Alasan-alasanku Membuat Sebuah Film PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Saturday, 05 July 2014 02:52

Halo teman-teman,

Beberapa tahun lalu aku di mobil bersama dengan salah satu guruku. Dia mengatakan aku harus menulis sebuah buku mengenai kisah hidupku. Aku menolak dengan sopan. Aku berpikir tidak banyak yang bisa kubagikan tentang hidupku dan itu tidak menarik bagi siapapun. Dia memaksa. Dia mengatakan mungkin bagiku, hidupku tidak terlihat menarik, namun berdeda dengan orang lain yang mungkin tertarik. Itu akan menginspirasi yang lainnya. Aku ternganga keheranan berpikir aku dapat menginspirasi yang lain ? Sungguh dari lubuk hatiku yang dalam aku tidak pernah berpikir dapat menginspirasi yang lain ataupun mempunyai aspirasi untuk melakukan demikian. Namun guruku terus memaksaku. Dia berkata aku akan menginspirasi yang lain dan memberikan manfaat bagi perjalanan hidup mereka dan aku harus menulis buku. Dia yakin itu dapat menolong dalam perjuangan hidup mereka.

Aku berpikir tentang semua hal yang terjadi padaku yang baik maupun sangat menyakitkan dan aku tidak tau apakah aku benar-benar ingin membicarakannya. Aku bukannya malu, ada hal yang lain, untuk apa ? Apa yang terjadi padaku terjadi pada banyak orang, namun aku menduga aku percaya pada kebijaksanaan guruku yang tak pernah padam, untuk menulis dan berbagi kebijaksanaan dari guruku, untuk menulis dan berbagi apa yang terjadi padaku dan perjuangan hidupku untuk melakukan apa yang kuinginkan yaitu Dharma atau menggapai impianku. Aku menduga ini cerita ini tidak terlalu banyak kisah aku berjuang untuk melakukan Dharma, namun aku berjuang keras untuk melakukan apa yang kuinginkan. Aku berjanji pada guruku aku akan menulis dan ini sudah lebih dari 10 tahun ke belakang.

Timku sedang mengerjakan bukuku. Mereka berkunjung ke US, Taiwan, Tibet, Xianjiang untuk meneliti kehidupanku, beberapa lokasi penting seperti Howell, Turkey Swamp, dan lainnya. Sebuah buku dalam bentuk yang lebih singkat (The Promise) telah dirilis dan banyak yang menyukainya, namun buku yang lengkap yang sebenarnya belum selesai.

Dear friends,

Many years ago I was in the car with one of my teachers. He told me I should write a book about my life story. I politely declined. I thought there is nothing much I would like to share about my life nor would it be of interest to anyone. He insisted. He talked for quite a while telling me that I may not be interested or find my life interesting, but others may. It would inspire others. I was flabbergasted thinking I CAN INSPIRE OTHERS???? I really from the depths of my heart never thought I can inspire others nor have the aspirations to do so. But my teacher insisted strongly. He said I would inspire others therefore benefit them on their life’s journeys and I must write a book. He meant it would help in their life’s struggles..

I thought about all the things that happened to me both good and very painful and I didn’t know if I really wanted to talk about it. I wasn’t really ashamed, it was more, what for? What happened to me happens to alot of people…but I guess I trusted the unfailing wisdom of my teacher..to write and share what happened to me and my struggle throughout my life to do what I wanted to do which is Dharma or to fulfill a dream..I guess it’s a story of not so much I struggled to do dharma, but I struggled immensely to do what I wanted… I promised my teacher I would write and this was over ten years back.

Well my team of people were working on my book. They have travelled to US, Taiwan, Tibet, Xianjiang to research my life, some important locations are like Howell, Turkey Swamp etc…A shorter form of the book (The Promise) has already come out and many like it, but the actual full length book is not complete yet.

Read more...
 
Kyabje Zong Rinpoche Memotong Rambutku PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Saturday, 05 July 2014 02:22

Foto ini diambil di Vihara Thubten Dhargye Ling di Los Angeles pada tahun 1984. Aku berjanji untuk ditahbiskan dan pergi ke Biara Gaden. HH Zong Rinpoche memberitahuku untuk tinggal di rumahnya (Zong Ladrang) di Gaden. Aku menyetujui semuanya. HH Zong Rinpoche memotong seuntai rambutku dan memberkahiku yang menandakan beliau menerimaku.

Aku masih tergetar ketika melihat foto ini.

Sejak HH Zong Rinpoche wafat, aku merasa kesepian dan merindukan-Nya hingga hari ini. Tiada seharipun berlalu tanpa melafalkan mantra nama-Nya atau berdoa untuk bisa bersamanya kembali. Aku belum pernah bertemu seorang Lama seperti-Nya.

Ketika pertama aku mendenger nama-Nya, dengan segera batinku dipenuhi dengan keimanan yang kuat, kebahagiaan dan kegembiraan yang mendalam. Aku percaya beliau adalah Heruka dan keimananku tidak pernah goyah. Beliau adalah Heruka.

Bertemu Zong Rinpoche adalah salah satu dari 5 peristiwa besar dalam hidupku yang sia-sia sepanjang waktu.

Aku menyayangimu Zong Rinpoche dan aku akan selalu berbakti padamu. Engkau adalah pelindung bagiku. Apapun yang telah engkau wariskan kepadaku dari batinmu yang tercerahkan, akan kutegakkan hingga akhir hayatku.

Tsem Rinpoche

This photo was taken at Thubten Dhargye Ling centre in Los Angeles in 1984. I had promised to take ordination and go to Gaden Monastery. HH Zong Rinpoche told me to live in his house(Zong Ladrang) in Gaden. I agreed to everything. HH Zong Rinpoche cutting a strand of my hair and blessing me as indication of His acceptance.

I am still moved when I see this.

Since HH Zong Rinpoche’s passing, I have felt lonely and missed Him till today. Not a day goes by I do not chant His name mantra or wish to be in His presence again. I have not met such a lama.

When I first heard His name, immediately great faith, joy and excitement arose in my mind. I believed He is Heruka and that faith has never wavered. He is Heruka.

Meeting Zong Rinpoche was one of the top 5 events of my life which has been useless most of the time.

I love you Zong Rinpoche and I will always be devoted to you. You are my refuge. Whatever you have passed to me from your Enlightened mind, I will uphold till my death.

Tsem Rinpoche

Read more...
 
Kisah Singkat PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Wednesday, 02 July 2014 05:41

[Ditulis oleh Henry Ooi, Asisten dari H.E. Tsem Rinpoche]

[Written By Henry Ooi, Liaison to H.E. Tsem Rinpoche]

Rinpoche lahir di Taiwan saat ibunya (seorang ratu Mongolia) dan ayahnya (seorang lelaki Tibet yang telah menikah) menjalin sebuah hubungan. Karena kelahirannya haram, dan ibu Rinpoche adalah seorang anggota keluarga kerajaan, dia tidak dapat menahan reputasi buruk terkait dengan kelahiran haram sehingga dia memberikan anaknya untuk diadopsi. Rinpoche menghabiskan beberapa tahun yang sulit di Taiwan semasa balita, sebelum ia diadopsi oleh keluarga Kalmyk yang tinggal di New Jersey, USA.

Ayah angkat Rinpoche di New Jersey bernama Boris, dan ibu angkatnya bernama Dana. Sewaktu kecil, Rinpche selalu melarikan diri ke vihara sekitar untuk berbicara pada para biksu, melafalkan mantra-mantra, dan bertanya. Orangtua Rinpoche tidak senang dengan keinginan kuat Rinpoche mempelajari Dharma dan Buddhisme. Mereka ingin anaknya tumbuh, pergi berkuliah, berkeluarga dan meneruskan garis keluarga, mendapatkan pekerjaan yang baik, dan sebagainya namun Rinpoche tidak ingin melakukannya.

Setelah beberapa tahun penyiksaan fisik dan mental dari orangtuanya yang mencoba untuk menghentikannya melakukan Dharma, Rinpoche melarikan diri dari rumahnya ke Los Angeles yang merupakan sisi lainnya dari Amerika. Rinpoche berusia 16 tahun pada waktu itu. Disana, Rinpoche bergabung di Dharma Center bernama Thubten Dhargye Ling (TDL) yang dibimbing oleh Geshe Tsultrim Gyeltsen yang agung.

Rinpoche tinggal di Dharma center pada waktu itu dan mengambil 3 pekerjaan sekaligus untuk menghidupi dirinya sendiri DAN melayani gutunya, menghadiri kelas-kelas dan melakukan puja! Dapatkah anda bayangkan seseorang yang berusia 16/17 tahun melakukan semua ini ?

Di TDL lah Rinpoche bertemu HH Zong Rinpoche, yang berkunjung ke Amerika untuk memberika ajaran dan inisiasi. Rinpoche dan Zong Rinpoche menjadi sangat dekat, dan Rinpoche melayani Zong Rinpoche sangat dekat. Suatu hari, Rinpoche bertanya pada Zong Rinpoche apakah ia seharusnya menjadi seorang biksu atau aktor ? Zong Rinpoche mengatakan keduanya akan sukses, tapi jika Tsem Rinpoche menjadi biksu, ia akan memberi manfaat pada banyak orang. Oleh karena itu Rinpoche berjanji kepada Zong Rinpoche untuk menjadi seorang biksu dan tak lama kemudian, Zong Rinpoche wafat.

Setelah Zong Rinpoche wafat, Tsem Rinpoche pergi ke India untuk memenuhi janjinya kepada guru akarnya dan menjadi seorang biksu. Rinpoche mendapatkan sumpah penahbisannya dari HH Dalai Lama, dan bergabung di Biara Gaden di India Selatan.

Ini hanya merupakan cerita pendek, rangkuman dari cerita kehidupan Rinpoche! Jika anda ingin mengetahui lebih banyak mengenai informasi dan foto-foto Rinpoche, silahkan dicek link berikut : http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/me/my-short-bio-in-pictures1.html

Henry Ooi

Asisten dari H.E. Tsem Rinpoche

Direktur Kechara Paradise Retail Outlets

Rinpoche was born in Taiwan when his mother (a Mongolian princess) and his father (an already-married Tibetan man) had an affair. Because his birth was illegitimate, and Rinpoche’s mother was a member of the royal family, she could not bear the reputation associated with an illegitimate birth so she gave up her child for adoption. Rinpoche spent a few difficult years in Taiwan as a toddler, before he was adopted to a Kalmyk family who lives in New Jersey, USA.

Rinpoche’s stepfather in New Jersey was called Boris, and his stepmother’s name was Dana. As a child, Rinpoche was always running away to his local temple to talk to the monks, recite mantras, and ask questions. Rinpoche’s stepparents were not happy about Rinpoche’s strong desire to do Dharma and to learn more about Buddhism – they wanted their son to grow up, go to college, have a family and continue the family line, get a good job, etc but Rinpoche did not want that for himself.

After many years of physical and emotional abuse from his parents who are trying to stop him from doing Dharma, Rinpoche ran away from his home to go to Los Angeles which is on the other side of America. Rinpoche was 16 years old at the time. There, he joined a Dharma centre call Thubten Dhargye Ling (TDL) which was being guided by the great Geshe Tsultrim Gyeltsen.

Rinpoche lived in the Dharma centre at this time, and worked three jobs to support himself… AND serve his teacher, attended classes and did pujas! Can you imagine a 16/17 year old doing all of this?!

It was at TDL that Rinpoche meet HH Zong Rinpoche, who had travelled to America to give teachings and initiations. Rinpoche and Zong Rinpoche became very close, and Rinpoche would serve Zong Rinpoche very closely. One day, Rinpoche asked Zong Rinpoche if he should be a monk or an actor – Zong Rinpoche said he would be equally successful as both, but if Tsem Rinpoche became a monk he would benefit much more people. So Rinpoche made a promise to Zong Rinpoche to become a monk and a little while later, Zong Rinpoche passed away.

After Zong Rinpoche passed away, Tsem Rinpoche travelled to India to keep his promise to his root guru and become a monk. Rinpoche took his ordination vows from HH Dalai Lama, and joined Gaden Monastery in South India.

This is just a really short, summarised version of Rinpoche’s lifestory! If you want more information or photographs, you can check out this link: http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/me/my-short-bio-in-pictures1.html

Henry Ooi

Liaison to H.E. Tsem Rinpoche

Director of Kechara Paradise Retail Outlets

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 7 of 23

Visitors

We have 43 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013