Interview dengan Yang Mulia Gaden Tripa ke-101 Lungrik Namgyal PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 4549

Gaden Tripa - Pemimpin Tertinggi Tradisi Gelugpa Buddha Tibet"

"Gaden Tripa - Supreme Head of the Gelugpa Tradition of Tibetan Buddhism"

Berikut ini adalah interview dengan Yang Mulia Ganden Tripa ke-101 - pemimpin tertinggi Tradisi Gelug.

Interview ini dilakukan pada saat kunjungan resmi Ganden Tripa ke-101 ke Singapura.

Interview ini dilakukan oleh Kunga Nyima dan diterjemahkan oleh Associate Profesor Huang Yi Yang dari Taiwan. [Interview] ini dilakukan pada tanggal 18 Juni 2003 di kediaman Yang Mulia di Singapura.

Yang Mulia Ganden Tripa ke-101 dijamu oleh Charitable Assistance Society pada kunjungan resminya ke Singapura dari 25 Mei 2003 sampai 23 Juni 2003.

Mengenai Ganden Tripa:

Ganden Tripa, Sakya Trizin dan Karmapa adalah pemimpin resmi dari tradisi Gelug, Sakya dan Karma Kagyu. Je Tsongkhapa adalah pendiri tradisi Gelug. Garis Ganden Tripa adalah penerus spiritual Tsongkhapa dan karena itu pemimpin tertinggi resmi dari Tradisi Gelug Buddha Tibet. Garis Dalai Lama dan Panchen Lama berasal dari Tradisi Gelug.

Ganden Tripa ke-101, bersama dengan Mindroling Trichen, dinobatkan pada tahun 2002 sebagai pemimpin dari tradisi Gelug dan Nyingma.

Makhluk yang beruntung dapat berhubungan dengan Yang Mulia, hampir tidak ada yang tidak menyadari bahwa Yang Mulia adalah PERMATA...... sebuah tanda dari buah dan bunga ajaran suci sang Buddha. Benar-benar berkat untuk secara pribadi menyaksikan ketulusan absolut, kehangatan, kebijaksanaan, humor tak berdosa, kesabaran yang tak ada habisnya dan kejujuran Yang Mulia.

"Semoga ini bermanfaat !!"

Agama Buddha

Apa yang hal paling esensial dan fundamental bagi seorang penganut Buddha?

Penganut Buddha harus mengetahui bahwa samsara adalah penderitaan. Kita perlu menyadari bahwa samsara adalah penderitaan sebelum mencoba bebas darinya. Satu-satunya cara bebas dari samsara adalah dengan mengikuti Ajaran sang Buddha. Menurut Teks, hanya dengan mengikuti Ajaran Buddha akan ada kebebasan akhir dari samsara.

Apakah hal paling penting yang harus diingat oleh penganut Buddha?

Seorang penganut Buddha harus selalu mengingat 3 Permata: Sang Buddha, Ajaran-Nya [Dharma] dan Kumpulan dari Muridnya yang Mulia [Sangha]. Seorang penganut Buddha harus menginternalisasi kualitas tertinggi dari 3 Permata. Secara umum, sang Buddha adalah seperti seorang dokter, Dharma seperti obat, dan Sangha seperti suster dan asisten dari dokter.

Kita, makhluk hidup, di samsara, seperti pasien. Kita memerlukan resep dokter untuk sembuh. Selain itu, kita juga perlu mengandalkan dokter dan para asistennya juga. Seorang penganut Buddha harus selalu mengambil refuge dalam 3 Permata dan juga untuk mengingat kualitas dari 3 Permata.

Bagaimana kita mempertahankan "Bodhicitta": sikap mendedikasikan diri kita sepenuhnya bagi kesejahteraan makhluk lain; ingin mencapai kondisi Pencerahan Sepenuhnya atau ke-Buddha-an demi kebaikan makhluk lain?

Sulit untuk mempraktekan ajaran. Bila kita dapat mempraktekan Ajaran, ini adalah Bodhicitta sebenarnya. Bila kita tidak bisa, maka ini bukan Bodhicitta. Untuk membangkitkan Bodhicitta, kita harus menumbuh-kembangkan Cinta-kasih [mengharapkan kebahagiaan dan penyebab kebahagiaan bagi semua makhluk] dan Kasih sayang [Mengharapkan semua makhluk untuk bebas dari penderitaan dan penyebab penderitaan].

Selanjutnya, kita harus memikirkan kebaikan ibu kita. Kemudian, kita perlu mengingat kebaikan semua makhluk karena mereka telah bertindak sebagai ibu kita dalam kehidupan masa lalu yang tak terhingga. Selanjutnya, kita perlu menumbuh-kembangkan harapan untuk membalas kebaikan semua ibu makhluk hidup yang tak terhingga. Sulit untuk mempraktekan Bodhicitta. Bila kita mempraktekan Bodhicitta, ini adalah Bodhicitta yang sebenarnya.

Bila kita tidak bisa mempraktekan Bodhicitta, maka ini bukanlah Bodhicitta yang tulus. Selalu mencoba untuk mempertahankan hati yang baik. Jangan terganggu dengan apa yang dilakukan orang lain. Pertahankan hati yang baik. Ini adalah jalan penganut Buddha yang sebenarnya.

Apakah menjadi vegetarian diharuskan?

Telah diketahui bahwa memelihara tanaman membunuh banyak serangga sementara menyembelih satu sapi di Tibet kuno dapat memberi makan satu keluarga selama seminggu. Karena itu, dari sudut pandang numerik, kelompok ini menyatakan bahwa kita harus mengkonsumsi hewan berukuran besar daripada makan sayur yang menyebabkan kematian bagi makhluk tak terhingga. Di samping itu, beberapa guru telah mengharuskan vegetarianisme bagi penganut Buddha sementara orang lain mengutip teks ajaran Buddha yang berlawanan.

Apakah sudut pandang Yang Mulia?

Secara umum, Sang Buddha mengajar 3 hal yang berbeda terkait dengan vegetarianisme. Yang pertama, dalam tradisi Theravada, diajarkan bahwa kita tidak boleh makan tiga kategori dari "Daging Tidak Murni": a) kita mempersepsikan melalui mata atau telinga kita pembunuhan daging tersebut; b) kita mencurigai bahwa daging tersebut dibunuh untuk kita; c) kita tahu bahwa daging tersebut telah dibunuh untuk kita.

Disamping 3 kategori daging, kita diperbolehkan untuk mengkonsumsi yang lain. Yang kedua, dalam tradisi Mahayana, diajarkan secara eksplisit bahwa mengkonsumsi daging tidak tepat dan salah. Jadi vegetarianisme diharuskan di sini.

Yang ketiga, dalam tradisi Vajrayana, diajarkan bahwa praktisi jalan ini harus makan daging. Alasannya dijabarkan dalan teks dan memerlukan penjelasan ekstensif. Tidak pantas bagi saya untuk merincikan hal ini sekarang. Murid ajaran Buddha dapat memilih untuk mengikuti ketiga ajaran ini. Tidak mungkin bagi saya untuk mendikte mana yang harus diikuti.

Ada beberapa wihara Buddha yang berkonsentrasi pada melakukan kegiatan sosial sementara yang lain berkonsentrasi terutama pada praktek spiritual. Apakah pendapat yang mulia mengenai apa yang harus dikonsentrasikan oleh wihara Buddha?

Melakukan kegiatan sosial dan praktek spiritual tidaklah berlawanan, melainkan saling melengkapi. Masing-masing memiliki alasan sendiri untuk melakukan pekerjaan mereka. Shantideva berkata dalam "Panduan Cara Hidup Bodhisattva" bahwa kemurahan hati yang sempurna tidak berarti orang tersebut hanya dapat menyempurnakan praktek murah hati setelah orang tersebut menghapuskan kemiskinan semua makhluk hidup.

Sang Buddha telah menyempurnakan praktek kemurahan hati. Akan tetapi, masih ada kemiskinan di dunia. Karena itu, hal ini membuktikan apa yang dijelaskan dalam "Panduan Cara Hidup Bodhisattva" bahwa untuk menyempurnakan praktek kemurahan hati berarti dapat menyempurnakan aktivitas kemurahan hati dari sudut pandang praktek spiritual seseorang daripada pemenuhan fisik menghapuskan kemiskinan dari semua makhluk hidup.

Mengikuti argumen ini, menumbuhkan kemurahan hati melalui berbagai praktek spiritual adalah penting. Bahkan bila saya dapat membantu, saya hanya dapat membantu sedikit makhluk dengan melakukan pekerjaan sosial. Bahkan bila saya dapat membantu 1000 makhluk, jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan populasi Singapura dan jumlah makhluk di alam semesta.

Ada 3 set sumpah: Sumpah Kebebasan Diri; Sumpah Bodhisattva dan Sumpah Vajrayana. Tiga set sumpah ini tercakup dalam Praktek 6 kesempurnaan termasuk praktek kemurahan hati. Beberapa contoh mengenai bagaimana kita dapat mempraktekan sumpah termasuk seseorang membantu makhluk manapun yang jatuh sakit atau mendapatkan kesulitan, seseorang membantu menjaga bank karena mereka menyimpan kekayaan dari banyak orang! Dari sudut pandang ini pekerjaan sosial adalah bagian esensial dari praktek dharma.

Selain itu, akan tetapi, kita juga harus mengingat ajaran Shantideva bahwa pencapaian kesempurnaan berada dalam pikiran seseorang melalui praktek spiritual juga. Karena itu, ada alasan yang valid dan baik untuk pekerjaan sosial dan juga praktek spiritual. Tidak perlu memisahkan mereka menjadi dua kelompok yang berbeda.

Ada komentar bahwa penganut Buddha dari semua tradisi, apakah itu Tibet, Thai atau bahkan dari barat, telah membangun terlalu banyak patung, stupa, wihara dan bahkan biara besar dan daripada melakukan hal ini, penganut Buddha harus menggunakan sumber daya mereka untuk proyek kesejahteraan sosial seperti rumah sakit, pusat perlindungan hewan, rumah yatim-piatu, dan lainnya yang secara langsung memberikan manfaat lebih nyata bagi makhluk hidup. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Semuanya baik. Semua dapat mengumpulkan pahala. Membangun rumah sakit atau biara adalah baik. Kedua aktivitas ini tidak percuma.

Beberapa wihara Buddha hanya akan membantu atau mensirkulasi berita aktivitas yang diorganisir oleh wihara mereka. Beberapa bahkan melalui cara implisit atau bahkan eksplisit, melarang anggota mereka menghadiri program yang diorganisir wihara lain walaupun bila program ini dilakukan oleh guru besar dan sangat bermanfaat. Konon, wihara ini mencoba untuk menjaga jumlah murid dan pengikut dalam wihara mereka karena mereka takut sumber daya ini akan "hilang" ke organisasi lain. Dengan kata lain, wihara ini menyatakan bahwa mereka hanya mencoba untuk "melindungi" murid mereka dari beberapa guru penting, dimana bahkan beberapa dari guru ini adalah pembimbing spiritual wihara mereka. Apa yang Mulia pikirkan mengenai hal ini?

Saya tidak punya komentar. Bila saya mengatakan sesuatu, beberapa orang akan marah pada saya! [ tertawa ]

Apakah akan ada akhir dari samsara?

Sulit untuk dikatakan apakah samsara akan berarhir. Disebutkan dalam teks bahwa semua makhluk akhirnya akan menjadi Buddha. Tetapi sebelumnya, samsara ada di sana. Disebutkan juga dalam teks ini bahwa tidak ada waktu dimana semua makhluk akan bebas dari samsara.

Ada tuduhan konversi penganut Buddha ke agama lain melalui cara-cara disengaja dan agresif melalui penggambaran ajaran Buddha yang tidak akurat, bantuan materi terkondisi, kesempatan pendidikan dan lainnya. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Kita berusaha sebaik mungkin untuk menyebarkan Ajaran buddha. Kita tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan dugaan praktek ini. Juga tidak baik bagi kita untuk menghentikan konversi melalui cara-cara "adil". Hal yang paling utama adalah untuk mengembangkan dan memperbaiki diri kita. Kita perlu membangun lebih banyak wihara Buddha. Kita perlu memperbaiki manajemen dari wihara yang ada.

Seperti bagaimana agama lain menyebarkan ajaran mereka, penganut Buddha juga harus mengikutinya. Akan tetapi, kita tidak boleh berpikir melawan agama lain! Melakukan upacara keagamaan atau "puja" demi kesejahteraan ajaran Buddha juga merupakan metode lain. Menurut Ajaran Buddha, menodai ajaran Buddha adalah karma negatif.

Seperti itu juga, kita tidak boleh menodai ajaran agama lain. Kita hanya perlu memperbaiki diri kita dengan giat. Dalam konteks Buddha Tibet, Sakyapa perlu melestarikan dan menyebarkan ajaran Tradisi Sakya. Kagyupa, Nyingmapa dan Gelugpa juga perlu melakukan hal yang sama.

Menurut Yang Mulia bagaimana kondisi agama Buddha di barat?

Ajaran Buddha telah diajarkan dan ditransmisikan di barat tetapi sulit untuk memastikan setiap Ajaran diajarkan dan dipelajari dengan baik. Ada ruang untuk perbaikan terkait dengan cara wihara Buddha dikelola, cara murid barat mempelajari ajaran, cara murid-murid ini mempraktekan ajaran, acara ajaran ini dipelajari dan lainnya. Masalah lain adalah banyak guru Tibet di barat tidak memiliki tempat sendiri.

Buddha Tibet

Apakah Yang Mulia merasa bahwa waktu yang tepat telah tiba dan pantas untuk memperkenalkan Bhikshuni atau Biksuni yang Ditahbiskan Penuh ke dalam agama Buddha Tibet?

Saya tidak memiliki banyak komentar mengenai masalah ini.

Apakah Yang Mulia merasa sistem "tulku" atau sistem menemukan reinkarnasi guru masih relevan hari ini?

Masih banyak guru yang diakui hari ini. Saya tidak tahu apakah hal ini masih relevan hari ini.

Apa pendapat Yang Mulia mengenai astrologi dan divinasi?

Beberapa orang mempercayai hal ini dan beberapa orang tidak. Saya sendiri tidak memiliki banyak pendapat mengenai hal ini.

Ada kekhawatiran dan ketakutan diantara murid Vajrayana di timur dan barat mengenai perlunya, dengan cara apapun, untuk paling tidak membaca teks meditasi yidam mereka setiap hari seperti yang diperintahkan oleh guru mereka pada upacara inisiasi dimana mereka berpartisipasi. Murid-murid ini menganggap tidak melakukan meditasi yidam mereka atau tidak membaca teks yang relevan dalam sehari adalah pelanggaran serius dari sumpah dan komitment mereka. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Hal yang paling utama adalah tidak hanya dan secara buta membaca teks meditasi Yidam atau "sadhana" setiap hari tanpa pengertian. Hal yang paling utama adalah memegang sebaik kemampuan kita semua komitmen yang telah kita janjikan "komitment pembebasan diri, Bodhisattva dan Tantrik.

Baik dan penting untuk melakukan teks meditasi yidam kalian setiap hari khususnya bila kalian telah berjanji melakukan hal ini setiap hari. Tetapi ini bukanlah hal utama. Hal yang paling utama adalah memegang 3 set sumpah diatas sebaik kemampuan kalian. Bila kalian telah berjanji kepada Guru kalian untuk melakukan "sadhana" tertentu atau "Teks Praktek" setiap hari, kalian harus mencoba melakukan ini setiap hari.

Bila kalian benar-benar tidak dapat melakukannya karena sakit, maka tidak apa. Tetapi kalian harus melanjutkan setelah sembuh. Bila kalian tidak melakukan sadhana" karena kalian lupa melakukannya, maka kalian masih harus melanjutkannya pada hari berikutnya. Setidaknya kalian harus melakukan 21 kali mantra 100 suku kata Vajrasattva atau melakukan "Pengakuan kepada 35 Buddha" pada hari berikutnya.

Bila karena alasan apapun kalian tidak melakukan "sadhana" karena tidak punya waktu, kalian harus memberi-tahu Guru kalian dan mengambil inisiasi ini lagi. Sementara, sebelum kalian mengambil kembali inisiasi ini lagi, lanjutkan praktek kalian. Kalian harus melakukan paling tidak 21 kali 100 suku kata mantra Vajrasattva atau melakukan "Pengakuan kepada 35 Buddha."

Bila karena komitmen pekerjaan, kalian tidak dapat melanjutkan praktek harian dari "sadhana" yang dijanjikan, kalian harus memberi tahu Guru kalian mengenai hal ini. Bila kalian tidak dapat memberi-tahu guru kalian karena dia sudah meninggal dunia dan kalian masih tidak bisa melakukan praktek harian ini, kalian setidaknya harus melakukan 21 kali 100 suku-kata mantra Vajrasattva atau melakukan "Pengakuan pada 35 Buddha" setiap hari.

Penting untuk memeriksa apakah ada komitmen yang harus dilakukan terkait dengan inisiasi tertentu. Bila kalian tidak dapat menjalankan komitmen ini, kalian tidak boleh mengambil inisiasi. Bila seorang murid berjanji melakukan contoh 5 "sadhana" setiap hari, maka murid tersebut tidak boleh memutuskan sendiri tanpa berkonsultasi dengan Guru mereka terlebih dahulu apakah dia boleh hanya melakukan satu "sadhana" untuk menggantikan sadhana yang lain. Akan tetapi, penting bahwa murid tidak boleh merasa sedih atau takut karena tidak melakukan praktek harian untuk alasan apapun.

Bagaimana Yang Mulia menggambarkan hubunganMu dengan HH Dalai Lama?

Yang Mulia Dalai Lama telah menjaga saya di kehidupan terdahulu. Yang Mulia telah menjaga saya ketika saya baru ditahbiskan, ketika saya menjadi Kepala Biara Universitas Tantrik Lhasa Atas, Kepala Biara Ganden Shartse, ketika saya menjadi Tuan Dharma Timur atau "Sharpa Choje" dan bahkan ketika saya sekarang menjadi Ganden Tripa atau Pemimpin tertinggi Tradisi Gelugpa.

Yang Mulia adalah Guru Utama saya yang berharga. Saya telah berfoto bersama dengan HH Dalai Lama tahun ini [Mei 2003]. Tidak ada yang lebih saya hargai di dunia. Kemudian, jangan lupa, Yang Mulia adalah, "boss" saya. [tertawa]

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai seorang murid yang tidak sekterian dan melakukan praktek atau menerima ajaran dan inisiasi dari 4 aliran Buddha Tibet?

Saya rasa sangat baik bila seorang praktisi dapat melakukan praktek semua aliran ini tanpa diskriminasi. Akan tetapi, mungkin sulit bagi beberapa orang kecuali mereka memiliki kapasitas. Dengan kata lain, mungkin juga bagi seorang praktisi untuk berkonsentrasi hanya pada satu aliran. Akan tetapi, praktisi yang hanya berkonsentrasi pada satu aliran, perlu memiliki rasa hormat dan menghargai yang tulus bagi semua aliran yang tidak dipraktekannya.

Kami sebagai penganut Buddha, kita berkata Doa Refuge menyatakan bahwa kita mengambil refuge dari Komunitas Mereka Yang Mulia. Hal ini berarti makhluk yang telah mencapai pencerahan. Para makhluk ini dapat ditemukan dalam semua aliran. Karena itu, ketika kita mengambil refuge, kita mengambil refuge pada Makhluk Tercerahkan dari semua aliran.

Bila kita hanya menerima Makhluk Tercerahkan yang terdapat pada aliran kita dan menolak Makhluk Tercerahkan dari aliran lain, apa yang kita lakukan dan katakan berbeda. Saya menganggap sikap atau tingkah laku sekterian seperti ini adalah pelanggaran yang sangat serius terhadap komitmen agama Buddha.

Singkatnya, bila kita memiliki kemampuan, baik bagi kita untuk mengikuti ajaran dari semua aliran. Bila tidak, kita dapat berkonsentrasi pada ajaran dari salah satu aliran dimana kita memiliki afinitas tetapi pada saat yang sama, menghormati dan menghargai aliran lain dengan tulus.

Tradisi Gelugpa

Bisakah Yang Mulia memberi tahu kami karakteristik yang membedakan dari Tradisi Gelugpa dimana anda adalah pemimpin resminya?

Di barat dan timur, orang mengenali biksu Gelugpa dari topi kuning dengan ujung lancip yang dikenakan mereka. Ini adalah karakteristik khusus! [tertawa] fitur Gelugpa yang tidak biasa dari luar, biksu Gelugpa mengadopsi bentuk tenang dan lembut dari praktisi Shravaka yang hidup menurut peraturan Vinaya dari Kendaraan Sutra sementara di dalamnya memiliki kesadaran penuh dari Generasi dan Penyelesaian Kendaraan Tantra. Tradisi Gelugpa mempersepsikan Kendaraan Sutra dan Tantra sebagai pelengkap dan tidak berlawanan.

Apakah Yang Mulia merasa agama Buddha Tibet, khususnya, Tradisi Gelugpa, telah dipegang dengan baik di pengasingan?

Saya merasa pada umumnya, agama Buddha Tibet telah dilestarikan dengan baik. Di India, jumlah biksu di biara besar telah meningkat karena usaha giat. Akan tetapi, usaha untuk membuat kemajuan melebihi situasi sekarang mungkin sulit karena hampir semua usaha telah dilakukan untuk pelestarian ini. Salah satu kesulitan yang dihadapi para biksu adalah mereka sekarang berada di pengasingan, mereka harus memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri seperti menanam di ladang. Di Tibet di masa lalu, para biksu hanya perlu belajar dan berpraktek tanpa perlu bekerja untuk menghidupi diri.

Apakah Yang Mulia merasa ada beberapa perubahan yang dapat dilakukan terhadap program belajar Geshe yang diikuti oleh biara besar dari Tradisi Gelugpa?

Ada beberapa saran mengenai hal ini. Lima teks utama yang membentuk kurikulum program belajar Geshe bukanlah bertujuan untuk memenangkan debat. Debat tidak hanya dilakukan di mulut tetapi juga diikuti dengan tindakan selama 20-30 tahun belajar. Debat bukanlah hanya permainan. Sebelum kita bisa mulai melakukan praktek, pertama-tama kita perlu tahu apa dan bagaimana melakukan praktek dan ini bisa dilakukan melalui belajar.

Sang buddha dan Je Tsongkhapa telah berkata bahwa sebelum kita menerima Ajaran mereka, kita perlu bertindak seperti pengrajin emas yang memeriksa kemurnian barangnya. Seorang pengrajin emas pertama-tama perlu mencium materi yang diinvestigasinya. Kemudian, dia perlu membelah emas menjadi ukuran yang wajar. Akhirnya, dia perlu membentuk materinya.

Seperti itu juga, sebelum kita menerima atau memulai praktek apapun, kita perlu melakukan investigasi dengan hati-hati sumber dari praktek ini dengan mengadopsi ketiga proses ini, apakah mereka berasal dari Buddha atau Guru India atau Tibet. Belajar akan membantu pekerjaan ini.

Ada beberapa saran untuk memperkenalkan pejalaran ilmu pasti dalam program belajar Geshe. Secara umum, saya merasa mempelajari ilmu pasti adalah baik. Akan tetapi, mempelajari atau mempraktekan ajaran Buddha adalah cara untuk membebaskan semua makhluk dari samsara dan bagi kita untuk menjadi Buddha jadi kita dapat membebaskan semua makhluk dari samsara.

Untuk mencapai tujuan ini, mempelajari ajaran Buddha cukup. Semua 500 Arahant di masa lalu telah mencapai ini tanpa mempelajari ilmu pasti. Mempelajari Ajaran bukan hanya mendapatkan pengetahuan atau mendapatkan surat sertifikat resmi. Mempelajari Ajaran adalah untuk membebaskan seseorang dari samsara dan juga seseorang dapat menjadi Buddha untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan mereka.

Sekali lagi, untuk mencapai tujuan ini, mempelajari Ajaran sudah cukup. Tidak ada keperluan untuk memasukan ilmu pasti. Akan tetapi, untuk menjadi cendikiawan yang diakui dunia, kita perlu mempelajari Ajaran dan ilmu pasti! [tertawa]

Mempelajari Ajaran adalah agar kita mendapatkan kebijaksanaan untuk menyadari Kekosongan sebagai sifat fenomena akhir. Mempelajari ajaran terdiri dari tiga tahap: Mendengar ajaran; merenungkan apa yang kita dengar; mempraktekan apa yang kita pelajari.

Kita perlu mendengar ajaran terlebih dahulu sebelum kita merenungkan mereka. Sebelum kita dapat merenungkan, kita perlu mendengar apa yang telah dipelajari. Bila kita tidak mendengar, kita tidak dapat merenungkan dan tidak ada yang kita praktekan! Karena itu, pertama-tama, kita perlu mencari pengetahuan dengan mendengar dan mempelajari ajaran ini.

Secara pribadi saya mulai mempelajari teks besar ini ketika saya berusia 25 tahun. Saya sekarang 77 tahun dan saya merasa belum cukup belajar. Di samping tradisi Gelugpa, 3 tradisi Buddha Tibet lain, Sakya, Nyingma, dan Kagyu juga memiliki contoh guru-guru tersadarkan yang mempelajari Ajaran secara ekstensif.

Dalam tradisi Sakya, kita memiliki Sakya Pandita. Dalam tradisi Nyingma, kita memiliki Longchen Rabjampa. Dalam tradisi Kagyu, garis Karmapa dan Dhakpo Lhaje atau Gampopa adalah makhluk besar. Semua guru ini mempelajari teks besar secara ekstensif dan tidak hanya mengandalkan satu teks saja.

Pada tahun-tahun belakangan ini, beberapa guru telah mengajar bahwa cukup untuk mengandalkan praktek tantrik Vajrayogini [Naro Kachodma] saja dan Yamantaka Terpencil. Di sisi lain, dikatakan bahwa penekanan praktek tantrik Vajrayogini [Naro Kachodma ] dan Yamantaka Terpencil daripada gabungan praktek Tantra 32 Dewa Guhyasamaja, 62 Dewa Heruka Chakrasamvara dan 13 Dewa Yamantaka yang direkomendasikan oleh Je Tsongkhapa adalah tanda kemerosotan dari praktek tantrik tradisi Gelugpa. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Praktek Vajrayogini atau Naro Kachodma tidak diperkenalkan kepada Tradisi Gelugpa oleh Trijang Rinpoche tetapi dipopulerkan terlebih dahulu oleh guru seperti Pabongka Rinpoche karena Pabongkha Rinpoche dianggap sebagai emanasi Naropa yang dia sendiri adalah Guru Aliran dari siklus tantrik ini. Trijang Rinpoche sendiri terafiliasi kuat dengan siklus Vajrayogini karena bahkan HH Dalai Lama menyatakan bahwa Trijang Rinpoche adalah praktisi dari siklus Heruka dan Vajrayogini.

Secara umum, tiga dewa atau yidam meditasi Je Tsongkhapa adalah 32 Dewa Guhyasamaja, 62 Dewa Heruka Chakrasamvara dan 13 Dewa Yamantaka. Diantara 3 yidam ini, Tsongkhapa khususnya bermeditasi pada Guhyasamaja dan menulis mengenai praktek ini secara ekstensif dan mendalam. Guhyasamaja adalah praktek utama Tsongkhapa.

Teks meditasi Guhyasamaja dan Heruka cukup panjang sementara teks Yamantaka relatif lebih singkat. Praktisi yang baik dan tulus dari tradisi Gelugpa harus melakukan ketiga praktek ini tanpa terpisahkan.

Saya secara pribadi mendengar HH Dalai Lama mengajar bahwa melakukan praktek 3 yidam ini bukan berarti membaca teks meditasi tiga yidam ini secara terpisah. Tujuannya adalah mengutip fitur esensial dan kritikal dari 3 yidam ini dan mengintegrasikan mereka menjadi salah satu dari 3 yidam yang telah yang telah diadopsi menjadi yidam utama orang tersebut.

Sebagai contoh, bila yidam utamamu adalah Yamantaka, kalian mengintegrasikan fitur penting dari 3 yidam ini menjadi Yamantaka dan kalian kemudian berkonsekonsentrasi pada praktek Yamantaka. Seperti itu juga, bila yidam kalian adalah Guhyasamaja, kalian dapat mengintegrasikan fitur esensial dari masing-masing dari ketiga yidam menjadi Guhyasamaja dan bila kalian kemudian berkonsentrasi mengenai praktek Guhyasamaja. Hal ini juga dapat diaplikasikan bila yidam kalian adalah Heruka. Guru Gelugpa terdahulu juga melakukan praktek dari 3 yidam ini sekaligus.

Guru aliran Gelugpa masa kini seperti Ling Rinpoche [yang merupakan Ganden Tripa ke-97 dan Guru Senior Dalai Lama], Trijang Rinpoche [Guru Junior Dalai Lama] dan Zong Rinpoche semuanya mempraktekan 3 yidam ini sekaligus.

Para guru besar ini juga menguasai praktek 3 yidam. Beberapa guru telah mengajar murid mereka agar hanya berkonsentrasi pada Vajrayogini dan Yamantaka Terpencil karena murid mereka mungkin tidak memiliki kemampuan untuk melakukan praktek dari 3 yidam ini. Akan tetapi, secara umum, praktisi Gelugpa juga memiliki kemampuan untuk melakukan praktek 3 yidam seperti yang disarankan oleh Yang Mulia Dalai Lama.

Umum

Apa pendapat Yang Mulia mengenai pembunuhan karena kasihan atau eutanasia?

Membunuh makhluk lain sebelum kematian alaminya melibatkan karma negatif membunuh bahkan bila dia sendiri yang meminta agar hidupnya diakhiri atau bila mereka sudah tidak sadar dan butuh alat bantu hidup dan kerabat terdekat memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka untuk mewakili mereka.

Apakah Yang Mulia berpikir diperbolehkan untuk mengaborsi bayi bila mereka dikonsepsi melalui pemerkosaan atau bila melahirkan sang bayi akan membahayakan hidup sang ibu atau bila sang bayi cacat kronis dan dia akan meninggal dalam beberapa detik atau menit setelah dilahirkan?

Segala bentuk aborsi melibatkan karma negatif membunuh makhluk hidup.

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai percobaan yang dilakukan atas hewan untuk memberi manfaat makhluk hidup?

Menurut ajaran Buddha, memberikan penderitaan kepada makhluk lain adalah salah.

Bagaimana pendapat Yang Mulia mengenai homoseksualitas?

Sepertinya Homoseksualitas menjadi lebih umum di dunia sekarang ini. Homoseksualitas, seperti heteroseksualitas, adalah aktivitas samsara. Sepertinya tidak ada yang lebih baik atau buruk daripada yang lain. Apakah seorang pria atau wanita lurus atau gay tidak membuat mereka lebih baik atau buruk daripada yang lain. Secara umum, keduanya adalah aktivitas orang awam. Bukannya tidak ada karma yang terlibat dalam homoseksualitas, hanya saja seperti heteroseksualitas, aktivitas samsara yang lain.

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai rekayasa genetika?

Saya tidak tahu apakah hal ini benar atau salah.

Apakah menurut Yang Mulia diperbolehkan untuk membasmi "hama": hewan atau serangga yang berbahaya bagi manusia seperti nyamuk, kecoa, tikus dan lainnya?

Semua makhluk adalah sama. Membunuh makhluk manapun dianggap sebagai karma negatif. Bahkan bila hewan ini memberikan penyakit bagi manusia, menurut ajaran Buddha, adalah tindakan yang tidak tepat untuk mencelakakan atau membasmi mereka. Akan tetapi, untuk tidak menghentikan penyakit dari menyebar kepada manusia sebagai hasil infeksi dari hewan-hewan ini juga sepertinya tidak benar. Sulit untuk memutuskan. Tidak peduli di pihak mana kau berada, hal ini sangat sulit.

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai "serangan pencegahan"? ini adalah pandangan yang menyatakan bahwa melemahkan sumber daya militer musuhmu terlebih dahulu sebelum mereka mencelakakan orang awam adalah cara tepat untuk melindungi kehidupan. Pandangan lain adalah "serangan pencegahan" dengan melakukan agresi terlebih dahulu dari satu sisi tanpa provokasi dari pihal lain dan karena itu salah.

Sulit untuk memutuskan.

Apakah harapan Yang Mulia untuk dunia?

Saya mengharapkan kebahagiaan, kesehatan dan juga kehidupan yang lebih baik bagi semua makhluk di dunia.

Pengenalan singkat Ajaran Buddha

[Sebagai catatan informal untuk menemani interview di atas dengan HH Ganden Tripa ke-101 untuk sahabat yang tidak akrab dengan ajaran Buddha ]

Secara umum

Sebab dari samsara Buddha, Yang Tercerahkan, mengajar bahwa semua makhluk menderita karena mereka tidak mengenali sifat Kekosongan inheren.

-Dari Tidak mengenali Kekosongan atau Kebodohan muncul Diri.

-Dari Diri muncul Sikap mementingkan Diri yang menempatkan seseorang diatas yang lain.

-Dari Sikap mementingkan Diri semua Pencemaran lain: Kemarahan, Keterikatan, dan sejenisnya.

-Sebagai hasilnya menciptakan tindakan yang dimotivasi oleh Pencemaran ini, makhluk menderita dari "Karma" atau Efek dari Tindakan mereka.

-Dari penciptaan "Karma" yang tak ada habisnya, makhluk dipaksa untuk lahir, mengalami kematian yang tidak diinginkan, lahir kembali, mengalami kematian lagi dan seterusnya, lagi dan lagi dalam siklus penderitaan yang tak ada habisnya.

Cara untuk mengakhiri samsara

-Untuk menyadari Kekosongan sehingga mereka bisa bebas dari samsara, makhluk perlu mempraktekan Delapan Jalan Mulia: Pandangan Benar/ Maksud Benar/ Perkataan Benar/ Tindakan Benar/ Kehidupan Benar/ Usaha Benar/ Pikiran Benar/ Konsentrasi Benar.

-Ketika makhluk menyadari Kekosongan, mereka kemudian dibebaskan dari samsara.

Mahayana

Bodhisattva

Makhluk yang tidak hanya ingin membebaskan diri mereka dari samsara tetapi di samping itu, ingin mencapai ke-Buddha-an, karena ini adalah cara terbaik bagi mereka untuk membebaskan makhluk tak terhingga dari samsara, dikenal sebagai "Bodhisattva".

Bodhicitta Biasa

Harapan untuk ingin mendapatkan ke-Buddha-an tidak peduli berapa lama yang dibutuhkan atau seberapa sulit demi membebaskan semua makhluk dari samsara dikenal sebagai "Bodhicitta biasa".

Cara praktek bagi para Bodhisattva

Tradisi Sutra - Bodhisattva mempraktekan Enam Kesempurnaan selama kalpa tak terhingga sehingga mereka dapat mencapai kondisi ke-Buddha-an. Enam Kesempurnaan adalaha Kemurahan hati/ Moralitas/ Kesabaran/ Keteguhan/ Meditasi/ Kebijaksanaan. Kelompok Bodhisatva ini melakukan praktek menurut Tradisi Sutra Mahayana.

Bodhicitta Tidak Biasa

Kelompok praktek Bodhisattva lain menurut Tradisi Tantra Mahayana. Kelompok Bodhisattva ini memiliki motivasi "Bodhicitta Tidak Biasa" yang ingin mencapai ke-Buddha-an demi kebebasan dari samsara bagi semua makhluk melalui cara apapun karena mereka tidak tahan, karena kasih mereka yang besar, penderitaan dari semua makhluk sementara mereka menuju ke-Buddha-an.

Cara praktek Bodhisattva

Tradisi Tantra - kelompok Bodhisattva ini mempraktekan Dewa Yoga dan praktek tantrik lainnya yang akan menghasilakn kondisi ke-Buddha-an dengan waktu tersingkat termasuk dalam kehidupan ini. Secara umum, praktek Bodhisattva ini memandang kemurnian dan potensi akhir dari semua makhluk. Mereka melakukan hal ini dengan menganggap Guru Spiritual mereka sebagai Buddha, mereka sendiri dan semua makhluk lain sebagai Buddha.

Sumber: http://www.trisurlungriknamgyal.com/blog-2/

The following is an interview with His Holiness the 101th Ganden Tripa - Supreme Head of the Gelug Tradition.

The interview is conducted on the occasion of His Holiness the 101th Ganden Tripa's first official visit to Singapore.

The interview is conducted by Kunga Nyima and is translated by Associate Professor Huang Yi Yan of Taiwan. It is conducted on 18 June 2003 at His Holiness's residence in Singapore.

His Holiness the 101th Ganden Tripa is hosted on His first Official Visit to Singapore from 25 May 2003 to 23 June 2003 by the Charitable Assistance Society.

About the Ganden Tripas:

The Ganden Tripas, the Sakya Trizins and the Karmapas are official heads of their respective traditions: the Gelug, the Sakya and the Karma Kagyu. Je Tsongkhapa is the founder of the Gelug tradition. The line of the Ganden Tripas are Tsongkhapa's spiritual successors and are therefore the official supreme head of the Gelug Tradition of Tibetan Buddhism. The line of the Dalai Lamas and Panchen Lamas both hailed from the Gelug Tradition.

The 101th Ganden Tripa, together with Mindroling Trichen, have been enthroned in 2002 as the heads of respectively the Nyingma and Gelug traditions.

Those beings who so rarely are fortunate enough to have contact with His Holiness, there is hardly any who will fail to realize that His Holiness is a GEM…… a sign of the fruition and flowering of seamless cultivation of the Buddha's holy Teachings. It is a genuine blessing to personally witness His Holiness's absolute sincerity, warmth, wisdom, innocent humour, unending patience and honesty.

"May it be of benefit !!"

Buddhism

What is the most essentially fundamental thing for a Buddhist?

Buddhists should know that samsara is suffering. We need to realize that samsara is suffering first before we will try to obtain liberation from it. The only way to liberation from samsara is through following the Teachings of the Buddha. According to the Texts, only by following the Buddhist Teachings can there be ultimate liberation from samsara.

What is the most important thing a Buddhist should remember?

A Buddhist should always remember the 3 Jewels: the Buddha, His Teachings [The Dharma ] and His Assembly of Noble Disciples [ The Sangha ]. A Buddhist should clear internalize the supreme qualities of the 3 Jewels. In general, the Buddha is like a doctor, the Dharma is like medicine and the Sangha is like nurses and assistants to the doctor.

We, sentient beings, in samsara, are like the patients. We need to take the doctor's prescription to get well. Moreover, we also need to rely on the doctor and his assistants too. A Buddhist needs to always take refuge in the 3 Jewels as well as to remember the qualities of the 3 Jewels.

How do we sustain "Bodhicitta": the attitude of completely dedicating ourselves for the welfare of others; of wanting to attain the state of Complete Enlightenment or Buddhahood solely for the good of others?

To put the Teachings into practice is difficult. If we can put the Teachings into practice, this is real Bodhicitta. If we cannot, this cannot be Bodhicitta. To give rise to Bodhicitta, we must first cultivate Loving-kindness [ Wishing all beings to have happiness and the causes of happiness ] and Compassion [ Wishing all beings to be free from suffering and the causes of suffering ].

Next, we must think of the kindness of our mother. Then, we need to remember the kindness of all beings as they have acted as our mothers in countless past lives. Following, we need to cultivate the wish to repay the kindnesses of all these uncountable mother sentient beings. To put Bodhicitta into practice is difficult. If we can put Bodhicitta into practice, this is real Bodhicitta.

If we cannot put Bodhicitta into practice, this cannot be genuine Bodhicitta. Always try to sustain a good-heart. Do not be bothered about what others do. Just try to sustain a good-heart. This is the way of the true Buddhists.

Is vegetarianism compulsory?

It has been suggested that cultivating crops kill untold numbers of insects whilst the slaughtering of only one yak in old Tibet can feed the whole family for a week. Therefore, from the numerical point of view, this group of people suggests that we should consume meat of big-size animals rather than eating vegetables which inevitably entail the death of countless creatures. Moreover, some masters have insisted on vegetarianism as compulsory for a Buddhist whilst others quoted Buddhist texts to the contrary.

What is Your Holiness point of view?

In general, Lord Buddha has taught 3 differing points with regard to vegetarianism. In the first one, in the Theravada tradition, it is taught that we cannot take the so-called three categories of "Impure Meat": a) we perceive through our eyes or ears the killing of the meat; b) we suspect that the meat is killed for ourselves; c) we know that the meat has been killed for us.

Besides these 3 categories of meat, we are permitted to partake of the rest. In the second one, in the Mahayana tradition, it is taught explicitly that the taking meat is necessarily unskillful and wrong. So vegetarianism is compulsory here.

In the third, in the Vajrayana tradition, it is taught that practitioners of this path should take meat. The reason for this is given in the texts and requires extensive explanations. It is not appropriate for me to elaborate here. Students of Buddhism can choose to follow any of these 3 points. It is not possible for me to dictate which points students should follow.

There have been some Buddhist centres concentrating mainly on doing social work whilst some concentrating mainly on spiritual practices. What is Your Holiness's opinion on what a Buddhist centre should concentrate on?

Doing both social work and spiritual practices are not contradictory but are in fact complementary. Both have their own reasons for doing their respective work. Shantideva said in "Guide to the Bodhisattva's Way of Life" that the perfection of generosity does not mean that one can only perfect the practice of generosity after one has alleviated the poverty of all sentient beings.

Lord Buddha has already perfected the practice of generosity. However, there is still poverty in the world. Therefore, this proves the point as elucidated in "Guide to the Bodhisattva's Way of Life" that to perfect the practice of generosity means to be able to perfect the activity of generosity from the point of view of one's spiritual practice rather than from already physical completion of the alleviating of poverty of all other beings.

Following this point of argument, cultivation of generosity through various spiritual practices is important. Even if I can help, I can only but help but a minute proportion of beings through doing social work. Even if I can help 1000 beings, this is still a small proportion relative to the population of Singapore and the number of beings in the whole universe.

There are 3 sets of vows: the Self-Liberation Vows; the Bodhisattva Vows and the Vajrayana Vows. All these 3 sets of vows contain the Practices of the 6 Perfections including of course the practice of generosity. Some examples of how we can exercise the vows include one assisting if any beings fall sick or have other difficulties, one helping to guard banks as they contain the wealth of many beings! From this point of view therefore, social work is therefore an essential part of dharma practice.

In addition, however, we must also remember Shantideva's teaching that the accomplishment of the perfections lies in one's mind through spiritual practices also. Therefore, there are valid and good reasons for social work as well as spiritual practices. There is no need to split them into two different groups.

There have been comments that Buddhists from almost all traditions, be it Tibetan, Thai or even the west, have been building too much big statues, stupas, centres and even monasteries and that Buddhists should instead expend more of their resources on social welfare projects such as hospitals, animal-shelter-homes, orphanages and others that directly benefit beings in more tangible ways. What is Your Holiness's opinion about this?

All are good. All can accumulate merit. Building hospitals or monasteries are good. Both activities are not wasteful.

Some Buddhist centres will only support or circulate news of activities organized by their own centres. Some will even through either implicit or even explicit means, discourage their members from attending programmes organized by other centres even if these programmes are conducted by acknowledged great masters and are beneficial. It has been suggested that these centres are trying to maintain the number of students or followers in their centres as they are worried that their resources will be "lost" to other organizations. On the other hand, these centres claim that they are only trying to "protect" their students from even some of these important teachers, some of whom are even teachers of their centres' own spiritual advisers. What does Your Holiness think about this?

I have no comments. If I say something, some people may get angry with me! [ laughing ]

Will there be an end to samsara?

It is difficult to say if there will be an end to samsara. It is mentioned in the texts that all beings will eventually become Buddhas. But before that, samsara is there. It is also mentioned in the texts that there does not exist a time where all beings will be free from samsara.

There have been allegations of conversions of Buddhists to other religions through deliberate and aggressive inaccurate depiction of Buddhism, conditional provisions of material aid, educational opportunities and such. What does Your Holiness think of this?

We have to try our best to propagate the Buddhist Teachings. We have no ability to stop these alleged practices. It is also no good for us to stop conversions through "fair" means. The main thing is to develop and improve ourselves. We need to establish more Buddhist centres. We need to improve the management of existing centres.

Just like how other religions spread their teachings, Buddhists should also follow likewise. We should not think of going against other religions however! Conducting certain religious ceremonies or "pujas" for welfare of the Buddhist teachings is also another method. According to the Buddhist Teachings, it is considered negative karma to desecrate the Buddhist teachings.

Similarly, we should not desecrate teachings of other religions. We simply need to improve ourselves with diligence. In the context of Tibetan Buddhism, the Sakyapas will need to preserve and propagate teachings of the Sakya Tradition. The Kagyupas, the Nyingmapas and the Gelugpas will similarly need to do likewise.

What does Your Holiness feel about the state of Buddhism in the west?

Buddhism has been taught and transmitted in the west but it is difficult to ensure that every Teaching has been taught and learnt well. There is definite room for improvements in terms of the way the Buddhist centers are being managed, the way the western students are learning the teachings, the way these students are practicing the teachings, the way in which the teachings have been taught and others. Another matter of concern is that many Tibetan teachers in the west have no place of their own.

Tibetan Buddhism

Does Your Holiness feel that it is timely and appropriate to introduce the Bhikshuni or Fully-ordained Nun's Order into Tibetan Buddhism?

I have not much comment about this matter.

Does Your Holiness feel that the "tulku" system or the system of finding reincarnated teachers is still relevant today?

There are still many masters getting recognized today. I do not know whether it is still relevant today.

What is Your Holiness opinion of astrology and divination?

Some people believe in them and some people do not. I personally have not much opinion about this matter.

There have been great concerns and fear almost amongst Vajrayana students in both the east and west, on their need to, at all cost, at least read through the meditation text of their yidam daily as they have been told to do so by their teachers during initiation ceremonies of which they participated. These students considered missing doing the meditation of their Yidam or missing reading through the relevant text even for a day a serious transgression of their vow or commitment. What is Your Holiness's opinion about this matter?

The main point is not to simply and blindly read through the Yidam's meditational text or "sadhana" daily without understanding. The main point is to keep strictly to our best ability all the commitments we have taken: the Self-liberation, the Bodhisattva and the Tantric commitments.

It is good and important to do the meditational text of your yidam daily especially if you have promised to do so daily but this is not the main point. The main and most important point is to keep the above 3 sets of vows to our best ability. If you have promised your Teachers to do certain "sadhanas" or "Practice Texts" daily, you should definitely try to do them daily.

If you really cannot do it due to sickness, it is perfectly fine. But you should continue after you have recovered from your sickness. If you miss your "sadhana" due to that you have forgotten to do it, you should still continue to do it the very next day. You should also do at least 21 times the long Vajrasattva 100- Syllable Mantra or to do the "Confession to the 35 Buddhas" the very next day.

If for whatever reason you miss your "sadhana" such as not having the time due to work, you should let your Teacher know about it and then re-take the particular initiation again. In the meantime, before say you can re-take the initiation again, continue with the practice. You should also do at least 21 times the long Vajrasattva 100-Syllable Mantra or do the "Confession to the 35 Buddhas".

If owing to work commitments you cannot continue with your daily practice of the promised "sadhana" anymore, you should let your Teacher know about this. If you are not able to let your Teacher know about this or your Teacher has already passed away and you still cannot continue to do your practice daily, you should then do at least 21 times the long Vajrasattva 100-Syllable Mantra or do the "Confession to the 35 Buddhas" daily.

It is important to check if there is any commitment that comes with any particular initiation. If you are not able to keep the commitments, you should not take the initiation. If a student has promised to do say 5 "sadhanas" a day, the student should not decide for himself or herself without consulting their Teachers first whether he or she can simply do only one "sadhana" in place of all the rests daily. However, it is also important that students should not feel unreasonably or overly upset or fearful of missing daily practice for whatever reasons.

How will Your Holiness describe Your relationship with HH the Dalai Lama?

His Holiness the Dalai Lama has taken care of me in my past lives. His Holiness has taken care of me when I was just a newly-ordained monk, when I was the Abbot of the Tantric College of Upper Lhasa, Abbot of Ganden Shartse Monastery, when I was the Lord of Dharma of the Eastern End or the "Sharpa Choje" and even when I am now the Ganden Tripa or the Supreme Head of the Gelugpa Tradition.

His Holiness is one of my precious Root Teachers. I have taken a photograph with HH the Dalai Lama this year [ May 2003 ]. There is nothing in the world that I cherish more. Then, not forgetting also, that His Holiness is, in some ways, my "boss". [ giggles]

What is Your Holiness's opinion on a student being non-sectarian and doing practices or receiving teachings and initiations from all the 4 Tibetan Buddhist lineages?

I feel that it is best if a practitioner can do the practices of all these four lineages without discrimination. However, it may be difficult for some unless they have the capacity. On the other hand, it is also possible for a practitioner to concentrate only on one lineage. However, this latter practitioner even concentrating only on one lineage, needs to have sincere and genuine respect and appreciation for all the other lineages he or she is not practicing.

As we are Buddhists, we all said the Refuge Prayer in which it is mentioned that we take refuge in the Community of Noble Ones. This means the beings who have gained Enlightenment. These beings can be found in all the different lineages. Therefore, when we take refuge, we take refuge in these Enlightened Beings in all the lineages.

If we accept only those Enlightened Beings found in our lineage and reject those Enlightened Beings of other lineages, what we do and say are different. I consider such sectarian attitude or behaviour a very serious breach of Buddhist commitment.

In summary, if we have the ability, it is best if we can follow teachings from all the lineages. Otherwise, we can concentrate on learning from any one of the lineages that we have affinity towards but at the same time maintaining sincere and genuine respect and appreciation of the other lineages.

The Gelugpa Tradition

Can Your Holiness tell us the distinguishing characteristics of the Gelugpa Tradition of which You are the Official Head?

Both in the west and the east, people recognize the Gelugpa monks by the yellow pointed hat they wear. This is the special characteristic! [ laughing ] The uncommon feature of the Gelugpa is that outwardly, the Gelugpa monks adopt a subdued and gentle form of the Shravaka practitioner who live according to the Vinaya rules of the Sutra Vehicle whilst inwardly possessing the full realization of the Generation and Completion Stages of the Tantra Vehicle. The Gelugpa Tradition perceives the Sutra and Tantra Vehicle as complementary and not contradictory.

Does Your Holiness feel that Tibetan Buddhism, in particular, the Gelugpa Tradition, has been upheld well in exile?

I feel that in general, Tibetan Buddhism has been relatively well preserved. In India, the number of monks in the great monasteries has increased due to diligent efforts. However, efforts to make further progress beyond the current situation may be difficult as most efforts have already been expended towards preservation itself. One of the difficulties faced by the monks is that as they are now in exile, they have to take care of their livelihood themselves such as growing crops in the fields. In Tibet in the past, monks only need to study and practise without having the need to work for their own living.

Does Your Holiness feel that there could be some changes introduced into the Geshe study programme followed by the great monasteries of the Gelugpa Tradition?

There have been some suggestions about this. The five great texts that form the curriculum of the Geshe study programme is not for the purpose of winning debates. The debates are not to be only done in mouth but are to be followed by actions throughout the 20 to 30 years of study. The debates are not mere games. Before we can start practising, we need first to know what and how to practise and this we can achieve through studying.

Both Lord Buddha and Je Tsongkhapa have said that before we accept any of Their teachings, we need first to behave like a goldsmith examining the purity of his goods. A goldsmith will first need to smelt the material under investigation. Next, he will need to dissect the gold into appropriate sizes. Finally, he will need to shape the material.

Similarly, too, before we accept or commence any practices, we need first to investigate carefully the sources of these practices through correspondingly adopting the above three processes, whether they originate from the Buddha or any of the Indian or Tibetan lineal Teachers. Study will assist in this task.

There have been suggestions too to introduce scientific study into the Geshe study programme. In general, I feel that studying science is good. However, the study and practise of the Buddha's teachings is the only ultimate way to the liberation of all beings from samsara and for us to become a Buddha so that we can liberate all beings from samsara.

Towards this objective, studying the Buddha's teachings is sufficient. All the 500 Arahants of the past have achieved this without requiring study of science. Studying the Teachings is not to just acquire knowledge or to acquire official paper certificates. Studying the Teachings is to free oneself from samsara and also that oneself can become a Buddha to liberate all beings from their sufferings.

Again, towards this aim, studying of the Teachings is sufficient. There is no further need to include the study of science. However, to be a famous scholar recognized by the world, we will then need to study both the Teachings and science! [laughing ]

The study of the Teachings is so that we can gain wisdom to realize Emptiness which is the ultimate nature of phenomena. The study of the teachings entails the following three stages: Listening to the teachings; contemplating what we have heard; putting into practice what we have learnt.

We need to listen to the teachings first before we can contemplate on them. Before we can contemplate, we first need to listen to what has been taught. If we do not listen, we cannot contemplate and subsequently, there is nothing for us to practise! Therefore, first, we need to seek for knowledge through listening and studying the teachings.

I personally started to study the great texts when I was 25 years old. I am now 77 years old and still I feel that I have not learnt enough. In addition to the Gelugpa tradition, the other 3 traditions of Tibetan Buddhism, the Sakya, the Nyingma and the Kagyu all contain examples of great realised masters who studied the Teachings extensively.

In the Sakya tradition, we have Sakya Pandita. In the Nyingma tradition, we have Longchen Rabjampa. In the Kagyu tradition, the lineal Karmapas and Dhakpo Lhaje or Gampopa are such great beings. All these masters learnt and studied extensively the great texts and do not rely simply on merely one text alone.

In recent years, some teachers have taught that it is sufficient to rely only on the tantric practices of the Vajrayogini [ Naro Kachodma ] and the Solitary Yamantaka. On the other hand, it has been suggested that the current strong emphasis on the tantric practices of the Vajrayogini [ Naro Kachodma ] and the Solitary Yamantaka instead of the combined tantric practices of the 32 Deity Guhyasamaja, the 62 Deity Heruka Chakrasamvara and the 13 Deity Yamantaka recommended by Je Tzongkhapa are signs of the degeneration of the tantric practices in the Gelugpa tradition. What is Your Holiness's opinion on this matter?

The Vajrayogini or Naro Kachodma practices is not introduced into the Gelugpa Tradition by Trijang Rinpoche but popularized earlier by masters such as Pabongka Rinpoche as Pabongka Rinpoche is considered to be an emanation of Naropa who is Himself the first Lineage Master of this tantric cycle. Trijang Rinpoche is Himself strongly affiliated to the Vajrayogini cycle as even HH the Dalai Lama pronounced that Trijang Rinpoche is a great practitioner of both the Heruka and Vajrayogini cycles.

In general, Je Tsongkhapa's three meditational deities or yidams are the 32 Deity Guhyasamaja, the 62 Deity Heruka Chakrasamvara and the 13 Deity Yamantaka. Amongst these 3 yidams, Tsongkhapa especially meditates on Guhyasamaja and wrote most extensively and deeply on this practice. Guhyasamaja is in fact Tzongkhapa's main practice.

Both Guhyasamaja's and Heruka's meditation texts are long whilst Yamantaka's text is relatively shorter. The genuine good practitioner of the Gelugpa tradition must do all these three practices inseparably.

I have personally heard HH the Dalai Lama taught before that doing the practices of these 3 yidams inseparably is not exactly to mean to read the meditation texts of these 3 yidams separately. The point is to extract the essential and critical features of each of these 3 respective yidams and to subsequently integrate them into any one of these 3 yidams which one has adopted as one's main yidam.

For example, if your main yidam is Yamantaka, you integrate the essential features of each of these 3 yidams into Yamantaka and you then concentrate on the practice of Yamantaka. Similarly, if your yidam is Guhyasamaja, you then integrate the essential features of each of these 3 yidams into Guhyasamaja and you then concentrate on the practice of Guhyasamaja. This applies also if your yidam is Heruka. The past great lineage Gelugpa Masters similarly do practices of these 3 yidams inseparably.

The recent great lineage Gelugpa Masters such as Ling Rinpoche [ who is the 97 th Ganden Tripa and the Senior Root Teacher of the present Dalai Lama ], Trijang Rinpoche [ who is the Junior Root Teacher of the present Dalai Lama ] and Zong Rinpoche all practise these 3 yidams inseparably.

These great masters have definitely mastered practices of these 3 yidams. Some teachers may have taught their students only to concentrate on Vajrayogini and Solitary Yamantaka because their students may not have the ability or time to do the practices of these 3 great Yidams. However, in general, genuine Gelugpa practitioners who have the ability should do the practices of these 3 great Yidams as His Holiness the Dalai Lama advised.

General

What is Your Holiness's opinion on mercy-killing or euthanasia?

To kill another being before his or her natural death involves the negative karma of killing even if he or she themselves request to end their lives or if they are already unconscious on life-support and their next-of-kin decides to end their life on their behalf.

Does Your Holiness think that it is permissible to abort babies if they are conceived through rape or if giving birth to the baby endangers the mother's life or if the baby is so chronically handicapped that it will die within a few seconds or minutes of its birth?

Any form of abortion will involve the negative karma of killing a being.

What is Your Holiness's opinion on experiments being done on animals for the alleged benefit of human beings?

According to the Buddhist Teachings, giving suffering to another being is wrong.

What is Your Holiness's view on homosexuality?

Homosexuality seems to be getting more common in the world these days. Homosexuality, like heterosexuality, are both activities of samsara. Neither seems to be particularly better or worse than the other. Whether a man or woman is straight or gay does not make him or her any particularly better or worse than the other. In general, both are activities of lay people. Not that, however, that there is no karma involved in homosexuality, only that it is just like heterosexuality, another activity of samsara.

What is Your Holiness's opinion of genetic engineering?

I do not know whether it is correct or wrong.

Does Your Holiness think it is permissible to eradicate "pests": animals or insects which are harmful to human beings such as mosquitoes, cockroaches, rats and such?

All beings are the same. It is considered negative karma to kill any being. Even if these animals infect human beings with diseases, according to the Buddhist Teachings, it is still considered an unskillful action to harm or eradicate them. However, to say not to stop diseases getting spread to human beings as a result of infections from these animals also does not seem to be totally correct. It is very difficult to decide. No matter which stand you take, it is still very difficult.

What is Your Holiness's opinion of the so-called "pre-emptive strikes"? There is one viewpoint that claims that crippling your enemy's military resources first before they initiates a brutal onslaught on civilians is actually a skilful means to protect lives. The other viewpoint is that "pre-emptive strikes" initiates aggression first from one's side without provocation from the other and is therefore wrong.

It is difficult to decide.

What is Your Holiness's wish for the world?

I wish all beings in the world happiness, health and also that they will live even better.

A short introduction to Buddhism

[ As informal accompanying notes to the above interview with HH the 101th Ganden Tripa for friends unfamiliar with the Buddhist teachings ]

General

The cause of samsara Buddha, the Enlightened One, taught that all beings suffer as a result of their not recognizing the inherent Emptiness of nature.

-From their Non-recognition of Emptiness or Ignorance arises a sense of Self.

-From this sense of Self arises Self-cherishing Attitude which places oneself above all others.

-From Self-cherishing Attitude arises all the other Defilements: Anger, Attachment and such.

-As a result of creation of actions motivated by these Defilements, beings suffer from "Karma" or the Resultant Effects of their Actions.

-From their endless creation of "Karma", beings are forced to take birth, experienced inevitable death, take birth again, experience death again and so on, again and again in unending cycles of suffering.

The way to end samsara

-To realize Emptiness so that they can be free from samsara, beings will need to practise the Noble Eight-fold Path: Right View / Right Intention / Right Speech / Right Action / Right Livelihood / Right Effort / Right Mindfulness / Right Concentration.

Mahayana

Bodhisattvas

Beings who do not only want to liberate themselves from samsara but in addition, wanting to attain Buddhahood, as this is the best manner that they can liberate all other countless beings from samsara, are known as "Bodhisattvas".

Common Bodhicitta

The wish to want to attain Buddhahood regardless of how long it will take or how difficult it will be solely for the liberation from samsara of all other beings is known as the "Common Bodhicitta".

Way of practice of the Bodhisattvas

Sutra Tradition- Bodhisattvas practise the Six Perfections for countless aeons so that they can attain the state of Buddhahood. The Six Perfections are Generosity / Morality / Patience /Perseverance /Meditation / Wisdom. This group of Bodhisattvas is practicing according to the Sutra Mahayana Tradition.

Uncommon Bodhicitta

Another group of Bodhisattvas practices according to the Tantra Mahayana Tradition. This latter group of Bodhisattvas are motivated by the "Uncommon Bodhicitta" which is the wish to attain Buddhahood for the liberation from samsara of all other beings through any means whatsoever because they cannot stand, due to their great compassion, the suffering of any beings whilst they are progressing towards Buddhahood.

Way of practice of the Bodhisattvas

Tantra Tradition- This group of Bodhisattvas practices Deity Yoga and other tantric practices which will yield the state of Buddhahood in the shortest time possible including even this very life. In general, these Bodhisattvas practise viewing the inherent ultimate potential or purity of all beings. They do this through viewing their Spiritual Teachers as Buddhas, themselves and all other beings as Buddhas.

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Visitors

We have 32 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013