Aku Meminta Penahbisan Pada 1987 PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Wednesday, 02 July 2014 04:40

Aku sedang mengecek Facebook pada suatu hari dan melihat sesuatu yang dishare oleh Susie Gugajew-Carton. Terima kasih banyak Susie! Aku tidak terlalu memperhatikan pada awalnya karena deskripsi video ini sangat singkat sehingga aku tidak memahami pada awalnya. Namun ada yang lain di Facebook yang menarik bagiku, sehingga aku melihat video itu. Mengejutkan, video klip itu adalah tentangku bertemu dengan Yang Mulia Dalai Lama pada 1987! Aku bahkan tidak mengetahui video tersebut ada, sehingga aku sangat senang mengetahuinya. Itu membangkitkan begitu banyak kenangan yang indah dan suci. Sebuah kejutan yang bagus!

Video itu diambil di Washington, New Jersey. Washington berada di sebelah utara New Jersey dan merupakan bagian ujung dari pegunungan Appalachian. Tempat yang indah. Geshe Wangyal seorang asli Mongol mendirikan vihara yang menakjubkan di salah satu gunung disana dan mengundang Yang Mulia untuk berkunjung, memberi ceramah Dharma dan pemberkahan. Semua Kalmuck Mongol (kira-kira 1000 orang) menyewa bus dari 3 area (New Jersey, New York dan Philadephia) untuk beraudiensi dengan Yang Mulia Dalai Lama. Aku tinggal di Los Angeles (Vihara Geshe Tsultrim Gyeltsen) waktu itu. Aku terbang dari Los Angeles ke New Jersey untuk menghadiri pengajarannya. Usai pengajaran, aku memiliki keberuntungan yang luar biasa untuk bertemu dan menerima berkah dari Yang Mulia! Bahkan menulis tentang ini membuatku merinding. Ketika tiba giliranku, aku langsung memohon kepada Yang Mulia agar ditahbiskan menjadi seorang biksu dan berharap dapat pergi ke India dan menetap disana. Yang Mulia membalas tidak masalah, datanglah ke India dan Dia akan melakukannya! Aku sangat antusias, bahagia dan menahan air mataku. Paman, sepupu, orangtua angkatku, keluarga dan teman-teman juga ada disana. Orangtua angkatku tidak senang sama sekali, namun aku harus melakukannya karena itu adalah panggilan dalam diriku. Aku akan tetap melakukkannya apapun rintangannya.

Aku pergi ke India pada Oktober 1987 dan tinggal di Delhi. Aku pergi ke Dharamsala sekitar akhir November dan tinggal di Rumah Puja Gaden Shartse selama sebulan. Aku menyukainya. Aku melakukan puja dengan para biksu, melakukan sadhana dan menunggu penahbisanku. Dharamsala ditempuh selama 12 jam dengan bus dari Delhi dan merupakan tempat tinggal Yang Mulia. Pada Desember 1987 aku memiliki keberuntungan bersama dengan 2 anak laki-laki lainnya menghabiskan waktu 3 jam bersama Yang Mulia dan Sangha senior seperti His Eminence Denma Locho Rinpoche dan menerima sumpah penahbisanku. Yang Mulia memberiku sumpah, memotong rambutku dan menyentuh jubahku untuk diberkahi. Bayangkan Yang Mulia melakukan itu untukku! Aku sangat senang. Akhirnya aku menjadi biksu setelah bertahun-tahun menginginkannya sejak masih kecil. Aku berusia 22 tahun dan sudah ditahbiskan! Merupakan sebuah mimpi seumur hidup yang menjadi kenyataan dan Yang Mulia sendiri yang menahbiskanku! Aku diberikan nama penahbisan Tenzin Zopa oleh yang Mulia.

Aku memberi persembahan buah-buahan dan beberapa barang untuk Yang Mulia dan pergi keluar setelah upacara penahbisan. Tak ada keluarga, atau teman-teman atau siapapun dari USA berada disana untuk memberi selamat padaku. Aku mempunyai 1 orang teman di Dharamsala. Dia bernama Ven. Sharpa Tulku Rinpoche (penerjemah). Dia sendirian berdiri di depan istana Yang Mulia Dalai Lama memberi selamat kepadaku dengan khata setelah prosesi upacara. Hanya dia satu-satunya orang disana yang memberi selamat padaku. Aku menyadari perjalanan spiritualku yang tidak akan mendapatkan dukungan dari siapapun mungkin karena tak ada yang benar-benar memahami. Aku yakin keluargaku memiliki alasan yang bagus mereka tidak berada disana. Aku tak bermaksud menyalahkan, namun itulah yang terjadi.

Aku sangat senang menjadi seorang biksu, tapi sadar aku sendirian. Aku menghormati Sharpa Rinpoche untuk ada disana pada saat itu. Dia adalah teman baikku pada waktu itu. Dia menerangkan padaku banyak sekali budaya Tibet, Biara, orang, etika dan menjawan setiap pertanyaanku dengan sabar. Aku tak punya teman lain di Dharamsala. Aku menghabiskan banyak waktu dengannya di Dharamsala sebelum penahbisanku (Ven Sangtsang Rinpoche membantuku menyiapkan jubahku dan persembahan karena Geshe Tsultrim Gyeltsen menulis surat padanya memintanya untuk menolongku di saat-saat sebelum penahbisan). Sharpa Rinpoche sangat sabar dan berbicara Inggris dengan lugas. Bayangkanlah menjelajahi setengah dunia mengambil langkah terbsesar dalam hidupmu dan ketika kau tiba, hanya ada 1 orang disana yang menemanimu? Kedua biksu lainnya yang ditahbiskan bersamaan denganku, memiliki banyak keluarga dan teman yang menunggu mereka dan memberikan khata, hadiah, dan ucapan selamat. Aku melihatnya. Aku merasa sendirian, tapi tak apa-apa. Aku menerimanya. Aku tau menjadi biksu adalah keputusan yang tepat. Aku tak akan berpaling. Aku meminta Yang Mulia dan Dia menahbiskanku dan itulah tujuannya! Aku mengikuti keputusanku dengan sepenuh hati dan berjuang keras mencapai Dharamsala. Setelah Dharamsala aku harus pergi ke Nepal kemudian ke Gaden! Gaden! Gaden! Gaden! Setiap tulang dalam tubuhku ingin pergi ke Gaden dan tinggal di Biara! Setiap.

Gaden!!! Gaden!!! Gaden!! Every bone in my body wanted to go to Gaden and live in the Monastery!!! Every fibre in me ached to go to Gaden!!!!

Tsem Rinpoche

Ini adalah video menakjubkan yang direkam oleh Ben Moschkin dan dipost ke Facebook adalah satu dari momen paling penting dalam hidupku. Ketika aku diterima menjadi seorang biksu. Aku berterima kasih kepada Ben karena telah merekam video ini dan membaginya karena video ini sangat berarti bagiku. Itu sangat berarti bagi yang lainnya.

I was on Facebook the other day and noticed a sharing by Susie Gugajew-Carton. Thank you so much Susie! I didn’t pay much attention at first as the description of this video was very abbreviated so I didn’t understand at first. But there was nothing else on Facebook that caught my eye, so I thought just take a look at the video. To my surprise, the video clip had me meeting His Holiness the Dalai Lama in 1987!!! I didn’t even know such a video existed, but I am glad it does. It brought back so many holy and beautiful memories. What a nice surprise!!

The video was in Washington, New Jersey. Washington is in the North of New Jersey and it’s the tail end of the Appalachian Mountains. Beautiful place. The Mongolian Geshe Wangyal established a wonderful dharma centre on one of the mountains there and invited His Holiness to visit, give dharma talk and blessings. All the Kalmuck Mongols (1,000 approximately) rented buses from the tri-state area (New Jersey, New York and Philadelphia) to have audience with His Holiness the Dalai Lama. I was living in Los Angeles (Geshe Tsultrim Gyeltsen’s dharma centre) at the time. I flew from Los Angeles to New Jersey to attend the teachings. After the teachings, we had the great fortune to go up and get blessing from His Holiness!!! Even writing about this now gives me goose bumps. Well when my turn came up, I directly requested His Holiness to please ordain me as a monk and wish to go to India permanently. His Holiness replied NO PROBLEM, COME TO INDIA AND HE WILL DO IT!!!! I was so excited, I held my tears and was blissed out…My uncles, cousins, step parents, family and many friends were there also. My step parents were not happy at all, but I had to do what my calling was. And I was going to do it no matter what obstacles.

I left for India in October 1987 and stayed in Delhi. I went to Dharamsala around late November and stayed at the Gaden Shartse Puja House for one month. I loved it. I did pujas with the monks, did my sadhana and waited for my ordination. Dharamsala is 12 hours bus ride from Delhi and is where His Holiness resides. In December 1987 I had the fortune with two other boys to spend three hours with His Holiness and senior sangha like His Eminence Denma Locho Rinpoche and received my ordination vows. His Holiness gave me my vows, cut my hair and touched my robes to bless it. Can you imagine. His Holiness did this for me!! I was so happy. I finally became a monk after years of wanting to be one since very young. I was 22 and just became ordained!!! It was a lifetime’s dream come true to be a monk and His Holiness, the highest of the high ordained me himself!!! I was given the ordination name Tenzin Zopa by His Holiness.

I offered my fruits and various other items to His Holiness then went outside after the ordination ceremony. None of my family, or friends or anyone from the USA was there to greet me. I had made one friend in Dharamsala. His name is Ven. Sharpa Tulku Rinpoche (translator). He alone stood outside the palace of the HH Dalai Lama with a khata to greet and congratulate me after the ceremony. He was the only person there for me. I realized my spiritual journey would not get support from anyone perhaps no one really understood it..I am sure my family had good reasons that they weren’t there..I do not mean to blame, it was just what happened…

I was so happy to be a monk, but realized I am alone. I appreciated Sharpa Rinpoche for being there so much. He was a good friend to me in those days. He explained to me so much of our Tibetan culture, the monasteries, people, etiquette and any questions I had so patiently. I had no one else in Dharamsala…I spent alot of time with him in Dharamsala before my ordination (Ven Sangtsang Rinpoche helped me to prepare my robes and offerings as Geshe Tsultrim Gyeltsen wrote him a letter to help me prior to ordination). Sharpa Rinpoche was very patient and spoke English so eloquently. Can you imagine travelling half way around the world to take the biggest step of your life and when you finish and come out, there was just one person there that you just became friends with? The other two monks who were ordained with me at the same time, had so many family and friends waiting for them with khatas, gifts and congratulations and were outside of the palace waiting…I saw them… It was lonely for me, but it’s ok…I accepted. I knew becoming a monk was the right thing. And I will never turn back.. I requested His Holiness and he ordained me and that is all that matters!! I was going to go all the way with my decision and I fought hard to get to Dharamsala. After Dharamsala I would have to go to Nepal then to Gaden!!!! Gaden!!! Gaden!!! Gaden!! Every bone in my body wanted to go to Gaden and live in the Monastery!!! Every fibre in me ached to go to Gaden!!!!

Tsem Rinpoche

Here’s a spectacular video taken by Ben Moschkin and posted on facebook of one of the MOST IMPORTANT MOMENTS IN MY LIFE…when I requested and was accepted to become a monk. I thank Ben so much for taking this video and posting it as it means a lot to me. It means a lot to many.

Read more...
 
Aku Bergabung Dalam Sebuah Kultus PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Wednesday, 02 July 2014 04:28

Saat pertama kali aku sampai di Gaden pada 1987, aku hanya memiliiki sedikit uang. Aku tidak memiliki dukungan finansial. Aku hanya membutuhkan US$50 sebulan untuk membeli kebutuhan dasar, beberapa makanan dan barang. Biara menyediakan semangkuk nasi dan sesendok besar lentil sekali sehari dan terkadang (1x atau 2x seminggu)roti di pagi hari. Biara sangat miskin banyak biksu-biksu miskin. Banyak biksu mencari donasi untuk mendukung studi mereka.

Aku menyurati orangtua angkatku di New Jersey untuk meminta tolong. Ayahku menyuruhku untuk melepas jubah biksu, kembali ke USA, pergi kuliah, dan hidup seperti yang dia inginkan akan membuatnya bahagia.

Kerabat-kerabatku tidak banyak membalas. Mungkin orangtuaku tidak mengizinkan mereka. Jika aku melakukan apa yang ayah inginkan, dia akan membelikanku sebuah mobil dan membayar biaya kuliahku berikut kebutuhan lainnya. Jika aku tidak memenuhinya maka jangan menyurati mereka ataupun kerabatku lagi untuk meminta uang atau pertolongan. Dia berkata aku membuat mereka malu pada kerabat dan komunitas. Dia berkata aku fanatik. Sebelumnya dia berkata aku bergabung dengan sebuah kultus bersama pemimpin kultus. Dia berkata tidak suka dengan yang kulakukan dan aku berada di jalan yang salah. Dia menginginkanku untuk kembali. Aku tau dia dan ibuku mencintaiku. Namun cinta bukanlah melakukan apa yang mereka mau – tak bermaksud menghina. Aku tidak ingin menentang atau berdebat, mengenai bagaimana bisa menjadi seorang biksu dan mempelajari Dharma itu salah. Aku masih menyurati mereka tentang hal-hal lain, namun balasan surat dari mereka semakin berkurang. Mereka tidak mengakuiku. Mereka mengatakan demikian. Aku sakit hati, tapi itu adalah pilihan mereka. Aku berjuang bertahun-tahun.

Berat badanku turun pesat karena tidak mendapat cukup makanan. Obat-obatan medis saat itu merupakan sesuatu yang sulit. Aku tidak pergi ke dokter gigi atau lainnya selama 1 dekade. Aku tidak mengeluh. Namun itu adalah perjuangan yang keras untuk mengejar tujuan Dharmaku. Namun aku telah membulatkan tekad untuk melanjutkan praktek Dharmaku apapun yang terjadi. Aku tak ingin melukai hati orang tuaku, namun aku mengerti mereka tidak ingin mengerti apa yang kulakukan dan aku tidak ingin hidup seperti yang mereka inginkan karena itu bukan untukku dan aku tidak akan bahagia. Akhirnya seorang biksuni Buddhis di US mengirimku US$50 per bulan selama beberapa tahun. Aku membeli beras, lentil, kacang-kacangan, minyak, tepung, sayur mayurt, panci memasak, deterjen, selimut, dan sebagainya yang aku butuhkan. Berat badanku lebih baik. Dia adalah secercah harapan dan kelangsungan hidup. Aku tidak akan melupakan kebaikan biksuni ini kepadaku ( http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/interview-with-anila-thupten-chonyid.html and http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/me/the-cowshed-that-was-my-home-in-gaden.html ).

Orangtuaku telah wafat sekarang dan kerabatku di US mengatakan mereka bangga padaku. Aku senang aku tidak menyerah. Aku akan melakukannya lagi jika perlu. Tak ada apapun di dunia ini yang akan membuatku berpaling dari Dharma. Tidak akan.

Tsem Rinpoche

When I first arrived in Gaden in 1987, I had very little money. I had no financial support. I needed only US$50 a month to buy basic needs, some foods and items. The monastery provides one bowl of rice and a large spoon of lentils once a day at the time and sometimes (1x or 2x a week) bread in the morning… Monastery was poor too many monks were poor… Many monks seeked sponsorship to supplement their studies.

I wrote to my step-parents in New Jersey to help. My father told me to give up the monk hood, return to USA, go to University, live a life he deemed would make me happy. My relatives didn’t reply much. Perhaps my parents asked them not to… If I did what my dad said, he would buy me a car and pay for University with my other needs. If I did not comply then do not write them nor my relatives begging for money or help again. He said I embarrass them in front of the relatives and community. He said I was fanatical. And earlier he said I joined a cult with cult leaders. He said he did not like what I was doing and I was going the wrong way. He wants me back. He and my mom loved me I know… but love is not doing what they want – no offense. I didn’t want to fight or argue, as how can being a monk or studying Dharma be wrong. I still wrote to him/mom on other things, but their letters became less. They disowned me… They said so. I was very hurt, but that was their choice… I struggled for years.

My weight dropped dramatically as I didn’t get much food anymore. Medical at times was a challenge also. I didn’t go for dentists or anything for nearly a decade. I am not complaining, but it was a huge struggle to pursue my Dharma goals… But I was determined to continue my Dharma no matter what. I didn’t want to ‘hurt’ my parents, but I understood, they didn’t understand what I was doing and I was not going to live their life as I know it would not be for me nor would I be happy. Finally one Buddhist nun in the US sent me US$50 a month a couple of years later… I bought rice, lentils, beans, oil, flour, vegetables, cooking pots, laundry soap, blankets, etc that I needed. My weight was better… She was a ray of hope and survival. I will never forget this nun’s kindness to me ( http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/interview-with-anila-thupten-chonyid.html and http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/me/the-cowshed-that-was-my-home-in-gaden.html ).

My parents have passed away now and my relatives in the States say they are proud of me. But I am glad I didn’t give up. I would do it again if necessary. Nothing in this world will turn me from Dharma ever.

Tsem Rinpoche

Read more...
 
Aku Sangat Menghargai Mama Mooi Lan PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Wednesday, 02 July 2014 04:12

Mama Mooi Lan dan putrinya Jojo mengunjungi Kechara Paradise di outlet Sunway kami bulan lalu. Aku sangat bahagia. Kami menghadiahkan kotak Tsongkapa baru untuknya. Mooi Lan adalah perempuan yang sangat baik dan bersahaja. Ketika aku tiba di Malaysia bertahun-tahun lalu, dia adalah satu dari beberapa orang dalam kelompok dari Cheras yang selalu menolongku.

Dia tak pernah meminta imbalan atau memberikan syarat. Dia tulus dalam hatinya menolongku selama bertahun-tahun. Sungguh-sungguh menolongku dan kegiatanku dalam berbagai cara yang membuatmu dapat berpikir aku adalah putranya. Aku menghargai perempuan ini dari lubuk hati dan aku sangat dekat dengannya. Aku tidak pernah melupakan kebaikannya dan bagaimana ia menolongku pada masa-masa awal. Aku melakukan dengan baik sekarang ini tidak terlepas dari perempuan ini dan grup Cheras yang luar biasa. Masa-masa awal penuh dengan perjuangan dan kesulitan dan grup Cheras ini selalu ada untuk menolong. Kami berhubungan saat ini dan setiap aku memikirkan mereka, aku tak dapat melupakan kebaikan hati mereka. Tak pernah. Aku berterima kasih pada Mooi Lan dan seluruh grup Cheras dari dalam lubuk hatiku.

Kita seharusnya tidak pernah meupakan orang-orang yang telah menolong kita dan tetap setia. Kita bisa menjadi seperti sekarang ini berkat mereka. Kita harus membangun komunikas yang baik dengan mereka jika memungkinkan, mengirimkan hadiah dan selalu berdoa untuk mereka. Ingatlah, kita tak bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa bantuan dan dukungan dari teman-teman kita. Kesetiaan berperan penting untuk menjadikan kita manusia yang baik. Selalu setia. Selalu hargai dan balas kebaikan dari yang lainnya. Jangan pernah melupakan orang yang telah mencintaimu dan menolongmu khususnya selama tahun-tahun yang sulit. Jadilah manusia yang selalu berbalas budi.

Aku menyayangimu Mama Mooi Land dan engkau sangat istimewa bagiku.

Tsem Rinpoche

Mama Mooi Lan and her daughter Jojo visited our Kechara Paradise Sunway Outlet last month. I was very happy for that. We presented her a new Tsongkapa box. Mama Mooi Lan is a very generous and kind lady. When I arrived in Malaysia years ago, she was one of a few people in a group from Cheras that always helped me.

She never demanded or made conditions. She just helped me in so many ways from the goodness of her heart. Really she helped me and my work IN SO MANY WAYS THAT YOU WOULD THINK I WAS HER SON. I appreciate this lady deeply and I am very close to her. I will NEVER FORGET her kindness and how she helped me in the early days. I am doing better now and that is partly because of this lady and the wonderful Cheras group. The early days had so many struggles and difficulties and this group from Cheras was always there to help. We are in contact now of course and when I think of them, I can never forget their kindness. Never. I thank Mama Mooi Lan and the whole Cheras group so much from the bottom of my heart.

We should never forget who helped us and be loyal. We are where we are because of them. We should have good contact with them if at all possible, send them gifts and always pray for them. Remember, we can’t get to where we are without help from our friends. Loyalty is a big part of making us good human beings. ALWAYS BE LOYAL. ALWAY REPAY BACK THE KINDNESS OF OTHERS. Never forget who loved you, and helped you especially during the lean years. Make yourself human always by doing that.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 8 of 23

Visitors

We have 39 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013