Sebuah Sajak Untuk Guruku… PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Monday, 30 June 2014 02:22

Sendiri Bersama Kenangan


(puisi ciptaanku)
Kesedihan dan kesendirian
Adalah temanku yang terpaksa,
Hidup di belantara yang selamanya asing
Tanpa adanya rumah bagiku

Suara-suara damaru Guruku
Membangkitkan waktu yang telah lama pergi
Bagaikan terngiang di kepalaku
Sepanjang hari…
Kenangan Guruku yang kuingat
di setiap hariku
Membuatku bertahan di tempatku berada
yang terpaksa kunamakan rumah

Betapa tragis aku hidup pada sebuah
waktu di yang yang telah berlalu,
Secercah kenangan yang harus kubangkitkan dari
walaupun aku menolak

Pekerjaan dan bebanku belum usai,
Namun akan menuju kemanakah ?
Apakah ada jeda untuk harapan dan optimismeku ?
Ataukah lebih baik untuk menerima kenyataan yang sinis ?

Aku rindu masa mudaku bukan untuk
harapan-harapan palsu yang dijanjikan
Namun untuk mendengar suara
Guruku yang Mulia memainkan musik ilahi
melalui damarunya kembali. Untuk dihangatkan oleh
kebijaksanaannya,
diberkahi oleh kekuatannya.

Dan untuk merasakan kembali harapan
Sebuah harapan yang tergantung disana,
Namun selalu menyelinap pergi… lagi…

Ditulis oleh Tsem Rinpoche
---------------------------------------------------------------------------------------------

Kemudian salah satu dari anak lelaki muridku, Gavin, mengejutkanku dengan menyusun musik, memainkan piano dan membuat lagu yang indah dari sajak tersebut!

Aku tercengang. Anak itu mempunyai bakat. Beberapa kata-kataku digubah untuk lagu tersebut dari sajakku yang asli. Namun itu pastinya membangkitkan perasaanku pada Guruku. Kerika aku mendengarkan ini, aku memikirkan Zong Rinpoche.

Silahkan klik dibawah untuk mendengarkan lagu dari sajak tersebut:


(Lirik lagu dari sajak dibawah dibuat oleh Gavin Gooi)

Kesedihan dan kesendirian
adalah temanku dalam keterpaksaan,
Hidup di tanah-tanah yang selamanya asing
aku bagaikan tidak memiliki rumah

Suara-suara damaru guruku
membangkitkan waktu yang telah lama pergi,
Bagaikan terngiang di kepalaku
sepanjang hari
Kenangan guruku yang kuingat
di setiap hariku,
Membuatku bertahan di tempatku berada
yang terpaksa kunamakan rumah

Betapa tragis aku hidup pada sebuah
waktu di yang telah berlalu,
Secercah kenangan yang harus kubangkitkan dari
walaupun aku menolak

Sendiri bersama kenangan
Pekerjaan dan bebanku belum usai,
Akan menuju kemanakah ?
Apakah ada jeda untuk harapan dan optimismeku ?
Ataukah lebih baik untuk menerima kenyataan yang sinis ?
Sendiri bersama kenangan
Sendiri bersama kenangan
Aku rindu masa mudaku bukan untuk
harapan-harapan palsu yang dijanjikan
Namun untuk mendengar suara
Guruku yang Mulia

Memainkan musik ilahi
melalui damarunya kembali.
Untuk dihangatkan oleh kebijaksanaannya,
diberkahi oleh kekuatannya.
Sendiri bersama kenangan
Dan berharap untuk merasakan kembali harapan

Sendiri bersama kenangan
Pekerjaan dan bebanku belum usai,
Akan menuju kemanakah ?
Apakah ada jeda untuk harapan dan optimisku ?
Ataukah lebih baik untuk menerima kenyataan yang sinis ?

Ataukah lebih baik untuk menerima kenyataan yang sinis ?
Sendiri bersama kenangan

Dan untuk merasakan kembali harapan
Sebuah harapan yang tergantung disana,

Namun selalu menyelinap pergi… lagi…
---------------------------------------------------------------------------------------------

Alone With Memories


(my actual poem)
Sadness and loneliness
are my forced friends,
Living in lands forever foreign
as I have no home…..

Sounds of my guru’s damaru
evokes a time long gone,
As it plays in my head
all day long…
My guru’s memory I projected
onto my daily life,
Keeps me going in a place I am
forced to call home…

Tragic am I living in a
time that has passed,
A memory that I must wake from
although I resist…

My work and burdens hasn’t any end,
Yet have to trudge on, onto where?
Is there any respite from my hopes and optimism?
Or is it better to accept reality which is cynicism?

I long for my youth not for the
false hopes it promised,
But to hear the sound of my
Glorious Guru playing his divine music
on his damaru again… To be warmed by his wisdom,
blessed by his strength…..

And to feel hope again…
A hope that hangs in there,
But often slips away…again…

Written by Tsem Rinpoche
---------------------------------------------------------------------------------------------

Then one of my student’s son, Gavin, surprised me by arranging the music, playing the piano and making a beautiful song from the poem!

I was like wow…the kid’s got talent…Some of the words he re-arranged for the sake of the song from my original poem. But it evokes my feeling for my Guru for sure. When I listen to this, I think of Zong Rinpoche…

Please click below to hear the poem as a song:


(the lyrics of the song made from the poem below by Gavin Gooi)

Sadness and loneliness
are my forced friends,
Living in lands forever foreign
as I have no home…..

Sounds of my guru’s damaru
evokes a time long gone,
As it plays in my head
all day long…
My guru’s memory I projected
into my daily life,
Keeps me going in a place I am
forced to call home…

Tragic am I living in a
time that has passed,
A memory that I must wake from
although I resist…

My work and burdens hasn’t any end,
Yet have to trudge on, onto where?
Is there any respite from my hopes and optimism?
Or is it better to accept reality which is cynicism?
Alone with memories
Alone with memories

I long for my youth not for the
false hopes it promised,
But to hear the sound of my
Glorious Guru playing his divine music
on his damaru again… To be warmed by his wisdom,
blessed by his strength
Alone with memories
My work and burdens hasn’t any end,
Yet have to trudge on, onto where?
Is there any respite from my hopes and optimism?
Or is it better to accept reality which is cynicism?
Alone with memories
Alone with memories
And to feel hope again…
A hope that hangs in there,
But often slips away…again…

And to feel hope again…
A hope that hangs in there,
But often slips away…again…

---------------------------------------------------------------------------------------------
Read more...
 
Paman saya PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Friday, 20 June 2014 07:24

Kakek nenek saya mempunyai 2 anak. 1 lelaki dan 1 perempuan. Yang laki-laki adalah paman saya menetap di Taiwan. Dia adalah Pangeran David Minh. Saya bertemu dengannya di Taiwan beberapa waktu yang lalu. Dia sedang menulis tentang biografinya.

(Paman saya, David Minh)

My grandparents had two children. One boy and one girl. The boy is my uncle who resides in Taiwan. He is Prince David Minh. I met him in Taiwan not too long ago. He is writing his accounts and biography.

(my Uncle, David Minh)

Read more...
 
Bibi dari ibu saya anggota keluarga kerajaan PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Friday, 20 June 2014 07:15

Ini adalah Bibi dari Ibu saya, Putri Nirgidma. Beliau menikahi seorang Diplomat Perancis dan menetap di Perancis. Aku tidak pernah bertemu dengannya.

Tsem Rinpoche

(Bibi dari Ibu saya)

This is my Great Grand Aunt, Princess Nirgidma. She married a French Diplomat and lived in France. I had never met her.

Tsem Rinpoche

(My grand aunt)

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 10 of 23

Visitors

We have 37 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013