|
|
Tiga bulan setelah bertemu dengan H.E. Tsem Tulku Rinpoche untuk pertama kalinya di bulan Oktober 2006, saya menerima undangan untuk berkunjung ke Gaden Monastery di Munghod, India. Saya senang sekali. Walaupun saya sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan saya di kantor, permintaan cuti saya disetujui dan semua pekerjaan yang mendesak dapat saya selesaikan sebelumnya. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa saya berusaha sekeras ini. Tetapi, saya tahu bahwa saya akan menyesal bila melewatkan kesempatan ini.
|
Three months after I first met H.E. Tsem Tulku Rinpoche in October 2006, I received an invitation to visit Gaden Monastery in Munghod, India. I was very thrilled. Despite a demanding work schedule, I managed to have my leave application approved, and some urgent matters completed beforehand. I could not comprehend the reason for making all these efforts. But, I knew that I would have regretted it, if I missed this opportunity.
|
|
|
Pada tanggal 2 February 2007, saya pergi ke Malaysia untuk bertemu dengan Tsem Rinpoche. Dengan ramah, Beliau menjelaskan tujuan dari perjalanan ini. Beliau berkata bahwa saya akan melihat contoh nyata dari mereka yang memegang sumpahnya dengan baik dan terinspirasi. Saya terbang ke Bengalore malam itu dan ke Hubli esok harinya bersama dengan beberapa anggota dan teman Kechara. Begitu sampai di Hubli, kami disambut oleh Kating Tulku Rinpoche dan teman-temannya. Mereka memberikan kesan bersemangat, bersahabat, dan efisien.
|
On 2 February 2007, I flew to Malaysia to meet Tsem Rinpoche. He kindly explained to me about the purpose of this visit. He said that I would see living examples of those who hold their vows well and get inspired. I flew to Bangalore that night and to Hubli the next morning together with several Kechara members and friends. Once we arrived in Hubli, we were greeted by Kating Tulku Rinpoche and his fellow monks, who stroke me to be very lively, easygoing, and efficient.
|

|
|
Pada pukul 4:30 AM esok harinya, kami memulai perjalanan ke Gaden. Kami menyaksikan puja dalam skala besar yang didedikasikan untuk H.E. Tsem Rinpoche agar Beliau berumur panjang. Pada saat saya menyaksikan ribuan biksu membaca mantra di aula doa utama, saya langsung mengetahui bahwa saya ingin berada di tempat itu lebih dari tempat manapun. Saya dapat merasakan kebaikan dari para biksu yang bangun pagi sekali hanya untuk berdoa untuk kesejahteraan Rinpoche dan mereka yang mensponsori puja tersebut.
|
At 4:30 AM the next day, we started our journey to Gaden. We were to witness a large scale puja dedicated to H.E. Tsem Tulku Rinpoche's long life. As I observed the beautiful sight of thousand of monks chanting in the main prayer hall, I knew that I would rather be there witnessing this incredible sight than be anywhere else. I could feel the kindness of these monks who woke up very early in the morning in order to pray for Rinpoche's and the sponsors' well being.
|

|
|
Sisa perjalanan ini dipenuhi dengan antusiasme dari sisi saya. Kating Rinpoche membawa kami berkeliling Gaden. Kami mengunjungi ruangan Dalai Lama, sekolah Gaden Shartse, stupa-stupa yang berisi relik dari Kyabje Zong Rinpoche dan Kyabje Trijang Rinpoche, kantor Kechara, rumah sakit Gaden Shartse, lapangan berdebat, tempat pemeliharaan sapi, dapur Shartse, aula doa Shartse, aula doa Jangtse, dan lain sebagainya. Saya mengajukan semua pertanyaan yang lewat di kepala saya, mulai dari yang serius seperti manajemen Gaden sampai yang agak kekanak-kanakan seperti "Ada berapa naga yang tinggal di salah satu tempat yang kami kunjungi?" Bahkan sampai sekarangpun, saya tertawa bila mengingat semua pertanyaan yang saya ajukan. Akan tetapi, Kating Rinpoche menjawab semua pertanyaan saya dengan sabar dan terkadang dengan humor.
|
The rest of the trip was filled with enthusiasm from my side. Kating Rinpoche gave us a tour around the monastery. As we visited Dalai Lama's quarters, Gaden Shartse school, stupas that contain the remains of Kyabje Zong Rinpoche and Kyabje Trijang Rinpoche, Kechara office, Gaden Shartse Health Hospital, debate courtyard, cow farm, Shartse kitchen, Shartse prayer hall, and Jangtse prayer hall, etc., I fired out every questions that popped into my mind from the serious types such as the management of monastery to those invoked by childish curiosity such as: how many nagas reside in the piece of land that we visited? Even today, I laughed at some the questions that I posted. Yet, Kating Rinpoche, responded to my curiosity patiently and, at times, with humor.
|

|
|
Sebelum perjalanan ini, saya telah membaca buku mengenai metode untuk menumbuhkan kualitas Bodhicitta: suka memberi, moral etika, kesabaran, semangat pantang menyerah, konsentrasi dalam meditasi, dan kebijaksanaan. Walaupun saya tidak pernah berpikir bahwa hal ini tidak mungkin tercapai, saya merasa menghadapi sebuah pekerjaan berat dan membutuhkan kerja keras dari sisi saya untuk mendapatkannya. Ada kalanya saya kehilangan semangat untuk pantang menyerah. Akan tetapi di Gaden, saya melihat sendiri mereka yang sudah mempraktekan hal ini seumur hidupnya. Saya menyaksikan seorang biksu yang masih kecil membaca sutra di bawah lampu remang-remang dan bertemu seorang Geshe berumur 70 tahunan dan masih melakukan prostration [sembah-sujud untuk menghilangkan dosa yang didedikasikan untuk semua makhluk hidup. Semua hadiah, makanan, dan minuman yang saya terima merupakan bukti dari sifat yang suka memberi. Saya sangat tersentuh dengan apa yang saya lihat di Gaden karena hal ini menunjukan kesungguhan dan kebaikan dari sesama makhluk.
|
Prior to my trip, I have read several books on the methods of cultivating Bodhicitta: generosity, moral ethics, patience, perseverance, meditative concentration, and wisdom awareness. I never viewed these methods as impossible to attain. Yet, it was a monumental task, and took a lot of effort from my part to achieve these qualities. They were times that I lost the courage to persevere. Yet, in Gaden, I saw those who have practiced these pretext their whole lives. I witnessed a little monk who recited text under a very dim light, and had audience with a Geshe in his late 70s who was still doing prostrations for the benefit of all sentient beings on daily basis. Every gift, lunch, and dinner that I received is an indication of generosity. I was touched by the scenes that I witnessed in Gaden because they reflected the sincerity and kindness of fellow human kind.
|

|
|
Dengan berakhirnya perjalanan ini, saya tidak lagi menganggap usaha yang saya lakukan sebagai pekerjaan berat dan tak akan pernah terselesaikan. Seperti yang telah dikatakan Tsem Rinpoche, saya terinspirasi oleh contoh nyata dari mereka yang telah memelihara rasa cinta kasih bagi sesama makhluk hidup. Memang ini merupakan perjalanan yang sangat berarti.
|
As I completed the trip, I no longer view the effort that I am making in my practice as one monumental task that may never be completed. As Tsem Rinpoche has mentioned, I was inspired by the living examples of those who have cultivated love for others and persevered in their effort. It was indeed one very meaningful trip.
|

|
|
Beberapa bulan setelah kunjungan ini, saya bersujud kepada H.E. Tsem Tulku Rinpoche pada kesempatan pertama saya bertemu kembali dengan Beliau. Saya meminta Beliau untuk memberikan saya refuge vows, dan Beliau mengabulkan permohonan saya. Dalam sutra dikatakan bahwa setelah mengambil refuge vows hubungan antara guru dan murid dikukuhkan dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Saya merasa sangat beruntung memiliki Guru seperti Rinpoche.
|
Several months after this trip, I fell on my knees on the next occasion H.E. Tsem Tulku Rinpoche granted me an audience in his Ladrang. I requested him to give me refuge vows, and he gave them to me. The sutra said that once a refuge vow is taken, the bond between the Lama and the student is sealed in this and future lives. I feel very fortunate to have Rinpoche as my Lama.
|

|
|