Saat Aku Tidak Punya Siapapun PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Friday, 25 July 2014 05:55

Teman-temanku,

Aku diinstruksikan oleh salah satu guruku beberapa tahun lalu untuk membuat buku tentang biografiku. Aku tidak ingin melakukannya. Aku berpikir hidupku tidak ada yang istimewa. Guruku memaksaku. Aku tidak dapat menolaknya lagi walaupun aku merasa malu untuk membicarakan kehidupanku. Karenanya tim Bio lahir. Terlepas dari berbicara tentang diriku, aku berpikir merupakan hal yang baik untuk muridku untuk meneliti latar belakangku, bertemu dengan orang yang tumbuh bersamaku, melihat tempat tinggalku, sekolah, teman-teman, lingkungan dan semuanya. Aku berpikir itu akan menjadikan buku biografi kedepannya yang lebih menarik dan nyata. Banyak sekali murid-muridku yang bekerja keras melakukan perjalanan ke Tibet, Xianjiang, Taiwan, India dan USA untuk meneliti latar belakangku. Mewawancarai orang yang mengenalku atau hidup bersamaku. Beberapa orang tersebut belum kulihat lagi selama 30 tahun! Mereka bertemu dengan teman masa kecilku, kerabat, tetangga dan lainnya. Mereka mengumpulkan banyak infomarsi dan rekaman video hasil wawancara yang akan dirilis saat tiba waktunya untuk dibagikan. Berikut ini adalah permulaannya.

Sebuah wawancara dengan seorang kawan lamaku yang bernama Anila Thupten Chonyid. Aku bertemu dengannya pertama kali ketika berusia 7 tahun. Sekarang aku berusia 46 tahun.

Ani Thupten adalah seorang perempuan Kalmyk yang tinggal didekatku di Howell, New Jersey, USA. Dia lembut, pekerja keras, suka lelucon aneh tapi lucu, sangat tulus, memiliki pengetahuan Dharma yang luas, banyak membaca dan tidak pernah melukai siapapun. Dia pernah sekali memberitahuku, dia memperolah banyak kesenangan pada tahun 60-an dan menemukan dan pada akhirnya menyadari hidupnya hampa. Dia mengatakan ketika bertemu Dharma, itu mengubah pikirannya tentang betapa benar, masuk akal dan manjur Dharma itu. Dia merangkul Dharma dan tidak pernah berpaling.

Ani Thupten mempunyai sebuah perpustakaan dengan banyak buku-buku Dharma lebih dari seratus pada waktu itu pada tahun 70-an. Sangat sulit untuk memperoleh buku –buku Dharma namun dia memilikinya. Itu adalah harta karun bagiku. Aku sangat antusias untuk melihat bukunya dan altar yang megah. Aku biasanya meminjam buku-bukunya dan membacanya dengan lahap. Apapun yang tidak kumengerti, aku akan memanggilnya lewat telepon hampir setiap hari atau berkendara sepeda ke rumahnya untuk melihatnya dan menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan Dharma. Dia menjawab dengan semua pertanyaan dengan sabar hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun tanpa pernah sekalipun kehilangan kesabaran. Aku belajar banyak darinya. Di masaku yang masih sangat muda, dia menyampaikan banyak sekali pemgetahuan Dharma padaku.Aku selalu bersemangat untuk berbicara dengannya atau melihatnya karena kami selalu berbicara tentang Dharma. Aku selamanya bersyukur padanya untuk ini. Aku berterima kasih untuk pengetahuannya, kesabaran dan kemurahan hatinya pada tahun-tahun perkembanganku.Dia memberikan dampak yang kuat terhadapku. Sikap baktinya pada Guru kami, Kensur Lobsang Tharchin Rinpoche sangat kuat dan murni. Aku sangat menyukainya. Setiap kali dia bercerita tentang guru kami bahkan 30 – 40 tahun yang lalu, pengabdian kepada gurunya begitu kuat seperti sekarang. Itu memberikan dampak yang kuat padaku mengenai kami harus menghormati guru kami secara mendalam. Dia akan sangat senang hati dan bergairah ketika berbicara tentang Dharma. Kami menghabiskan ratusan jam bersama berbicara tentang Dharma. Aku menikmati setiap menitnya. Aku sangat merindukan masa-masa itu bahkan hingga saat ini dan memikirkan saat itu yang penuh dengan kebahagiaan. Itu adalah satu kenangan masa kecil yang tertanam sangat kuat di pikiranku dan aku tidak melebih-lebihkan betapa kuat waktu bersamanya telah berdampak positif padaku. Dia memiliki seorang putrid an aku berpikir betapa beruntung putrinya memiliki seorang ibu yang liberal dan taat seperti Anila tidak seperti yang aku alami bersama ibuku di seberang jalan.

Ketika aku terpilih bergabung dalam inisiasi tantra tingkat tinggi oleh Kensur Lobsang Tharchin setelah menunggu selama bertahun-tahun, aku sangat bersemangat dan antusias.Selama inisiasi aku duduk di sebelah kanan Anil adi barisan depan yang berjarak 8 kaki dari Kensur Lobsang Tharchin. Sungguh bahagia. Guruku yang agung di depanku, teman Dharma terbaikku duduk di sampingku. Aku menerima inisiasi pertamaku dan Anila berada di sampingku. Sebelum inisiasi, dia mengajak untuk meletakkan bantalan kami di barisan depan sehingga kami tidak melewatkan apapun. Jadi Anila dan aku datang lebih awal dan meletakkan bantalan kami. Hehehe ide yang bagus dan menyenangkan.

Ketiak aku lari ke California, aku menulis surat untuknya dan meneleponnya di New Jersey. Menelepon pada saat itu sangat mahal. Ketika aku menjadi biksu, dia mengirimkan sebuah surat ucapan selamat untukku. Kemudian sementara aku di Gaden, dia juga mengambil sumpah biksuni. Aku turut bahagia untuknya.Kensur Lobsang Tharchin menyiapkan semuanya untuk Anila untuk penahbisan. Ketiak aku pergi ke Gaden pada 1988, aku masih sangat muda dan sendirian. Aku tidak dapat berkomunikasi dan mengalami kejutan budaya. Aku memiliki sangat sedikit uang. Aku menyurati temanku, kerabat dan orangtua angkatku meminta pertolongan. Satu atau dua dari mereka mengirimkan donasi namun kebanyakan tidak. Aku kelaparan di Gaden, dan kebanyakn biksu sangat miskin. Aku bukan satu-satunya. Aku menyurati Kensur Lobsang Tharchin tentang situsasiku dan beliau meminta Anila untuk mensponsoriku! Anila selama beberapa tahun mengirimku US$50 setiap bulan tanpa terlewat untukku di Gaden. Jumlahnya lebih dari cukup dan aku dapat membeli panci, wajan, kompor tunggal, sayur-sayuran, minyak, tepung, buncis kering, lentil, garam dan bahkan sayuran segar. Kesehatan tubuhku meningkat signifikan karena ini. Inilah salah satu alasanku menolong tuna wisma dewasa ini. Pada hari libur istimewa, Anila akan mengirimku tambahan uang untuk membeli jubah dan kebutuhan tambahan lainnya. Selama bertahun-tahun, dukungan yang aku dapat hanya dari Anila. Luar biasa. Aku tidak memiliki sumber pendapatan lain dan jika bukan darinya aku tidak tau apa yang akan terjadi. Aku pastinya tidak akan dapat meninggalkan Gaden, tapi itu akan menjadi cukup sulit. Aku sekali lagi bersyukur untuk kemurahan hatinya. Dia tak pernah meminta apapun kembali termasuk pengakuan dan penghargaan, dia hanya mensponsori. Aku beranjali padamu Ani Thupten Chonyid-lak dan berterima kasih banyak padamu untuk dukungan selama tahun-tahun yang sangat sulit. Aku tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan. Aku baik pada saat ini, namun engkau adalah salah satu orang yang menolongku sehingga aku bisa menjadi baik. Terima kasih untuk kepercayaanmu dan dukunganmu padaku.

Aku memiliki banyak kenangan baik bersama Anila dan banyak hal yang indah untuk diucapkan, tapi sampai disini untuk sekarang dan menulis lebih banyak tentannya di buku biografiku. Aku sangat senang tim Bio memiliki akses istimewa bertemu dengannya dan mendapatkan berkah darinya. Dia adalah biksuni sejati. Sangha sebenarnya. Sangat tulus, terpelajar dan sangat rendah hati. Dia mempraktekkan dari hatinya. Aku mengetahui ini dengan pasti. Tim Bio menanyakannya banyak pertanyaan tentang masa kecilku, orangtua angkatku dan beberapa pertanyaan sensitif mengenai penyiksaan yang aku alami. Beberapa orang yang diinterview menolak untuk berbicara karena alasan-alasan tertentu. Anila dengan baik berbicara dengan jujur, terbuka dan tanpa niat jahat apapun. Aku berterima kasih pada Anila yang jujur dan terus terang. Dia sangat berkontribusi untuk susunan dan isi buku Bioku. Aku bersyukur kembali untuk ini. Sikap terus terang Anila akan memberikan manfaat besar karena banyak yang tertarik dengan kehidupanku.

Jean Ai yang bertemu dengan Anila bersama tim Bio, benar-benar menyimpulkan itu dengan baik. Tulisannya ada dibawah post ini. Aku meminta setiap orang untuk melihat semua video dan apa yang Anila katakan. Kau akan mengerti lebih baik tentang masa kecilku dan juga akan melihat keanggunan dari seorang Anila

Terima kasih banyak untuk Anila, Jean Ai, Tim Bio, editor video, sponsor dan semua yang terlibat. Aku sangat bahagia melihat video ini yang diambil pada Oktober 2010 tahun lalu. Kami memiliki banyak video dan wawancara. Terima kasih.

Tsem Rinpoche

Ani-la Thupten Chonyid Pt1 of 5

Atau lihat video di server di : http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart1-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt2 of 5

Atau lihat video di server di : http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart2-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt3 of 5

Atau lihat video di server di : http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart3-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt4 of 5

Atau lihat video di server di : http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart4-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt5 of 5

Atau lihat video di server di : http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart5-5.flv

Transkrip Interview

Transkrip Bahasa Inggris : Transkrip Lengkap

Transkrip Bahasa Mandarin : Transkrip Lengkap

Ditulis oleh Khong Jean Ai, anggota dari Tim Bio Tsem Rinpoche

Selama 10 tahun His Eminence Tsem Rinpoche tinggal di New Jersey, hidupnya penuh kesulitan. Dibesarkan oleh orangtua angkat yang sangat menentang keterlibatannya dalam Dharma, Rinpoche menerima siksaan fisik dan mental selama bertahun-tahun. Kesalahan kecil akan membuat Rinpoche mendapatkan pemukulan dan omelan berjam-jam bahkan lebih banyak dari biasanya.

Satu-satunya kelegaan/jeda yang beliau terima dari hidupnya yang sulit adalah kunjungannya ke vihara setempat dan pertemanan dengan orang-orang di vihara, termasuk dengan seorang wanita kebangsaan Kalmyk Mongolia bernama Carmen Kichikov.

Carmen adalah tetangga Rinpoche, dan murid dekat Kensur Lobsang Tharchin Rinpoche yang berbagi kebahagiaan Dharma pada Rinpoche. Kenyataannya, kasih sayang Carmen begitu besar hingga pada akhirnya Carmen mendapatkan sumpah penahbisannya,

Dia adalah seseorang yang duduk bersama dengan Rinpoche pada sesi pengajaran oleh Kensur Lobsang Tharchin Rinpoche, dan sebagai pemilik perpustakaan Dharma yang besar, Anila (atau yang sebelumnya dipanggil Carmen) akan menghabiskan berjam-jam berbicara dengan Rinpoche dan menjelaskan semua padanya. Karena dia tinggal hanya berjarak 5 menit dari tempat tinggal Rinpoche, Rinpoche sering mengunjunginya sebisa mungkin, meminjam banyak buku dari perpustakaannya dan meneleponnya berjam-jam untuk Dharma.

Meskipun orangtua angkat Rinpoche menolak Carmen dan dia seringkali dikucilkan oleh masyarakat karena caranya yang tak biasa, Carmen tidak pernah merendahkan anak muda dan menghabiskan banyak waktu dengan “teman kecilnya” menjawab berbagai pertanyaan Dharma. Sampai hari ini, apa yang Rinpoche capai adalah karena dukungan Dharma dari beliau untuk teman Dharmanya yang tersayang ini.

Kemudian, saat Rinpoche sendirian dan kelaparan di biara Gaden, atas permintaan Kensur Rinpoche, Anila mulai mengirimkan Tsem Rinpoche US$50 per bulan, untuk mensponsori kebutuhan belajar dan tempat tinggalnya. Ini adalah yang pertama dan satu-satunya sokongan yang Rinpoche terima pada saat itu, yang membuat sebuah kemajuan untuk seorang biksu muda. Rinpoche hanya memiliki kenangan kebaikan tentang Carmen, dan berkata dia selamanya akan bersyukur untuk biksuni yang rendah hati dan baik hati ini.

Ketika Tim Bio Tsem Rinpoche berkunjung ke USA untuk mendokumentasikan kehidupan awal Rinpoche, Rinpoche memaksa bahwa Anila harus diwawancarai sebagai bagian penting dari masa kecilnya. Itu adalah beberapa hasil wawancara yang Tim Bio berikan disini untuk Anda.

Dear friends,

I was instructed by one of my teachers years ago to do a book on my biography. I didn’t want to do it. I thought that my life was nothing exceptional at all. My teacher insisted. I couldn’t say “no” anymore although I am kind of embarrassed to talk about my life. Hence the Bio Team was born. Apart from talking about myself, I thought it would be good for my students to research my background, meet the people I grew up with, see where I lived, my school, friends, environment and all. It would make the future biographical book much more interesting and real I thought. So many of my wonderful hardworking people travelled to Tibet, Xianjiang, Taiwan, India, and USA to research my background. To interview people who knew me or I grew up with. Some of these people I have not seen in over 30 years!!! They met up with my childhood friends, relatives, neighbours and others. They have compiled so much information and lots of video footage of the interviews which we will release in time to share. But here’s one for a start. An interview with a life long friend of mine whose name is Anila Thupten Chonyid. I met her for the first time when I was 7 years old. Now I am 46…

Ani Thupten is a Kalmyk lady who lived just down the street from me in Howell, New Jersey, USA. She is soft, hardworking, cracked strange but funny jokes, very sincere, has great knowledge of dharma, reads alot, and never harms anyone. She told me once, she had too much fun in the sixties and she found her life empty eventually. She said when she came across Dharma it just blew her mind away how true, logical and powerful it is. She embraced Dharma and never looked back.

Ani Thupten had a library of many Dharma books of over a hundred that time back in the 70′s… it was very hard to get Dharma books but she had them. It was a treasure trove for me… I was so excited to see her books and huge altar. I used borrow her books and voraciously read them. Anything I didn’t understand, I would call her on the phone almost daily or ride my bike to her house to see her… and just bombard her with Dharma questions. She patiently answered all of them day after day, month after month, year after year never once losing patience… ever… I LEARNED SO MUCH FROM HER… in my very young days she imparted so much Dharma knowledge to me… I was always excited to speak to her or see her because we always talked about Dharma. I AM FOREVER GRATEFUL TO HER FOR THIS… I thank her so much for her knowledge, patience and generosity in my formative years. She made a very strong impact on me. Her devotion to our mutual Guru, Kensur Lobsang Tharchin Rinpoche was so pure and real… I loved that so much… Whenever she spoke about our guru even 30-40 years back, her guru devotion was so strong as it is now. It impacted me strongly that we should respect our guru very much. She would lighten up, be very animated and very passionate when she spoke about the Dharma. We spent hundreds of hours talking about the Dharma together. I loved every minute of it. I miss it very much too even till now and think of those times with so much fondness… It is one childhood memory that is so strongly embedded in my mind and I cannot overstate how strongly my time with her affected me in such a positive way. She has a daughter and I use to think how lucky the daughter was to have such a liberal and spiritual mom like Anila unlike what I was going through with my mom just up the street.

When I was selected to join the higher tantra initiation by Kensur Lobsang Tharchin after waiting for years, I was overwhelmed and excited was an understatement. During initiation I sat right next to Anila in the front row about 8 feet away from Kensur Lobsang Tharchin… bliss. My great guru in front of me, my best Dharma friend sitting on my right. I received my first initiation and Anila was right next to me… Prior to the initiation, she said let’s put our cushions in the front row so we don’t miss a thing… so Anila and I went in much earlier and placed our cushions… hehehe… fun and good idea…

When I ran away to California, I use to write her and call her in New Jersey. Calling that time was very expensive. When I became a monk, she sent a congratulations letter to me. Later while I was in Gaden, she also took the vows of a nun… I was so happy for her. Kensur Lobsang Tharchin arranged everything for Anila to take ordination… When I went to Gaden in 1988, I was very young and alone. I didn’t speak the language and was in a huge culture shock. I had very little money. I wrote to friends, relatives and my step-parents for help. One or two sent me one off donations but mostly not. I was literally starving in Gaden, but most monks were very poor. I was not the only one… I wrote a letter to Kensur Lobsang Tharchin about my situation and he asked Anila to sponsor me! Anila for the next few years sent US$50 every month without fail to support me in Gaden. That amount was more than enough and I can buy pots, pans, small single stove, vegetables, oils, flour, dried beans, lentils, salt and even fresh vegetables. My health, diet and body improved significantly because of this… this is one of the reasons I help the homeless these days… For special holidays, Anila would send me extra money to buy robes or other extra needed necessities. For years, the only support I had was from Anila. Amazing. I had no other source of income and if it was not for her, I don’t know what would have happened. I wouldn’t have left Gaden for sure, but it would have been quite tough. I am again grateful for her generosity. She never asked for anything back, nor recognition nor acknowledgement, she just sponsored. I fold my hands to you Ani Thupten Chonyid-lak and thank you so much for your support during those very lean years. I will never forget what you have done. I am ok now, but you were one of the instrumental people who helped me to become ok. Thank you for believing in me and supporting me with more than just words.

I have many fond memories of Anila and many wonderful things to say, but will leave it for now and write more about her in my bio book. I am so glad the Bio Team had the privilege to meet her and get her blessings. She is a real nun. A real sangha. Very sincere, very learned and very humble. She practices from her heart. I know this for sure. The Bio Team asked her many questions about my childhood, my step-parents, and sensitive questions about the abuse I was going through. Some of the people interviewed were hesitant to speak up for many reasons… Anila so kindly spoke the truth, openly and without any malice. I thank Anila for being so honest and candid. She helped the formation of my Bio book so much. I am again grateful for this. Anila’s open candidness will serve the greater good because so many are now interested in how I grew up…

Jean Ai who met Anila along with the Bio Team, really summed it up well. Her write-up is below and on this post… I ask everyone to watch all the videos and what Anila has to say. You will understand my childhood better and also you will see what a beautiful person Anila is.

Thank you so much to Anila, Jean Ai, Bio Team, Video editors, sponsors and all involved. I am so happy to see this video taken October of last year 2010… We have many more videos and interviews… thanks…

Tsem Rinpoche

Ani-la Thupten Chonyid Pt1 of 5

Or view the video on the server at: http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart1-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt2 of 5

Or view the video on the server at: http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart2-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt3 of 5

Or view the video on the server at: http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart3-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt4 of 5

Or view the video on the server at: http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart4-5.flv

Ani-la Thupten Chonyid Pt5 of 5

Or view the video on the server at: http://video.tsemtulku.com/videos/Ani-laThuptenChonyidPart5-5.flv

Interview Transcripts For Viewing

English Transcripts: Complete Transcript

Chinese Transcripts: Complete Transcript

Written by Khong Jean Ai, a member of the Tsem Rinpoche Bio Team

For the 10 years that His Eminence Tsem Rinpoche lived in New Jersey, life was incredibly difficult. Raised by stepparents who were strongly against his inclination for the Dharma, Rinpoche faced both physical and psychological abuse for many years. The slightest mistake would earn the young Rinpoche hours upon hours of shouting and beatings, and even more chores than usual.

The only real respite that he received from his life of hardship were his visits to the local temples and friendships with people at the temple, including a young Kalmyk Mongolian lady called Carmen Kichikov.

Carmen was Rinpoche’s neighbour, and a fellow student of Kensur Lobsang Tharchin Rinpoche who shared Rinpoche’s love of the Dharma. In fact, so great was her love that Carmen eventually received ordination vows herself, donned nun robes and formally became known as Anila Thupten Chonyid.

As someone who Rinpoche would sit with at teachings from Kensur Lobsang Tharchin Rinpoche, and as the owner of a huge Dharma library, Anila (or Carmen as she was known then) would spend hours talking with Rinpoche and explaining things to him. Because she lived only five minutes down the road from him, Rinpoche would often visit her whenever he could, borrow many books from her library and talk to her on the phone for hours about Dharma.

Though his stepparents disapproved of Carmen and though she herself was often ostracised by the community for her unusual ways, Carmen never turned the young boy away and spent much time with this “little friend” answering his many Dharma questions. To this day, Rinpoche attributes much of his early learning and support for the Dharma to this lovely Dharma friend.

Later, when Rinpoche was alone and starving in Gaden Monastery, at the request of Kensur Rinpoche, Anila began sending Tsem Rinpoche US$50 per month, to sponsor his study and living expenses. This was the first and only sponsorship he received at the time, which made a monumental difference to the young monk. Rinpoche has only fond memories of Carmen, and says he will be forever grateful to this gentle, humble nun.

When the Tsem Rinpoche Bio Team travelled to the United States to document Rinpoche’s early life, Rinpoche insisted that Anila be interviewed as an integral part of his childhood. It is these interviews that the Bio Team brings to you here.

Read more...
 
Ini Aku Di Hollywood Pada Tahun 80-an PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Friday, 25 July 2014 03:57

Ini adalah fotoku yang diambil pada tahun 80-an di Hollywood, California tempat aku tinggal. Aku bahkan tidak mengingat siapa yang mengambil foto ini.

Orangtua angkatku tidak mengizinkanku melakukan Dharma atau terlibat dengan vihara. Aku lari dari rumah sebanyak 3 kali dan untuk kali ketiga aku sukses. Orangtuaku tidak berusaha untuk mendapatkanku kembali. Aku meninggalkan New Jersey pada usia 16 tahun dan berkeliling US ke California atas kemauanku sendiri. Aku mempunyai US$50 dan membeli apel murah untuk dimakan dan tidur di jalanan. Aku sangat kedinginan pada malam hari. Aku ingin pergi ke Hawaii, tapi tidak punya uang sehingga hanya tinggal di Hollywood, bekerja dan tinggal di vihara bernama Thubten Dhargye Ling atau TDL. Vihara itu dikepalai oleh Guru hebat bernama Geshe Tsultrim Gyeltsen. Aku sangat menyayanginya. Beliau baru saja wafat. Disanalah aku bertemu Kyabje Zong Rinpoche yang telah mengubah seluruh hidupku. Beliau mengenaliku sebagai seorang Tulku.

Aku telah melakukan beberapa bagian tambahan untuk Paramount Pictures dan pekerjaan sulih suara dan diminta melakukan modeling. Namun aku ingin berada di Vihara (Thubten Dhargye Ling). Aku menginginkan Dharma.

Aku meminta Zong Rinpoche untuk meramalku ketika di Thubten Dhargye Ling. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan untuk memberi manfaat untuk Dharma. Menjadi aktor atau biksu. berpikir ingin sungguh-sungguh memberi manfaat untuk Dharma pada waktu itu. Aku bertanya dapatkah aku menjadi seorang aktor atau penyanyi sehingga aku bisa mendanai Vihara ataukah aku harus menjadi seorang biksu? Zong Rinpoche melakukan peramalan dengan dadu (sangat kuat) dan mengatakan apabila aku melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan kamera maka aku akan sukses, namun akan lebih bermanfaat bila aku menjadi seorang biksu. Jadi begitulah lalu aku berjanji pada Kyabje Zong Rinpoche bahwa aku akan menjadi seorang biksu. Lalu Zong Rinpoche memotong bagian rambutku dan menerima janjiku.

Aneh sekali karena pada saat itu aku mendapat beberapa kali panggilan casting dengan Paramount Pictures setelahnya. Sekretaris di Thubten Dhargye Ling sering kehilangan kontak. Agen casting saat itu adalah Joyce dan dia menelepon sebanyak 3 kali dan meninggalkan pesan suara di mesin penjawab di Vihara. Dan sebanyak 3 kali sekretaris vihara mendengar pesan itu, menekan tombol yang salah dan terhapus dan mengatakan maaf padaku dan aku hanya mengucapkan ok dan kehilangan kontak.

Beberapa tahun kemudian, aku melakukan sulih suara untuk uang tambahan dan bertemu Joyce. Dia adalah seorang yang menarik, ramah, seorang wanita kulit hiram yang berpakaian baik. Dia mengatakan padaku, om my god, kau adalah anak yang coba kuhubungi untuk membantu beberapa adegan untuk film Golden Child bersama Eddie Murphy. Mengapa kau tak balik meneleponku ? Aku berkata ada orang yang bertanggung jawab untuk telepon di tempat aku tinggal. Joyce mengeluhkan dia mencoba menghubungiku beberapa kali. Dia mengatakan kepadaku ingin bertemu denganku. Wow! Joyce sangat baik. Semoga aku dapat bertemu kembali dengannya dan mengatakan Hai. Aku lupa nama belakangnya.

Aku berjalan-jalan di Sunset Blvd atau Melrose Blvd dan dihentikan dan diberikan kartu-kartu nama untuk melakukan pekerjaan modeling yang beberapa tawarannya sangat aneh namun cukup menarik kalau diingat kembali. Aku ragu bisa mendapatkan pekerjaan modeling saat ini bahkan jika aku berkemah di Sunset Blvd, hehehehehe.

This is a picture of me taken in the 80′s in Hollywood, California where I lived. I don’t even remember who took the photo now.

My step-parents didn’t allow me to do Dharma or get involved with the centre. I ran away like three times and on the third time I was successful. My step-parents didn’t try to get me back anymore. I left New Jersey at 16 and hitchiked across the United States on my own to California. I had like US$50 and bought cheap apples to eat on the way and slept outside. It was really cold at night. I wanted to go to Hawaii, but didn’t have money in California so just stayed in Hollywood, worked and lived in the dharma centre called Thubten Dhargye Ling or TDL. It was headed by a great master named Geshe Tsultrim Gyeltsen. I loved him very much. He passed away recently. That is where I met Kyabje Zong Rinpoche who changed my whole life. He acknowledged I am a Tulku.

Had done some extras parts for Paramount Pictures and voiceover work and asked to do light modelling. But I was very into the Dharma Centre (Thubten Dhargye Ling) and wanted to be there. I wanted Dharma.

I asked Zong Rinpoche for a divination once in Thubten Dhargye Ling. I didn’t know which one I should do to benefit the Dharma. To be an actor/singer or monk. I just wanted to really benefit the dharma I thought at that time. I asked can I be a actor or singer so I can support the monasteries or should I become a monk? Zong Rinpoche did divination with dice (powerful) and said if I do anything in front of the camera I will make it big and successful, but it would be more beneficial if I become a monk. So there and then I swore to Kyabje Zong Rinpoche that I would be a monk. So he cut a part of my hair and accepted my promise.

It’s weird because I got calls from casting agent with Paramount Pictures a few times after that. The secretary of Thubten Dhargye Ling kept losing the contacts. The casting agent was Joyce and she called three times and left voice messages on the centre’s answering machine. And three times the secretary of the centre heard the message, pressed the wrong button and erased and said to me ‘SORRY’ and I was like ok…..and lost the contact.

A few years later, I did a voiceover for extra money and met Joyce. She was an attractive, freindly, well dressed Black lady. She said to me, oh my god, you are the kid I was trying to contact to help with the sets for Golden Child movie with Eddie Murphy. Why didn’t you return my calls!!?? I was like, well there’s this person in charge of the phones where I stayed and well….Joyce was like I tried so many times to get you. I heard about you and wanted to meet you she said to me….wow! Joyce was very nice though…wish I can meet up with her again and say hi. I forgot her last name though.

I’d be walking down Sunset Blvd or Melrose Blvd and get stopped and be given cards to do all types of modelling jobs of which some were very weird but interesting now that I look back. I doubt I would get any modelling jobs now even if I camped out on Sunset, heheeheheh.

Read more...
 
Kandang Sapi itu Adalah Rumahku Di Gaden PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Friday, 25 July 2014 02:39

Ketika aku tiba di Gaden aku langsung menuju Zong Ladrang (rumah). Ladrang adalah kata Tibetan untuk rumah Lama.

Aku meninggalkan USA untuk terakhir kalinya pada Oktober 1987. Ditahbiskan oleh HH Dalai Lama pada Desember 1987. Lalu pergi ke Nepal dan tiba di Gaden, India selatan pada Januari 1988.

Kyabje Zong Rinpoche menginstruksikan aku untuk tinggal di Ladrangnya pada pertemuan terakhirku dengannya sebelum ia wafat. Aku mengikuti instruksinya. Zong Ladrang dijalankan oleh manager Zong Rinpoche. Zong Rinpoche wafat dan kami tidak sabar menunggu inkarnasi selanjutnya.

When I arrived in Gaden I went straight to Zong Ladrang (house). Ladrang is the Tibetan word for the Lama’s household.

I left USA for the last time in October 1987. Was ordained by HH Dalai Lama in December 1987. Then went to Nepal and arrived in Gaden, South India in January 1988.

Kyabje Zong Rinpoche instructed me to stay in his Ladrang on my last meeting with him before he passed away. So I followed his instructions. Zong Ladrang was run my Zong Rinpoche’s manager. Zong Rinpoche had passed away and we were eagerly awaiting his incarnation.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 6 of 23

Visitors

We have 44 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013