Jangan Menyuruhku Pergi PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Wednesday, 02 July 2014 03:52

Foto ini adalah perjalanan pertamaku ke Malaysia pada 1992. Kyabje Lati Rinpoche memaksaku pergi dan mengajar. Aku memohon kepadanya agar tidak membuatku pergi. Aku memohon sampai berdebat dengan hormat padanya hingga dia mengatakan padaku untuk tidak berdebat dan hanya mengikuti instruksinya. Aku benar-benar tidak ingin pergi. Aku ingin melakukan pertapaan di India utara atau bergabung dengan Ibu Teresa melakukan pekerjaan sosial sebagai biksu Buddhis di Calcutta. Ketika aku berdebat dengan Lati Rinpoche, sekitar 300 biksu duduk dan mendengarkan kami saat itu di tengah-tengah rapat. Mereka semua terdiam dan tidak berani berkata-kata. Aku sungguh memohon pada Kyabje Lati Rinpoche untuk tidak mengirimku, aku sangat tertekan, namun pada akhirnya aku harus mengikuti perintah dan instruksi langsungnya.

Pemikiran :

Mengapa mengajar Dharma saat tidak ada siapapun yang menginginkan transformasi atau mencoba dengan tulus. Kau hanya menyinggung mereka, membuat mereka marah, dan k arena mereka tidak dapat menghadapi diri mereka sendiri, menjadi benci padamu. Mereka bahkan lari. Dewasa ini, salah satu jalan terbaik untuk membuat permusuhan, adalah dengan mengajarkan Dharma atau memberitahu mereka apa yang perlu diubah. Jadi mengajar sedikit Dharma lebih baik saat ini. Transformasi menciptakan sebab-sebab untuk Dharma yang lebih banyak. Setiap kali kau melanggar janjimu, atau menyerah atau lari dari apa yang seharusnya kau lakukan menyebabkan kemunduran ajaran. Membuat berbagai macam alasan menciptakan sebab-sebab pada ajaran Dharma semakin berkurang dan akhirnya berhenti.

Pemandangan yang paling menyedihkan bagi seorang Guru adalah melihat muridnya tidak berubah setelah bertahun-tahun pengajaran, beratus-ratus pengulangan nasehat yang sama meskipun Guru sangat peduli. Guru harus memiliki welas asih terhadap murid-muridnya tapi bukan berarti memperbolehkan mereka untuk menyakiti orang lain atau diri sendiri. Murid harus bersikap baik pula kepada Guru. Itu adalah sikap timbal balik. Berdalih dan beralasan untuk kesalahan yang sama adalah muncul dari kemalasan dan egoisme. Tidak peduli telah menyusahkan yang lainnya. Itu semua menciptakan karma yang kuat bagi guru untuk pergi, wafat atau membungkam. Itu menciptakan karma bagi dirimu sendiri untuk menjadi lebih keras kepala, lebih malas dan bahkan menjadi tertutup. Ingatlah bahwa sebab menentukan hasilnya. Untuk proyek yang sukar dimulai atau banyak sekali hambatan muncul dari jenis karma seperti ini. Jika karmanya sangat kuat, bahkan jika guru ingin menolong, karmamu atau kumpulan karmamu akan menghentikannya. Kemunduran dari Buddhisme akan muncul dari praktisi yang tidak melakukan praktek. Ini akan menciptakan sebab utama hilangnya ajaran Buddha Shakyamuni. Kau mungkin berpikir akan bahagia dan bebas karena gurumu berhenti menunjukkan hal-hal kepadamu, namun kebahagiaan dan kebebasan seperti itu adalah sementara. Karma mengejarmu dan guru dengan air mata melihatmu mengalami akibat dari karmamu. Guru berhenti berbicara denganmu dan berhenti mengajar karena karmamu tidak mendukung untuk menerimanya. Itu berbahaya, jangan biarkan itu terjadi terlalu jauh, jangan pernah, tapi jika itu harus terjadi, maka itu akan terjadi.

Tidak ingin mendengar perkataan guru yang dengannya kau telah berkomitmen adalah sebuah tanda bahwa kau telah melanggar banyak janji, samaya, praktek dan kepercayaan. Karma yang muncul adalah semua nasehat baik yang diberikan untukmu tidak dapat didengar, dimengerti atau diikuti. Nasehat baik bahkan akan membuatmu marah. Begitu melihat gurumu mungkin akan membuatmu tidak bahagia. Penglihatan akan sesuatu yang menciptakan kebahagiaan atau Dharma mungkin akan membuatmu tidak nyaman atau lari. Mengapa ? Karena karma untuk menerima kebaikan, tidak cukup. Sebagai contoh, ketika seseorang yang karena mabuk ia berbohong terlalu banyak, mencurangi atau melukai banyak anggota keluarga terus menerus, karma yang sangat kuat ini akan terakumulasi dan siap meledak. Karmanya kembali dan membuatnya tidak mendengar nasehat ataupun memiliki keinginan untuk berhenti mabuk. Dia mungkin mengerti bahayanya tapi tak dapat berhenti. Lari dari orang yang tercinta yang sungguh peduli. Yang tersayang menatap penuh air mata dan ketakutan karena mereka merusak diri sendiri dengan mabuk-mabukan. Karma untuk membahayakan begitu kuat. Karma tersebut telah mengendalikan orang tersebut. Tahapan karma yang telah matang bagaikan seekor macan yang harus membunuh karena terlanjur telah dilahirkan, matang untuk membuat lebih banyak lagi karma buruk dalam tahapan ini.

Kita harus memperbaiki karma. Tak peduli seberapa buruk, samsara memiliki banyak sekali kondisi buruk yang tak bisa kau bayangkan. Karma negative memicu lebih banyak karma negatif, Itu tidak permanen, jangan membatasi diri sendiri. Jangan biarkan kemalasan dan keegoisan mengendalikanmu. Ingatlah komitmen, stabilitas dan konsisten adalah kunci untuk semuanya. Perbaikilah karena tidak ada yang dapat melukai atau menghukummu, selain perbuatanmu sendiri. Bagi sebagian orang sudah benar-benar terlambat, beberapa masih terlihat belum ada perubahan yang baik, apapun kondisinya, teruslah mencoba.

Meskipun itu berbeda untuk setiap orang dan setiap guru.

Tsem Rinpoche

Picture is of my first trip to Malaysia in 1992…Kyabje Lati Rinpoche insisted I travel and teach. I begged him please not to make me go. I begged to the point of respectully debating with him till he told me to not debate and just follow …his instructions. I really did not want to go..i wanted to go into retreat in N. India or join Mother Teresa to do charity works as a Buddhist monk in Calcutta. When I was ‘debating’ with Lati Rinpoche, about 300 monks were seated and listening as we were in a meeting. They were all silent and never dared say a word. I really begged Kyabje Lati Rinpoche to not send me, I was so distressed, but in the end I had to follow his orders and direct instructions………

Thoughts now:

Why teach the dharma when no one wishes to transform or sincerely tries. You only offend them, make them angry, and because they can’t face themselves, become hateful of you. They even run away.. These days, one of the best ways to make enemies, is to teach others dharma or tell them what needs to change… So teaching less dharma is better during these times…transformation creates the causes for more dharma. Every time you break your promise, or give up or just run from what you are suppose to do adds to the drop teachings becoming less….Making excuses creates the causes for dharma teachings to lessen and then to stop….

The most disheartening sight for a teacher is to see a student not change after years of teachings, hundreds of repititions of the same advice although the teacher cares so much..teachers must be compassionate towards students but not to the extent of allowing them to harm others/themselves….students must be kind to teachers too..it goes both ways… Excuses and justifications for the same mistakes arising from pure laziness and selfishness. Not caring about burdening others. This all creates such powerful karma for the teacher to go away, pass way or just remain silent. It creates karma for yourself to become harder, lazier and even more closed up…remember results resemble causes…. For projects not to take off or filled with zillions of obstacles arise from this type of karma also… If the karma is so strong, then even if the teacher wants to help, your karma or collective karma will somehow stop it. The degeneration of Buddhism will arise from ‘practitioners who don’t practice…this will create the main causes for the demise of Shakyamuni’s teachings…You may think you are happy and free because your teacher stopped pointing things out to you, but the so called happiness and freedom is temporary…karma catches up and the teacher with tears in their eyes watch you experience the effects of your karma…the teacher stopped speaking to you or stopped teaching because your karma to recieve it is not supportive…dangerous…never let it go that far…never…but if it has…then it has….

Not wanting to listen to one’s teacher you say you are committed to is a sign that you have broken many promises, samayas, practices and trust. The karma that arises is any good advice given to you cannot be heard, understood or followed. Good advice might even make you angry. The sight of your teacher might make you unhappy. The sight of something that creates happiness or dharma might make you uncomfortable or run. Why? The karma to recieve good, is not enough. For example, when someone due to drinking has lied so much, cheated or hurt so many family members over and over, there is this very strong karma collected and bursting to open. The karma returns and makes him not hear advice nor want to follow giving up drinking. He/She may know the harm and understand, but cannot stop. Or run away from loved ones who truly care…the loved ones watch with tears and apprehension as they drink themselves to oblivion or worse… The karma to harm is too strong. The karma controls the person already….A tiger needs to kill due to it being born in that state as it’s karma has opened…opened to make more negative karma in that state..

We must repair…must repair the karma. No matter how bad, samsara has so many worse states you cannot even imagine. Negative karma leads to more negative karma, it does not stand still…Do not be limited..do not let laziness and selfishness rule anymore. Remember commitment, stability and consistency are the keys to anything…repair as no one can hurt you or punish you, only your deeds returning…for some it is truly too late..for some it only seems that way…whatever the cases, try……

It’s different for everyone and every teacher though…

Tsem Rinpoche

Read more...
 
Diana PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Wednesday, 02 July 2014 03:48

Ini adalah Diana di depan TV yang aku berikan padanya minggu lalu. Shin sangat membantu mencari model TV dan memberikan rekomendasi pada Diana TV mana yang bagus. Beberapa kali aku ingin mendapatkan beberapa informasi yang cepat atau mengirimkan sesuatu pada Diana, Shin meneleponnya. Terima kasih Shin atas pertolonganmu untuk Diana, seorang perempuan dengan hati yang lapang. Shin, engkau juga wanita yang berhati lapang.

Diana adalah saudara Dharmaku sejak lama dari USA. Dia tinggal di Ohio saat ini. Namun saat kami bertemu, dia tinggal di Los Angeles. Kami bertemu kembali pada pertengahan tahun 80-an disana. Kami bertemu sebelum Sang Penakluk Kyabje Zong Rinpoche (seorang Heruka Buddha hidup dalam wujud manusia) tiba di Vihara Thubten Dhargye Ling (TDL) yang dibangun oleh Venerable Geshe Tsultrim Gyeltsen.

Saat aku bertemu Diana, dia tidak tertarik pada spiritualisme, Dharma atau apapun namun ia menyukai horoskop. Kami mulai saling berbicara dan menjadi teman. Suatu hari ia ingin melakukan sesuatu, namun aku tidak punya waktu karena sibuk menghadiri ajaran Dharma oleh Kyabje Zong Rinpoche di TDL. Diana memutuskan untuk ikut hadir. Dia duduk di lantai seperti kita semua dan itu tidak mudah baginya. Dia mendengarkan dan tidak memahami apa yang terjadi. Dia mengenakan pakaian yang sangat “Hollywood” untuk sesi pertama. Dia menghadiri ajaran berikutnya dan berikutnya dan kemudian karmanya terbuka. Dia menyukai Geshe-la dan Kyabje Zong Rinpoche. Dia mulai berbusana lebih sederhana dan menghadiri ajaran tanpa riasan. Dia terlihat menemukan kedamaian. Tak ada yang salah dengan riasan dan busana yang baik, tapi kau bisa melihat dia menjadi lebih rileks. Dia mulai menjadi relawan di vihara, membantu membersihkan dan membantu memasak. Dia mengadopsi Buddhisme dan menemukan rumah spiritualnya. Kami pergi ke toko buku “Bodhi Tree” di Melrose di Hollywood barat dan membeli beberapa barang. Kami pergi ke rumahnya. Dia memasak lasagna yang lezat dan aku menyusun altarnya. Objek utama pada altarnya adalah poster Tara yang dibingkai dengan foto Geshe-la dan Kyabje Zong Rinpoche. Aku suka menyusun altar. Kami membuat persembahan di altar barunya, melakukan doa dan kemudian makan lasagna. Suaminya tidak bermasalah sama sekali. Itu adalah hari ketika Dharma menyebar luas sampai di rumahnya.

Diana, seorang wanita California yang baik, yang sebelum bertemu denganku tidak memahami tentang Buddhism akhirnya mengenal Tibetan Buddhism dan berlindung pada Kyabje Zong Rinpoche! Suatu jasa kebajikan yang luar biasa. Pikirkanlah, Diana bertemu dengan salah satu Lama Tibet kuno terbaik dari yang terbaik dan menerima banyak ajaran dari-Nya. Dia menerima sekumpulan ajaran dan inisiasi penuh Sindhura Mandala Vajra Yogini, inisiasi Tsongkapa dan Cittamani Tara lengkap dengan semua ulasannya. Wow! Wow! Bayangkan kesempatan itu ? Tidak mengetahui apapun selama beberapa dekade, tiba-tiba engkau di depan Buddha Heruka hidup seperti Zong Rinpoche menerima rahasia Tibet yang paling berharga dan inisiasi yang sangat terberkahi? Aku sangat senang untuknya. Aku mengajarinya dan beberapa orang pelafalan mantra-mantra, beberapa visualisasi dan sadhana setelah inisiasi. Walaupun aku berusia 17 waktu itu, banyak murid senior TDL memintaku untuk pengucapan mantra, pertanyaan dan visualisasi yang benar. Beberapa mantra seperti semua mantra Heruka, aku menemui langsung Kyabje Zong Rinpoche untuk mengkonfirmasi pengucapan sebelum mengajarkan yang lainnya.

Aku sangat bahagia untuk Diana. Aku mendapatkan US$500 per bulan, membayar sewa dan lainnya, aku memiliki sedikit simpanan untuk kebutuhan tambahan. Aku berjuang dengan mengambil 2 atau 3 pekerjaan. Aku tinggal dan menetap di TDL, dan membayar sewa tinggal disana. Aku tidak pernah menerima uang apapun, ataupun gaji dari TDL. Namun aku bahagia memasak untuk Geshe-la, mencuci pakaian, merapikan, berbenah, membuat torma untuk puja, menyusun gompa untuk puja, mengepel dan dengan bahagia melayani Vihara. Aku bekerja sangat keras di TDL selama 8 tahun sampai Geshe-la mengirimku ke Gaden di India. Mengambil apapun dari Vihara adalah diluar keinginanku. Aku disana untuk melayani Guruku dan Dharma, bukan untuk mengambil. Jika aku memiliki sisa uang di akhir bulan, aku akan berbelanja kebutuhan tambahan dan mempersembahkan untuk Geshe-la mengetahui itu akan membuahkan kebajikan yang besar. Makhluk agung yang menjadi objek persembahan kita akan mempurifikasi karma kekikiran dan mendapatkan kebajikan yang dibutuhkan untuk masa depan. Itu dipercaya akan menyokong praktek kita di masa depan.

Suatu hari di ulang tahunku, Diana menghadiahkan sebuah kotak dan dia memaksaku untuk langsung membukanya. Kami berdiri di luar persimpangan antara Barat dan Sunset Boulevard sekitar pukul 5 sore. Aku membukanya, itu berisi uang US$300. Aku seperti, aku tak bisa menerima ini! Diana mendapat sangat sedikit uang bekerja paruh waktu di sebuah toko makanan dan memiliki 4 putra. Aku tidak dapat mengambil apa yang lebih ia butuhkan dariku. Aku tersentuh melebihi kata-kata. US$300 pada saat itu adalah jumlah yang banyak dan bagi seorang anak seusia 17 tahun butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Aku kagum dengan kemurahan hatinya. Dia mendapat sangat sedikit, dia harus bekerja melewati stasiun kereta tua yang lebih sering rusak, dia tinggal di sebuah rumah kecil di timur LA dan nyaris berakhir dan dia menolongku ? Aku berkata pada diriku sendiri, aku akan menjadi temannya seumur hidup. Aku akan setia padanya dan akan ada untuknya ketika membutuhkanku.

Aku akan menjadi saudara Dharmanya tercinta hingga akhir hayat. Aku membuat keputusan itu. Kami berteman baik dari tahun 80-an hingga sekarang. Aku mengundangnya ke Malaysia dan menjadi tamuku dan dia akan datang kembali. Dia menyukai Malaysia, orang-orangnya, makanan dan cuacanya. Dia membenci dingin saat musim dingin keras di Ohio. Jadi dia akan bergabung bersama kami untuk aktivitas disini dan pulang kembali untuk memastikan suaminya baik. Terakhir kali dia di Malaysia, dia datang bersama grup yang berjumlah 60 anggota kami untuk mengunjungi Biara Gaden. Itu adalah perjalanan yang spektakuler untuknya. Saat ini ketika dia datang, aku akan mengundangnya untuk mengunjungi patung Buddha terbesar di Thailand.

Tinggal di California mahal sehingga dia pindah ke Ohio. Aku bertemu Diana saat dia berusia 41 tahun dan sekarang dia berusia 65 tahun ini. Aku akan membawanya ke Malaysia setiap tahun untuk berlibur, memanjakan dirinya dan menikmati musim panas kami. Diana sehat dan suka makanan-makanan sehat dan suka memasak. Tubuhku besar sebesar sebuah rumah hehehe.

Diana adalah salah satu teman baik yang kupunya di US. Melewati waktu dan tempat, kami tetap berteman baik. Kami berbincang di telepon dan saling berkirim pesan satu sama lain. Baru-baru ini aku menghadiainya sebuah tv besar, pemutar dvd dan sebuah penahan. Aku memesan banyak film dvd dari Amazon dan dikirimkan untuknya. Dia senang menonton tv dan menyukai film begitu juga denganku. Semua orang Amerika menyukainya. Disini dia duduk di sebelah tv barunya. Aku sangat senang bisa merawatnya dan memberikan hadiah yang bagus untuk temanku Diana. Aku mencintainya dan peduli dengannya. Aku ingin dia baik-baik saja. Aku ingin dia melakukan sadhana, bahagia dan santai. Aku akan menjaganya.

Tsem Rinpoche

This is Diana in front of the new Tv I presented her last week. Shin was very helpful to find different models on line and give Diana the facts as to which Tv would be good. Many times I want to get some quick information or sending something to Diana, Shin’s on the phone with her. Thanks Shin for helping Diana, a Lady with a big heart. Shin, you’re a lady with a big heart too.

Diana is my long time dharma sister from the USA. She lives in Ohio now. But when we met, she lived in Los Angeles. We met back in the mid 80′s there. We met just before the Glorious Kyabje Zong Rinpoche ( a living Heruka Buddha in the flesh) arrived in Thubten Dhargye Ling Dharma Centre (TDL) started by Ven Geshe Tsultrim Gyeltsen.

When I met Diana, she wasn’t interested in spiritualism, dharma or anything but she loved Horoscopes. We started talking more and more and became friends. One day she wanted to go do something, but I hadn’t any time as I was rushing back to attend talks by Kyabje Zong Rinpoche at TDL. Diana decided to come along. She sat on the floor like the rest of us and it was not easy for her. She listened and didn’t know what was going on. She wore very ‘Hollywood’ clothes for the first session. She turned up for another talk, then another and then her karma opened. She loved Geshe-la and Kyabje Zong Rinpoche. She started dressing more conservative and coming to talks with no makeup. She seems as if she found some peace. Nothing wrong with makeup and nice clothes, but, you can see she just became more relaxed. She starting volunteering at the centre, cleaning and helping to cook. She adopted Buddhism and she really found her spiritual home. We went to the Bodhi Tree Bookstore on Melrose in West Hollywood and bought a few items. We went to her house. She cooked a delicious lasagna and I set up her altar. The main object on her altar was framed Tara poster with pictures of Geshe-la and Kyabje Zong Rinpoche. I loved setting up altars.. We made offerings on her new altar, did prayers and then dug into the lasagna. Her then husband didn’t mind at all. It was a day when dharma pervaded even in her home.

Diana, a nice Californian girl, who before meeting me had no idea what Buddhism was let alone Tibetan Buddism took refuge with Kyabje Zong Rinpoche!!! Such incredible good merit. Just think, Diana met one of the top of the top lama of ancient Tibet and received so much from him. She received a series of teachings and the full empowerments of Sindhura Mandala Vajra Yogini, Tsongkapa initiation and Cittamani Tara. Both with full commentary. Wow!!! Wow!! Imagine the chances of that? To know nothing for decades, suddenly you are in front of a living Heruka Buddha like Zong Rinpoche receiving Tibet’s most treasured secret and most blessed initiations???? I was so happy for her. I taught her and several other people the pronounications of the mantras, various visualizations and some parts of the sadhana after the empowerments. Although I was around 17, many of the senior TDL students would ask me for correct pronounciation of mantras, questions and various visualizations. Some mantras like all of Herukas mantras, I went diretly to Kyabje Zong Rinpoche to confirm pronunciation before ‘teaching’ others.

I was so so so happy for Diana. I was making like US500 a month, with rental, etc, I had very little left over for extras. I struggled working two or three jobs. I stayed and lived in TDL, and paid rental there also. I never received any money, stipend or finances from TDL. But I happily cooked for Geshe-la, washed, did laundry, cleaned, vacuumed, made tormas for pujas, set up the gompa for pujas, swept, and happily served the centre. I worked very hard at the TDL for 8 years until Geshe-la sent me off to Gaden in India. To take something from the centre was beyond any of my reality. I was there to serve my teacher and the dharma, not to take. If I had any money left at the end of the month, I would buy extra groceries and offer to Geshe-la knowing it would collect great merits. Holy being partaking of our offerings purifies the karma of miserliness and collects merits to acquire the necessities for future. It would sustain us during our practice in the future it is believed.

One day on my birthday, Diana presented a box and she insisted I opened it then and there…we were outside standing on the intersection of Western and Sunset blvd around 5pm. So I did, it was three hundred dollars. I was like, I CAN’ T TAKE THIS.!!! Diana makes very little money working part time in a Deli and has four sons. I can’t take what she needed more than me. I couldn’t take it. She insisted and said she knows I needed it very much. I was touched beyond words. Three hundred that time is alot of money and to a 17 year old kid that was struggling. I was amazed at her generosity. She had so little, she had a beat up old station wagon that broke down more than it worked, she lived in a small house in East LA and barely making ends meet and she was helping me????? There and then I said to myself, I will be her friend for life. I will be loyal to her and I will be there for her when she needs me. I will be her loving dharma brother to her till the end. I made that determination. Well we have been good friends from the 80′s till now. I have invited her to Malaysia and she was my guest and she is coming soon again. She loves Malaysia, the people, the food and the weather. Diana hates the cold in the harsh snowy winters of Ohio. So she will be here joining us in our activities and calling back often to make sure her husband is ok. The last time she was in Malaysia, she came with a group of 60 of us to visit Gaden Monastery. It was a spectacular trip for her. This time when she comes, I will invite her to visit the largest Buddha in Thailand.

It was getting expensive for her in California so she moved to Ohio. I met Diana when she was 41 and now she is 65 this year. I will bring her to Malaysia every year for her to relax, enjoy herself and to enjoy our sunny warm weather. Diana is healthy and loves health foods and loves to cook. I’m like as big as a house already..hehehe

Diana is one of the good friends I had in the US. Across time and place, we have remained good friends. We talk on the phone and text message each other. Recently I gifted her with a large tv, dvd player and a stand. I ordered A LOT of dvd movies from Amazon and it was delivered to her. She loves the tv. She loves movies. So do I. Most Americans do. Here she is sitting next to her new tv. I am so glad I can ‘take care’ and offer a nice gift to my friend Diana. I do love her and care about her. I want her to be alright. I just want her to do her sadhanas, be happy and relax. I will take care of her.

Tsem Rinpoche

Read more...
 
Berbahagia saat aku dirampok ? PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Monday, 30 June 2014 06:22

Beberapa tahun lalu, aku sedang berada di sebuah kereta dari Delhi ke India selatan (Gaden) dan itu adalah perjalanan 2 malam dan 3 hari. Aku sedang menemani Kyabje Lati Rinpoche dan Kensur Jampa Yeshe Rinpoche. Kita semua tertidur dan di tengah malam kereta berhenti di beberapa stasiun, seseorang memasukkan tangannya ke jendela (jendelaku rusak dan tidak bisa ditutup) dan mencuri tas biksu milikku dengan buku doa / gambar-gambar Buddha dan uang 600 rupee didalamnya. Itu adalah semua uang yang kupunya yang seharusnya untuk kebutuhan 1 bulan. Aku tertekan. Dari keributan itu, Kyabje Lati Rinpoche terbangun dan aku menceritakan kejadian itu. Dia tidak berhenti menertawakanku. Aku merasa kesal tapi tidak berani menunjukkannya. Setelah ia menghapus air matanya karena menertawakanku dengan kencang dan lama disaat aku frustasi tentang tasku, dia menjadi serius dan berkata, menyuruhku segera bermeditasi dan berdoa dan berharap isi tasku dapat bermanfaat bagi orang yang telah mengambilnya.

Aku terdiam dan melakukan apa yang dikatakan Kyabje Lati Rinpoche setelah ia kembali tidur. Aku berdoa pada Heruka, Vajra Yogini, gambar Tara yang kuselipkan dalam buku sadhana di dalam tas dapat dilihat oleh pencuri itu, keluarga dan tetangganya dan mereka akan menerima jejak Buddha-Buddha tersebut dalam batin mereka. Aku bahkan berharap mereka akan menempatkan gambar-gambar itu di atas altar mereka karena suku India sangat menghormati gambar-gambar suci bagaimanapun cara mereka mendapatkannya. Aku sungguh bermeditasi dan berdoa seperti ini dan kembali tidur dengan perasaan yang lebih baik dan bebas. Aku banyak belajar.

Aku bersujud dibawah kaki Pemegang Tahta Gaden, Kyabje Lati Rinpoche yang membadankan semua nasehat Tsongkapa untuk kita lakukan dalam hidup kita yang singkat. Semoga kita tak pernah terpisahkan dari makhluk agung ini.

Dengan merangkupkan kedua tangan dan menundukkan kepala,

Tsem Rinpoche

Years ago, I was on a train from Delhi to South India (Gaden) and it was a 2 night and 3 day journey. I was accompanying Kyabje Lati Rinpoche and Kensur Jampa Yeshe Rinpoche. We all went to sleep..in the middle of the night we stopped at some station, someone stuck their hands in the window (my window was broken and wouldn’t close) and stole my monk bag with my prayer book/ Buddha pictures, and 600 rupees. That was all the money I had and it was suppose to last around a month. I was distressed. From the commotion, Kyabje Lati Rinpoche woke and I told him what occurred. He couldn’t stop laughing and laughing and laughing AT ME. I was irritated but didn’t dare show it…after he wiped his tears away from laughing so long and loud at me, while I am frustrated about my bag…he got serious and said, now meditate and pray and hope the contents of your bag will benefit the person who took it.

I quieted down and did what Kyabje Lati Rinpoche said after he went back to sleep. I prayed the Heruka, Vajra Yogini, Tara pictures I had pasted into my sadhana book in the bag will be seen by the robber, his family and and neighbours and that they will recieve the imprints of these Buddhas in their minds. I even hope they will place the pictures on their altars as Indians are very respectful of holy pictures no matter how they procured it… I really meditated and prayed this way. And went to sleep feeling much better and released…I learned so much….

I prostrate to the feet of the Glorious Holder of Gaden, Kyabje Lati Rinpoche who embodied everything Tsongkapa advised us to do with our short lives. May we never be seperated from this great being.

Folded hands and bowed head,

Tsem Rinpoche

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 9 of 23

Visitors

We have 69 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013