some were explained by Avalokiteshvara, Manjushri and Vajrapani while others were spoken by worldly gods.

The Carya tantras were also taught by the teacher Buddha in the form of his supreme manifestation in the celestial realms and in the realm called Base and Essence Adorned with Flowers.

The Yoga tantras were taught by the Enlightened One when he arose in the form of the central deity of each mandala in such places as the summit of Mt. Meru and in the fifth celestial realm of desire.

The Anuttara tantras were also taught by the Buddha. In the land of Ögyan the Buddha, having manifested the mandala of Guhyasamaja, taught King Indrabodhi this tantra. The Yamantaka tantras were taught by the teacher Buddha at the time of the subduing of the demonic forces and they were requested by either the consort of Yamantaka or by the consort of Kalacakra. The Hevajra tantra was taught by Lord Buddha when he arose in the form of Hevajra in the land of Madgadha at the time of destroying the four maras. The tantra was requested by Vajragarbha and by the consort of Hevajra.

Having been requested by Vajra Yogini, the Buddha, in the manifestation as Heruka on the summit of Mt. Meru, taught the root tantra of Heruka and, when requested by Vajrapani, taught the explanatory tantra. As for the Kalacakra tantra, the mighty Buddha went south to the glorious shrine of Dharnacotaka and there, manifesting the mandala of the Dharmadhatu speech surmounted by the mandala of Kalacakra, taught this tantra to King Chandrabhadra and others. Although he appeared in many different manifestations, actually the tantras were taught by the enlightened teacher, Lord Buddha.

What happens during an initiation

In the initiations of each of the four classes of tantra there are many differences, some great and some small, and so therefore one initiation is not sufficient for all mandalas. At the time of initiation some fortunate and qualified disciples, when receiving the initiation from a qualified master, develop the wisdom of the initiation in their mind streams. Unless this happens, sitting in initiation rows and experiencing the initiations of the vase and water, etc. will implant instincts to listen to the Dharma but little else.

An initiation is necessary to study tantra because if the secrets of tantra are explained to someone who has not received initiation, the guru commits the seventh tantric root downfall and the explanation will be of no benefit whatsoever to the mind of the disciple.

The Relationship between Sutra and Tantra

Regarding renunciation and bodhicitta, there is no difference between Sutrayana and Tantrayana, but regarding conduct there is. Three kinds of conduct have been taught: the disciple who admires and has faith in the Hinayana should separate himself from all desires; the disciple who admires the Mahayana should traverse the stages and practice the perfections; while he who admires the deep teachings of tantra should work with the conduct of the path of desire.

From the point of view of the philosophy, there is no difference in emptiness as an object of cognition but there is a difference in the method of its realization.

In the sutra tradition the conscious mind engages in meditative equipoise on emptiness, while in tantra the innate wisdom, an extremely subtle mind, is involved and the difference therefore is great. The main practice of Sutrayana, engaging in the path as a cause to achieve the form body and wisdom body of a buddha, is the accumulation of wisdom and virtue for three countless eons and the accomplishment of one’s own buddhafields.

Therefore, Sutrayana is known as the causal vehicle. In tantra one concentrates and meditates, even while still a beginner, on the four complete purities which are similar to the result—that is, the completely pure body, pure realm, pure possessions and pure deeds of an enlightened being. Thus tantra is known as the resultant vehicle.

The Four Traditions

As for the sutra tradition, the explanation of the Hinayana and Mahayana is the same in all the four great traditions. Also, as far as the preliminary practices are concerned, there are no differences apart from the names. In the Gelug tradition they are called the Stages of the Path of the Three Motives; in the Kargyü they are known as the Four Ways to Change the Mind; the Sakya refer to Separation from the Four Attachments; while the Dri-gung Kargyu speak of the Four Dharmas of Dag-pa and the Five of Dri-gung.

In tantra, the individual master’s way of leading the disciples on the path depends on his experience and the instructions of the tantric root texts, together with the commentaries of the great practitioners. These result in the entrance into practice being taught a little differently. However, all are the same in leading to the final attainment of the state of Vajradhara.

 

Visitors

We have 49 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013