Aku berdoa kepada apa yang aku inginkan PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Friday, 26 December 2014 08:07

Berikut ini dengan hormat ditujukan untuk semua penggiat spiritual,

Apakah Guru kita terkenal atau tidak seharusnya tidak mempengaruhi kepercayaan, keyakinan dan kesetiaan terharap guru kita. Apapun yang guru kita ajarkan pada kita pasti memiliki silsilah dan telah memberi manfaat kepada banyak makhluk di masa lalu selama ratusan tahun, mengapa meragukannya ?

Ajaran-ajaran pasti memiliki silsilah dan kita menerimanya, lalu lakukanlah sepenuh hati tanpa keraguan. Dalam kasus ini, banyak atau sedikitnya pengikut seorang guru mencerminkan asli atau tidaknya seorang guru. Banyak guru besar yang dengan sengaja bersikap membumi. Apa yang membuat sebuah ajaran tetap hidup dan manjur adalah kepercayaan, bakti dan kesetiaan pada guru kita digabungkan dengan transformasi batin kita. Ketika kita kehilangan keyakinan atau mengkritik guru kita, maka kita mengkritik silsilahnya, guru dari guru kita, murid-muridnya dan ketulusannya karena satu sama lain saling terhubung. Ketika kita mengkritik dan meninggalkan guru kita, tak peduli berapa banyak guru-guru baru yang kita temui atau ajaran yang kita dapatkan dari guru-guru tersebut, tidak akan ada hasil yang kita dapatkan menurut Buddha Vajradhara. Nasehat ini sangat penting. Kita harus menghadapi kenyataan itu dan menaklukkan kemarahan kita, ego dan pandangan salah. Apabila kita memiliki masalah dengan guru kita yang tidak bisa kita selesaikan, berbicaralah pada guru kita, ceritakan dan jelaskanlah dan jika tidak menemukan jalan keluar, mintalah izin untuk pergi ke guru yang lain. Bahkan ketika kita telah pergi ke guru lain, kita seharusnya tidak boleh mengkritik dan menjelekkan guru yang telah kita tinggalkan. Mengapa ? Karena guru tersebut telah menganugrahkan Dharma kepada kita. Kita harus berbicara dengan hormat mengenai guru masa lalu kita dan mengingat kebaikan mereka. Dia mencurahkan waktu, cinta dan memberikan kita hadiah dan mungkin jalan karma kita yang berbeda. Kita tidak bisa mencemooh setiap orang yang tidak cocok dengan kita. Jangan pernah lupakan ini. Bersyukur adalah syarat penting untuk pencapaian yang lebih tinggi, oleh sebab itu kita mengingat guru kita dan semua guru silsilah pada setiap praktek harian (sadhana) tantra yang lebih tinggi . Kita melafalkan bait-bait untuk mengundang guru kita dan guru-guru silsilah untuk memberkahi praktek meditasi dan sadhana harian kita. Alasannya adalah untuk mengembangkan sikap bersyukur dan tak mengharap balasan. Kemudian kita tidak boleh mengkritik bahkan guru-guru silsilah ataupun mendengarkan orang lain mengkritik mereka. Meragukan guru-guru silsilah kita atau mengkritik mereka atau setuju dengan kritikan orang lain dalam bentuk apapun akan menghambat pencapaian apapun dalam praktek tantra yang lebih tinggi. Praktek tersebut seperti Yamantaka, Kalachakra, Gyalwa Gyatso, Cittamani Tara, Vajrayogini. Heruka, Guhyasamaja dan Hevajra dan semua praktek yang memiliki bait-bait untuk mengundang guru akar dan guru-guru silsilah. Inilah yang dilafalkan setiap hari dan berkahnya diundang setiap hari.

This is respectfully addressed to all spiritual aspirants,

Whether our teacher is famous or high profile or not should not matter in our trust, belief and loyalty towards our teacher. Whatever our teacher disseminates to us should have a lineage and since it has brought benefit to others in the past for hundreds of years, why doubt?

Teachings must have a lineage and if our teacher has explained the lineage to us and we have accepted it, then go all the way with it without further doubts. In this case, more people or less people following a teacher does not make the teacher more or less genuine. Many great masters are obscure and choose that on purpose. What makes the teachings alive and potent is our trust, devotion and loyalty in our teacher coupled with transforming our minds. When we lose faith or criticize our teacher, we criticize his lineage, his teacher, his students and his sincerity because everyone is intertwined. When we criticize and leave our teacher, no matter how many new teachers we meet and take teachings from, there will be no results according to Vajradhara. This advice is very important. We must face that truth and overcome our anger, egos and wrong views. If we genuinely have a problem with our teacher that cannot be overcome, speak to the teacher, share and explain and if it doesn’t work, ask permission to go to another teacher. Even when we have gone to another teacher, we should never criticize or attempt to damage the teacher we had left. Why? Because that teacher did impart Dharma to us. We should speak respectfully of our past teachers and remember their kindness. He did spend time, show love and shower us with gifts and perhaps our karmas are different. We cannot scorn everyone who doesn’t match our projections. Don’t forget this ever. Being grateful is a necessary component of higher attainments, hence we recall our teachers and lineage lamas in all higher practices (sadhanas) of any tantric deities daily. We recite the liturgies of invoking on our teacher’s and lineage teachers’ blessings daily in our meditations and sadhanas. The reason is to develop a sense of being grateful and taking nothing for granted. Therefore we should not criticize even our lineage lamas or listen to the criticism of them by others. To have doubts in our lineage lamas or criticize them or agree with criticism in any way also impairs the ability to gain attainments in any of the higher tantric practices. The practices such as Yamantaka, Kalachakra, Gyalwa Gyatso, Cittimani Tara, Vajrayogini, Heruka, Guhyasamaja and Hevajra all have daily invocational liturgies to our root and lineage lamas. These are recited daily and their blessings are invoked upon daily.

 

Read more...
 
Saya Sayang Kuda Saya PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Saturday, 13 September 2014 06:18

Ayah saya tidak memberitahu ibu saya tentang kebenarannya saat ibu saya sedang mengandung diri saya, dia adalah seorang gadis berusia sekitar 18 tahun, idealis, sedang jatuh cinta, tapi tak mengetahui ayah saya sudah berkeluarga, ketika ayah saya membeberkan rahasianya kepada ibu, berita itu menghancurkan hatinya, melukainya, membuat dirinya malu, membuatnya dicemooh masyarakat, dan dia dilabeli wanita nakal. Tidak ada yang mengerti dia sedang jatuh cinta dan dia tidak mengetahui ayah saya sudah berkeluarga. Kehamilannya telah mengubah hidupnya menjadi buruk dan masih mempengaruhinya hingga saat ini. Saya sangat menyesal untuk ibu dan ayah saya.

Ibu saya tidak pernah lagi melihat ayah saya maupun berbicara dengannya atau membicarakannya. Dia terluka sangat dalam. Saya tidak menyalahkannya di saat yang sama hal itu telah lama berlalu. Apa yang terjadi antara ibu dan ayah saya tidak ada hubungannya dengan saya. Tapi pada akhirnya saya yang menanggung akibat dari hubungan yang tak direstui ini.

Nenek saya merencanakan dan mengatur kelahiran saya secara rahasia di rumah sakit umum di Taipei. Nenek dan ibu saya demi menyembunyikan aib ini, memberikan saya untuk diadopsi kepada pasangan Taiwan di Taipei. Pada akhirnya saya mengetahui, pasangan Taiwan ini dibayar USD50 setiap bulannya untuk mengadopsi saya menjadi anak mereka. Pasangan Taiwan ini memiliki 3 anak lelaki, sangat miskin dan hidup di sebuah apartemen kecil di lantai 3 bangunan apartemen tersebut. Lalu saya menyadari mereka miskin dan saya minta maaf untuk mereka.

Maafkan saya untuk mengatakan keluarga Taiwan tersebut tidak pernah memperlakukan saya dengan baik, mereka tidak pernah menganggap saya sebagai anak, tidak ada cinta, kasih sayang, ciuman, pelukan ataupun perawatan seingat saya. Meskipun tidak ada kasih sayang, setidaknya mereka dapat merawat seorang anak kecil karena telah dibiayai. Saya sering dihukum, disuruh untuk berlutut diatas beras selama berjam-jam hingga malam hari, dimarahi dan disiksa oleh ketiga anak mereka. Saya sering tidak dimandikan dengan layak. Saya tidak memakai pakaian yang layak, tidak ada mainan, tidak punya banyak teman yang seusia saya walaupun sekolah saya berdekatan. Saya ingat dengan jelas selalu mendapat nasi putih dicampur dengan gula sebagai makan siang utama setiap hari hingga gigi saya menjadi busuk. Saya tidak tau dan tidak menyadari jika pasangan ini bukanlah orangtua saya, saya tidak mengetahui bahwa diri saya tidak dicintai ataupun diperlakukan dengan baik. Saya masih terlalu kecil.

Sepulang sekolah saya sering menyelinap naik ke lantai 3 dan meninggalkan tas sekolah di anak tangga dan kabur ke jalanan. Di usia 5 atau 6 tahun, saya mencuri uang untuk membeli roti untuk dimakan. Salah satu roti kesukaan saya adalah roti Pao panas yang terbuat dari tepung putih yang dijual di toko pinggir jalan. Saya berada di jalanan atau menyelinap ke dalam toko-toko dimana saya diizinkan untuk menonton TV. Ketika saya terlambat, saya akan menyelinap kembali ke rumah dan mengendap-ngendap ke lantai atas, berharap tidak ketahuan. Dari semua yang saya lakukan, saya sering tertangkap dan dihukum, namun jika saya tinggal di rumah, bagaimanapun saya akan tetap dihukum. Saya kelaparan, sendirian, dan haus kasih sayang, dan saya mengembara di jalanan lingkungan perkotaan yang besar untuk kabur dari rumah.

Hingga saat ini, di usia 47 tahun, saya masih ingat dengan jelas waktu itu. Terkadang saya membayangkan seseorang yang memperlakukan seorang anak seperti itu. Saya melihat gambaran masa kecil saya dan membayangkan itu adalah orang lain. Saya melihat anak laki-laki diatas kuda itu sangat bahagia, kuat, tersenyum, sehat dan membayangkan mengapa anak kecil ini dibuang oleh ibu dan ayahnya. Saya melihat gambar ini dan membayangkan anak lelaki ini dibuang, menanggung penderitaan dan tanpa mendapat kasih sayang demi menghapus aib yang bukan kesalahannya. Saya melihat anak lelaki di gambar ini dan membayangkan bagaimana mungkin ada yang tega memukulinya, menghukumnya dan membiarkannya kelaparan ? Pertanyaan-pertanyaan itu sering tersirat di pikiran saya selama ini.

Saya berhenti bertanya-tanya dan menyadari hal itu sudah terjadi. Sebabnya adalah Karma. Saya memaafkan siapapun yang pernah mengabaikan dan menyakiti anak laki-laki di gambar ini dan anak itu adalah saya. Saya berhenti bertanya-tanya kenapa anak ini tidak mempunyai keluarga, orangtua yang mencintainya, mendukung, merawat dan memperlakukannya dengan layak. Saya telah berhenti bertanya-tanya kenapa anak laki-laki ini tidak digugurkan ketika masih dalam kandungan.

Terdapat secercah cahaya saat saya mengingat ada seorang wanita tua yang tinggi, agung, penuh senyum dan tercinta yang mengunjungi saya beberapa kali dalam setahun. Saya tidak mengenalnya, dia tidak pernah memberitahu saya dan pengasuh saya pasangan Taiwan itu tidak pernah memberitahu saya. Wanita tua ini memeluk saya, mencium saya, bermain dengan saya dan membelikan saya pakaian baru yang indah, mentraktir saya, membelikan mainan, sepatu dan permen kesukaan saya, saya tidak mengenalnya hingga saya bertambah usia, namun saya suka dia mengunjungi saya. Saya baru menyadari dia adalah ibu dari ibu saya, atau nenek saya, dan saya tidak ingat ibu saya pernah mengunjungi saya.

My father didn’t tell my mother the truth when she became pregnant with me, she was a young girl around 18, idealistic, in love, but she never knew my father had another family, when he broke the news to her, the news broke her heart, it damaged her, it shamed her, it brought the scorn of the community upon her, and she was labeled a bad girl. Nobody understood she was in love and she didn’t know my father had another family. Her pregnancy with me had changed her life for the worse in some degree that affects her until today. I am so sorry for her and my dad.

She never saw my father again nor spoke to him or spoke of him, she was hurt beyond description. I don’t blame her at the same time it was so long ago. What happened between her and my dad had nothing to do with me. But in the end I was the recipient of this doomed relationship.

My grandmother planned and arranged my birth in secrecy in the General Hospital of Taipei. My grandmother and my mother in order to hide the shame that was embodied in me, found foster parents in a Taiwanese couple in Taipei. The Taiwanese couple, I found out later, was paid USD50 a month to take me in as their child to keep me and to house me. The Taiwanese couple had three sons of their own, were very poor and lived in a small apartment on the 3rd floor of an apartment building. Later I realized their poverty and was sorry for them.

I am sorry to say the Taiwanese family never treated me very well, they never kept me as their own, there was no love, affection, kisses, hugs nor genuine care that I can ever recall. Even if not love, at least take care of the young boy that you were paid to do. I was often punished, made to kneel on rice for hours late into the nights, told off, and teased to the point of cruelty by their three sons. I was often not properly washed, and smelled. I didn’t have proper clothing, no toys, not many friends my age although my school was nearby. I remember vividly always getting white rice mixed with sugar to eat as my main meals daily to the point where my teeth were completely rotten. I didn’t know or realize that this couple was not my parents, I didn’t understand I wasn’t loved or treated well. I was too young.

Often after school I would sneak upstairs to the 3rd floor, and leave my school bag on the steps and escaped into the streets. At the age of 5 or 6, I was stealing money to buy bread to eat. One of my favorites was hot steamy Pao bread make of white flour which was sold by the street vendors. I used to stay on the streets or sneak into various shops where I was allowed to stay to watch TV. When it became very late, I would sneak back home and sneak upstairs, hoping against hope that I would not be caught. Against all reasoning, I was often caught and punished, but if I stayed home, I would have been punished anyway. I was hungry, lonely, and affection-starved, and I wandered the streets in our large urban neighborhood to escape home.

Even now, at 47 years old, I remember vividly those days. Sometimes, it brings wonderment that anyone would treat a child this way. I look at my childhood picture as if it was another person. I see the boy on the horse was a bright, strong, smiling, healthy young boy and wonder why this boy was abandoned by his mother and his father. I look at this picture and wonder why this boy had to be given away, suffer and be without love in order to erase a shame that he was not responsible for. I look at this boy in the picture and think possibly how could anyone beat him, punish him, and starve him? These questions have often run through my mind for over three decades now.

I have stopped asking those questions recently and realize it just happened. Karma for sure. I forgive those who were responsible for the neglect and pain given to this boy in the picture who was me. I have stopped wondering why this child didn’t have a family, loving parents, support, care and all the things that children deserved. I have stopped wondering why this boy was not aborted while inside his mother’s womb.

There was a ray of light because I remember a tall, stately, smiling and very loving elderly woman who used to come a few times a year to visit me. I didn’t know who she was, she never told me and my caregivers the Taiwanese couple also never told me. This elderly lady used to hug me, kiss me, playfully tease me and would bring wonderful new clothes, treats, toys, shoes, and my favorites candy tootsie rolls, I never knew who she was until I was older, but I loved her visits. I was later to find out she was my mother’s mother, or rather my grandmother, I don’t ever remember my mother visiting me.

Last Updated on Sunday, 25 January 2015 07:33
Read more...
 
Aku tidak bisa menjalani hidup anda PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Saturday, 13 September 2014 06:03

Orangtuaku menentangku 100% mengikuti Dharma, mempelajari dan mempraktekkan Dharma dengan cara apapun. Mereka menyuruhku untuk mencari pekerjaan yang nyata, karir dan membuat diriku dihormati. Mereka memberitahuku jika aku melakukan Dharma atau menjadi seorang biksu, mereka akan kehilangan muka dan tidak mengakuiku. Aku tidak melakukan Dharma untuk menentang mereka, namun aku tidak dapat hidup dalam kebahagiaan versi mereka untuk hidup dalam kehidupan dan kebahagiaan menurut mereka dan apapun yang dianggap benar. Aku tidak bisa. Karena tidak menuruti mereka, mereka membuatku membayar dengan harga yang mahal. Aku tidak suka hukuman, ancaman dan sakit yang timpakan padaku, namun akan lebih menyakitkan untuk melakukan sesuai dengan yang mereka inginkan. Aku mengambil pilihan, yaitu aku harus melakukan sesuai kata hatiku dan bila mereka tidak menyetujui, aku meminta maaf. Aku tidak bermaksud tidak hormat. Aku akan menanggung akibatnya dan melakukan Dharma dengan penuh totalitas. Aku melakukan apa yang kuinginkan dan terus melanjutkannya.

Tsem Rinpoche

My parents were 100% against me to follow dharma, study dharma or do dharma in any way. They told me I have to get a real job, real career and make myself respectable. They told me if I did dharma or become a monk, they would lose face and disown me. I didn’t want to do dharma to go against them, but I could not LIVE THEIR version of happiness. To live their ideals of life, happiness and what is right. I just couldn’t. For not obeying them, they made me pay many heavy prices. I didn’t enjoy the punishments, threats and pain they inflicted on me, but it would have been more painful to do what they wanted me to do. I made a choice, that I have to do what’s in my heart and if they don’t agree, I am sorry. I mean no disrespect. I will pay the dues and go all the way. I did what I wanted. And I continue to.

Tsem Rinpoche

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Ooi Beng Kooi dari Kechara Media and Publication.

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Ooi Beng Kooi, Kechara Media and Publication Liaison.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 4 of 23

Visitors

We have 71 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013